
...πππ...
Pria itu, Arjuna Wisesa Mahardika, melihat Naya dan Gara dengan tajam. Ghea bisa melihat gurat kemarahan di wajah Juna, seperti apa yang sudah ia duga. Bahwa Juna mulai ada rasa pada Naya. Terlepas dari Naya culun dan mantan klepto, Juna mulai menyukainya dan Ghea sadar. Perasaan suka tidak bisa dicegah, tapi setidaknya ia bisa mengalihkan Juna agar kembali jatuh hati padanya seperti dulu. Tergila-gila padanya dan membuat nama Naya semakin buruk.
"Jun, kamu lihat kemana sih? Ada aku loh disini," Ghea menangkup kedua pipi Juna dengan telapak tangannya. Ia menatap mata berwarna hitam milik Juna.
"Iya Jun, kenapa sih lo lihat ke belakang mulu? Udah ada bidadari sekolah kita duduk di samping lo, malah lo anggurin." celetuk Ria yang duduk tepat di sebrang tempat duduk Juna dan Ghea.
"Benar Jun, udah dapat yang perfect jangan lirik-lirik yang lain dong. Apa lo gak sadar? Banyak cowok yang pengen jadian sama Ghea, tapi Gheanya milih lo." ungkap Mona seraya tersenyum, ia membangga-banggakan sahabatnya.
"Mona, Ria, apaan sih! Gue yang beruntung karena Juna suka sama gue." Ghea, gadis itu selalu merendah untuk meroket guna mendapatkan pujian dari semua orang.
Aneh, Juna biasanya merespon atau memuji-muji Ghea. Tapi kenapa sekarang Juna hanya menjawab ya saja secara singkat. Fiks, Ghea merasa ada yang aneh.
Di dalam bus itu, ada dua guru yang ada disana. Anak-anak siswa kelas IPA 1 tengah karaokean sebagai bentuk seru-seruan dalam perjalanan agar tidak monoton. Harusnya di bus itu ada kelas IPA saja, tapi Choki, Bian dan Damar menyusup kesana. Lebih tepatnya barter dengan siswa kelas IPA 1 agar mereka tukaran bus. Andra juga jadi tidak satu bus dengan Naya dan menjadi korban pertukaran si Damar.
Gara dan Naya duduk bersebelahan, Gara dan Naya memanfaatkan kedekatan itu agar mereka bisa bicara.
"Nay, aku minta maaf ya..."
"Gar, aku minta maaf ya!!"
Mereka bicara bersamaan, sontak keduanya pun tersenyum dan terkekeh bersamaan juga. Damar melihat sepupunya itu dari kursi paling ujung. Dia menatap keduanya dengan aneh.
'Kenapa gue kesel ya si Gara deket sama si mata empat?' batin Damar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa mungkin ini karena rasa bersalahnya pada Naya?
"Kamu nggak salah Nay. Aku yang salah udah jauhin kamu selama beberapa hari ini." ungkap Gara mengakui kesalahannya.
"Nggak Gar! Aku--aku yang salah."
"Nggak Nay kamu gak salah, aku udah tau semuanya dari Damar--kalau kamu terpaksa sama dia." Gara sengaja tidak menyebutkan kata menikah, sebab ia takut ada yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Walaupun sebenarnya di bus itu tengah ramai oleh sorak Sorai orang bernyanyi, ya Choki dan Bian sedang berada di tengah-tengah bus bersama salah satu guru disana. Beruntung Bu bertin si galak tidak ikut, jadi mereka bebas.
__ADS_1
πΆπΆπΆ
"Goyang dombret...goyang dombret...ahayyy!"
"Dasar kau keong Racun, baru kenal udah ngajak tidur....huhuy..."
Lagu-lagu itu terdengar gj alias gak jelas, karena suara kedua pria itu yang abstrak dan hanya sebagai lucu-lucuan. Tapi--percayalah mau hampir semua siswa kelas 11 IPA 1 yang didominasi oleh siswa rajin belajar, jadi tertawa karena ulah Choki dan Bian.
Mereka pun jadi ikut menari-nari di sana, heboh dan meriah. Sementara Naya dan Gara tengah berbicara, untuk rekonsiliasi hubungan mereka yang sempat dingin 3 hari sebelumnya. Keduanya sama-sama minta maaf dan kini sudah baikan.
****
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, bus tersebut transit di sebuah rest area yang terdapat masjid, mini market dan pom bensin disana. Semua siswa sudah keluar dari bus, kecuali Ghea, Gara, Naya dan Juna yang masih berbenah.
Tiba-tiba saat berjalan, tak sengaja Naya tersandung sesuatu dan jatuh. Beruntung, Gara menahan pinggang gadis itu agar tidak jatuh. Ghea terjatuh tepat di samping kursi Juna dan Ghea.
"Kamu gak apa-apa Nay?" Gara menoleh ke arah Naya dengan cemas. Jangan lupakan tangan Gara masih memegang tubuh mungil Naya.
"Iya, aku gak apa-apa Gar." jawab Naya seraya memegang tangan Naya.
"Makanya jalan lihat-lihat dong! Padahal mata udah empat, tapi tetap aja gak bisa lihat." celetuk Juna yang membuat Naya jadi kesal lagi padanya.
"Apa kamu bilang?" sentak Naya sambil melotot pada Juna.
"Gue bilang lo gak punya mata." ketus Juna kesal.
Tiba-tiba saja Ghea memegang perutnya dan merintih kesakitan. Satu tangannya memegang tangan Juna. "Ahh...Jun kayaknya maag aku kambuh,"
"Ya udah kita makan keluar ya." ajak Juna pada Ghea sambil membawakan tas gadis itu juga, ia menggenggam tangan gadis itu lalu pergi lebih dulu keluar dari bus. Naya melihat keduanya pergi meninggalkan bus dengan mata yang sendu.
Gara dan Naya juga ikut keluar dari sana. Terlihat beberapa siswa ada yang sedang melaksanakan shalat, makan, atau pergi ke kamar mandi. Sehabis shalat, Naya juga pergi ke toilet wanita yang ada di rest area itu. Ia melihat ada Ria, Mona dan dua siswi disana juga tengah menatapnya dengan sinis. Perasaan Naya tidak enak, ia pun memilih pergi setelah membersihkan tangannya.
__ADS_1
"Heh, tunggu! Gue mau ngomong sama lo!" Ria menghadang jalan Naya, saat gadis itu akan pergi.
"Mau ngomong apa?" tanya Naya malas.
"Jangan sok kegatelan jadi cewek! Jauhin Juna, jangan deket-deket lagi sama dia dasar babu." jari tangan Mona mendorong-dorong tubuh Naya, hingga beberapa kali ia terhuyung ke tembok.
"Kegatelan gimana ya? Dan--aku juga gak deket sama dia." ucap Naya mulai kesal.
Salah seorang siswi menjambak rambut Naya dengan keras. Naya tidak terima dan mencoba melawan, namun Mona dan salah seorang siswi lainnya memegang tangan Naya. "Apa-apaan ini? Kalian gak bisa kayak gini, ini namanya kekerasan! Lepasin tangan kamu!" hardik Naya kesal. "Ack sakit!"
"Bawa dia ke toilet, terus kunciin!"seru Ria dengan senyum menyeringai.
"Aku bakal lapor ke guru, kalau kalian udah jahil sama aku! Lepasin aku Ria, Mona!" seru Naya seraya meronta-ronta pada Mona, Ria dan dia siswi dari kelas lain itu.
Mereka menyeret dan mendorong Naya ke salah satu bilik toilet disana. Lalu mereka pun pergi setelah mengunci pintu kamar mandi itu.
Tak berselang lama kemudian, semua siswa dan guru yang ikut sudah pada naik ke dalam bus. Termasuk anak-anak kelas XI IPA, namun saat di absen satu persatu. Barulah mereka menyadari bahwa Naya tidak ada disana.
"Naya kemana ya?" tanya pak Ferdi pada semua siswanya. "Ada yang lihat Naya?" pertanyaan pak Ferdi tidak dijawab oleh semu siswa itu.
"Pak, Ria sama Mona juga gak ada!" seru seorang siswa. Pak Ferdi mengerutkan keningnya.
Gara juga bingung, terakhir ia bertemu Naya saat ada di mushala. Juna yang mendengar itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke kursi Gara. Gara, pria kalem itu juga tengah berdiri.
"Dimana Naya? Bukannya tadi dia sama lo?" tanya Juna.
"Iya, tadi dia sama gue. Tapi kita pisah pas mau shalat." jelas Gara.
"Gue bad feeling. Gue mau cari dia." gumam Juna cemas.
...****...
__ADS_1
Hayo, tebak-tebakan π€£siapa yang bakal nolongin Naya ya