
Kehadiran Juna ternyata berarti cukup besar untuk Naya. Pria yang dulu jauh darinya, yang menolak pernikahan buru-buru mereka sekarang menjadi sangat peduli padanya. Naya bisa merasakan bahwa pria itu tidak berpura-pura peduli tapi tulus.
"Ayo dong makan eskrimnya, nanti cair loh. Lo suka coklat kan?" tawar Juna pada Naya. Gadis bermata sembab itu mengambil salah satu eskrim cone yang ada ditangan Juna.
"Makasih Juna." kata gadis itu sendu, sambil memandangi eskrimnya yang mulai mencair.
"Nggak usah bilang makasih, gue suami lo dan ini udah kewajiban gue buat disisi lo." kata Juna seraya tersenyum.
"Padahal dulu kamu cuek banget sama aku, kamu juga benci sama aku karena aku culun. Tapi kok sekarang jadi baik sih?" tanya Naya heran.
"Dulu emang gue nggak suka sama lo, tapi bukan berarti gue benci sama lo. Gue nggak benci, sumpah! Dan sekarang gue sadar kalau gue sayang sama lo." ucap Juna tulus.
"Jangan sembarangan ngomong sayang, kita bahkan nggak kenal dekat walaupun kita suami-istri diatas kertas." tukas Naya yang tidak mau sakit hati karena perasaannya pada Juna. Dia tidak mau berdebar, melayang, lalu ujung-ujungnya dihempaskan. Bukankah itu akan sangat sakit?
__ADS_1
"Gue serius Kanaya Wulandari! Gue sayang sama lo dan gue harap pernikahan kita langgeng sampai tua." kata Juna sambil tersenyum.
Naya menjilati eskrim coklat itu, dia mendengar ucapan Juna tapi tak memasukkannya ke dalam hati. Juna mendesah kasar, ia tau Naya tidak semudah itu percaya padanya. Mungkin gadis itu takut dianggap sebagai pelarian.
"By the way Jun, aku mau cerita sama kamu...tapi jangan kasih tau siapa-siapa. Aku nggak tau harus cerita sama siapa, tapi menurutku kamu bisa jaga rahasia." ucap Naya tiba-tiba setelah menghabiskan eskrimnya. Naya ingin berbagi dengan seseorang, dia tidak mau menyimpan ini seorang diri. Naya rasa Juna bisa menjadi teman curhat yang baik.
"Apa? Cerita sama gue, gue janji nggak akan kasih tau siapa-siapa tentang ini." ucap Juna serius.
"Ternyata aku bukan...anak kandung ibu...aku hanya anak yang dibuang di tempat sampah...hiks...kamu pasti jijik sama aku kan Jun?" Naya terisak didalam pelukan Juna.
"No...enggak Nay, gue nggak jijik. Gue malah mau bantu lo buat nemuin orang tua kandung lo, lo jangan nangis please..." pinta Juna dengan satu tangannya mengusap air mata Naya di pipi.
"Nggak usah...kamu nggak usah cari orang tua kandung aku. Ngapain? Mereka kan udah buang aku," ucap Naya sedih.
__ADS_1
"Nay..."
Naya memeluk erat Juna, tak bisa ia pungkiri bahwa pelukan Juna memang membuat dirinya nyaman. Juna juga membalas pelukan Naya sama eratnya.
"Gue bakal selalu ada buat lo, lo masih punya gue...lo harus inget itu Nay." lirih Juna lalu menangkup kedua pipi Naya yang masih basah karena air mata.
Kedua netra mereka bertemu pandang cukup lama, mereka merasakan gelanyar aneh didalam tubuh mereka masing-masing. Ada sebuah rasa yang tak terlihat diluar tapi terasa di hati.
Perlahan-lahan Juna mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan sepersekian detik kemudian, benda kenyal nan panas yang ada dibawah hidung mereka saling menempel.
...*****...
Hai Readers maaf aku slow up novel ini...🙏🙏🙏😘
__ADS_1