
Setelah mendapatkan nomor kontak Atheya, Saga merasa lebih lega. Itu akan memudahkannya mendekati perempuan itu pikirnya. Sesampainya di rumah Saga tidak sabar untuk menghubungi Atheya. Ia lantas mengirim pesan kepada Atheya ketika sudah di dalam kamar.
Saga:
"Makasih ya sudah mau ikut meramaikan ultah temanku"
Tak lama kemudian langsung ada pesan masuk di ponsel Saga.
"Ah langsung di balas", Saga merasa senang.
Atheya:
" Sama - sama"
Saga:
"Sekarang lagi apa? "
Atheya:
"Balas chat kamu"
Saga:
"Hehehe bisa aja kamu, eh mbak Theya. Maaf aku nggak tau kalau mbak lebih tua daripada aku? Ku pikir kita seumuran atau mungkin di bawahku. Habis nggak kelihatan sih mukanya"
Atheya:
"Y"
Saga:
"Belum ngantuk? "
Setelah itu tidak ada balasan dari Atheya. Bukan karena ia sudah tidur tapi karena memang Atheya tidak begitu suka basa - basi dengan lelaki. Disisi lain Saga menjadi kelimpungan sendiri hatinya bertanya - tanya apakah Atheya sudah tidur atau tersinggung mengenai umur.
Besoknya Saga masih bertanya - tanya kenapa Atheya tiba - tiba tidak membalas chat darinya. Ia pun membagi rasa penasarannya dengan Doni.
Saga:
"Don... "
Doni:
"Opo? "
Saga:
"Semalam aku chat itu cewek tapi tiba - tiba dia nggak balas. Aku nggak tahu dia tidur atau tersinggung sama kata - kata gue"
Doni:
"Emang lu ngomong apa ma tu cewek? "
Saga:
"Intinya aku minta maaf karena aku nggak tahu kalau dia lebih tua dari gue. Soalnya gue manggil dia 'kamu', kan nggak sopan"
Doni:
"Yaelah ngapain lu pakai ngebahas soal umur? Maksud lu emang bener tapi yang gue tahu cewek kalau sudah berumur dan belum menikah itu sensi banget di ajak ngomong soal umur mereka"
Saga:
"Sial gue nggak tahu yang begitu"
Doni:
"Ya nggak semua cewek berumur begitu tapi yang gue jumpai banyak yang kayak gitu. Makanya lu hati - hati kalau mau deketin cewek yang lebih tua dari lu"
Saga:
"Jadi gue sekarang mesti gimana ke dia? "
Doni:
"Menurut gue sih lu bersikap biasa aja nggak usah menyinggung soal umur kalau ngobrol ma dia. Udah ah mules perut gue! "
Saga:
"Makasih bro sarannya? "
Doni:
"Brrooottt.... "
Saga:
"Anjir... "
__ADS_1
Pukul tujuh empat puluh lima menit Saga yang bersiap ingin berangkat kerja berpapasan dengan Atheya yang juga akan berangkat bekerja. Saga pun menawarkan tumpangan kepada Atheya untuk pergi bersama. Saga sudah senang dalam hatinya hingga sebuah suara membuat kesenangannya menguap begitu saja.
"Mas aku juga numpang dong! ", suara cempreng Lia berlari mendekati Saga dan Atheya.
Dan bukan hanya Lia tapi juga ada Nita dan Luluk.
'Sial ada aja', batin Saga mengumpat pasalnya ia yang ingin berduaan dengan Atheya jadi gagal.
" Eh Nit main nylonong aja duduk di depan", oceh Lia tidak terima karena keduluan Nita yang duduk di samping Saga.
"Iya tuh", Luluk juga tidak terima.
" Siapa yang cepat dia yang dapat", ucap Nita cuek.
Lain dengan ketiga gadis yang meributkan soal tempat duduk, Atheya justru tak menggubris apa yang diributkan mereka. Saga? Jangan di tanya lelaki itu merasa risih dengan tingkah ketiga gadis itu. Apalagi saat ini Nita yang sengaja menempel di bahu Saga.
"Nit bisa nggak sih kamu duduk anteng? aku lagi nyetir... bahaya", ucap Saga yang merasa kesal namun masih berusaha menahan amarahnya.
" Iya eh cari kesempatan aja si Nita ini", Lia yang pertama protes.
"Udah tahu mas Saga lagi nyetir malah di gelendotin", tambah Luluk.
Atheya hanya mendengarkan tidak peduli namun ia sedikit merasa kasihan kepada Saga. Ia sebenarnya tahu jika Saga merasa risih dengan tingkah ketiga gadis itu. Tapi mau bagaimana mereka memang seperti itu. Ketika gadis itu masih saling beradu argumen hingga sebuah suara membuat mereka terdiam.
"Sstt... sudah kalian jangan ribut melulu nanti konsentrasi Saga terganggu! ", ucap Atheya dan Saga mengangguk membenarkan.
Setelah itu tidak ada yang bersuara hanya sesekali Lia berbicara dengan Luluk. Entah apa yang dibicarakan. Beberapa menit perjalanan ketika sudah dekat dengan tempat kerja Atheya. Saga kembali bersuara...
"Mbak Theya nanti pulangnya sama siapa? Kalau mau bareng aku sekalian? "
"Mau.. mau...", bukan Atheya yang menjawab melainkan ketiga gadis tersebut.
" Aku nggak tanya sama kalian", jawab Saga kesal.
"Kenapa cuma mbak Theya aja yang ditanyain kita kan juga searah? ", Nita protes.
" Iya mas Saga itu namanya nggak adil", Luluk menimpali.
"Nggak bisa begitu mas Saga... kalau satu di ajak yang lain juga harus di ajak", Lia memperregas dengan suara cempreng nya.
" Aku nanti nggak langsung pulang, ada janji sama teman", jawab Atheya.
"Oh gitu... oke"
"Oke kalau gitu kita aja yang bareng", serempak ketiga gadis itu.
Atheya menahan tawanya berpikir itu hanya alasan Saga saja. Dan tanpa di sadari Atheya, Saga memperhatikannya dari kaca spion atas. Atheya memang duduk di belakang kemudi hingga Saga bisa mencuri pandang sesekali. Tibalah di depan tempat kerja Atheya. Atheya lantas turun dan tak lupa berterimakasih sebelum masuk.
"Makasih ya... "
"Sama - sama", balas Saga.
Kemudian mobil Saga berlalu meninggalkan tempat Atheya berdiri.
" Selamat risih dengan mereka hahaha", ucap Atheya.
Kemudian berbalik dan melihat Nia sudah berdiri memperhatikannya di depan pintu restoran.
"Kenapa kamu ketawa? ", tanya Nia ketika Atheya sudah di hadapannya.
" Ah nggak", Atheya menggeleng.
"Ish nggak jelas kamu"
"Eh nanti malam jadi kan kita nongkrong di lesehan pinggir pantai? ", lanjut Nia.
"Jadi dong, aku udah bawa baju ganti nih", Atheya menepuk tas pundaknya.
" Siip dah"
"Aku naik duluan ya? "
"Oke selamat bekerja"
"Sialan gimana bisa dekat dengan Atheya kalau geng ribut itu selalu mepet? ", Saga memukul stir pelan. Saat ini tinggal ia sendiri di dalam mobil melanjutkan perjalanan menuju kantor tempat ia bekerja.
Pukul tujuh malam suasana di sepanjang jalan pinggir pantai terlihat ramai walau bukan hari libur. Di salah satu warung lalapan di situlah kini Atheya dan Nia melepas penat. Menikmati angin laut dimalam hari. Mereka tampak asyik mengobrol cerita yang lucu terlihat dari tawa lepas mereka.
Di sisi lain Saga dan Doni berjalan menyusuri jalan pinggir pantai mencari tempat yang cocok untuk mengisi perut mereka.
"Apes gue tadi pagi Don"
"Kenapa emang? "
"Gue nawarin Atheya berangkat bareng, sialnya geng ribut tiba - tiba muncul"
"Hahaha trus? "
"Apalagi...sudah pasti mereka nggak mau ketinggalan"
__ADS_1
"Jadi lu gagal berduaan sama Atheya? hahaha"
"Eh Don tuh cewek sepertinya Atheya deh", Saga menyadari seseorang yang mirip dengan Atheya sedang duduk lesehan di sebuah warung bersama dengan seorang perempuan. Tapi ia tidak tahu siapa perempuan tersebut.
" Wah parah lu Ga, baru juga ngomongin Atheya sekarang lu bilang ada Atheya. Kayaknya lu mesti ke dokter mata"
"Beneran Don coba lu lihat ke sana! ", tunjuk Saga ke arah Atheya berada.
" Lhah iya itu Atheya. Ternyata penglihatan kamu masih sehat. Tapi sama siapa dia bro? "
"Aku juga nggak tahu, baru kali ini aku lihat cewek itu"
"Ayo sudah kita samperin aja, lu sama Atheya dan gue bisa sama temennya itu"
"Dasar lu modus"
"Ini tuh bukan modus tapi saling menguntungkan"
"Terserah lu lah ayo buruan ke sana! "
Atheya dan Nia yang masih asyik mengobrol dengan tertawa - tawa tidak menyadari jika saat ini ada dua lelaki sedang menghampiri mereka.
"Hai... ternyata bener mbak Theya", ucap Saga yang membuat Atheya dan Nia berhenti seketika dari obrolan.
" Eh Saga kamu di sini? ", tanya Atheya.
" Iya kebetulan lagi cari makan sama teman"
"Hai mbak Theya masih ingat aku kan? "
"Iya masih"
"Siapa Theya? ", Nia bertanya.
" Oh kenalkan Nia... dia ini anaknya ibu kos aku dan yang satu ini temannya" Atheya memperkenalkan Nia kepada Saga dan Doni.
Mereka pun saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
"Kita boleh gabung di sini? ", tanya Saga.
" Oh iya silakan ", Atheya dan Nia mempersilakan mereka duduk di tempat yang masih kosong.
Mereka pun terlibat obrolan sambil menikmati makanan yang di pesan.
" Kapan - kapan mbak Nia mainlah ke kos! ", ucap Saga.
" Aku pernah kok main ke kos. Iya kan Theya? "
"He'em"
"Oh jadi sudah pernah"
"Ngomong - ngomong tadi mbak Theya dan mbak Nia naik apa ke sini? ", tanya Doni.
" Kita naik angkot. Kita biasa kalau pergi berdua naik angkot", jawab Nia.
"Ya udah nanti bareng aja kalau pulang, aku bawa mobil", Saga menawarkan.
Pasalnya sepulang dari kerja ia tak langsung pulang melainkan pergi ke rumah Doni. Ia takut jika langsung pulang malah bertemu dengan geng ribut.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Atheya yang menyadari langsung mengajak pulang.
"Eh udah jam sembilan lho kita pulang yuk! "
"Iya ya... gak terasa ih keasyikan ngobrol jadi lupa waktu. Iya ayo pulang kalau begitu besok kerja juga"
"Ya sudah ayo! ", Saga menimpali.
Mereka pun pulang bersama dengan menaiki mobil Saga. Pertama kali turun adalah Nia karena ia tak boleh telat, jika telat ia bisa tak dapat pintu masuk mes. Oleh karenanya Sandi mengantar Nia terlebih dahulu baru kemudian Doni. Setelah mengantar Doni tinggalah Saga dan Atheya berdua di mobil.
"Mbak...? ", panggil Saga dan Atheya menoleh menunggu kelanjutan kalimat dari Saga.
" Ehm boleh nanya nggak? "
"Tanya aja! "
"Mbak udah punya pacar? ", entah kerasukan apa Saga menanyakan hal itu pada Atheya.
Atheya terdiam masih mencerna ucapan Saga namun kemudian ia menjawab.
" Belum", jawab Atheya pelan.
"Kenapa? ", lanjutnya.
" Mbak mau jadi pacar aku? "
"Hah.... hahahaha. Jangan bercanda! "
"Aku serius"
__ADS_1