Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Jalan Sehat


__ADS_3

Setelah subuh kos-an tante Rully terdengar ramai lantaran orang - orang mulai bersiap untuk jalan sehat pagi ini. Beberapa menit kemudian mereka pergi menuju rumah pak Rt dan di sana sudah ramai. Sebelum jalan sehat di mulai semua peserta di ajak senam terlebih dahulu.


Seorang lelaki memakai hoodie yang berdiri malas - malasan di belakang tampak celingukan ke sana kemari mencari keberadaan seseorang. Beberapa saat kemudian ia melihat seorang perempuan berambut panjang yang di ikat ekor kuda memakai kaos putih dan celana training. Di dekatnya juga ada anak kos yang lain. Saga tersenyum karena menemukan orang yang di cari.


Setelah selesai senam pagi jalan sehat pun di mulai. Atheya yang berjalan agak cepat berada lebih di depan daripada teman - temannya. Bagi Atheya lebih cepat lebih baik, ia bisa lebih cepat beristirahat. Ketika fokus berjalan tiba - tiba ada yang menarik pergelangan Atheya. Orang tersebut menoleh sedikit tanpa melepaskan tangan Atheya.


"Saga... ", hampir Atheya berteriak jika saja Saga tidak menoleh.


" Ayo! ", ajak Saga dengan menarik tangan Atheya berlari ke depan.


Mau tak mau Atheya juga ikut berlari karena tangannya di tarik Saga. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang tak jauh di belakang mereka. Hanya berjarak tiga baris dari tempat Atheya berjalan.


"Tar, kamu juga lihat? ", tanya Yanti.


" Hm"


"Mereka pacaran? "


"Mungkin"


Dua pasang mata tersebut adalah Yanti dan Tari.


"Saga kamu bawa aku kemana? Kok lari - lari? ", tanya Atheya.


" Ayo kita di depan supaya cepat finish, makanya lari! "


"Ini namanya lari bukan jalan"


"Kalau jalan aja kapan sampai finishnya hm? sesekali lari tak masalah", ucap Saga sudah berhenti berlari.


Kini mereka berjalan di barisan keempat dari depan.


" Beberapa hari ini kamu sepertinya sibuk? ", Atheya membuka pembicaraan.


" Biasa aja. Kenapa... kangen? ", tanya Saga sambil memainkan alisnya ke atas ke bawah.


Atheya memukul lengan lelaki yang ada di sampingnya karena kejahilannya.


" Aww.. ", Saga sengaja padahal pukulan Atheya sama sekali tidak sakit.


" Sakit kah? "


"Iya dikit, nih...! ", Saga berbohong dengan menyodorkan lengannya berharap agar Atheya mau mengelus bekas pukulannya.


" Plak... dasar bohong", bukannya mengelus seperti yang di inginkan Saga. Atheya justru menambah dengan menampar lengan Saga kembali.


"Hahaha", Saga tertawa melihat Atheya yang agak kesal padanya.


 Ia merasa gemas melihat wajah Atheya yang kesal. Atheya terlihat seperti abg jika sedang kesal. Saga pasti sudah mencubit pipi Atheya karena gemas jika saja ia tidak ingat bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih. Mengingat itu membuat dada Saga kembali sesak, seperti ada batu besar di atas dadanya. Di perjalanan Saga melihat ada penjual salome tentu saja sepaket dengan es teh. Ia kemudian menawarkan kepada Atheya. Ini sebagai pengalihan juga dari mengingat hal yang membuat dadanya sesak.


"Mau salome nggak? Sekalian es tehnya juga tuh", tanya Saga sambil menunjuk salome yang mangkal.


" Boleh"


"Tunggu! ", setelahnya Saga berlari menuju penjual salome.


Ia membeli salome untuk dirinya dan Atheya sekaligus minumnya. Ia lupa menanyakan kepada Atheya pedas atau tidak. Hingga ia pun asal saja memesan yang pedas untuk Atheya.


Beberapa menit kemudian Saga kembali bergabung dengan Atheya sambil membawa kantong kresek yang didalamnya terdapat salome dan es teh. Ia memberikan satu untuk Atheya.

__ADS_1


"Makasih? ", ucap Atheya dan di angguki Saga.


Baru Atheya menikmati satu buah salome bebrapa detik kemudian,


" Hah hah hah.... pedes banget", Atheya kepedasan sambil mengibaskan tangan ke arah mulutnya.


"I.. ini ini minum! ", Saga panik dan segera memberikan satu bungkus es teh.


Atheya lantas meminum dengan rakus es teh tersebut hingga tersisa setengah.


" Maaf... aku nggak tahu kalau mbak nggak suka pedes? Tadi aku juga lupa nggak tanya dulu ke mbak", Saga merasa bersalah kepada Atheya.


"Hahh... Aku suka pedes tapi ini pedesnya gilaa, pedes banget hahh... ", ucap Atheya masih merasa agak kepedasan.


" Makan punyaku aja nggak terlalu pedes! ", Saga menyodorkan salome nya.


" Trus kamu makan apa? "


"Aku makan punya mbak Theya"


"Tapi kan bekas ku? ", Atheya tak menyangka Saga bisa seenteng itu mengatakan akan memakan salome Atheya yang bungkusnya jelas bekas mulut Atheya.


" Emang kenapa? Mbak nggak penyakitan kan? Hehehe"


"Iih... ", Atheya refleks mencubit kecil pinggang Saga karena greget dengan ucapannya. Bisanya Saga berkata 'penyakitan'.


" Aduh... ish sakit", Saga mengaduh.


Tiba - tiba ada suara tertawa kecil di belakang mereka. Saga dan Atheya lantas menoleh ke belakang. Astaga mereka sepertinya lupa jika saat ini mereka berada di tempat umum. Dilihatnya ibu - ibu dan anaknya cekikikan menertawakan mereka.


"Ups... ", Atheya menutup mulutnya ketika sudah kembali menghadap ke depan. Ia merasa malu tapi juga ingin tertawa


Setelah itu tak ada lagi kekonyolan yang mereka buat hingga sampai finish.


Tibalah saat pengumuman yang mendapat hadiah. Semua penghuni kos memilih berkumpul jadi satu di pinggir lapangan yang berada di samping rumah pak Rt. Mereka duduk lesehan di atas tanah.


Di saat mereka berbicara satu sama lain sembari makan jajanan. Atheya terlihat celingukan mencari seseorang.


Di dalam hati Atheya,


'Itu tante Rully sama pak Hendra, di samping tante Rully... Rasya, mbak Rosmah di belakang tante Rully, dan di samping belakang pak Hendra... pak Yanto. Lalu dimana anak itu? Astaga apa yang ku pikirkan? Kenapa juga aku cari - cari dia? ',


Di sisi lain Saga baru saja keluar dari kamar mandi nyang berada di dekat dapur.


"Hufft...sial ini pasti gara - gara makan salome Atheya", oceh nya. Ia kemudian duduk di sofa ruang keluarga.


Ternyata Saga pulang lebih dulu karena perutnya sakit.


Pukul sebelas tiga puluh menit kos-an tante Rully terdengar ramai. Sudah dapat di pastikan ulah siapa. Peserta jalan sehat di bubarkan karena hari sudah siang dan sebentar lagi waktunya shalat dhuhur. Sebenarnya pembagian undian belum selesai dan akan dilanjutkan pukul satu siang nanti. Sedangkan untuk tiga hadiah utama akan di undi malam hari setelah shalat isya' dan akan ada penampilan orkes sebagai hiburan.


"Hei Tar kamu dapat apaan? ", tanya Yanti di sela - sela mereka berjalan menuruni undakan menuju kamar.


" Sandal jepit", jawab Tari cuek karena kelelahan dan dapatnya hanya sepasang sandal jepit.


"Hahaha. Kamu mending sandal jepit nih aku dapat cobek hahaha", Yanti memberitahu apa yang di dapatnya sambil tertawa terbahak.


" Kamu Lia? ", lanjut Yanti.


" Minyak goreng 1liter. Lumayan sih buat masak. Tapi kapan aku masaknya ? "

__ADS_1


"Hahaha", semua terbahak pasalnya sudah bukan rahasia lagi mereka jarang memasak. Kalaupun memasak paling yang sering mie instan.


"Kalau kamu apa Theya? ", Yanti bertanya kepada Atheya.


" Kaos", jawab Atheya sambil menunjukkan kaos warna hitam masih terbungkus plastik.


"Wah... ", Lia, Nita dan Luluk berseru.


" Kalau Nita dan Luluk? ", lanjut Yanti.


" Nita dapat topi, Luluk dapat tepung", Lia yang menjawab mewakili Nita dan Luluk.


"Aku mending mie instan dari pada tepung begini", ucap Luluk.


" Eh tu kan bisa di buat lapisan sanggar pisang", celetuk Tari.


"Iya kalian bikin aja sanggar pisang aku sama Atheya tinggal makan! Iya kan Atheya? Kalian kan junior kalau aku dan Atheya kan senior. Kalian yang junior buatinlah makanan untuk senior ini! ", Yanti menyuruh anak - anak di bawahnya sedang Atheya hanya tersenyum.


" Itu namanya penindasan kak Yanti", protes Lia.


"Bercanda aja aku, terserah kalian", Yanti menjelaskan.


" Tapi nggak apa - apa kak Yanti nanti aku bikin", ucap Lia yang sebelumnya protes.


"Iya daripada nggak kepakai, mubazir. Tinggal beli pisangnya aja toh gula sudah ada. Nanti aku bantuin Lia jangan khawatir! ", Nita memberi semangat.


" Udah nanti aku yang beli pisangnya deh", Luluk menambahi.


"Tapi jangan hari ini ya... capek. Besok aja gimana? ", tawar Lia.


" Boleh, iya, terserah kamu aja kita mah ngikut", jawaban mereka berbeda - beda namun maksudnya sama.


"Hai cewek - cewek nanti setelah maghrib ke atas ya... kita makan bersama. Di suruh sama ibuk", tiba - tiba Rosmah memberi pengumuman di tangga dengan suara lantang.


" Yess", suara serempak anak kos kecuali Atheya.


Di lantai atas,


"Abang.... kenapa tidur di sini? Pantas mama cari - cari nggak ada. Sekalinya udah pulang duluan tow? ", Rully membangunkan Saga yang ketiduran dibsofa ruang keluarga.


" Abang lagi nggak enak badan? ", Rully kembali bertanya karena tak mendapat jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya.


" Nggak ma, cuma sakit perut aja", jawab Saga nampak sedikit lemas.


"Sakit perut... abang salah makan? "


"Iya tadi abang makan salome kepedasan"


"Abang kan memang nggak bisa makan pedas, kenapa makan salome terlalu pedas? ", Rully menghilangkan kepala merasa heran dengan putra pertamanya.


" Makanya bang jangan bergaya, nggak bisa makan pedas... malah makan pedas. Bergaya betul sih", Rasya mengoceh seakan menjadi orang tua sembari mencharger handphonenya.


"Hiih... " Saga gregetan kepada sang adik.


Rasya cuek berlalu dengan santainya menuju kamar.


"Sudah sudah abang pindah kamar sana nanti mama bawakan obat! ", perintah Rully.


Saga lantas berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2