Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Seperti Menjadi Spesial


__ADS_3

Kekesalan di dalam dirinya belum hilang ia harus berhadapan dengan kemarahan sang papa. Hendra menyuruh Rasya untuk memanggil Saga. Dan di sinilah saat ini Saga berada, di dalam kamar kedua orangtuanya. Setelah Rasya membawa Saga ke hadapan Hendra dan Rully yang sudah berada di kamar ia pun di suruh pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Duduk Bang! ", perintah Hendra setelah pintu kamar ditutup Rully.


Saga menurut duduk di kursi meja rias Rully. Sementara Hendra dan Rully duduk berdampingan namun tidak terlalu dekat di tepi ranjang.


" Abang pacaran dengan Kania? ", Hendra bertanya kepada Saga.


" Nggak pa "


"Lalu apa yang tadi di mall? ", suara Hendra sudah mulai agak meninggi.


" Pa jangan keras - keras! ", Rully mengingatkan Hendra karena khawatir jika ada yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


" Saga sudah berusaha menolak pa tapi Kania keras kepala"


"Saga tidak suka Kania seperti itu", tambah Saga.


" Kamu suka sama Kania? ", Hendra bertanya lagi dengan tegas sudahbtidak memakai panggilan abang.


"Mana ada", Saga menampik berdasarkan kenyataan.


"Saga nggak suka sama Kania", lanjutnya.


" Kalau nggak suka kenapa kamu biarkan gadis itu pegang - pegang kamu? "


"Bahkan di tempat umum seperti tadi? Malu - maluin. Mending jika dia pacarmu, masih wajar", Hendra melanjutkan ocehannya sebelum Saga sempat menjawab.


" Saga sudah menolak pa, tapi seperti yang Saga bilang tadi Kania keras kepala tidak mau melepaskan tangannya dari Saga"


"Huft", Hendra mendengus sebal.


" Kamu tahu kan Saga... Kania itu siapa? Jika dia sampai salah mengira kamu suka padanya dan kemudian bilang kepada orangtuanya maka akan ribet urusannya. Sebab ini membawa keluarga. Dimana dia adalah keponakan dari istri pamanmu. Harusnya kamu lebih tegas menolaknya! ", dada Hendra naik turun karena amarahnya.


" Mama juga... harusnya mama menasehati Kania sebagai seorang perempuan untuk jangan bertingkah seperti itu! "


'Apa? Aku...? Keponakan juga keponakan siapa?', dalam hati Rully yang terkejut lantaran ia juga merasa disalahkan oleh suaminya. Bahkan Ia sampai menoleh ke samping melihat wajah sang suami.


"Pokoknya Saga, kamu harus membuat Kania mengerti jika kamu tidak punya perasaan apa - apa kepadanya! ", ucap Hendra yang kemudian bangkit dari duduknya. Ia membuka pintu kamar dan keluar meninggalkan dua orang tersebut.


Ibu dan anak itu saling pandang sesaat karena mereka merasa sama - sama di salahkan.


" Yah... abang, mama kena juga kan? ", Rully berkata dengan pelan.


" Maaf ma? Tapi benar kok Saga sudah berusaha menolak cewek itu. Dasarnya cewek itu saja yang keras kepala"


"Papa hanya khawatir jika Kania salah paham mengira abang suka padanya. Apalagi Kania itu keponakan dari istri pamanmu", Rully menjelaskan.

__ADS_1


Saga mengangguk mengerti dengan yang di katakan Rully.


Saga sedikit menjambak - jambak rambutnya lantaran pusing dengan keadaan saat ini. Ia memikirkan bagaimana jika kekhawatiran orangtuanya benar terjadi. Ia juga tidak mengerti dengan Kania. Perempuan itu kenapa begitu seperti terobsesi padanya. Padahal sebelumnya mereka tidak dekat sama sekali. Kenapa kedatangannya kali ini berbeda, perempuan itu selalu bergelayut manja padanya.


Esok harinya yang merupakan hari dimana Kania akan kembali ke Sulawesi. Keluarga Rully hendak mengantar Kania ke bandara.


"Tante... Saga mana? ", Kania bertanya ketika sudah di halaman akan menaiki mobil.


" Saga tidak ikut, dia kecapekan ", alasan Rully.


" Kalau begitu sebentar tante! ", Kania lantas berlari masuk rumah kembali.


Sesuai yang di rencanakan Hendra dan Rully yang akan mengantar Kania ke bandara adalah mereka berdua. Sementara Saga dan Rasya tidak ikut.


" Tok tok tok", Kania mengetuk kamar Saga.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Saga nampak kaget. Kania kemudia memeluk Saga dengan erat. Melingkarkan tangannya di pinggang leleki tersebut.


"Kan... Kania", Saga berusaha mengurai pelukan Kania namun perempuan itu justru semakin erat memeluknya.


" Saga nggak bisa antar aku ya? Padahal maunya aku di antar Saga"


"Deg", Rosmah yang baru dari dapur mendapati pemandangan tersebut.


'Loh? Bukannya pacar mas Saga itu mbak Theya? ', dalam hati Rosmah kemudian ia memilih pergi sebelum keberadaanya di sadari oleh Saga.


"Masih lama kok waktunya"


"Tapi bisa aja penerbangannya di majukan"


"Nggak apa - apa, kalaupun telat aku tambah seneng"


'Apa? Gila nih cewek', batin Saga.


"Kania... buruan nak, nanti telat lhoh! ", seru Rully keras dari luar.


Kania mulai mengendurkan pelukannya dan Saga pun mengurai dengan mendorong pelan pundak Kania. Baru merasa lega Saga di buat kaget kembali oleh tingkah Kania. Perempuan itu kembali memeluk Saga seolah tak ingin berpisah.


'Ah sial... ', dalam hati Saga.


"Tunggu aku ya! ", ucap Kania.


'Hah... tunggu? Maksudnya? ', dalam hati Saga merasa bingung dengan perkataan perempuan yang saat ini memeluknya.


Kania melepas pelukannya mendongak ke atas memandang wajah tampan lelaki di depannya. Saga menurunkan pandangannya hingga mereka saling menatap. Ia tidak paham dengan Kania. Beberapa saat kemudian Kania langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Saga. Saga yang bingung dengan Kania tentu saja tidak siap. Ia sama sekali tidak punya persiapan untuk menghindari kecupan dari Kania.


Kania sedikit memutar - mutar bibir Saga. Tidak bohong sedikit ada rasa seperti sengatan listrik yang di rasakan Saga. Ia hampir lupa diri karena mengingat Atheya. Ia membayangkan jika perempuan di depannya adalah Atheya. Saga sedikit menikmati permainan bibir Kania. Ketika ia mulai akan membalas ... ia sadar dari membayangkan Atheya. Saga lantas mendorong Kania.

__ADS_1


"Pergi sana! ", usirnya dengan tegas.


Saga kemudian masuk ke kamarnya. Ia mengunci kamarnya dari dalam.


Napas Saga terengah karena sempat merasakan kenikmatan bibir Kania. Ia memejamkan matanya dengan mengatur napasnya agar kembali normal.


" Kenapa Atheya? Kenapa hanya dengan membayangkanmu membuatku lupa daratan? Aku hampir hanyut dalam belaian perempuan lain. Kenapa begitu nikmat ketika membayangkan jika itu adalah dirimu? Jika aku tadi tidak segera sadar...mungkin tidak hanya ciuman", Saga berbicara sendiri.


Kania lantas menuju halaman setelah Saga masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya. Sepanjang perjalanan menuju bandara pikiran Kania masih berkelana dengan kejadia beberapa menit yang lalu. Ia merasa kecewa dengan sikap Saga yang belakangan namun ia juga senang dengan sebelum - sebelumnya. I a tahu jika Saga juga menikmati ciuman darinya. Kania tanpa sadar mengulum senyum. Hendra sempat memperhatikan sikap Kania melalui kaca spion di atas kemudi.


'Apa yang terjadi? Kenapa gadis ini senyum - senyum? ' , dalam hati Hendra sangat penasaran. Ia merasa ini pasti ada sangkut pautnya dengan putra pertamanya, Saga.


'Aku harus menanyakannya pada anak itu', lanjutnya dalam hati.


Sesampai di rumah setelah mengantar Kania ke bandara. Hendra langsung bertanya kepada Rasya yang kebetulan berada di ruang keluarga sambil bermain game di ponselnya.


"Abang dimana? "


"Di kamar mungkin ", jawab Rasya sebab sedari tadi ia juga tak melihat abangnya itu.


Rully yang juga berdiri di situ agak heran dengan suaminya yang datang - datang langsung menanyakan keberadaan Saga.Namun ia mengabaikan dan memilih berlalu menuju kamarnya.


" Cklek", Hendra membuka pintu kamar Saga tanpa mengetuk.


Pintu pun langsung terbuka sebab Saga tidak menguncinya. Ia sempat pergi ke dapur setelah Kania pergi tadi.


"Papa... "


"Apa yang terjadi? ", Hendra duduk di dekat putranya.


" Maksud papa? ", Saga mengernyit bingung.


" Kania sepertinya senang. Apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu? "


"Saga tidak melakukan apa - apa pa"


"Saga, perempuan itu kalau sudah suka dengan seorang laki - laki biar di apain juga suka. Ehm... maksud papa di sentuh. Ya bukan semua perempuan sih tapi kebanyakan begitu"


"Sentuhan lelaki yang di sukainya seperti menjadi hal yang sangat spesial. Kalau kamu benar tidak suka maka jangan kamu beri celah sedikitpun", Hendra melanjutkan.


Ia menepuk pundak putranya kemudian berdiri dari duduknya. Hendra keluar tanpa mengucapkan apa - apa lagi. Ia yakin jika Saga paham dengan ucapannya.


Saga masih mencerna apa yang dikatakan Hendra sebelum keluar dari kamarnya.


"Apa papa tahu jika Kania menciumku sebelum pergi? ", gumamnya.


Saga berusaha tidak memikirkan apa yang sudah di lakukan Kania. Karena baginya yang ia sukai adalah Atheya. Ia tidak mau pusing memikirkan hal yang berhubungan dengan Kania.

__ADS_1


__ADS_2