
Dari hari ke hari hubungan Atheya dan Saga semakin dekat. Seperti hari ini mereka menghabiskan waktu berdua di pantai. Lebih tepatnya di atas mobil. Setelah memarkirkan mobilnya baik Saga maupun Atheya tak lantas turun. Saga menyuruh Atheya pindah di kursi penumpang di belakang kemudi dan di ikuti dirinya.
Atheya berdebar ia seperti tahu apa yang akan di lakukan Saga. Namun ia tak menolak. Saga memeluk tubuhnya erat sembari memberi kecupan di pucuk kepala perempuan itu berkali - kali seakan sangat sayang.
"Mau turun sekarang? ", beberapa saat kemudian Saga bersuara.
" Terserah kamu"
"Begini aja dulu ya? "
Atheya mengangguk mengiyakan. Saga lantas memeluk tubuh Atheya kembali yang sempat terurai namun tak sepenuhnya tadi.
"Saga... "
"Hm... ", jawab Saga masih dengan memeluk Atheya dan memejamkan mata menyenderkan kepalanya di atas kepala Atheya.
" Sebenarnya hubungan kita ini apa? "
"Sayang maunya gimana? ", Saga tak lagi memanggil 'mbak' jika mereka hanya berdua.
Atheya sudah menegurnya agar tak memanggil 'sayang' akan tetapi pemuda itu tak peduli.
" Kok aku? "
"Iya dong. Aku tuh selama ini cuma ngikutin sayang aja maunya gimana. Nggak mau jadi pacarku... oke"
"Tapi kamu peluk... cium? "
"Iya aku memang gak tahan untuk itu", Saga mengakui jika dirinya tak bisa menahan diri jika bersama Atheya.
" Memang nggak apa - apakah jika aku peluk, cium cewek lain? ", lanjut Saga.
Sejurus dengan pertanyaan Saga, Atheya lantas melepaskan diri dari pelukan Saga. Tatapan mata tajam yang menusuk ke arah Saga.
" Nggak, nggak cuma dirimu yang aku mau tapi... ", Saga menyadari perubahan wajah Atheya lantas menarik tangan Atheya agar masuk ke dalam pelukannya lagi.
Atheya mendongakkan wajah ketika Saga tidak melanjutkan ucapannya.
" Tapi apa? "
Saga menghela napas sesaat kemudian melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
"Tapi aku nggak bisa begini terus. Aku butuh kepastian dan menunggu itu melelahkan... "
Atheya masih menunggu kelanjutan dari Saga.
"Jadi... aku bisa saja melepasmu dan menjalani dengan yang lain", Saga sedikit merasa berat mengungkapkan hal itu.
Ia tak punya pilihan. Jika Atheya tak ingin ia miliki maka ia akan melepaskan perempuan tersebut. Ia juga harus memikirkan masa depannya bukan? Sedang bersama Atheya masih abu - abu.
"Kamu gampang sekali bicara begitu setelah apa yang sudah kamu lakukan", Atheya kecewa dengan pernyataan Saga.
__ADS_1
" Mau bagaimana lagi... dirimu bahkan tak mau menjadi pacarku. Dan soal aku yang sudah menyentuhmu, memeluk, mencium... kamu juga tak menolak"
"Mbak juga menikmatinya bukan? ", Saga menegaskan dengan memanggil 'mbak' kembali.
" Mbak suka sama aku? ", lanjutnya.
Atheya menatap sepasang netra teduh pemuda tersebut, ia bingung harus menjawab apa. Ia mungkin memang sudah menyukai Saga tapi ia masih ragu. Ada sesuatu yang ia takuti.
"Sudahlah jangan di bahas. Ayo kita turun! ", Saga mengalihkan ia seperti sudah tahu jawaban dari Atheya.
Sepanjang menyusuri pantai menikmati hembusan angin pantai hati dan pikiran Atheya melalang buana entah kemana. Ia terpikirkan kata - kata Saga. Lelaki itu bisa saja meninggalkannya jika ia tak memberi kepastian hubungan mereka. Apa yang harus ia lakukan? Atheya bingung.
Sementara Saga justru terlihat tenang. Mungkin ia sudah memantapkan hatinya agar melepas Atheya jika memang perempuan tersebut tak mau ia miliki.
Sulawesi,
Semenjak kepulangannya dari Kalimantan Kania antusias menceritakan sosok Saga kepada kedua orangtuanya. Seperti saat ini bahkan sudah sebulan lebih berlalu ia masih semangat membicarakan Saga setiap berkumpul dengan kedua orangtuanya.
"Ayolah pa, ma... kita ke tempat om Hendra! ", rengek Kania.
" Sudah sebulan lebih kamu pulang dari sana masih membicarakan Saga Saga... apa kali ini kamu serius? ", tanya sang mama bernama Ratna.
" Iya. Seganteng apa sih si Saga itu papa jadi penasaran? ", Tomi menimpali.
" Makanya pa ayo ke sana. Papa sama mama pasti kagum kalau sudah bertemu. Dia itu ganteng, keren,udah gitu mapan lagi. Pokoknya paket komplit deh. Idaman semua cewek"
Ratna melirik ke arah suaminya sambil tersenyum simpul.
" Lagi pula apa si Saga itu juga suka sama kamu? ", lanjutnya.
" Iya, apa Saga juga mau sama kamu? Nanti jauh - jauh kita ke sana ternyata Saga sudah punya pacar", Ratna menambahi.
"Dia itu nggak punya pacar ma, Kania sudah pernah ngobrol - ngobrol sama tante Rully. Dan katanya Saga itu belum punya pacar"
"Jadi kamu di sana sudah pendekatan sama mamanya Saga? Calon mertua hehehe", ledek Ratna pada putrinya.
" Ih mama kok malah ngledek sih", Kania tak terima jadi bahan leledekan orangtuanya.
"Udah ah aku mau mandi aja, mau jalan sama teman", Kania pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Kedua orang tua Kania tertawa kecil melihat tingkah putri mereka.
" Jadi gimana menurut papa? Apa kita perlu menuruti keinginan Kania? ", tanya Ratna setelahnya.
" Sepertinya Kania sudah tergila - gila pada Saga Saga itu", ucap Tomi.
"Ya mamalah coba bicara sama kak Retno! Dia kan kakaknya mama. Masa papa yang ngomong kan kurang pas", lanjutnya.
Retno adalah kakak dari Ratna yang merupakan istri Dion. Dion sendiri merupakan kakak Hendra, papa Saga.
" Iya deh nanti mama ngomong sama kak Retno"
__ADS_1
Ditempat lain bersamaan Saga tampak bersin berkali - kali saat ia sedang makan dengan Atheya. Ia tak tahu tiba - tiba merasa hidungnya sangat gatal.
"Ih gatel banget nih hidung... hatchi... hatchi... ", keluh Saga dengan bersin. Untung saja saat itu di warung hanya mereka berdua yang makan.
" Kamu kenapa dari tadi bersin - bersin? ", tanya Atheya.
" Nggak tahu"
"Ada yang bilang kalau di tengah makan bersin - bersin itu ada orang yang lagi ngomongin", ucap Atheya yang pernah mendengar hal semacam tanda demikian dari orang.
" Heh... masa? ", Saga tak percaya.
" Hehehe", Atheya tertawa melihat ekspresi Saga yang tak percaya.
"Aku kan cuma dengar dari orang", lanjutnya.
Setelah makan mereka masih bersantai menikmati pemandangan pantai hingga sore pukul empat mereka memutuskan untuk pulang.
Ditengah perjalanan tangan kiri Saga terulur menggenggam tangan sebelah Atheya yang menganggur di atas pangkuan sembari fokus pada jalanan.
"Kalau aku menjalani dengan cewek lain gimana? ", tanya Saga tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tetap fokus menyetir.
Perempuan yang duduk di sebelahnya pun lantas menoleh dan menatapnya dari samping.
" Hm...? Gimana? Nggak apa - apa kalau aku tinggalin mbak dengan cewek lain? ", lanjut Saga.
" Kenapa kamu tiba - tiba ngomong gitu sih? ", Atheya balik bertanya.
" Ya tanya aja, siapa tahu tiba - tiba ada cewek lain yang mau sama aku"
"Kania", ucap Atheya.
" Kania suka sama kamu? Udah kelihatan kok", lanjut Atheya.
"Ya bukan Kania aja. Bisa siapa saja"
"Apa kamu juga suka sama Kania? ", Atheya memastikan perasaan Saga terhadap Kania.
Saga menggeleng pelan sambil tersenyum kecil nyaris tak terlihat.
" Aku nggak suka sama dia. Tapi itu mungkin bisa saja terjadi"
Saga menepikan mobilnya dan berhenti. Ia memutar tubuhnya ke samping agar bisa berhadapan dengan Atheya. Ia membuka seat beltnya kemudian mendekat ke arah Atheya. Saga menarik tengkuk Atheya kemudian mendaratkan ciuman di bibir perempuan tersebut. Memainkan bibirnya dan anehnya tak seperti biasa... Atheya membalas ciuman Saga. Hingga keduanya benar - benar menikmati aktifitas tersebut beberapa menit.
"Maafkan aku...? ", ucap Saga pelan dengan wajah masih saling menempel setelah ciuman mereka berakhir.
Atheya merasa situasinya sekarang menjadi melow. Entah kenapa dengan lelaki yang ada di sebelahnya. Seharian ini kata - kata yang keluar dari mulut lelaki tersebut terdengar aneh.
Saga sendiri merasa perasaannya tak karuan. Ada rasa sedikit was - was jika mengingat ucapan Kania. Perempuan itu bisa nekat. Itulah yang di ketahui Saga mengenai Kania. Pasalnya beberapa hari di rumahnya Kania tak peduli ketika ia menolaknya. Di tambah ucapan dari sang papa yang terus terngiang di benaknya. 'Kania adalah keponakan dari bibinya'. Semoga tak seperti yang di khawatirkan, Saga berusaha menyemangati dirinya dan menepis pikiran negatif di kepalanya.
Mobil melaju setelah ciuman keduanya berakhir. Hening. Tak ada yang berbicara. Keduanya bergelayut dengan pikiran masing - masing.
__ADS_1