
Keesokan harinya Atheya menjalani rutinitasnya selama di kampung seperti biasa namun hari ini hatinya agak gelisah. Besok lusa ia harus kembali lagi ke kota dimana ia bekerja. Rasa berat meninggalkan sang ibu memunculkan tangisan yang tidak terdengar. Sebab ia menangis di dalam hati. Ia tahu saat ini ibunya tidak sendiri karena ada suaminya namun tetap saja Atheya masih ingin dimanja oleh sang ibu. Meletakan kepalanya di pangkuan sang ibu. Ingin dekat dengan sang ibu.
"Theya... ", panggil ibu Theya dari dalam rumah.
" Ya bu"
"Nanti jika kamu balik ibu bawain apa? Gimana kalau wingko saja"
"Hm... gimana ya? Memangnya tidak merepotkan ibu? "
"Ya nggak tow, kan buat oleh - oleh temanmu yang di sana juga"
"Baiklah terserah ibu saja"
Setiap akan kembali ke kota tempat ia bekerja, Kamila pasti merasa dadanya sesak. Apakah itu berarti ia kekanakan? Entahlah.
Besok lusanya, setelah subuh.
"Kamu hati - hati ya di sana, jaga kesehatan, dan pikirkan juga soal menikah. Kamu butuh teman hidup", pesan sang ibu sembari mencium pipi kanan kiri dan memeluk Atheya.
" Iya bu, Atheya akan sangat merindukan ibu", ucap Atheya.
Beberapa saat kemudian Atheya di antar salah satu anggota keluarganya menuju tempat travel yang akan membawanya ke Surabaya. Setelah kepergian Atheya, ibunya tak bisa membendung air mata yang sedari tadi ia tahan. Ia memang sengaja menahannya di hadapan putrinya, Atheya.
"Sudahlah bu... doakan saja yang terbaik buat Atheya! " sang suami menasehati.
Ibu Atheya kemudian mengusap air matanya, berusaha untuk tenang. Di sisi lain Atheya yang merasa sedih harus jauh dengan sang ibu di tambah ingatan terakhir dengan sang mantan, Angga membuat semakin sesak dadanya hingga ia mengambil nafas kemudian menghembuskannya beberapa kali di ulang.
Pukul lima tiga puluh menit sore Saga baru pulang dari bekerja, ia lantas duduk di sofa ruang keluarga. Ia melihat ada sepiring wingko di atas meja yang berada di depannya. 'Di sini ada makanan beginian ', pikirnya.
"Ma ada ya di sini jual wingko? Wingko kan ini namanya? ", ia bertanya kepada sang mama yang baru keluar dari kamar.
" Mungkin ada, entahlah mama nggak pernah tahu sih"
"Lha ini siapa yang beli? Bukannya mama? "
"Itu nggak beli, itu oleh - oleh dari Atheya"
"Dia udah pulang? ", Saga menjadi semangat seketika.
" Baru tadi siang datang ", saat ini Rully yang sudah duduk.
Saga kemudian berdiri dan berjalan keluar menuju rooftop.
" Kenapa sih anak itu...aneh?", gumam Rully yang heran dengan anak pertamanya.
Saga melongok melihat ke arah kamar Atheya, dan sialnya para penghuni kos berkumpul di depan tv sambil menikmati wingko.
"Aish pasukan huru - hara di situ lagi", gumam Saga.
Ia lantas masuk ke dalam rumah lagi dengan kurang semangat.
" Abang kenapa sih tiba - tiba ke rooftop? ", tanya Rully.
" Nggak ada apa - apa ma. Saga masuk kamar dulu ya ma... gerah mau mandi! "
Malam harinya pukul delapan Rasya yang dari warung sebelah untuk membeli pulsa berpapasan dengan Atheya yang ingin keluar.
"Loh mbak Theya mau kemana? "
"Eh Rasya, ini mau makan di sebelah"
"Oh "
"Duluan ya"
"Oke"
Rasya langsung berlari masuk rumah dan berteriak memanggil sang kakak.
"Abang.... bang",
" Just apa sih kamu Rasya? Ada apa kamu sampai lari - lari dan teriak? ", tanya Hendra.
" Itu anu pa abang dimana? "
"Tuh.bikin kopi di dapur"
"Abang? ", Rasya yang sudah berdiri di samping Saga.
" Hm", jawab Saga singkat.
"Mbak Theya mau makan di warung sebelah", bisik Rasya di dekat telinga Rasya.
__ADS_1
Saga pun memandang Rasya sebentar untuk memastikan bohong atau tidak. Hingga ia disadarkan oleh suara sang adik kembali.
" Buruan susul! "
Tanpa pikir panjang Saga lantas meninggalkan dapur berlari keluar. Ia sampai lupa mematikan kompor. Beruntung Rasya memperhatikan kemudian mematikannya.
"Mana kopinya? ", tanya sang papa.
" Kopi apa? ", Rasya balik bertanya.
" Kopi papa mana? ",
" Siapa yang buat kopi untuk papa? "
"Tadi abangmu Saga... "
"Jadi abang tadi buat kopi untuk papa? ", Rasya baru menyadari.
" Iya. Sudah sana buatin papa kopi! "
"Lhah... ", Rasya malas namun tetap menjalankan perintah papanya.
Saga berlari menuju warung makan di dekat rumahnya Di tengah jalan ia baru ingat sesuatu.
"Ah sial aku nggak bawa dompet", Saga mengumpat dan berbalik kembali ke rumah.
" Kenapa sih itu anak lari - lari nggak jelas", ucap Hendra ketika melihat Saga masuk rumah lagi dengan berlari.
Beberapa saat Saga keluar lagi dengan berlari tanpa mempedulikan papanya di ruang tengah sedang mengamatinya.
"Ini pa kopinya", ucap Rasya begitu sudah dekat dengan papanya dengan membawa secangkir kopi.
" Oh iya. Makasih ya", Hendra menerima kopinya dan mengucapkan terimakasih.
Rasya hanya mengangguk kemudian salah satu tangannya terulur, menengadah ke arah sang papa.
"Apa? ", ucap Hendra.
" Bayarannya mana? ", Rasya dengan polosnya menjawab.
" Astaga... kamu ini disuruh orangtua hitung - hitungan banget"
"Sekarang itu nggak ada yang gratis pa"
Bebarapa saat kemudian Rully datang dengan membawa dompet suaminya.
" Uang buat apa pa? ", tanyanya sambil berjalan ke arah suaminya.
" Nih anakmu mata duitan, masa di suruh buatin kopi aja minta bayaran"
"Hahaha... sekarang papa baru tahu ya jika anak kita yang satu ini mata duitan? Itu biasa tiap hari dia minta sama mama. Padahal udah dikasih uang saku tapi ya pulang sekolah minta lagi", Rully justru tertawa tidak kaget dengan kelakuan Rasya.
Di sebuah warung makan Saga celingukan mencari keberadaan Atheya. Beberapa detik, matanya menangkap seorang perempuan yang sedang duduk sendiri sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Itu dia", gumam Saga.
" Mau pesan apa mas? ", tanya orang yang punya warung.
" Eh anu... bakso, iya bakso aja", Saga kaget hingga memesan asal makanan tanpa melihat daftar menu yang ditempel di dinding.
"Minumnya apa? "
"Es jeruk", jawab Saga tanpa melihat orang yang bertanya.
" Nanti antar di meja sana ya! ", lanjut Saga dengan menunjuk tempat Atheya duduk.
" Baik mas"
Saga berjalan ke arah tempat Atheya duduk.
"Permisi...? ",
" Ya", jawab Atheya dengan menoleh ke arah suara.
"Boleh ikut gabung duduk di sini? "
Tak ada jawaban hingga beberapa saat dari Atheya, sebab yang ditanya merasa aneh dan pandangan matanya mengarah ke kanan ke kiri. Melihat meja di sekitar yang masih kosong. Tapi kemudian ia mengangguk. Saga tersenyum karena di perbolehkan duduk di tempat yang sama dengan Atheya. Ia sudah was - was ketika Atheya tidak segera menjawab malah melihat kesana kemari.
"Kamu... yang kos di tempat mama kan? Ehm maksudku tante Rully", Saga basa - basi.
" Iya", jawab Atheya singkat dan datar.
"Kenalkan aku Saga anaknya tante Rully, kita belum saling kenal kan? ", Saga mengulurkan tangannya mengajak berjabat Atheya.
__ADS_1
Atheya tak kunjung menerima uluran tangan Saga, Ia justru melihat tangan lelaki itu tanpa ekspresi. Dan hal itu membuat Saga berpikir jika Atheya tidak mau di ajak berjabat tangan. Hingga muncul niat Saga untuk menarik tangannya, namun hampir ia menarik tiba - tiba tangan Atheya menyambar menjabat tangannya.
"Atheya"
Saga mengangguk menjadi kikuk seketika. Perasaannya tidak bisa di jabarkan, haruskah ia senang atau...? Pemilik warung datang dengan membawa sebuah pesanan yang tidak lain pesanan Atheya karena yang lebih dulu.
"Mari makan! ", Atheya menawarkan untuk formalitas saja.
" Ah iya makasih duluan saja! "
Atheya kemudian memakan pesanannya tanpa memperdulikan keberadaan Saga hingga beberapa menit kemudian pesana Saga datang. Tak ada pembicaraan antara keduanya.
"Saya duluan ya? ", pamit Atheya yang lebih dulu selesai makan.
" Ah iya"
Saga melihat Atheya menuju tempat kasir untuk membayar.
'Masa begini aja?', dalam hati Saga. Ia kemudian mengakhiri makannya, meminum dengan tergesa es jeruknya. Saga berjalan cepat menuju meja kasir setelahnya ia meninggalkan selembar uang lima puluh ribu di atas meja kasir.
"Kembaliannya ambil saja! ", ucap Saga tanpa melihat orang di meja kasir.
Pandangannya fokus melihat Atheya yang sudah berjalan di luar pagar warung tersebut. Kemudian ia berlari mengejar Atheya yang jalannya cukup cepat untuk ukuran wanita sama sekali tidak anggun.
" Atheya tunggu! ", teriak Saga.
Atheya hanya menoleh kemudian berbalik lagi seperti tidak menghiraukan Saga.
" Atheya... kamu besok malam ada acara nggak? ", tanya Saga ketika sudah berjalan sejajar dengan Atheya.
" Nggak"
"Kalau gitu besok malam bisa kan makan malam di luar? "
"Nggak"
"Ajak yang lain saja! ", lanjut Atheya.
'Duh', dalam hati Saga.
" Itu... maksud aku ya sama yang lain juga, bisa ya? "
"Acara? "
"Sebenarnya temanku sedang berulang tahun, dia mengundang aku dan aku boleh bawa teman", bohong Saga.
" Teman...? Anak kos? "
"Iya, kan kamu juga tahu aku baru pulang kesini jadi belum terbiasa sama teman yang lain. Aku pikir ngajak anak kos saja"
"Gimana? Bisa ya Atheya? Nanti aku kasih tahu anak yang lain juga", Saga bertanya kembali karena Atheya masih diam.
Atheya nampak berpikir kemudian ia mengangguk. Sekali - kali tidak masalah kan ngumpul ramai - ramai diluar... pikir Atheya.
" Oke deal. Nanti aku kasih tahu yang lain", ucap Saga.
'Yes', dalam hati Saga walaupun ia harus segera membuat skenario untuk acara besok malam.
Tak ada lagi percakapan antara mereka hingga sampai rumah. Atheya segera turun melalui jalan samping menuju kamarnya yang ada di bawah sementara Saga masuk rumah melalui pintu depan.
Saga segera menuju kamar sang adik agar memberitahu anak kos tentang rencananya besok malam kecuali Atheya karena sudah tahu lebih dulu. Ia kemudian merogoh ponsel yang ada di saku celananya mehubungi seseorang yang tak lain teman dekatnya dari sekolah.
"Tut... tut... tut", bunyi tersambung ke nomor yang di tuju.
" Halo brother... ada apaan tumben telpon biasa cuma chat doang? "
"Don gue butuh bantuan lo nih? "
"Bantu apaan? "
"Lo besok malam pura - pura ulang tahun dan bikin acara di cafe! "
"Apa...? Gila lo ya ultah gue masih jauh"
"Tolonglah...! "
"Kenapa sih lo ngebet banget... pakai acara gue di suruh pura - pura ultah"
"Udah lo jangan banyak ngomong nanti gue ceritain yang penting sekarang lo persiapkan tempat, makanan dan apalah yang diperlukan... soal biaya nanti semua gue yang tanggung! "
"Ini orang minta bantuan atau apa...? ", ucap Doni namun tak ada respon dari Saga.
"Tut", telpon diakhiri.
__ADS_1
" Lhah... nggak ada akhlak memang nih orang udah minta bantuan pakai maksa...udah gitu main matiin aja", oceh Doni.