
Saga :
"Udah mau tidur? "
Atheya:
"Belum. Kenapa? "
Saga:
"Kangen"
Atheya:
"Kangen? Orang habis ketemu? "
Saga:
"Masih kangen tau"
Saga:
"Pengen lama - lama sama mbak tapi nggak bisa karena ada Kania"
Atheya:
"Tapi kayaknya kamu seneng ditempelin dia terus. Nyatanya kamu nggak nolak? "
Saga:
"Bukan gitu kali. Aku terpaksa karena dia keponakan dari bibi sekaligus tamu dan dia di sini sendiri. Seperti punya tanggungjawab gitu"
Atheya:
"Aku ngerti maksud kamu"
Saga:
"Aku sih pengennya mbak yang nempel ke aku"
'blush', pipi Atheya merah seketika membaca pesan dari Saga. Ia tidak akan bisa menyembunyikan rasa malunya jika saja saat ini mereka bertatap muka langsung. Untung saja hanya lewat pesan.
Atheya berpikir beberapa saat untuk membalas pesan dari Saga. Ia merasa malu dan tak tahu harus membalas bagaimana.
Atheya:
"Kamu pinter banget sih gombal? "
Saga:
"Aku nggak gombal. Apa pantas aku gombal sama cewek yang lebih tua dari aku? "
Saga:
"Takut ya😟"
Atheya:
"Wkwkwk"
Atheya:
"Udah ah ayo tidur! ", alasan Atheya yang sebenarnya ia tak tahu bagaimana harus menanggapi Saga.
Saga:
"Masih sore"
Saga:
"Tapi ya sudah kalau mbak udah ngantuk. Selamat tidur dan mimpiin aku ya 😘"
Atheya:
__ADS_1
"Saga... apa itu? Kenapa begitu? "
Saga:
"Apa? "
Atheya:
"Emot itu? "
Saga:
"Kenapa? Aku mau"
Atheya:
"Udah udah udah"
Saga:
"Wkwkwk"
Setelah itu mereka berhenti berkirim pesan. Tidak lama kemudian ponsel Atheya berdering dan nampak nama Saga memanggil.
"Apa? ", Atheya menjawab.
" Besok pulang kerja aku jemput ya? "
"Hm... ", Atheya berpikir.
" Please aku pengen jalan sama mbak! "
"Baiklah"
"Yes. Thank's baby"
"Saga... ", teriak Atheya.
Ia refleks berteriak hingga ia menyadari,
" Iya iya bye", Saga mengakhiri panggilannya.
"Bye"
"Tut".
Setelah dari toko Saga berkirim pesan dengan Atheya. Dalam rencana sebelumnya ia ingin berdua dengan Atheya. Namun gagal karena ada Kania. Saga yang merasa kurang puas hingga ia mengirim pesan kepada Atheya.
Atheya senyum - senyum sendiri setelah berbicara dengan Saga lewat telpon. Ia sendiri tak tahu kenapa Saga membuat ia jadi salting seperti saat ini.
Saga merasa kurang sebenarnya walau sudah berkirim pesan bahkan menelepon sebentar. Masih ada yang mengganjal di dadanya. Ia berbaring miring memeluk guling membayangkan jika guling tersebut adalah Atheya.
"Bolehkah aku begini besok mbak? ", gumamnya kemudian ia memejamkan mata.
Saga melajukan mobilnya menuju ke sebuah cafe yang letaknya di pinggir pantai. Ia memilih tempat yang berada di dalam, seperti privat room (bayangkan saja begitu)
" Kenapa kita nggak di luar aja? ", tanya Atheya setelah kepergian pelayan cafe.
" Aku pengen di dalam", ucap Saga sembari melepas jaket yang menempel di tubuhnya.
Saga mendekat ke arah Atheya hingga kini mereka duduk berdampingan di atas sofa. Saga duduk menyamping kemudian meraih tubuh Atheya pelan menarik ke dalam pelukannya. Posisi mereka saat ini adalah Atheya menghadap ke depan dan Saga memeluknya dari belakang.
"Apa di sini nggak mahal? ", Atheya sedikit menoleh ke arah lelaki di belakangnya yang sudah menelusup kan wajahnya ke lehernya dengan memejam.
" Hm", jawaban Saga tanpa membuka mata seolah menikmati aroma wanita yang di peluknya.
'Ya Tuhan kenapa begini? Kenapa aku susah menolak sentuhannya? Bolehkah seperti ini Tuhan, tolong ampuni hambamu ini? ', dalam hati Atheya.
Atheya membiarkan saja Saga memeluk dirinya. Entah kenapa dengan lelaki itu seolah tak mau melepas Atheya. Memeluk namun tak bicara.
Beberapa menit kemudian Saga membuka matanya dan mengurai pelukannya. Atheya pun lantas membenarkan duduknya yang tadi menyamping jadi lurus ke arah meja di depannya. Saga masih di posisi semula menatap wajah Atheya lebih dekat. Atheya membalas menatap. Mereka saling menatap dalam diam.
Saga semakin memajukan wajahnya mengusap lembut dagu lancip wanita di depannya. Beberapa detik kemudian ia mendaratkan bibirnya pada bibir wanita tersebut. Mengecupnya pelan beberapa kali. Dan setelahnya mulai memainkan bibir wanita tersebut dengan bibirnya. Satu detik, dua detik, tiga detik, dan...
__ADS_1
"Astaga... ", Saga mengusap wajahnya ke arah atas hingga rambutnya ke belakang.
Ia menyadari suatu hal saat ini bahwa ia sedang membayangkan sedang mencium bibir wanita di depannya.
" Ada apa? ", Atheya yang kaget dengan sikap Saga.
" Nggak, cuma ingat sesuatu", alasan Saga yang memang ada benarnya karena ia ingat statusnya dengan Atheya setelah ia tersadar dari fantasinya.
"Ada yang kelupaan? ", lanjut Atheya.
" Nggak kok, cuma ingat sesuatu aja. Gak usah di bahas"
"Perlu kita pulang? "
"Nggak. Tenang aja! "
"Yakin? ", Atheya masih penasaran. Ia takut jika itu hal yang penting.
Saga mengangguk dan tak lama ada yang mengetuk dari luar. Sudah bisa dipastikan jika itu pelayan yang sedang mengantar pesanan mereka.
" Permisi...? "
"Masuk saja! ", perintah Saga.
Munculah dua pelayan sekaligus membawa pesanan mereka. Saga dan Atheya langsung menyantap makanan di atas meja. Di sela makan pikiran Atheya justru berkelana hingga tampak kurang fokus dengan makanannya.
" Kenapa? Makanannya nggak enak? ", Saga yang menyadari Atheya tampak seperti kurang berselera dengan makanannya.
" Ah...nggak, enak kok", Atheya sedikit gelagapan.
'tempat sebagus ini nggak cocok kalau sampai makanannya nggak enak', dalam hati Atheya.
Jika saja Saga tahu bahwa sebenarnya Atheya ingin 'lebih'...maka ia tak tahu lagi harus di sembunyikan dimana wajahnya. Terdengar gila memang Atheya menginginkan lebih dari di peluk Saga. Atheya sedikit membuang napas menggelengkan sedikit kepalanya. Untuk membuang pikiran kotor di kepalanya.
'Nggak nggak Atheya... kenapa otakmu jadi mesum begini', dalam hati Atheya.
Sesekali Saga memperhatikannya kemudian tersenyum. Atheya membalas tersenyum mengetahui sedang diperhatikan Saga.
Di tempat lain Kania mondar - mandir di dalam kamar. Ia tak tahan kemudian memilih keluar menuju ruang keluarga yang dimana ada Rully dan Hendra sedang menonton TV.
"Tan, Saga kok belum pulang? ", Kania tak sabar untuk tak bertanya.
" Dia tadi bilang mau jalan sama temannya", jawab Rully.
Hendra memandang Kania dengan memincing.
'Kenapa tanya Saga belum pulang? Ada apa? ', dalam hati Hendra curiga.
"Ada apa memangnya Kania? ", lanjut Rully bertanya.
" Tidak ada apa - apa tante. Kok tumben belum pulang"
"Kadang Saga memang nggak langsung pulang. Dia main dulu dengan temannya ", Rully menjelaskan.
" O gitu. Kania ke kamar dulu tan sepertinya ada yang menelepon? ", alasan Kania saja untuk menghindar dari Rully dan Hendra.
Karena sebenarnya tidak ada panggilan di ponselnya.
Kania lantas menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Ia menghubungi sebuah nomor.
" Tut... tut... tut... ", bunyi dari sebrang yang berarti tersambung.
" Telulit..telulit...telulit....", ponsel Saga berdering.
Saga melihat nama si pemanggil namun tidak menjawabnya. Di biarkan nya hingga mati begitu saja. Kemudian ia merubah mode yang awalnya berdering jadi silent.
"Nggak kamu angkat? ", tanya Atheya.
" Nggak"
"Kenapa? Siapa tahu penting ? "
"Nggak penting", jawab Saga sambil memainkan alisnya ke atas ke bawah dengan senyum menggoda Atheya.
__ADS_1
" Dasar", ucap Atheya dengan sedikit tertawa.