Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Merasa Tersinggung


__ADS_3

Sesuai rencana Saga dan Doni saat ini sudah berada di sebuah mall.


"Ga coba kita masuk toko itu kayaknya bagus - bagus bajunya! ", Doni mengajak Saga masuk ke sebuah toko yang di lihat dari luar saja sudah kelihatan mahal.


" Benar Ga cantik - cantik bajunya, kalau gue punya cewek gue juga mau beliin di sini", Doni beriringan dengan Saga sembari melihat - lihat pakaian wanita.


"Silakan kak ada yang bisa di bantu?, tanya seorang pelayan dengan ramah.


" Nanti ya mbak kita mau lihat - lihat dulu ada yang cocok nggak"


"Baik kak silakan! "


Dalam hati Saga,


'Emang nggak salah gue ajak Doni. Luwes banget ngomongnya kayak emak - emak hihihi', Saga yang berjalan sedikit di belakang Doni menutup mulutnya menahan tawa.


"Nah ini Ga", setelah beberapa menit Doni menemukan yang menurutnya cocok untuk Atheya.


" Masa merah dan ini bukannya terlalu seksi", menurut Saga baju itu terlalu seksi karena tidak ada lengannya dan panjangnya sepertinya di atas lutut jika di pakai.


"Lhah elu... merah ini lambang keberanian dan sangat cocok dipakai wanita dewasa", Doni memberi wejangan dengan suara meyakinkan hingga membuat pelanggan yang lain menahan tawa saat memperhatikan Doni dan Saga.


" Iye... elu kayak mbah - mbah", Saga yang menyadari mereka saat ini jadi pusat perhatian dan bahan tawaan beberapa orang pun merasa tidak enak.


"Tapi kita lihat yang lain aja dulu! Siapa tahu ada yang lebih bagus", Saga merangkul pundak Doni membawa ke tempat yang lain.


Doni memilah - milah deretan baju yang tergantung serta memperhatikan yang terpajang di patung. Saga hanya memperhatikan dari belakang. Betapa lihainya lelaki itu memilih pakaian benar - benar seperti perempuan, pikir Saga sambil menarik - narik janggutnya yang di tumbuhi rambut namun tidak lebat dengan tanganya yang satu di lipat tepat di bawah dada.


Beberapa menit kemudian mata Doni nampak berbinar ketika melihat sebuah dress pendek yang terpajang di salah satu patung. Ia sedikit berlari menghampiri patung tersebut.


"Saga... cepat sini! ", Doni melambaikan tangan ke arah Saga.


Yang di panggil justru berjalan santai.


" Lihat nih oke kan! ", Doni memperlihatkan dress brokat warna hitam dengan lengan pendek kepada Saga.


" Hm... iya boleh daripada yang merah tadi", sebenarnya Saga tidak terlalu mengerti soal pakaian wanita.


"Tapi yang merah tadi juga bagus Saga"


"Tapi aku nggak yakin Atheya bakal mau pakai"


"Iya juga sih"


"Ya udah ini aja kalau gitu. Eh tapi baju aja nih? "


"Emang apa lagi?"


"Siapa tahu sekalian sepatunya? "


"Menurutmu?"


"Ya sekalian lah... tanggung banget baju doang"


"Ya udah ayo cari sepatunya! "

__ADS_1


Mereka pun mencari sepatu dengan warna senada baju yang dibelinya tadi. Dan akhirnya pilihan mereka jatuh pada sebuah heels warna hitam dengan model slop dan di lakangnya ada tali.


Setelah mendapatkan yang dicari mereka pergi makan di sebuah restoran yang berada di mall tersebut. Selesai makan mereka langsung pulang.


"Kira - kira pas nggak ya bajunya? Apa dia suka? ", Saga bertanya pada dirinya sendiri ketika ia berada di dalam kamar.


Saga kemudian keluar kamar karena ia belum mengantuk padahal sudah pukul sepuluh lewat.


Ia berdiri di rooftop sambil memandang langit malam.


" Cklek", suara pintu.


Saga pun menoleh ke arah sumber suara. Di lihatnya Atheya keluar dari kamar memakai baby doll warna ungu dengan rambut agak berantakan. Sepertinya perempuan itu terbangun dari tidurnya dan mungkin ingin ke kamar mandi. Saga lantas teringat dengan pakaian yang ia beli. Ia pergi ke kamar dengan terburu. Mengambil paperbag yang ada di atas kasurnya. Kemudian ia turun dan menunggu Atheya keluar dari kamar mandi.


"Cklek", pintu kamar mandi terbuka.


Atheya keluar dan baru satu langkah tiba - tiba ada yang menarik tangannya hingga membuat tubuhnya berputar berbalik ke belakang. Hampir ia teriak jika saja Saga tidak segera membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.


"Saga... ", ucap Atheya agak kesal begitu Saga melepaskan bungkamannya.


" Maaf? ", ucap Saga.


Atheya tak menjawab karena masih kesal dengan yang baru saja Saga lakukan.


" Marah...? ", tanya Saga karena perempuan itu tak menjawab sama sekali justru memberi tatapan tajam.


" Aku kira kamu maling, aku terkejut banget tahu. Aku hampir saja teriak", ucap Atheya dengan nada kesal.


"Iya iya maaf...? Aku cuma mau kasih ini", Saga mengangkat salah satu tanganya yang sudah ada dua paperbag warna putih dan coklat.


"Buat mbak Atheya"


"Iya tapi apa ini? "


"Lihat saja sendiri! Ya udah selamat tidur kembali", ucap Saga kemudian berlalu menaiki tangga.


Atheya masih tak mengerti hingga ia lupa mengucapkan terimakasih kepada Saga. Atheya langsung mengeluarkan isi paper bag tersebut karena penasaran.


" Baju... ? Ini pasti mahal", gumam Atheya. Ia sudah bisa memperkirakan harga baju tersebut karena terlihat dari bahan, model serta paper bagnya.


Ia kemudian mencari bandrol harga namun sepertinya sudah di buang. Kemudian ia beralih ke paper bag satunya. Isinya sebuah kotak sudah bisa di pastikan isinya jika tidak sandal pasti sepatu. Ia kemudian membuka kotak tersebut dan tampaklah sepasang slop hitam dengan tapi di bagian belakang tampak elegan.


Keesokan harinya Atheya berencana mengembalikan barang pemberian Saga. Menurutnya itu sedikit berlebih. Ia pun mengirim pesan kepada Saga untuk bertemu nanti malam di garasi. Karena menurutnya di situlah satu - satunya tempat yang paling aman di wilayah kos-an.


Pukul sembilan malam di garasi,


"Aku tidak menerima barang yang sudah kuberikan. Kalau tidak mau buang saja! ", ucap Saga tegas dan dingin hingga membuat Atheya sedikit bergindik.


Baru hari ini Atheya melihat sisi lain dari Saga. Ia tak menyangka jika Saga akan merespon demikian.


" Kamu marah? ", Atheya bertanya kemudian.


" Nggak. Itu kan hak mbak Theya mau menerima atau tidak. Tapi seperti yang ku bilang tadi 'aku tidak menerima barang yang sudah ku berikan'. Jadi terserah mbak Atheya mau di apakan barang itu"


Atheya tampak berpikir dan suara Saga menyadarkannya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi aku pergi", ucap Saga.


Saga berbalik baru akan melangkah namun tangan Atheya sudah menahannya. Atheya memegang lengan Saga.


" Tapi sikapmu memperlihatkan jika kamu marah Saga? "


Saga berbalik menghadap Atheya kembali, berjalan mendekati perempuan itu. Sedikit merunduk dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Atheya kemudian berkata pelan seperti berbisik.


"Aku merasa sangat tersinggung jika menerima barang itu kembali"


"Tapi maksudku bukan seperti itu", Atheya berusaha menjelaskan dan Saga mendengarkan dengan posisi tubuh tegak kembali namun jarak keduanya masih amat dekat.


" Aku hanya merasa tidak enak menerima barang semahal ini. Lagi pula ini seperti seseorang memberikan hadiah kepada kekasihnya", lanjut Atheya.


"Apa itu masalah? Aku yang mau memberikannya. Mbak Theya bisa membuangnya atau mbak apakan terserah. Beres. Apa masalahnya? ", ucap Saga sambil bersendekap.


" Kenapa kamu mudah sekali mengatakan itu Saga? ", entah mengapa Atheya merasa sakit hati dengan perkataan Saga.


" Memang kenapa? Mau itu mahal, mau itu murah... itu kemauan ku sendiri"


"Ah sudahlah", Atheya memilih mengalah daripada berdebat dengan Saga. Ia berlari meninggalkan Saga dengan rasa kesal dan sakit hati.


" Eh mbak... ", Saga tak menyangka Atheya akan bersikap seperti ini.


Saga ingin mengejar tapi jika ia mengejarnya, ia khawatir anak - anak yang lain tahu.


" ****", Saga mengumpat kesal kepada dirinya sendiri.


"Saga... kenapa sih elu tidak bisa mengendalikan diri? ", ia berbicara sendiri menyalahkan dirinya.


Di sisi lain beberapa anak kos yang masih menonton TV saling bertanya ketika melihat Atheya berlari dan langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapa mereka.


" Eh kenapa dengan mbak Atheya? ", tanya Nita.


" Tau", Luluk mengendikan bahunya.


"Nggak biasanya dia seperti itu ", lanjut Luluk.


" Makanya itu", Nita menambahi.


"Mungkin lagi ada masalah atau apa", ucap Tari kemudian yang membuat mereka berhenti membahas Atheya.


Sementara di kamar Atheya sedang merutuki dirinya sendiri.


" Bodoh, dasar bodoh aku ini. Bisanya aku dengan percaya diri mengembalikan barang yang sudah diberikan kepadaku. Tentu saja orang itu tersinggung. Karena harga dirinya jatuh".


Atheya berpikir jika Saga pasti merasa harga dirinya jatuh ketika Atheya mengembalikan barang pemberiannya. Akan tetapi Atheya juga merasa sakit hati ketika Saga berkata dengan entengnya untuk membuang atau terserah terhadap barang tersebut. Apakah orang yang banyak uang memang seperti itu? Tak ada rasa sayang membuang uang.


Saga sangat menyesali dirinya yang tidak bisa lebih sabar lagi ketika berbicara di garasi beberapa waktu lalu dengan Atheya. Harusnya ia sadar jika Atheya memang dari awal tidak mau menjadi kekasihnya. Kenapa ia harus sakit hati ketika barang pemberiannya di tolak?


"Gue salah... gue bodoh", Saga merutuki dirinya sendiri.


Jika sudah seperti ini apakah bisa keadaan kembali seperti semula? Hubungannya dengan Atheya...?. Itulah saat ini yang dipikirkan oleh Saga.


Malam ini diakhiri dengan keduanya saling merutuki diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2