Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Kania


__ADS_3

"Heh... apa maksud lu? ", tanya Saga melalui telpon.


" Halah masih ngeles orang udah keciduk lagi makan berdua. Cuap - ucapan lagi", goda Doni pada Saga.


"Hahaha", terdengar suara seorang lelaki yang tidak asing. Andi.Tentu saja terdengar karena panggilan tersebut di loudspeaker.


" Resmikan sudah Ga keburu di ambil orang! ", suara seorang perempuan dari sebrang ikut menyahut.


" Meta? ", Saga kaget dan berpikir jika saat ini Doni berada di apartemen Andi.


" Iya"


"Jadi ini kalian sedang di apartemenmu Met? ", Saga memastikan.


"Benar sekali", jawab Meta.


" Ciee yang habis makan malam sama yayang", goda Meta.


"Ngomong - ngomong kalian tahu dari mana? "


"Dari mas Andi dan Doni yang lihat kamu sama Theya lagi makan. Ciee di suapin yayang"


"Nggak gitu kali. Ah sudahlah", Saga mengalah terserah apa yang dipikirkan oleh teman - temannya.


"Hahaha". Doni, Andi, dan Meta tertawa bersamaan.


" Udahlah bro nggak usah ngeles udah ketahuan juga! ", Doni menasehati.


" Hei Ga gara - gara kamu... aku dan Doni jadi batal makan. Akhirnya kita pulang dan nih makan mie instan", ucap Andi.


Setelah melihat Saga yang sedang makan bersama Atheya, kedua orang tersebut lantas memutuskan untuk pulang.


"Maksudnya? "


"Tadi kita sebenarnya mau makan di mall, tapi karena elu lagi sayang - sayangan. Kita nggak jadi masuk restoran deh", Doni menjelaskan.


" Syukurin siapa suruh nggak masuk? ",


" Memang nggak bahaya tah kalau kita masuk? Hahaha", tanya Andi dengan istilah yang sedang ngetren saat ini.


"Hahaha", Doni dan Meta tertawa lantaran Andi terlihat lucu dengan perkataannya.


" Kita juga tahu dirilah bro, masa kita tega gangguin teman lagi mesra. Iya kan Don? ", lanjut Andi.


" Yoi"


"Jadi gimana kalian udah resmi pacaran kah? "


"Belum"

__ADS_1


"Sepertinya pangeran kita kesusahan kali ini? ", ledek Meta.


" Tentu saja soalnya ini beda, pengeran yang ngejar dan yang kali ini lebih tua jadi susah digombalin. Hahaha", Doni menambahi.


"Hehehe nggak apa - apa Ga, semangat jangan gampang menyerah! ", Andi menyemangati.


Percakapan mereka pun berlanjut dengan candaan tak berfaedah hingga beberapa menit kemudian berakhir.


Dua hari kemudian Rully, Hendra, dan Rasya pulang. Namun mereka tidak hanya bertiga ada seorang wanita muda yang kurang lebih seumuran dengan Tari.


"Loh mbak Kania ikut ke sini? ", Rosmah yang sudah mengenal.


" Iya mbak, pengen main ke sini", jawab perempuan bernama Kania dengan sumringah.


Kania adalah keponakan dari istri kakak Hendra yang berada di Sulawesi. Ia sudah beberapa kali datang ke sini ketika tantenya berkunjung ke rumah Hendra dan Rully. Jadi ia sudah terbiasa tinggal di rumah Hendra.


Sore tiba dimana waktu pulang para pekerja tiba. Pukul lima tiga puluh menit waktu Kalimantan mobil Saga memasuki halaman. Saga lantas turun ketika mobil sudah diparkir. Ia berjalan menuju rumah, tak lupa mengucap salam ketika akan masuk rumah.


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... ", suara dua permpuan di ruang keluarga. Yang tak lain adalah Rully dan Kania.


" Mama... ", ucap Saga kemudian menghampiri Rully untuk menjabat tangan wanita tersebut dan mencium punggung tangannya.


Kemudian Saga juga mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Kania. Perempuan itu menyambut uluran tangan Saga dengan senyum manis.


" Saga langsung masuk kamar ya mah, mau mandi. Gerah", Saga berpamitan.


"Saga tambah ganteng ya tante", celetuk Kania ketika Saga berlalu dengan pandangan yang tak lepas ke arah lelaki itu.


Dalam hati Kania, ia tersenyum.


" Ah kamu bisa aja", Rully merendah walaupun ia sendiri juga mengakui wajah putranya itu memang tampan.


Kania dan Saga, mereka sama - sama tahu dan mengenal namun tidak begitu dekat. Sebab Saga yang cuek setiap perempuan itu datang ke sini. Sementara Kania, ia tak begitu suka dengan Saga lantaran sikap Saga yang cuek. Seperti tak peduli dengan kehadirannya. Tapi kali ini sepertinya berbeda. Perempuan itu seolah takjub begitu melihat Saga. Apalagi sebelumnya ia sudah mendengar jika Saga sudah menjadi lelaki mapan ketika Hendra berbicara dengan suami tantenya. Saat itu mereka berkumpul dan menceritakan tentang kehidupan yang salah satunya mengenai Saga. Dan Saat itu Kania juga ada di sana. Tentu ia mengetahui perkembangan Saga dari cerita tersebut. Apalagi setelah melihatnya sendiri sore ini.


'Ih... dia tambah ganteng dan seksi', dalam hati Kania.


Kania menghampiri Saga yang sedang duduk santai di teras sambil merokok.


"Hai... sendiri aja!? ", sapa Kania.


" Hm", hanya itu jawaban Saga.


"Aku dengar sekarang kamu sudah menetap kerja di sini? ", Kania mencoba membuka pembicaraan agar terus mengalir.


" Iya"


"Kenapa kemarin nggak ikut ke Sulawesi? "

__ADS_1


"Aku lagi di lokasi"


"Aku minta nomor kamu ya? "


"Buat apa? ", Saga lantas menoleh dan mngernyit. Sedari tadi ia berbicara dengan Kania tidak begitu memperhatikan perempuan yang duduk di sampingnya tersebut.


Ketika Saga menoleh ke arah Kania ternyata perempuan itu sedang menatapnya dalam dan bibir tersenyum. Dan duduknya ternyata cukup dekat.


'Deg', Saga yang melihat tatapan mata Kania.


Sebagai lelaki yang sering di gandrungi para kaum hawa tentu ia paham dengan tatapan mata tersebut.


'Cewek ini... jangan - jangan... ish apa yang ku pikirkan? Nggak nggak nggak ', dalam hati Saga mencoba menepis apa yang ada di kepalanya.


"Siapa tahu ada sesuatu yang penting", alibi Kania walau tak sepenuhnya bohong. Karena bisa saman kan ada yang darurat.


Saga mengangguk kemudian menyebutkan nomor ponselnya tanpa melihat ke arah Kania.


" Srek... ", suara pagar terbuka.


Muncul Lia dan Nita yang entah dari mana. Mereka pun saling pandang dengan Saga dan Kania begitu memasuki halaman. Lia dan Nita lantas mengangguk dan tersenyum sebelum mereka menuju kamar sebagai penghormatan karena menurut mereka Kania adalah tamu. Saga dan Kania pun membalas penghormatan dari kedua perempuan itu.


"Eh siapa cewek yang bersama mas Saga? ", tanya Lia kepada teman kosnya yang berada di depan TV.


" Siapa memang? ", Tari malah balik bertanya sebab tak mengetahui siapa yang dimaksud Lia.


" Yee kalau aku tahu ya nggak tanya lah mbak Tari"


"Orangnya itu putih, cantik, rambutnya di bawah pundak dikit panjangnya ", lanjut Lia menceritakan ciri - ciri Kania.


" Nggak tahu ah", Tari cuek.


Yanti yang berada di situ juga tak menanggapi. Menurutnya tidak penting. Ia tampak fokus dengan ponselnya.


"Eh besok malam kita ke pasar malam yuk! ", tiba - tiba ajak Tari kepada teman - temannya.


" Eh emang ada? ", Nita antusias.


" Ada, udah beberapa malam ini"


"Dimana Tar? ", tanya Yanti tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


" Biasalah di lapangan"


"Boleh", ucap Yanti singkat.


" Iya ayo aku juga mau", semangat Lia.


"Nanti kasih tahu Luluk sama mbak Theya! ", perintah Tari kepada Lia.

__ADS_1


" Siip👍", Lia dan Nita kompak.


__ADS_2