
Pov Atheya
Maafkan aku Angga... bukan aku tak mau berjabat tangan denganmu hanya saja sekarang sudah berubah. Terasa bagaimana...jika kita berjabat tangan dan bukankah ada hati yang harus di jaga? Istrimu. Yang merupakan temanku juga walaupun aku tidak begitu dekat namun hubungan kami baik - baik saja. Apakah sebenarnya dari dulu dia sudah menyukaimu? Tapi dirimulah yang tidak mengetahuinya atau menyadarinya? Entahlah. Tangan ini Angga... telapak tangan kanan inilah yang dulu menjabat tanganmu di hari ulang tahunmu di depan teman - teman sekelas dengan ucapan 'selamat ya', (melihat telapak tangan kanan). Namun kini tangan ini tidak bisa menjabat tanganmu lagi. Bukankah dirimu sangat bahagia saat itu ? Sampai kau bilang pada teman - teman "rasanya hatimu seperti di siram air es". Waktu itu Dinda mendorongku untuk memberi selamat padamu. Padahal tanpa di dorong Dinda pun aku sudah memikirkannya. Hanya saja aku masih mencari waktu yang tepat. Dinda senang bukan main saat itu karena mungkin dia berpikir telah berhasil mendorongku. Iya walaupun ada benarnya tapi tidak seratus persen. Aku memang ingin membuatmu bahagia kala itu walaupun kita sudah putus. Aku ingin dirimu mengerti bahwa aku masih peduli dan perhatian padamu walau sudah tidak bersama. Dirimu yang tidak masuk tanpa keterangan, aku membuat surat ijin untukmu agar kau tidak alfa di daftar absensi. Namun semua yang ku lakukan entah seperti apa bagimu. Di saat aku berulang tahun... jujur aku sangat mengharapkan ucapan darimu. Sekalipun telat tak mengapa. Tapi harapan tinggalah harapan, karena dirimu tak kunjung mengucapkan kata "selamat" padaku. Alasan yang aku dengar dari teman adalah ketika dirimu bermaksud memberi ucapan kepadaku justru ada teman lelaki yang duluan memberi selamat padaku. Hei... seandainya kau tau jika aku sangat mengharapkan ucapan "selamat" darimu, hanya darimu bukan yang lain. Biarpun telat... aku pasti sangat bahagia. Sekarang aku berpikir apakah hanya aku yang terlalu sayang?, Kenapa seolah hanya diriku yang berusaha? Apa kau tahu aku sering memimpikanmu? Apa kau tahu seberapa tersiksanya aku dengan mimpi itu? Aku berusaha bertahan menjalani hidupku yang berdampingan dengan mimpi - mimpi akan dirimu. Bahkan sebelum kita bertemu hari ini, dua hari yang lalu aku bermimpi tentangmu. Apa kau pikir aku tidak lelah? Terkadang aku berpikir apakah dirimu juga memimpikanmu? Apakah bahwa sebenarnya dirimu merindukanku di kala aku memimpikanmu? Aku tidak pernah tahu jawabannya. Namun maaf sekarang aku bukanlah Atheya yang dulu. Yang membuang rasa maluku, merendahkan diriku di hadapan teman - teman hanya agar dirimu bahagia. Maafkan aku karena sekarang semua tak lagi sama. Semoga setelah pertemuan kita hari ini aku tidak lagi memimpikanmu. Itu harapanku.
Pov Angga
Hai... mantan, aku tidak pernah menduga jika kita akan bertemu hari ini. Sudah sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu. Kamu sangat berubah.... namun masih menarik seperti dulu. Bertemu denganmu itu sesuatu yang... entahlah bagaimana aku mengungkapkannya. Dari dulu aku tidak pandai mengungkapkan perasaan. Namun yang pasti kamu adalah seseorang yang pernah singgah di hatiku yang paling unik. Lain dari yang lain. Satu rasa yang ku ingat dulu, rasa yang masih sama saat dirimu memberi selamat di hari ulang tahunku. Rasanya hatiku seperti di siram air es. Sama seperti hari ini aku merasakan rasa itu lagi. Terkadang aku berpikir jika saja waktu bisa di putar kembali, aku mungkin tidak akan menyia - nyiakan kebersamaan kita. Maafkan aku yang dulu lebih mementingkan rasa gengsiku? Harga diriku terlalu tinggi hingga aku mengabaikan apapun yang kau lakukan untukku. Hanya karena kau memutuskan ku, hatiku menjadi keras seperti batu. Tak peduli dengan perhatian yang kau berikan. Bahkan teman - teman sudah berusaha mendorongku. Namun egoku menguasai. Jika saja saat itu aku mau lebih berusaha untuk mempertahankan dirimu? Jika saja aku merespon segala bentuk kepedulian dan perhatianmu kepadaku? Jika saja aku lebih sabar lagi? Jujur aku sulit melupakanmu, hati ini masih ada rasa suka...
dan tiba -tiba datang seorang lelaki seumuran dengan dirinya yang tidak lain tetangga samping rumah memutar lagu di ponselnya.
*Tak pernah aku mengerti
Apa yang kini kurasakan
Kegelisahan hatiku
Saat ini
Ku masih merindukanmu
Walaupun kini ku t'lah bersamanya
Tak pernah mampu ku coba
Lupakanmu... (Untukmu Selamanya by : Ungu)
"Oh tetangga kenapa kau malah memutar lagu ini di sini? Lagunya pas sekali dengan apa yang ku alami saat ini. Hiks hiks hiks", dalam hati Angga merasa ingin teriak sekencang - kencangnya.
__ADS_1
Di lain tempat seorang pemuda mondar - mandir di rooftop dalam kegelisahan sambil menghisap rokok.
"Kamu kenpa sih? Seperti nggak nyaman? ", tanya sang ibu dari arah belakangnya yang membuat ia menoleh seketika lantaran kaget.
" Mama, nggak lagi bete aja"
"Bete kenapa? Hm? Nggak suka ya di sini... lebih suka di Jakarta ? "
"Bukan begitu ma, masa iya Saga nggak suka di sini? Keluarga Saga kan di sini... papa, mama, Rasya. Saga hanya... ya biasalah"
"Galau? Atau jangan - jangan kamu udah punya pacar ya di Jakarta makanya jadi bete ? Nggak bisa ketemu sama pacarmu itu", Rully masih memberondong putra pertamanya.
" Hehehe mama ini Saga itu belum punya pacar ma, masih jomblo"
"Tuh anak mama banyak di bawah, kamu mau yang mana? ", sambil menunjuk ke bawah yang ternyata ada anak - anak kos sedang menonton TV.
"Kok malah tertawa mama serius"
"Bukan ma, bukan mereka"
"Hm? ", Rully keningnya berkerut ia berpikir berarti benar putranya sedang menaruh hati pada seseorang. Tapi siapa?
" Eh maksud Saga belum ma, belum ada. Ish mama sih... ayo kita masuk ke dalam aja! ", Saga mendorong mamanya masuk ke dalam rumah.
" Ih Saga seperti anak kecil saja pakai dorong - dorong mama", tante Rully yang di dorong Saga.
"Ada apa sih kalian ribut - ribut? ", tegur Indra ketika melihat sang istri dan putranyak masuk ke dalam rumah sambil entah meributkan apa.
__ADS_1
" Ini pa, anak papa ini lagi be... te... ", tunjuk Rully ke pipi Saga yang duduk bersebelahan dengannya.
" Ah itu karena dia belum terbiasa di sini, dia masih tahap menyesuaikan ma. Nanti kalau sudah bisa menyesuaikan pasti juga terbiasa. Lha wong sama keluarganya sendiri kok masa nggak betah? "
"Papa benar ma", ucap Saga mendukung perkataan papanya.
" Ma minta uang dong ma... besok Rasya mau main sama teman - teman? ", Rasya yang keluar dari kamar langsung meminta uang pada mamanya dengan tangan kanan menengadah.
" Lhah... kamu ini uang terus. Minta sama papa kenapa? "
"Kan bendaharanya mama. Uangnya papa juga yang pegang mama"
"Betul itu Rasya", Indra memberi jempol jari tangannya kepada anak keduanya.
" Tapi kan nggak semua gaji papa...mama yang pegang"
"Udah nanti abang aja yang kasih", ucap Saga kemudian.
" Bener bang asyik... ", Rasya girang dan menghampiri sang kakak di sampingnya kemudian berbisik...
" Tenang aja bang... aku bakal bantuin abang dekat sama mbak Thea", kemudian Rasya berlari menuju kamarnya.
Saga hanya bengong dan geleng kepala, bisa - bisanya adiknya memanfaatkan kesempatan. 'Bocah sialan', dalam hati Saga.
"Adikmu bisik - bisik apa?, tanya sang mama yang di sampingnya namun tak mendengar.
" Bukan apa - apa, biasalah Rasya paling minta di belikan sesuatu", alasan Saga.
__ADS_1