
"Theya tunggu! ", Yanti mengejar Atheya.
" Aku mau pulang Yan", ucap Atheya sembari terus melangkahkan kaki.
"Oke ayo kita pulang"
"Kita pulang sama - sama. Aku juga udah bosan", lanjut Yanti yang sudah berada di samping Atheya.
Yanti sebenarnya mengetahui jika Atheya tidak nyaman dengan apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu. Namun Yanti memilih diam, ia tidak mau membahasnya. Kecuali jika Atheya mau terbuka sendiri kepadanya maka ia akan dengan senang hati mendengarkan. Walaupun mereka tidak selalu bersama akan tetapi Yanti mengenal Atheya sebagai sosok yang pendiam, tidak neko - neko dan sederhana. Bukankah orang seperti ini tak akan mudah mengungkap masalah pribadinya? Kecuali kepada orang yang sudah benar - benar ia percaya.
"Loh sudah pulang mbak? ", tanya Rosmah yang sedang santai di depan TV.
" Iya mbak, udah bosan", Yanti yang menjawab.
"Oalah", Rosmah menanggapi dengan senyum.
Atheya dan Yanti pun langsung menuju kamar masing - masing.
" Tahu gitu aku nggak ikut pergi", gumam Yanti yang sudah berada di dalam kamar.
"Itu cewek merusak suasana aja", lanjutnya.
Di sisi lain Atheya yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil memeluk guling nampak kesal.
" Ya Tuhan kenapa dengan diriku ini? Kenapa rasanya aku nggak nyaman banget melihat Saga di dekati oleh perempuan lain? Dan anehnya itu hanya kepada Kania. Selama ini Saga di dekati anak - anak aku biasa saja. Apa karena Kania yang terlalu berani untuk ukuran cewek? "
"Ah... kenapa rasanya hatiku sa-kit melihat lengan Saga yang di gamit Kania? Masa aku... cemburu? ", lanjut Atheya yang berbicara sendiri.
Ada rasa tidak suka di hati Atheya mana kala lengan Saga di gamit perempuan lain. Kenapa bisa seperti itu? Mungkinkah karena Atheya sudah terbiasa dengan sentuhan Saga. Hingga tanpa sadar ia menjadi egois seolah hanya dirinya yang boleh menyentuh maupun di sentuh oleh lelaki tersebut.
"Hah... kenapa sikapku seperti tadi? Apa tidak kentara? Yanti... merasa aneh nggak ya? ", Atheya menyesali kecerobohannya akibat tidak bisa mengontrol diri.
Di pasar malam Saga masih penasaran kemana Atheya dan Yanti sebenarnya. Apakah mereka benar - benar ke toilet atau pulang?
" Lia... Yanti sama mbak Atheya mana? ", Saga yang sudah tak sabar mengetahui keberadaan Atheya.
" Tadi Yanti kirim pesan kalau mereka pulang duluan", jawab Tari.
"O mereka sudah pulang duluan", ucap Lia yang beru mengetahui.
" Saga ayo kita ke situ! Aku pengen beli itu", Kania menunjuk sembari menarik lengan Saga.
"Kita pulang aja aku udah capek muter! ", alasan Saga sebenarnya ia enggan dan... karena Atheya sudah pulang.
Lia dan yang lainnya hanya memperhatikan kedua orang tersebut berlalu.
__ADS_1
" Nempel teruuus... ", ucap Nita menyindir Kania.
" Kamu nggak ikut mereka Sya? ", tanya Tari kepada Rasya.
" Nggak ah, aku ikut kalian aja"
"Berasa jadi obat nyamuk ya kalau sama mereka", celetuk Luluk.
Rasya menghentikan bahunya seolah bisa iya bisa tidak.
'Ah sial.... aku nggak bisa sama Atheya sama sekali', umpat Saga dalam hati.
Ia sebenarnya sudah ingin pulang saja akan tetapi Kania selalu menahannya. Jika tidak di turuti... Kania merupakan tamu dan hanya beberapa hari saja di sini. Akan terkesan jahat jika Saga tidak memperlakukannya dengan baik. Apalagi perempuan tersebut merupakan keponakan bibinya. Akhirnya Saga hanya bisa pasrah dengan menahan keinginannya dalam hati.
Besoknya di sebuah restoran, di jam istirahat. Atheya menceritakan tentang Kania kepada Nia.
"Aish... kalian ini jadian aja belum sudah ada yang ganggu", Nia berkata setelah mendengarkan cerita Atheya.
" Sumpah aku nggak nyaman banget lihat Kania yang nempel terus sama Saga. Cara dia nempel sama Saga itu beda dengan anak - anak lain gitu lho. Dia kayak agresif gitu na. Aku jadi risih lihatnya. Tapi anehnya Saga kayak biasa aja", Atheya berkata.
"Kamu cemburu? "
Atheya tak menjawab ia malah menatap Nia aneh.
Sepertinya ia mengetahui jika temannya itu sebenarnya ada rasa terhadap Saga namun belum mau mengakui. Entahlah apa alasannya.
" Kamu kalau suka jangan kelamaan! Nanti keburu di ambil orang kamu baru nyesel", ucapnya kemudian.
"Udah gih sana kamu balik, aku juga mau ke dapur! ", usir nya karena memang sudah waktunya Atheya masuk kantor lagi.
Keduanya berlalu menuju ke posisi kerja masing - masing.
Malam nanti Saga berencana ingin menemui Atheya. Ia merindukan perempuan itu namun sayangnya semalam ia tidak bisa berdua karena ada Kania.
Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit malam Atheya berjalan menuju keluar. Saga yang tak sengaja melihat dari kaca jendela dapur lantas mengejar.
"Hei.. mau kemana? ", tanyanya saat sudah di samping Atheya.
" Mau cari camilan di warung sebelah"
"Aku temani"
"Nggak usah"
"Aku sekalian juga mau beli... "
__ADS_1
"Rokok? "
"Hehehe", Saga cengengesan.
" Hei kalian mau kemana aku ikut? ", teriak Kania dari arah belakang Atheya dan Saga.
" Kalian mau kemana? ", ulangnya setelah bergabung dengan Atheya dan Saga.
" Mau ke warung sebelah", jawab Atheya.
"Ih gitu Saga nggak ngomong. Kalau aku nggak lihat kalian aku nggak tahu", Kania mengoceh.
Suasana menjadi agak canggung sesaat.
" Aku ambil dulu ya tungguin! "
"Nggak usah aku udah bawa uang", Saga melarang karena suasana sudah terlanjur rusak.
Mereka bertiga pun berjalan dengan Saga di tengah dan di apit dua perempuan.
" Kania nggak usah begini napa? Nggak enak di lihat orang. Lagian aku nggak suka", ucap Saga sambil melepas tangan Kania yang melingkar di lengannya.
"Ih Saga kenapa sih gitu aja loh? ", Kania protes keberatan dengan reaksi Saga.
" Aku nggak suka Kania", tegas Saga hingga membuat Atheya sedikit kaget.
Kania ngedumel terpaksa menuruti Saga.
'Saga sepertinya kesal', dalam hati Atheya.
Namun pikirannya tiba - tiba teralihkan mana kala ia merasakan ada jari - jari yang menelusup di sela jari - jari tangannya. Ia lantas menoleh ke arah samping mendongak ke atas menatap wajah orang yang berulah tersebut. Dan orang tersebut semakin mengeratkan tautan jari - jarinya. Menatap ke depan lurus berjalan santai. Atheya tersenyum kecil, ia merasa senang dengan perlakuan lelaki tersebut. Ia merasa nyaman dengan sentuhan lelaki itu. Terasa hangat dan damai.
Beberapa menit kemudian sampailah di sebuah toko yang lumayan besar di komplek tersebut. Tautan jari Saga dan Atheya pun terlepas begitu akan memasuki toko tersebut. Kania lantas menarik Saga masuk ke dalam toko. Dan tentu saja tidak tertinggal kebiasaannya melingkarkan tangan di lengan Saga.
"Huft... ", Atheya membuang napas melihat tingkah Kania.
Kemudian ia berjalan menyusul masuk ke dalam toko.
" Saga aku mau itu", tunjuk Kania tanpa melepaskan tangannya dari lengan Saga.
"Ck", Saga berdecak memutar bola matanya malas pasalnya suara perempuan itu agak nyaring.
Suara Kania pun mencuri atensi beberapa pengunjung yang berada dekat mereka. Mungkin ada yang berpikir 'biasa lagi kasmaran', namun ada yang mungkin berpikir ' apa sih gitu amat? norak', atau mungkin ada juga yang berpikir 'berisik'. Entahlah mana tahu pikiran setiap orang.
Sementara Atheya, ia lebih memilih memisahkan diri sebab ia tidak ingin melihat tingkah Kania yang menurutnya agak mencolok.
__ADS_1