
"Mungkin dia tidak terbiasa menerima hadiah dari cowok makanya seperti itu", ucap Doni setelah selesai mendengarkan curhatan dari sahabatnya...Saga.
Saga langsung menghubungi Doni dan menceritakan hal yang terjadi antara dirinya dan Atheya karena ia merasa tidak tenang.
"Lalu apa yang harus gue lakukan? "
"Sudah pasti kan... minta maaf"
"Lagian kalian ini jadian aja belum udah berantem aja", lanjut Doni.
" Kita nggak berantem dan soal minta maaf itu pastilah. Yang jadi masalahnya gimana caranya? Gue merasa nggak enak banget"
"Iya... nggak berantem cuma ribut", Doni menimpali.
" Hei Saga... elu tuh harusnya sabar jangan kebawa emosi, ingat elu belum pacaran sama dia. BELUM PACAR", Doni menegaskan dengan menekankan ucapannya.
"Iya gue emang salah. Tapi dia itu bikin gregetan juga sih. Tinggal terima aja susah", Saga mengakui tapi juga mengomel.
" Eh orang ini masih ngeles aja, kalau elu nggak bisa sabar elu bisa - bisa di black list sama si Atheya belum apa - apa aish.. ", gerutu Doni.
" Hah... iya Don elu bener. Aduh... gue nggak kepikiran"
"Sekarang elu tahu kan susahnya mengejar cinta itu. Elu sih kebiasaan yang di kejar bukan mengejar"
"Udah gue mau tidur gara - gara elu tidur gue jadi pending", lanjut Doni.
"Eh tunggu dulu gue mesti gimana nih? "
"Pikir aja sendiri! Tut".
Doni mengakhiri panggilan.
" Sialan Doni teman lagi susah dia malah kabur"
Besok paginya ketika Atheya baru dari bawah ingin pergi bekerja tak sengaja berpapasan dengan Saga yang akan menuju garasi. Mereka berdua sama - sama canggung dan merasa bersalah. Namun rasanya tidak mungkin jika tidak menyapa.
"Hai... ", Saga menyapa terlebih dahulu.
" Hai... ", jawab Atheya.
" Udah mau berangkat?"
"Iya"
"Ehm..mbak... nanti malam kita ketemu di warung sebelah bisa? Ada yang mau aku katakan", Saga memberanikan diri mengajak Atheya bertemu.
"Iya, aku juga ada yang ingin ku katakan"
"Jam delapan ya? "
Atheya mengangguk kemudian berpamitan.
"Kalau begitu aku duluan! "
"Nggak bareng aja? "
"Nggak usah, nggak enak jika dilihat yang lain", tolak Atheya dengan alasan yang masuk akal.
__ADS_1
Waktu berjalan hingga malam pun tiba, selsai shalat isya' Atheya pun pergi keluar menuju warung dekat kos-an. Ternyata sudah ada di salah satu meja.
" Udah lama...? "tanya Atheya kepada Saga.
" Nggak juga, baru beberapa menit"
Saga kemudian memanggil salah satu pelayan di warung tersebut.
"Mau pesan apa? ", tanya Saga kepada Atheya.
" Bakso aja sama es jeruk"
"Mas baksonya dua es jeruk dua ya", ucap Saga kepada pelayan tersebut.
" Kita makan dulu ya setelah itu baru ngobrol! ", Saga berkata demikian.
" Iya", jawab Atheya singkat.
Saga menyulut sebatang rokok sembari menunggu pesanan datang. Ia menghisap kemudian menghembuskannya.
"Saga asapmu na", keluh Atheya.
" Sorry sorry? ", Saga mematikan rokoknya.
" Kalau mau rokok jauhan jangan di sini! "
"Iya maaf...ini udah ku matiin"
Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Mereka menikmati makanan dalam diam hingga habis.
"Mbak... ",
Saga mengulurkan tangannya meraih jari jemari Atheya, menggenggamnya dan Atheya tak menolak genggaman Saga. Entah mengapa ia merasa berat menolak sentuhan dari Saga. Dirinya seperti terhipnotis setiap bersama Saga.
"Aku minta maaf soal kemarin...? Aku... seharusnya nggak ngomong begitu. Terserah mbak Theya kalau memang nggak mau ya sudah nggak apa - apa itu saja sih maksudku"
"Iya, aku juga minta maaf. Jujur aku kurang nyaman aja dapat barang dari cowok, apa lagi kita bukan pacar"
"Iya aku tahu, maafin aku mbak Theya? Tapi kan kita teman aku rasa nggak masalah jika memberi sesuatu kepada teman"
"Nggak semua orang berpikir seperti dirimu Saga"
"Iya sekarang aku tahu. Aku udah di maafin kan? "
"Hm. Kamu sendiri gimana... sudah maafin aku belum? "
"Pastilah, mana tahan aku diaman sama mbak Theya lama - lama hahaha", Saga melepaskan genggamannya dari Atheya.
"Kan baru di maafin udah membual aja"
"Aku beneran nggak membual. Aku bingung kalau kita nggak saling bicara", ucap Saga serius dengan menatap kedua mata Atheya dengan intens.
Keduanya larut dalam pandangan hingga di kagetkan suara cempreng dan agak keras menyadarkan mereka dari hanyutan tatapan mata.
" Hei kalian berdua diam - diam ya makan bakso nggak ngajak - ngajak", Lia yang datang bersama Nita.
"Kak Theya kok nggak ngomong - ngomong sih kalau mau makan bakso di sini? ", tanya Nita.
__ADS_1
" Aku nggak tahu kalau kamu juga mau makan bakso", jawab Atheya santai.
"Eh tapi kalian sudah selesai makannya. Ah nggak mau tau kalian harus nungguin kita makan. Nanti baliknya ke kos barengan", Lia berkata.
Atheya dan Saga pun terpaksa menunggu Lia dan Nita selesai makan baru setelahnya mereka kembali ke kos.
" Makasih udah di maafin", bunyi pesan dari Saga.
"Sama - sama, aku juga makasih udah dimaafin", balasan dari Atheya.
Keduanya bertukar pesan setelah sampai di kos. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Tak jarang keduanya tersenyum ketika membaca pesan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidur karena tak terasa malam sudah larut.
"Aduh bagaimana ini aku belum mengerjakan PR matematika", Atheya panik begitu sampai di ruang kelas.
" Kamu sudah ngerjain belum? " , lanjut Atheya bertanya kepada salah satu temannya yang ada di sebelahnya.
"Belum", jawab sang teman.
" Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi lagi", Atheya berbicara sambil membolak - balikan bukunya.
"Sret", tiba - tiba sesosok yang sangat ia kenal lewat.
" Angga... ", ucap Atheya pelan.
Namun sosok itu hanya berjalan terus tanpa menoleh ke arahnya hingga tak terlihat lagi punggungnya.
Mata Atheya terbuka mengerjap - ngerjap mengumpulkan kesadarannya. Hm... ternyata dia bermimpi orang di masa lalunya lagi.
" Jam berapa ini? Oh sudah jam lima", ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur.
"Hah mimpi dia lagi", gumam Atheya sambil tersenyum bosan.
Mimpi yang baginya tak ada gunanya. Untuk apa harus memimpikan sesuatu yang tak mungkin ia miliki. Ia bangun dari tempat tidur. Kemudian keluar kamar untuk mengambil air wudhu.
" Tumben kamu pagi banget udah mandi Yan? ", tanya Atheya kepada Yanti yang sudah segar dan duduk santai di depan TV.
" Perutku mules"
"Bohong, dia itu ngompol", celetuk Tari tiba - tiba muncul dari arah belakang.
" Ngompol? Beneran Yan? ", Atheya masih ragu dengan ucapan Tari.
" Dasar si Tari ini nggak bisa banget di ajak kompromi", Yanti ngomel.
"Hah, beneran hehehe? kok bisa ? ", Atheya tertawa.
" Aku mimpi kebelet pipis, trus aku pipis di kamar mandi ternyata aku pipis di atas kasur", aku Yanti dengan santainya.
"Hahaha", Tari tertawa terbahak.
" Hehehe", Atheya tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Hei itu tuh manusiawi ya? ", bela Yanti.
" Iya sih aku juga pernah hehehe, tapi lucu", Atheya juga mengaku kalau dirinya juga pernah ngompol karena mimpi.
"Sama aku juga pernah", tambah Tari.
__ADS_1
Tak mereka sadari jika di atas ada yang mendengar, Saga orangnya yang kebetulan di rooftop.
" Atheya pernah ngompol? hmpt hmpt hmpt", gumam Saga sambil menahan tawa.