Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Jalan Sehat (2)


__ADS_3

Sorenya setelah maghrib semua anak kos naik ke lantai atas untuk makan bersama. Semua sudah berkumpul namun ada satu orang yang tidak tampak batang hidungnya. Orang itu adalah Saga.


"Tante Rully mas Saga mana kok nggak ada? ", Lia bertanya kepada Rully sambil nyengir.


" Ciyeee... ", semua berseru mendengar pertanyaan Lia.


" Kamu bukannya tanya soalan makananya malah menanyakan Saga? ", celetuk Yanti.


" Yo nggak apa - apa tow. Kan kok nggak kelihatan sendiri gitu lho maksudnya"


"Halah bilang aja kamu mau cuci mata", Tari berkomentar.


" Hehehe", Lia tertawa dengan pedenya.


"Si abang lagi sakit perut, tadi siang bolak balik ke kamar mandi. Sekarang masih agak lemes makanya nggak ikut makan bareng", Rully menjelaskan.


" Deg", Atheya merasa kaget dan merasa agak bersalah mengingat Saga makan salome pedas bekasnya saat jalan sehat tadi.


" Oh", hanya itu jawaban Lia.


"Sekarang kamu sudah tahu tow? ", ledek Tari.


" Hahaha", semua orang tertawa.


"Sudah ayo kita mulai makan sudah lengkap semua ini makanannya! ", ajak Rully kepada semua yang berada di situ.


Setelah shalat isya' selesai alunan musik dari lapangan samping rumah pak Rt terdengar nyaring. Semua orang pergi menuju lapangan. Kos tampak sepi karena penghuninya sudah pergi. Tinggalah Saga sendiri di rumah. Ia malas keluar karena masih merasa agak lemas selain itu ia tidak begitu suka musik dangdut.


Di lapangan tampak ramai dan penuh orang datang melihat orkes. Saat penampilan penyanyi ke tiga, tiba - tiba Yanti berjalan maju menuju panggung.


"Eh ngapain tu si emak maju", heboh Tari.


" Woi kak Yanti ngapain woi... ", teriak Lia.


Begitu sudah di depan panggung Yanti lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


" Kayaknya mau nyawer itu mbak Yanti", ucap Rosmah yang bergabung dengan anak kos.


"Lhah iya", Lia membenarkan ketika melihat Yanti memberikan selembar uang kepada sang penyanyi seksi tersebut.


" Satu, dua, tiga, empat, lima, enam... hah enam kali", Lia menghitung berapa kali Yanti memberi uang kepada sang penyanyi.


Setelah itu Yanti kembali bergabung dengan yang lain.


"Bilang nggak ada duit tapi bisa nyawer? ", celetuk Tari kepada Yanti.


" Enam kali lagi", tambah Lia.


"Aku lho nyawer cuma lima ribuan", jawab Yanti santai.


" Hahaha", semua tertawa terbahak tak terkecuali Atheya dan Rosmah.


"Kirain dua puluh ribu atau berapa ternyata lima ribu", ucap Tari perkiraannya salah.


" Kenapa nggak sekalian aja tiga puluh ribu sekali kasih? ", tanya Luluk.

__ADS_1


" Biar kelihatan banyak lah, apa lagi? ", Yanti masih dengan santainya menjawab.


" Iya ya, lima ribu tapi sampai enam kali ngasihnya. Hm... benar - benar. Perlu di tiru ini", Lia manggut - manggut.


"Mbak Yanti ini lho kok bisa... aja", Rosmah nggak habis pikir.


Atheya sudah tidak kaget dengan perilaku Yanti, ia memang kelihatan jutek dan ceplas ceplos tapi kadang juga bisa bertingkah di luar dugaan.


Waktu menunjukkan pukul sembilan Atheya yang sudah merasa jengah pun memutuskan untuk pulang ke kos lebih dulu walaupun acaranya belum selesai.


Ketika Atheya membuka pagar ia melihat seseorang berdiri di halaman dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana selutut.


"Kenapa berdiri di luar? "


" Kenapa sudah pulang? "


Mereka bertanya bersamaan.


"Iya udah bosan lihat orkes", jawab Atheya.


" Kamu sendiri kenapa di luar? Katanya sakit perut? ", lanjut Atheya bertanya.


" Iya tadi siang sakit perut tapi sekarang udah nggak"


"Syukurlah", Atheya berjalan menuju teras kemudian duduk di bangku.


Saga menyusul, ia ikut duduk di samping Atheya.


" Kenapa nggak pakai jaket sih orang lagi nggak enak badan gitu? ", tanya Atheya.


"Maaf ya...? ", Atheya meminta maaf karena merasa bersalah lantaran salome.


" Maaf buat apa? "


"Gara - gara kamu makan salome aku jadi sakit perut"


"Kan aku yang mau"


"Lagian kalau nggak bisa makan pedes kenapa dimakan sih? "


"Sayang aja kalau di buang dan aku juga lagi lapar. Jadi embat aja"


"Sayang kalau di buang... kamu? "


"Nggak sih sebenernya hehehe", Saga mengaku. Untuk apa ia sayang membuang makanan yang tak seberapa harganya.


" Kalau alasan kamu lapar aku percaya", ucap Atheya.


"He'em", Saga mengangguk.


Tiba - tiba Saga bergeser lebih dekat dengan Atheya. Lebih tepatnya mereka kini duduk berdempetan. Saga mengambil salah satu tangan Atheya, kemudian meletakkan telapak tangan wanita tersebut di atas perutnya. Ia juga menyenderkan kepalanya di bahu Atheya sambil memejamkan mata.


"Saga...nanti ada yang lihat"


"Please sebentar aja", mohon Saga tanpa membuka matanya.

__ADS_1


Dan anehnya Atheya juga menurut saja. Entah karena merasa bersalah kepada Saga atau karena apa. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Ia pun membiarkan Saga menyender pada dirinya.


Di tempat lain nampak Rosmah yang sudah mengantuk dan memikirkan besok ia harus bangun pagi. Ia pun memutuskan pulang sementara yang lain masih betah di lapangan menyaksikan hiburan orkes.


Katika sudah sampai di depan pagar Rosmah tak sengaja melihat dua orang dari celah - celah pagar. Sedang uduk berdempetan bahkan salah satunya menyenderkan kepala kepada orang sebelahnya. Saat itu lampu teras agak redup sepertinya sudah waktunya di ganti. Tapi Rosmah masih bisa mengenali dua orang tersebut.


"Itu mbak Atheya dan mas Saga... ", ucap Rosmah pelan sangking pelannya hingga hanya dirinya sendiri yang mendengar.


" Masuk nggak aku ini? Kalau masuk nanti ganggu mereka. Kalau nggak masuk besok aku harus bangun pagi - pagi. Aduh piye iki? ", Rosmah berbicara sendiri. Ia bingung harus masuk atau tidak.


" Yo Wealah aku ngalah aja, besok kesiangan yo wes daripada aku ganggu mereka", Rosmah memutuskan untuk tidak masuk dan berjalan kembali menuju lapangan.


Jika besok ia bangun kesiangan itu urusan belakang pikir Rosmah.


"Lhoh mbak Rosmah kenapa balik lagi? ", tanya Yanto karena sepengetahuan dirinya Rosmah sudah pulang.


" Iya mas Yanto, habis bagus sih orkes nya", bohong Rosmah sambil nyengir.


"Kalau bagus kenapa tadi pulang? ", gumam Yanto sambil geleng - geleng merasa Rosmah tidak jelas.


" Ku kira kamu pulang Rosmah soalnya tadi kuperhatikan nggak ada? ", tanya Rully.


" Iya buk tadi pulang sebentar"


"Ngapain? "


"Kebelet buk"


"Oalah"


Rosmah tersenyum.


"Saga pindah masuk ke dalam gih! ", ucap Atheya pelan.


Saga pun membuka matanya dan mengangkat kepalanya.


" Mbak juga ya langsung istirahat! ", ucap Saga.


Atheya mengangguk.


" Makasih ya...? ", ucap Saga.


" Makasih buat? "


"Makasih buat malam ini", Saga tersenyum kemudian nerjalan masuk ke dalam rumah.


Atheya mengendikan bahunya seakan tak peduli walaupun sempat bingung dengan kata - kata Saga.


Sesampai di kamar Atheya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia baru ingat jika ia mendapat hadiah dari jalan sehat sebuah kaos yang belum ia lihat. Ia pun membukanya dan melihat ternyata itu kaos laki - laki.


"Kaos cowok...?", gumamnya.


" Untuk apa...? ", lanjutnya.


" Di kasih orang aja kali ya... daripada nggak kepakai", Atheya pun mendapat ide.

__ADS_1


__ADS_2