
Kedatangan keluarga Hendra dari Sulawesi pun terdengar di telinga penghuni kos termasuk Kania beserta kedua orangtuanya.
"Apa iya ya mereka ke sini untuk melamar mas Saga? ", celetuk Lia dan tak sengaja di dengar Atheya yang baru saja dari kamar mandi.
Karena penasaran Atheya pun ikut bergabung dengan teman kosnya yang sedang menonton TV.
" Bisa jadi", jawab Tari cuek.
"Siapa yang mau melamar Saga? ", Atheya yang sudah sangat penasaran seseorang yang di bicarakan temannya.
" Itu keluarga Kania datang ke sini ", lagi Tari yang menjawab.
" Kak Theya nggak tahu ya kalau pamannya mas Saga datang? Dan... Kania itu sama kedua orangtuanya", Lia bertanya kepada Atheya.
"Oh aku nggak tahu"
"Baru tadi siang datang", Tari memberitahu Atheya.
" Memang ada acara kah? "
"Setahuku sih nggak ada acara apa - apa. Makanya kita jadi mikir kedatangan mereka bisa saja untuk melamar Saga"
"Mengingat Kania kemarin di sini seperti apa kan sikapnya terhadap Saga", lanjut Tari.
Atheya manggut - manggut mengerti dan berusaha tenang agar tidak ketahuan jika selama ini ia dekat dengan Saga. Atheya tidak tahu saja jika beberapa teman kosnya sudah tahu mengenai hal itu. Mereka adalah Tari dan Yanti. Dan jangan lupa Rosmah serta Rasya.
"Iya kelihatan banget kayak wanita kegatelan", Nita menimpali.
" Aku lho nggak suka kalau mas Saga sama Kania benaran jadi nikah", ucap Lia.
"Ciee kamu cemburu...? ", Yanti yang baru keluar dari kamarnya turut bergabung.
" Bukan soal cemburu. Masalahnya Kania itu kayak gimana gitu lho orangnya. Kayak sombong... ya begitulah. Jadi menurutku nggak cocok kalau sama mas Saga. Mungkin kalau sama cewek lain aku mungkin setuju aja biarpun aku harus terluka. Tapi untuk mas Saga... aku juga akan bahagia jika dia bahagia hiks hiks hiks", Lia menangis bohongan.
"Ah lebay... ", Tari memukul Lia dengan bantal sofa.
" T*h* kucing... ", ucap Nita sedang Yanti tertawa tergelak.
" Hehehe", Lia cengengesan.
Atheya yang hanya mendengarkan beberapa saat sebelumnya kini berdiri dari duduknya.
"Mau kemana? ", tanya Yanti.
" Masuk kamar. Duluan ya? "
"Hem", Yanti menanggapi.
Begitu sampai di dalam kamar Atheya lantas mengambil ponselnya. Ia tampak mengetik sesuatu. Sedari tadi hatinya sudah penuh menahan rasa penasaran.
" Keluarga Kania ke sini untuk melamar kamu, benar? ", pesan Atheya terkirim kepada Saga.
" Ayo keluar! "
"Sekarang! "
"Aku tunggu di mobil"
Beruntun balasan dari Saga hingga Atheya berdecak"
"Ck, padahal aku cuma tanya satu dia balasnya langsung tiga itupun bukan jawaban", gumam Atheya.
Ia segera berganti celana panjang dan mengambil jaket sebagai luaran kaos lengan pendek yang kini ia kenakan. Tak lupa ia mengambil serta dompet yang kemudian ia masukan ke dalam saku celana.
"Cklek", suara pintu kamar Atheya terbuka.
Dan itu membuat orang - orang yang di depan TV serempak menoleh.
" Mau kemana kamu? ", tanya Yanti yang memperhatikan penampilan Atheya sedikit berubah.
" Mau cari makan", alasan Atheya yang juga tidak salah sebab ia memang belum makan malam.
"Duluan ya? ", pamitnya kemudian kepada teman - temannya.
" Oke hati - hati", jawab Tari dan Yanti mengangguk.
__ADS_1
Di sisi lain Saga keluar kamar setelah bersiap dan pamit kepada Rully yang kebetulan di ruang keluarga.
"Ma, Saga mau keluar dulu? "
"Loh mau kemana? Nggak makan malam bareng sebentar lagi kita mau makan? "
"Nggak ma, Saga makan di luar sama teman saja "
"O ya sudah hati - hati"
"Iya ma, assalamualaikum", Saga mencium punggung tangan Rully kemudian bergegas keluar sebelum yang lain lihat. Kania misalnya.
" Waalaikumsalam"
Saga langsung menhidupkan mesin mobilnya ketika sudah berada di dalam mobil. Tak lama kemudian Atheya muncul lantas masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah kursi kemudi.
"Kita mau kemana? ", Atheya membuka suara.
" Ikut aja"
"Udah makan belum? ", tanya Saga kemudian.
" Belum sih"
"Ya sudah kita makan dulu setelah itu baru kita ngobrol", putus Saga.
Beberapa menit berjalan sampailah di sebuah warung bebek goreng pinggir jalan. Saga dan Atheya turun dari mobil. Mereka segera masuk ke dalam warung dan memesan makanan. Beberapa menit berselang makanan sudah berada di depan mereka. Tak membuang waktu mereka lantas menyantap sedikit demi sedikit walau masih panas makanan yang mereka pesan. Mereka makan dalam keheningan, baik Atheya maupun Saga tak ada yang membuka pembicaraan. Setelah acara makan berakhir Saga melajukan mobilnya ke suatu tempat. Hingga di sinilah mereka saat ini. Di sebuah taman kota yang lumayan ramai.
Saga mengajak Atheya di sebuah bangku yang ada di taman. Ia juga membeli beberapa camilan serta minuman.
"Jadi... tadi tanya apa? ", Saga mulai membuka pembicaraan setelah mereka sudah duduk tenang.
" Apa benar orangtua Kania ke sini ingin melamar kamu? "
"Hm... gimana ya? Bisa di bilang begitu sih tapi juga nggak", jawab Saga. Ia sendiri juga bingung untuk menyebutnya.
" Hah...? ", Atheya menoleh menatap Saga. Bukan ini jawaban yang ia inginkan.
" Intinya sepulang dari sini Kania cerita ke orangtuanya kalau... ", ucapan Saga terhenti. Tiba - tiba ia merasa tidak enak hati jika melanjutkan apa yang akan ia katakan kepada Atheya.
" Kania bilang ke orangtuanya jika aku dan dia... pelukan dan ciuman"
"Emang benar kan? ", potong Atheya yang berubah tidak suka.
" Nah kan nah kan... itu kenapa tadi aku gak melanjutkan ucapanku", ucap Saga karena menyadari Atheya yang sudah berubah kesal.
"Tapi benerkan kalian pelukan dan ciuman? Aku pernah lihat", Atheya merajuk terlihat lucu bagi Saga namun juga bikin greget.
" Iya. Lebih tepatnya Kania yang main peluk dan cium aku. Bahkan aku nggak balas pelukan maupun ciumannya. Walaupun hampir sih... ", pelan suara Saga di akhir namun masih bisa di dengar Atheya.
" Hampir apa? ", suara Atheya lebih keras.
" Ehm... hampir balas ciumannya"
"Apa? ", Atheya terkejut kemudian memalingkan wajah seolah jijik.
" Maaf...tapi saat itu aku membayangkan jika itu adalah dirimu. Itu yang membuat aku terlena dan ketika aku hampir melakukannya aku sadar", Saga menceritakan kepada Atheya.
Kekesalan Atheya sedikit mereda setelahendengar cerita dari Saga.
"Karna itulah orangtua Kania menganggap aku dan Kania punya hubungan. Pacaran. Dan mereka memberitahu istri paman, bibi Retno. Tahu bibi Retno? "
Atheya menggeleng karena tidak paham orang yang bernama Retno tersebut.
"Dia itu orangnya seperti suka seenaknya, kadang memaksa. Dan dia itu kakak dari mamanya Kania itu parahnya", lanjut Saga.
Atheya sudah mulai paham arah pembicaraan Saga.
" Trus kamu gimana kalau misal mereka menjodohkanmu dengan Kania? ", Atheya kini bertanya ia ingin jawaban yang pasti dari Saga.
" Aku akan menolaknya tapi aku juga tak yakin? "
"Kenapa begitu? ", Atheya tak suka dengan ucapan Saga yang belakang.
" Simple aja. Ini membawa keluarga, pasti akan sedikit rumit kalau aku menolaknya. Banyak yang harus dipertimbangkan ", jawab Saga. Ia merasa bingung jika menolak sekalipun sang mama juga tidak suka jika berbesan dengan orangtua Kania.
__ADS_1
" Jadi kamu mau kalau di jodohkan dengan Kania? "
"Mungkin.Tapi aku akan berusaha menolaknya jika... ", Saga menjeda kalimatnya.
Atheya mengernyit menunggu ucapan Saga selanjutnya.
" Sebenarnya bagaimana perasaan mbak ke aku? ", Saga beralih bertanya kepada Atheya.
" Mbak rela nggak kalau aku menikah dengan cewek lain? Jawab jujur dari dalam hati! ", lanjut Saga dengan menatap kedua netra perempuan yang kini di sampingnya dengan intens.
Atheya nampak berpikir, ia juga tak mau berbohong jika sudah ditanya seperti ini. Hingga beberapa menit kemudian Atheya bersuara.
" Jujur Ga, aku merasa nyaman jika bersamamu", jawab Atheya jujur.
Saga tersenyum senang begitu mendengar kejujuran Atheya.
"Trus...? Gimana... Rela nggak kalau aku sama perempuan lain? ", Saga bertanya lagi. Masih dengan tatapan yang dalam.
Atheya menggelengkan kepalanya. Terus terang ia rasanya tak kuat melihat Saga di sentuh perempuan lain apalagi dimiliki seutuhnya.
" Mau jika aku sama yang lain? ", Saga memastikan lagi dengan melontarkan pertanyaan lagi.
Atheya menggeleng lagi sebagai jawaban.
Saga meraup sebelah wajah Atheya dengan salah satu tangannya.
" Kalau begitu katakan 'tetaplah di sisiku! ', 'tetaplah di sisiku Saga! '. ", Saga memberi arahan kepada Atheya.
Atheya menatap kedua bola mata Saga beberapa detik. Ia sudah meyakinkan dirinya dan sudah bertekad dalam hati.
" Tetaplah di sisiku Saga! ", ucapnya kemudian.
" Huft... " , Saga membuang napas lega mendengar kalimat yang keluar dari mulut Atheya.
"Serius? ", ia memastikan kembali.
" Iya", Atheya mengangguk yakin.
Saga tersenyum dan kemudian membawa perempuan itu dalam pelukannya.
"Terimakasih? ", ucap Saga dan Atheya menganggukan kepala di ceruk leher lelaki tersebut.
" Aku akan berusaha untuk kita", lanjut Saga.
Atheya pun tersenyum bahagia. Lantas pelukan mereka terurai.
"Jadi mulai malam ini kita sudah jadi sepasang kekasih kan? ", tanya Saga.
" Belum", entah apa yang dipikirkan Atheya hingga jawaban itu yang keluar.
"Hah... ? ", Saga terkejut.
" Apa lagi? Sudah seperti ini masih... "
"Iya iya kita udah jadian", potong Atheya.
"Nah gitu dong. Bikin deg deg an aja"
"Aku akan berusaha membahagiakan mbak. cup", Saga mengecup punggung tangan Atheya.
Di tempat lain, di rumah Hendra sedang makan malam bersama dengan para tamunya.
" Mana Saga kok nggak ikut makan? ", tanya Dion sebab dari tak melihat Saga duduk di sana.
" Saga tadi pamit pergi sama temannya", jawab Rully.
"Bisanya ada tamu di rumah malah jalan. Nggak tahu sopan santun", cerocos Retno begitu saja.
" Saga kan anak muda mbak, itu sudah hal biasa", Rully membela sang putra.
"Kamu didik yang benar dong anakmu itu ", Retno masih tak mau diam.
" Padahal mau ada hal yang dibicarakan tapi orangnya malah pergi", lanjutnya.
"Hal...? Apa? ", tanya Hendra.
__ADS_1
" Sudah nanti saja sekarang kita makan dulu", potong Dion.