Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Telpon Meresahkan


__ADS_3

Malam harinya Ratna menghubungi kakaknya, Retno membahas perihal Saga dan Kania. Retno yang mendengar hal itu sangat bahagia. Kania adalah keponakannya sedang Saga adalah keponakan suaminya. Ia juga sudah tahu latar belakang keluarga Saga. Orangtua yang berkecukupan dan hanya mempunyai dua anak yaitu Saga dan Rasya. Saga yang sudah mapan dan... tampan. Jadi tak perlu bingung - bingung mencarikan jodoh untuk keponakannya bukan jika sudah ada yang sesuai di depan mata. Itulah yang ada dalam pikiran Retno.


Setelah bercakap dengan sang adik, Retno lantas menghampiri sang suami yang sedang membaca buku di atas tempat tidur. Entah buku apa yang di bacanya.


"Cklek", tanpa mengetuk Retno langsung membuka pintu kamar.


" Pah... pah... ", Retno antusias menghampiri sang suami.


" Ada apa sih ma bikin kaget aja? Gak ketuk pintu dulu lagi", protes Dion lantaran dibuat kaget oleh sang istri.


"Papa tahu gak, barusan mama dapat telpon dari dek Ratna? "


Lelaki berkaca mata itu hanya memincingkan matanya mendengar penuturan sang istri.


"Kania suka pa sama Saga", lanjut Retno.


" Trus...? ", Dion bertanya.


" Kok trus sih pa? Ya ayo dong kita satukan mereka. Nanti keburu Saga di ambil yang lain"


"Lagian bagus juga dapat masih kerabat sendiri, nggak perlu jauh - jauh", Retno melanjutkan.


" Kamu jangan ngawur deh ma... Saga itu keponakan aku. Memang boleh keponakan dapat keponakan? "


"Ih papa ini ya bolehlah... "


"Iya kan papa tanya karena papa gak tahu"


"Memang mereka saling suka? Nanti Kania aja yang suka? ", lanjut Dion.


" Ya iyalah pa. Orang mereka sudah pelukan, ciuman"


"Apa...? ", Dion nampak kaget.


" Sudah sejauh itu? ", lanjutnya.


" Iya. Makanya mereka harus di segerakan. Papa juga tahu kan Saga itu mapan, ganteng, orangtua juga berkecukupan. Perempuan mana yang gak mau jadi istrinya? Sebelum perempuan lain yang mendapatkannya, Kania yang harus lebih dulu bergerak"


Dion nampak berpikir di saat istrinya masih mengoceh.


"Lagian...dia sudah peluk - peluk, cium keponakanku enak saja jika dia menikah sama perempuan lain", ucap Retno masih nyerocos.


Dion menoleh istrinya sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata.


" Pokoknya papa hubungi Hendra secepatnya! Adikku bilang mereka pelukan dan ciuman. Tapi siapa yang tahu mereka sudah lebih dari itu. Tahu - tahu Kania udah mlendung aja", ucap Retno kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.

__ADS_1


Dion nampak cengo dengan yang baru saja dikatakan oleh istrinya. Ia berusaha berpikir mencari jawaban.


'Apa iya Saga begitu...? Dengan Kania? ', dalam hati Dion.


Tentu saja apa yang di dengar Dion dari sang istri membuatnya agak ragu. Pasalnya di setiap acara keluarga yang dimana Kania ikut dengannya serta sang istri. Baik Kania maupun Saga tidak menunjukkan kedekatan sama sekali. Apalagi Saga... dia cenderung cuek. Kalau Kania...tidak usah ditanya. Jika orang Jawa mungkin sudah menyebutnya gadis trejelan.


Dion menatap jam dinding di kamarnya.


"Besok saja aku telpon Hendra", ucapnya kemudian.


Besoknya di sebuah perusahaan minyak dering ponsel salah satu dari tiga lelaki itu memotong pembicaraan mereka yang saat ini berada di halaman kantor.


" Permisi saya angkat telpon sebentar? ", ijin Hendra kepada kedua rekannya.


" Oh silakan pak", keduanya pun mempersilakan.


Hendra berjalan sedikit menjauh sembari merogoh ponsel dari sakunya.


"Mas Dion? ", Hendra mengernyit begitu melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


" Assalamualaikum... iya mas. Ada apa jam segini telpon? gak biasanya? "


"Waalaikumsalam Ndra, gimana kabarmu sekeluarga? ", Dion tak langsung menjelaskan tujuan ia menghubungi sang adik.


" Alhamdulillah, baik. Sehat semua. Mas sendiri bagaimana sekeluarga? "


"Begini Ndra... ini soal Kania dan Saga", lanjut Dion.


" Kania dan Saga? Ada apa memangnya? "


"Kamu gak tahu mereka pacaran? "


"Pacaran? Gak mereka gak pacaran. Saga sendiri yang bilang ke aku", Hendra mengelak sesuai yang ia dengar dari putranya Saga.


" Gak pacaran kamu bilang? "


"Mereka itu sudah peluk - pelukan dan ciuman, kamu bilang gak pacaran? ", lanjut Dion sudah sedikit naik darah.


" Loh loh loh sebentar mas! Mas tahu dari mana mereka melakukan itu? "


"Dari istriku semalam. Dia dikasih tahu Ratna adiknya. Kania yang cerita, dia menceritakan semua hal selama di rumah mu", suara Dion terdengar sedikit keras karena ada amarah.


" Begini mas nanti kita bahas lagi soal ini. Ini aku lagi di kantor", Hendra lebih baik menyudahi percakapan mereka karena selain jam kerja juga pasti akan panjang.


Selain itu ia juga perlu memikirkannya dengan kepala dingin.

__ADS_1


"Baiklah. Nanti hubungi aku. Assalamualaikum? "


"Waalaikumsalam.Tut"


"Apa yang kamu lakukan bang? Kemarin papa tanya kamu bilang gak suka sama gadis itu. Kenapa sekarang begini? ", ucap Hendra setelah telpon dengan sang kakak berakhir.


" Pak Hendra? ", panggil salah satu rekannya tadi yang berbicara dengannya sebelum menjawab telpon dari sang kakak.


" Eh iya", Hendra tersadar dari pikirannya mendengar seseorang memanggil namanya.


Hendra segera menghampiri kedua rekannya. Mereka berjalan masuk ke dalam kantor sembari melanjutkan pembicaraan.


Sore harinya Hendra pulang ke rumah dengan penampilan yang kusut. Tampak tidak bersemangat. Ia lantas meletakan tas kerjanya di sofa yang kemudian ia ikuti duduk.


"Papa kenapa kok lemes gitu kelihatannya? ", Rully yang melihat suaminya tak seperti biasanya.


" Bentar mama ambilkan minum ya? ", belum di jawab Hendra... Rully sudah menawarkan untuk mengambilkan minum.


" Ini pa di minum biar semangat lagi", Rully menyodorkan segelas air putih dan di terima oleh sang suami.


Hendra menenggak minuman itu sekaligus sampai habis. Kemudian meletakkan di atas meja gelas yang sudah kosong tersebut.


Hendra menghela napas sesaat kemudian berucap,


"Mama tahu hubungan Saga dan Kania seperti apa? "


Rully terlihat bingung dengan pertanyaan suaminya. Dan Hendra tahu jika istrinya pasti bingung dengan pertanyaannya.


"Tadi di kantor papa dapat telpon dari mas Dion yang intinya itu Saga dan Kania itu punya hubungan"


"Mereka sudah pelukan, ciuman", lanjut Hendra.


Rully terkejut dengan penuturan sang suami. Lidahnya kelu sebab selama ini yang ia lihat dari sang putra tak menunjukkan ketertarikan kepada Kania. Ia memang sempat beberapa kali melihat raut wajah bahagia pada putranya tersebut. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Tapi... itu bukan Kania. Entah siapa.


"Ma kok diam? ", Hendra yang merasa tidak mendapatkan respon balik dari sang istri.


" Tapi pa, kita kan sudah tanya pada Saga waktu itu dan Saga bilang dia gak pacaran dengan Kania. Rasanya gak mungkin anak kita bohong pa. Apa lagi soal yang serius begini"


"Itu yang papa pikirkan juga. Tapi mas Dion bilang kalau Kania menceritakan semua hal selama dia di sini dan termasuk itu... soal pelukan dan ciuman dengan Saga"


"Papa jadi bingung ma, mau percaya yang mana. Di sisi lain anak papa Saga rasanya tak mungkin berbohong. Dan di sisi lain keluarga Kania pasti mendesak agar mereka segera di nikahkan", lanjut Hendra mengeluarkan uneg - unegnya kepada sang istri.


Di dalam dapur Rosmah tak berani keluar. Ia yang sedari tadi mencuci piring di dapur harus mengurungkan niatnya untuk keluar dari itu lantaran mendengar kedua majikannya berbicara serius.


'Sebenarnya siapa sih mas yang kamu pacarin? Mbak Atheya atau mbak Kania? Jangan - jangan selama ini mas Saga hanya main - main saja dengan mbak Atheya? Duh gusti... kasihan sekali gadis itu kalau cuma di pakai mainan mas Saga. Dia gadis yang baik gusti... ', dalam hati Rosmah berbicara.

__ADS_1


"Kita harus membicarakan hal ini dengan Saga pa", ucap Rully dan mendapatkan anggukan kepala dari sang suami.


Kedua orang itu kini merasa resah perihal mendapat telpon dari sang kakak, Dion.


__ADS_2