
"Semoga dia masih di tempat kerja! ", gumam Saga sambil mengemudi dengan terburu.
Pulang kerja Saga segera melesatkan mobilnya menembus jalanan yang padat untuk menemui perempuan itu. Jalanan yang padat membuat ia sebal sampai beberapa kali ia membunyikan klakson. Saga tak peduli dengan respon orang di sekitarnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ia harus segera bertemu dengan Atheya.
Sampai di depan tempat kerja Atheya, Saga langsung turun dari mobil dan kebetulan di depan ada Nia.
"Hai Saga... ", sapa Nia.
" Hai. Mbak Theya udah pulang mbak? "
"Kayaknya sih belum. Aku belum lihat dia turun sih"
"Oh", Saga nampak lega mendengar jawaban Nia.
Tak lama kemudian tuk tuk tuk terdengar suara heels menuruni tangga. Saga dan Nia lantas mendongak ke atas sedikit dan benar saja orang yang mereka bicarakan muncul.
'Deg, Saga...? ', dalam hati Atheya.
Ia sebenarnya belum ingin bertemu dengan lelaki itu namun mereka saat ini sudah terlanjur berpapasan. Mau tak mau Atheya harus tetap melangkah.
"Yuk...! ", ajak Saga dengan meraih pergelangan tangan Atheya.
Nia yang melihat hanya tersenyum sedang Atheya... ia tak bisa menolak lantaran ada Nia dan beberapa karyawan yang lain. Tak mungkin kan ia marah di depan orang - orang.
" Duluan ya mbak? ", pamit Saga kepada Nia.
" Oke hati - hati"
"Duluan ya Nia, teman - teman duluan ya? ", pamit Atheya.
" Yups", yang lain menjawab dan Nia mengangguk.
"Klek", Saga menglock pintu mobil ketika Atheya dan dirinya sudah di dalam mobil.
Atheya sempat menoleh ke arah lelaki tersebut. Mobil melaju agak pelan sebab jalanan masih padat. Biasa jam pulang kerja.
" Ngapain jemput? ", tiba - tiba Atheya membuka suara tanpa melihat orang yang di tanya.
Atheya mengarahkan pandangannya ke jendela mobil, melihat luar. Ia tak mau melihat Saga.
" Sudah jelas kan? Ada yang harus kita bicarakan"
"Memang apa yang perlu di bicarakan? ", masih dengan posisi yang sama Atheya kembali bertanya.
" Kenapa gak balas chatku, jawab telpon ku, dan... kenapa sepertinya menghindar? "
"Huft... ", Atheya menghela napas.
" Jadi karena itu? ", tanya Atheya.
" Aku punya hak untuk tak membalas atau menjawab telpon dari siapa pun. Bahkan jika aku tak ingin bertemu dengan seseorang", lanjutnya.
"Begitu... oke", Saga mengangguk - angguk dengan tersenyum. Namun senyum kecut.
Jujur ia kecewa dengan jawaban Atheya. Walaupun jawaban perempuan itu tidak salah akan tetapi bukan itu yang di harapkan Saga.
" Ini bukan arah pulang Saga", tegas Atheya yang menyadari jika saat ini mereka melewati jalan yang bukan menuju kos.
"Memang bukan", jawab Saga datar.
" Lalu...? "
"Nanti juga tau"
Beberapa menit kemudian Saga membawa masuk ke area parkir bangunan tinggi dan besar di pinggir jalan.
__ADS_1
Atheya tahu tempat itu adalah apartemen. Meta dan Andi tinggal di salah satu apartemen tersebut.
'Mau apa dia sebenarnya? Kenapa membawaku ke sini? ', dalam hati Atheya.
"Ciee... pasangan", ledek Andi begitu ia membuka pintu apartemennya.
" Siapa yank? ", tanya Meta dari dalam.
" Siapa lagi"
"Eh Atheya dan Saga", ucap Meta begitu melihat Atheya dan Saga masuk.
" Ayo silakan duduk! Mau jalan nih kayaknya pulang kerja nggak langsung pulang? ", ledek Meta dengan pertanyaan.
Saga mengangguk yang berarti benar kemudian ia ijin numpang mandi.
" Met aku numpang mandi? "
"Ya sana mandi aja. Nanti sekalian Atheya mandi juga", Meta mempersilakan.
" Ntar ya Theya aku bikinin minum. Yank bantuin aku goreng bakwan dong! ", pamit Meta.
Andi pun mengekor pada istrinya menuju dapur.
Setelah Atheya selesai mandi dan meminum tehnya, Saga lantas pamit kepada Andi dan Meta.
" Ndi, Met, gue balik dulu ya? "
"Loh nggak makan dulu? ", tanya Meta kaget.
" Iya bro makan dulu di sini! ", Andi menimpali.
" Nggak, nanti gue makan di luar aja"
" He'em", Meta membenarkan.
Begitu mereka naik ke dalam mobil Saga tak lantas menjalankan mobilnya. Ia hanya menyalakan mesin dan AC mobil tersebut.
Atheya sempat bingung lantaran Saga tak kunjung menjalankan mobilnya hingga ia menoleh ke arah Saga.
"Katakan! ", tiba - tiba Saga membuka pembicaraan tanpa menoleh ke arah Atheya.
" Maksudnya? "
"Kenapa gak balas chat?, gak jawab telpon? kenapa menghindar"
"Kan tadi sudah aku jawab? "
"Aku mau jawaban yang sebenarnya", tegas Saga dengan nada agak keras membuat Atheya terkejut.
Malam ini ia tahu sisi lain Saga. Perkataannya yang tegas membuat lelaki itu nampak dewasa dan maskulin. Atheya terpesona walaupun kata - kata Saga terdengar kasar. Bukannya menjawab Atheya justru hanya memandang wajah lelaki tersebut dari samping. Menyadari jika Atheya bukannya menjawab malah memandang wajahnya Saga lantas menoleh ke samping. Kemudian ia langsung menarik lengan Atheya membawa tubuh wanita itu dalam dekapannya. Saga meraup bibir ranum Atheya dengan beringas. Beberapa saat kemudian ia melepaskan pagutannya. Ia memandang wajah perempuan di depannya sebentar, menarik dagu Atheya membuat bibir bawah Atheya terbuka. Saga meraup kembali bibir itu dan memasukan ***** ke dalam mulut perempuan tersebut. Memainkannya di dalam.
Atheya sama sekali tak menolak dengan apa yang dilakukan Saga namun ia juga tak membalas. Sudah pernah dikatakan kan jikaAtheya tak bisa menolak sentuhan lelaki tersebut. Ia seperti terhipnotis setiap kali bersama dengan lelaki itu. Semakin lama permainan Saga semakin menuntut. Bunyi decapan pun lolos begitu saja.
'Gila... ini gila', dalam hati Atheya namun ia tak bisa berkutik. Lelaki itu begitu erat mendekapnya.
Hingga beberapa menit kemudian Saga melepas karena ia tahu Atheya tampak kewalahan.
Saga menarik tubuhnya memposisikan duduknya seperti sedia kala dengan napas menderu.
"Huhh... huh.. huh... ", keringat dari pelipis meluncur bebas menuruni wajah tampannya.
" Hah... hahh... hah... ", Atheya yang sudah bersandar di kursi pun sama. Masih mengatur napasnya.
" Diamkan aku lagi seperti ini maka aku akan berbuat lebih", ucap Saga dan Atheya menoleh begitu mendengar lelaki tersebut buka suara.
__ADS_1
"Aku tak peduli dengan status kita", lanjutnya.
" Hm... jadi kenapa? ", ia bertanya kepada Atheya.
Atheya diam beberapa saat. Saga masih menunggu dengan sabar.
" Apa hubunganmu dengan Kania sebenarnya? ", akhirnya Atheya bersuara.
" Hehe jadi ceritanya cemburu? ", Saga terkekeh kecil.
" Aku gak ada hubungan apa - apa dengan dia", lanjutnya.
"Lalu kenapa kamu menerima saja saat dia memelukmu? "
"Deg", Saga kaget.
'Jadi Atheya tahu Kania memeluk dirinya', dalam hati Saga.
Tunggu tapi sampai mana dia tahu?, pikir Saga.
" Mbak lihat kah? "
"Iya di garasi"
'Oh rupanya di garasi'
'Harusnya dia tahu kan aku mendorong Kania? ', batin Saga.
"Aku udah berusaha melepaskan pelukannya"
"Dia juga menciummu? "
"Aku mendorongnya"
Hening di antara keduanya. Mereka saling menatap seolah mencari jawaban lewat mata. Benar atau bohong?
"Beneran aku mendorongnya. Gak lihat kah waktu aku mendorongnya? ", Saga tahu jika perempuan di depannya ragu dengan jawaban darinya.
" Nggak", Atheya menggeleng.
Saga tersenyum dan berpindah duduk di kursi yang di dudukki Atheya. Mereka saat ini sangat dekat, satu kursi di pakai berdua.
"Nggak suka kah kalau aku di sentuh Kania? "
Wajah Atheya memerah karena malu, ia sedikit menundukkan wajahnya tak mampu melihat orang di depannya. Saga mengangkat dagu Atheya agar perempuan itu menatapnya.
"Kalau begitu hilangkan bekasnya! ", ucap Saga.
" Di sini", Saga menarik lengan Atheya menuntun agar ia memeluk pinggangnya.
Kedua lengan Atheya sudah melingkar di pinggang Saga. Tubuh mereka saling menempel di batasi pakaian mereka. Keduanya menikmati momen ini hingga beberapa saat.
"Di sini", Saga mendorong kepala Atheya mendekat ke arah wajahnya.
Saga menarik tengkuk Atheya, menuntun perempuan itu untuk mendaratkan bibirnya pada bibir Saga.
" Cup", terjadilah... seolah Atheya yang berinisiatif mencium Saga.
Saga tak membuang kesempatan, ia membalas.
"Cup", hingga beberapa saat bibir keduanya menempel.
" Jadi sudah ya... bekas Kania sudah hilang. Yang aku mau hanya mbak Atheya. Jadi jangan ngambek lagi! ", ucap Saga setelah mereka berciuman beberapa saat yang lalu.
Atheya tersenyum. Saga mulai menjalankan mobilnya. Ia akan membawa perempuan itu makan malam dulu sebelum pulang.
__ADS_1