
Berbeda dengan di kosnya, di kampung Atheya malam tahun baru sama saja dengan malam - malam biasanya. Tidak ada acara kumpul dan bakar - bakar seperti di kota - kota. Jika memang ada hanya beberapa orang saja yang melakukan hal semacam itu. Maklum kampung pelosok.
"Bagaimana kabar saudaramu yang di sana? ", tanya sang ibu yang saat ini mereka sedang duduk di atas karpet sambil menonton TV.
" Alhamdulillah baik semua bu"
"Teman - teman kosmu juga baik sama kamu? "
"Iya baik, tidak ada masalah"
"Baguslah. Ibu khawatir soalnya kamu kos sendiri jauh dari rumah saudara - saudaramu, bagaimana jika ada teman kosmu yang tidak suka sama kamu. Kadang ibu berpikir demikian"
"Jangan khawatir bu teman kos Theya baik semua kok"
"Lalu bagaimana tempat kerjamu? "
"Semuanya baik"
"Syukurlah"
"Theya kamu sekarang sudah berumur tiga puluh tahun apa belum ingin menikah? Teman - teman kamu saja sudah pada punya anak"
"Menikah... ya ingin lah bu hanya saja Theya belum bertemu sama yang cocok"
"Sebenarnya lelaki yang seperti apa yang kamu cari? "
"Tentu saja yang seagama, bertanggungjawab, bisa menerima dan menghargai Theya. Sabarlah bu, Atheya sedang mencari lelaki yang bisa menghargai dan menghormati keluarga Theya. Terutama orangtua Theya. Di luar sana banyak sekali orang menikah tapi tidak peduli dengan keluarga dari pasangannya. Atheya tidak mau yang seperti itu bu"
"Ya sudah tapi kalau bisa jangan lama - lama"
"Iya bu doakan saja semoga Theya segera bertemu yang sesuai dengan harapan Theya"
"Kalau orangtua itu ya pastinya doakan anaknya yang baik - baik saja"
"Ting", bunyi sebuah notifikasi masuk di ponsel Atheya .
Mili SMA :
" Hai Theya nanti minggu depan hari sabtu datang ya ke acara nikahan adikku. Sekalian kita ketemu,setelah lulus sekolah lama kita nggak ketemu. Mumpung kamu di kampung"
Atheya :
"Aku usahain ya, jika nggak ada halangan aku datang"
Mili SMA :
"Oke"
Begitulah isi percakapan antara Atheya dan salah satu temannya waktu SMA yang bernama Mili.
"Siapa? ", tanya ibu Atheya.
" Teman SMA Theya. Adiknya mau menikah Theya di undang ke acaranya"
"Trus kamu mau datang? "
__ADS_1
"Iya ku usahakan bu, soalnya lama tidak bertemu dan selain itu untuk menyambung tali pertemanan biar tidak putus"
"O iya sudah tapi kamu tahu rumahnya dimana? "
"Hanya tahu nama kampungnya sih tapi lokasi tepatnya Theya tidak tahu, soalnya Theya belum pernah ke sana. Tapi bapak pasti tahu kan bu? "
"Bapakmu ya mungkin tahu asal kamu sebutkan nama kampungnya saja. Trus nanti baru kamu tanya orang rumah teman kamu itu"
"Hm iya"
"Kalau begitu Theya minta shareloc rumah teman Theya dulu bu", lanjut Atheya.
Ia kemudian mengirim pesan pada Mili untuk di shareloc rumahnya. Beberapa menit masuk pesan dari Mili yang berisi lokasi rumahnya. Atheya pun tenang setelah mendapat lokasi rumah temannya tersebut. Apalagi bapaknya termasuk orang yang hafal daerah - daerah. Bapaknya Atheya yang di maksud di sini adalah bapak pernikahan kedua ibu Atheya. Disebut juga bapak sambung, karena bapak kandung Atheya sudah meninggal.
Dua hari menjelang acara pernikahan adik Mili, malam hari...
"Atheya setiap tanggal 16 aku akan menghubungimu, nanti tiga bulan aku akan datang menemuimu. Satu tahun lagi aku akan datang melamarmu"
Atheya sangat senang dengan kemunculan tiba - tiba seorang laki - laki yang ia kenal dan memberi kabar gembira.
Atheya bergerak dalam tidurnya kemudian membuka matanya,
"Mimpi dia lagi", gumam Atheya.
Atheya merasa lelah dan bosan karena sering memimpikan sosok di masa lalunya namun ia tak bisa berbuat apa - apa. Mimpi siapa yang bisa mencegah? Tidak peduli akankah mimpi tersebut menjadi kenyataan atau hanya bunga tidur yang tidak punya makna sama sekali.
"Kenapa aku sering memimpikannya? Padahal aku tidak memikirkannya. Dan apa maksud mimpi barusan? Tanggal 16...ada apa di tanggal itu? Tiga bulan... dan satu tahun lagi akan datang melamar? Mana mungkin dia saja sudah beristri dan punya anak. Lagi pula kita tidak pernah berkomunikasi, bahkan nomor kontak pun tak punya satu sama lain. Ya Tuhan kenapa mimpi ku begitu aneh? ", Atheya berbicara sendiri.
Hari sabtu pukul sembilan dua puluh menit Atheya sudah siap pergi menuju acara pernikahan adik Mili di antar oleh bapaknya menggunakan motor. Bapaknya walaupun bukan bapak kandung tapi sangat sayang kepada Theya. Begitu juga dengan Theya yang sudah menganggap seperti bapak kandungnya sendiri. Berbekal shareloc dari Mili ia pergi, ini pertama kalinya ia berkunjung ke tempat Mili. Sekitar tiga puluh menit sampai ia di sebuah pertigaan, di sana ada sebuah gang masuk. Bapak Atheya bertanya pada salah satu warga setempat dan memperoleh jawaban bahwa sudah benar jalan yang saat ini di lewati namun letak rumah Mili masih ke dalam lagi. Karena ternyata di kampung tersebut bukan hanya keluarga Mili yang punya hajat, tetapi salah satu tetangga Mili juga punya hajat di hari itu. Motor masih melaju menyusuri jalan masuk lebih dalam lagi hingga beberapa menit sampailah terlihat ada sebuah acara besar dan meriah. Atheya sudah berpikir sepertinya inilah rumah Mili. Ia turun dari motor sedang bapak menunggunya di atas motor yang di parkir di tepi jalan.
" Mili... "
"Hai Atheya ya allah... ", Atheya dan Mili berjabat tangan dan saling cium pipi.
" Kamu sama siapa? "
"Aku di antar bapak. Aku soalnya nggak tahu sini"
"Eh ayo makan dulu! "
"Iya bentar, aku duduk dulu aja"
"Eh Dinda rumahnya di sini juga kan? "
"Iya tuh rumahnya kelihatan dari sini"
"Eh dia pulang lho sama Angga mantan kamu hahaha", lanjut Mili sambil menepuk paha samping Atheya.
" Hahaha", Atheya pun ikut tertawa.
Bukan rahasia lagi jika Atheya dan Angga menjalin hubungan waktu SMA. Hampir seluruh teman Atheya juga tahu bahwa Angga menikah dengan Dinda yang merupakan teman juga namun beda kelas.
"Dia baru sampai tadi malam dari Bandung", Mili menjelaskan.
" Mainlah ke sana! ", lanjutnya.
__ADS_1
" Aku mana berani sendiri kesana nggak kamu temenin"
"Yah aku nggak mungkin ninggalin acara, bentar ku suruh orang panggil dia ke sini"
Beberapa menit kemudian munculah sosok seorang perempuan dengan penampilan modis, beda saat masih sekolah yang cenderung terlihat biasa.
"Mana.. ? ", perempuan yang bernama Dinda itu bertanya kepada Mili.
" Tuh", Mili menunjuk ke arah Atheya.
"Hai... gimana kabarnya? ", sapa Dinda pada Atheya sambil berjabat tangan.
" Alhamdulillah baik, kamu sendiri? ", jawab Atheya.
" Iya sama aku juga baik"
"Eh bentar ya? ", lanjut Dinda kemudian agak menjauh dan terlihat menghubungi seseorang.
"Ada Atheya, kamu ke sini ya sama bawa Farel! "
"Ha... Atheya? ", jawab suara seorang lelaki dari tempat lain yang tak lain adalah Angga.
" Iya...Hehehe", Dinda tertawa.
"Hehehe iya bentar aku ke situ", ucap Angga.
Tak lama kemudian Angga datang dengan seorang anak laki - laki berumur sekitar dua tahun di gendongannnya. Angga menghampiri meja dimana Atheya dan Dinda duduk besebrangan sambil berbincang. Dinda mengambil alih Farel dari Angga.
"Hai Atheya gimana kabarnya? ", sapa Angga seraya mengulurkan tangan untuk berjabat.
" Begini saja Ngga", Atheya mempertemukan kedua telapak tangan di depan dadanya sebagai jabat tangan antara laki - laki dan perempuan. Entah mengapa ia enggan bersentuhan dengan Angga selain itu merasa tidak enak jika di lihat Dinda.
Mereka pun terlibat perbincangan dalam satu meja. Sekali dua kali Angga terlihat meninggalkan Atheya dan Dinda, mungkin ia merasa canggung bertemu dengan Atheya. Namun beberapa saat ia kembali ikut bergabung.
Di saat Atheya berbincang dengan Dinda, di dalam hati Atheya juga berbicara 'Ya Tuhan sebeginikah rasanya? Tolong jangan sampai aku membuat kesalahan Ya Tuhan? ',
Dalam duduknya Atheya berusaha sekuat tenaga agar terlihat baik - baik saja di depan Dinda dan Angga. Ia bagaikan berperang melawan tubuhnya sendiri. Hatinya bergetar menjalar ke seluruh tubuh. Tangan, kaki serasa bergetar sulit untuk ia menguasainya. Atheya merasa dirinya tidak boleh lama - lama, ia harus cepat pergi. Sebab ia khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya di depan dua insan yang sangat ia kenal.
Beberapa menit kemudian Atheya berpamitan untuk pulang. Di tengah perjalanan ia tak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya. Baru dua hari yang lalu ia memimpikannya dan hari ini ia bertemu. Apakah sebenarnya mimpi itu sebagai pertanda?
Di pulau sebrang seorang lelaki yang sedang duduk di kursi kerjanya menunggu jam pulang. Dimana setiap hari sabtu hanya masuk setengah hari. Sudah seminggu lebih ia bekerja di sini. Yang sebelumnya bekerja di kantor pusat, Jakarta. Di sini ia menjabat sebagai HRD. Saga terlihat seperti kurang semangat hari - harinya ini. Ia masih penasaran dengan sosok Atheya. Entah mengapa Atheya selalu muncul di benaknya.
"Atheya... Atheya... bukankah seharusnya kamu udah balik ya hari - hari ini? ", Saga berbicara sendiri sambil memainkan pulpen yang di ketuk - ketukkannya pada meja.
" Tok tok tok", suara pintu ruangan di ketuk dari luar.
"Ya", jawab Saga.
" Permisi pak ini laporannya dari lapangan, dan barusan ada telpon dari PT. A bahwa penawarannya sudah di kirimkan melalui email", salah satu staf admin yang tak lain adalah seorang perempuan mengantarkan laporan.
"O iya nanti saya cek"
"Baik Pak, permisi? "
"Silakan! "
__ADS_1
Saga kemudian membuka map berisi laporan yang di bawa perempuan tadi. Mulailah ia sibuk dengan pekerjaannya hingga waktu menunjukkan jam pulang.