
"Apa? Mas di sini? Kenapa gak bilang kalau mau ke sini? " tanya Hendra beruntun di saluran telpon.
"Baik mas aku segera ke sana"
"Waalaikumsalam tut"
Setelah percakapan berakhir Hendra segera mendatangi istrinya yang tak jauh darinya sedang tidur siang.
"Ma ma bangun ma! ", Hendra menepuk pelan beberapa kali lengan Rully.
" Ada apa pa?", jawab Rully dengan mata yang enggan terbuka karena masih sangat mengantuk.
Suaminya mengganggu tidurnya saja pikirnya.
"Mas Dion ke sini. Sekarang sudah di bandara dan papa mau jemput", Hendra memberitahu istrinya.
" Ha...? ", Rully terkejut dengan melebarkan mata yang sebelumnya enggan terbuka.
" Memang ada urusan apa pa, mas Dion ke sini? "
"Mana papa tahu. Tapi feeling papa soal Saga dan Kania", Hendra menjawab pertanyaan Rully sembari memakai celana panjang.
" Loh. Bukannya papa sudah memberitahu mas Dion jika Saga dan Kania tidak pacaran ? Dan itu hanya salah paham, papa sudah bilang juga kan kalau Kania yang memulai? ", mata Rully memincing menatap Hendra ada rasa curiga kepada suaminya. Yang saat ini posisinya sudah duduk, tidak lagi berbaring di atas kasur.
Jangan - jangan Hendra tidak memberitahu kebenarannya kepada Dion pikirnya. Namun kecurigaannya di patahkan oleh Hendra.
"Sudah. Papa sudah memberitahu semua ke mas Dion. Itu kenapa sekarang papa bingung. Tiba - tiba mereka datang ke sini", ucap Hendra dengan memasukan dompet di saku celananya.
" Sudah mama buruan sana masak yang banyak sebab mas Dion tak bersama istrinya sendiri melainkan juga bersama orangtua Kania! ", perintah Hendra pada sang istri.
" Apa? ", Rully terkejut kembali.
" Sudahlah ma papa pusing, papa pergi dulu jemput mereka ke bandara", Hendra buru - buru keluar dari kamar tanpa menutup pintu.
Rully masih tertegun di atas kasurnya, pikirannya entah kemana saja hingga ia di kagetkan oleh suaminya lagi yang tiba - tiba kepalanya melongok dari luar.
"Jangan lupa ma kasih tahu Saga! ", perintah Hendra dan di angguki Rully.
Hendra pun pergi setelah memberi perintah kepada istrinya. Rully segera beranjak dari kasur. Benar, ia harus memberitahu Saga perihal kedatangan mereka. Paling tidak Saga bisa bersiap - siap jika ada apa - apa pikir Rully.
"Tok tok tok", Rully mengetuk pintu kamar Saga.
" Abang di dalam? ", lanjutnya.
" Iya ma masuk aja! ", jawab Saga dari dalam.
Rully segera membuka pintu kamar Saga dan dilihatnya sang putra sedang duduk menatap layar laptop dengan memakai kacamata. Sepertinya Saga sedang mengerjakan sesuatu. Saga menoleh ke arah Rully dan Rully menghampirinya.
" Ada apa ma? "
"Bang, pamanmu dan orangtua Kania ke sini", Rully yang sudah berdiri di samping putranya.
" Ke sini? Kapan? "
"Hari ini. Sekarang lagi di jemput papa"
"Memang ada apa ma mereka ke sini? ", Saga mengernyit ingin tahu tujuan pamannya ke sini.
"Itu papa dan mama juga nggak tahu. Mungkin soal abang dan Kania. Pamanmu nggak ada juga ngabarin kalau mau ke sini. Tiba - tiba sudah di bandara"
"Mama ke sini mau ngasih tahu abang soal itu aja", lanjut Rully.
__ADS_1
" Tunggu ma!, bukannya papa sudah kasih tahu paman? ", Rully yang baru saja memutar tubuhnya pun berbalik menghadap putranya lagi.
" Sudah"
"Itu kenapa sekarang papa jadi bingung", lanjut Rully.
" Mama mau ke dapur dulu", pamit Rully kemudian. Kali ini ia benar - benar meninggalkan kamar putranya tersebut.
Saga mengangguk sebagai respon kepada Rully.
"Huft... apa lagi? ", Saga membuang napas kemudian melepas kaca mata yang melingkar di kedua matanya.
Sekitar empat puluh menit kemudian mobil Hendra memasuki halaman yang berarti mereka sudah pulang dari bandara. Rully yang mendengar suara mobil lantas ke depan untuk menyambut kedatangan mereka. Dan diikuti Rosmah di belakangnya untuk membantu menurunkan barang, koper mungkin? Rully memasang wajah dengan senyum manis ketika satu persatu orang turun dari mobil. Ia rasanya enggan begitu melihat sosok yang pernah dulu membuat ia dongkol turun dan di ikuti sang putri, Kania. Namun apa boleh buat Ratna adalah tamu jadi mau tak mau Rully harus tetap memasang senyum.
"Kok nggak ngabarin kalau mau ke sini? ", ucap Rully menyambut Retno dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat.
"Memang kenapa? Nggak boleh? ", bukan menjawab Retno justru bertanya sinis.
'Judes amat', dalam hati Rosmah yang melihat interaksi kedua wanita tersebut.
Rosmah tidak suka dengan sikap Retno pasalnya majikannya bertanya baik - baik malah di jawab sinis.
" Hehehe ya nggak tow. Kan kita bisa siap - siap kalau tahu mau ke sini", Rully berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang.
Sedang yang lain hanya diam karena sudah tahu karakter Retno.
"Ayo silakan masuk! Ros bawa kopernya masuk ya? ", ucap Rully kemudian.
" Iya buk", Rosmah mengangguk.
"Saga mana tante? ", baru juga duduk di ruang tamu Kania sudah menanyakan keberadaan Saga.
" Saga lagi di kamar sepertinya lagi mengerjakan sesuatu"
" Ini baru mau aku kasih tahu mbak", jawab Rully yang sebenarnya geram dalam hatinya.
"Ya sana buruan! ", usir Retno kepada Rully.
Rully tak menjawab, ia langsung berlalu menuju kamar Saga.
'Hih... kalau bukan istrinya mas Dion kamu sudah ku jambak rambutmu', dalam hati Rully yang sudah emosi.
" Tok tok tok cklek", Rully mengetuk pintu kamar Saga dan tanpa menunggu respon dari yang punya kamar ia langsung membuka pintu tersebut.
"Bang keluar gih pamanmu sudah datang! ", perintah Rully di pintu.
Saga mengangguk malas kemudian ia meletakan ponselnya di atas meja.
Saga menyalami semua orang yang berada di ruang tamu.
" Duduk sini Saga! ", Kania menepuk sofa di sebelahnya tampak antusias.
" Nggak di sini aja", tolak Saga memilih duduk di samping Hendra yang masih kosong.
Rosmah yang masih bolak balik menyeret koper tidak sengaja mengetahui sikap Kania.
'Kok nggak malu? ', dalam hati Rosmah matanya sempat melirik Kania sebentar.
Kali ini Rosmah merasa tidak suka dengan kedatangan Kania. Selain ia mendengar percakapan majikannya beberapa hari yang lalu ia juga menyaksikan sendiri bagaimana sikap Kania yang seperti wanita kegatelan.
Setelah Rosmah selesai menyimpan koper masuk ke dalam rumah ia lantas kembali ke dapur membantu majikannya melanjutkan masak setelah menghidangkan minuman dan beberapa camilan di ruang tamu.
__ADS_1
"Sudah buk, ibuk keluar saja biar Ros yang melanjutkan masaknya. Tinggal ini juga yang lain sudah matang", ucap Rosmah kepada Rully.
" Ya sudah aku keluar dulu kamu lanjutkan sendiri! "
Di ruang tamu mereka tampak berbincang dari hal yang tidak penting.
"Rasya mana kok nggak kelihatan? ", tanya Dion.
" Halah mas... Rasya aja. Sudah keluyuran entah kemana itu anak", jawab Hendra.
"Jadi kapan rencana Kania dan Saga di langsungkan? ", tanya tiba - tiba Retno yang membuat beberapa orang kaget.
'Deg', ketiga orang kaget dengan yang di ucapkan Retno. Mereka adalah Hendra, Rully, dan Saga.
'Apanya yang di langsungkan? ', dalam hati Saga berubah menjadi kesal. Bibinya jika berbicara suka seenaknya saja.
"Maaf mbak apanya yang di langsungkan? ", tanya Hendra hati - hati.
" Kamu pura - pura nggak tahu atau gimana? ", sewot Ratna.
" Maaf mbak tapi Saga dan Kania... mereka tidak ada hubungan apa - apa ", kali ini Rully yang bicara.
" Tidak ada hubungan apa - apa kamu bilang? Hei... mereka itu sudah pelukan ciuman segala dan kamu bilang tidak ada hubungan apa - apa? Jadi maksudnya Saga nggak mau tanggung jawab gitu sudah menyentuh anak gadis orang. Enak saja. Ajarin dong anaknya jadi laki - laki itu tanggung jawab", ucap Retno panjang lebar.
"Sebentar - sebentar! ", Saga menengahi ketika ia melihat Rully akan angkat bicara lagi.
" Kamu bilang apa Kania ke mereka? ", Saga beralih menatap Kania.
Kania tampak kikuk karena ia memang berbohong membuat cerita yang berkebalikan dengan kenyataanya. Ia nampak menunduk metaba tengkuknya.
" Maaf sebelumnya semuanya... saya ingin menyampaikan kesalahpahaman ini. Saya dan Kania tidak pernah pelukan dan ciuman. Lebih tepatnya Kania yang tiba - tiba memeluk dan mencium saya. Dan saya sudah berusaha menolaknya", lanjut Saga karena Kania tidak mau menjawab pertanyaannya.
Kania mendongak menatap Saga, ia terkejut Saga mengatakan dengan terang - terangan. Ia kecewa dan malu luar biasa.
Kedua orangtua Kania pun tampak terkejut hingga mereka menatap ke arah sang putri. Seolah mencari kebenarannya.
Kania tampak takut - takut melihat raut wajah kedua orangtuanya.
"Kania... ", panggil Ratna.
" Maaf ma... ? ", cicit Kania.
" Tapi Kania suka sama Saga pa, ma"
Semua nampak diam hingga suara Saga memecah keheningan.
"Sekarang sudah jelas kan kesalahpahaman nya? ", potong Saga.
" Saya permisi ada pekerjaan yang harus saya kerjakan", pamit Saga dan berlalu meninggalkan ruang tamu.
Kedua orangtua Kania tampak malu dan tak berani mengucapkan sepatah katapun.
'Dasar tamu tak di undang, datang - datang berulah', dalam hati Rully tersenyum merasa menang. Lebih tepatnya putranya menang.
"Halah sudahlah namanya juga anak - anak", kelakar Retno selalu ada alasan karena enggan kalah.
Ia sengaja bicara demikian karena sebenarnya ia sudah kalah dan merasa malu. Gengsi bagi dirinya mengakui kesalahan.
'aish... dasar orang satu ini selalu ada - ada biar sudah terbukti salah', dalam hati Rully.
Hendra nampak lega karena kebenaran tentang putranya sudah terungkap.
__ADS_1
Kedatangan tiba - tiba mereka sudah membuat resah di awal dan sekarang mau menyalahkan putranya.