Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Terpikirkan


__ADS_3

Bandung,


"Yank ngapain di luar? ", tanya Dinda kepada suaminya yang berada di luar rumah sementara waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dinda sengaja menyusul suaminya di luar lantaran suaminya tak kunjung masuk rumah sejak setelah isya'.


" Eh yank lagi menikmati suasana malam saja", Angga menoleh ke sumber suara.


Angga yang sedang berdiri menatap langit malam tanpa bintang dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celanan kiri dan kanan.


"Jangan lama - lama nanti masuk angin loh! "


"Iya yank aku masih tahan kok. Bentar lagi juga masuk"


"Ya sudah aku duluan masuk ya? "


"Iya, tidur duluan aja kalau sudah ngantuk! "


Dinda mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah lagi.


Sejak pertemuannya dengan Atheya di rumah Mili, Angga menjadi terpikirkan perempuan itu kadang kalanya. Seperti malam ini.


Waktu itu hatinya berdebar luar biasa, ia tak menyangka masih merasakan debaran yang sejuk menyeruak seperti saat Atheya memberi selamat di hari spesialnya. Hari ulang tahunnya. Perempuan itu adalah satu - satunya perempuan yang berani mengucapkan selamat kepadanya di depan banyak orang.


"Atheya..., kamu banyak berubah", gumamnya kemudian tersenyum.


Perempuan itu memang banyak berubah dimana dulu waktu SMA agak gemuk dan pendek tapi sekarang lebih langsing dan lebih tinggi. Hidung peseknya pun hilang entah bagaimana itu terjadi. Sekarang jadi agak mancung. Alisnya hitam alami yang membuat kesan tegas pada wajahnya. Kulitnya juga lebih bersih walau tidak putih. Dan yang membuat terkejut ia tidak dapat merasakan sentuhan tangan perempuan itu lagi. Seperti apa rasa sentuhan kulit perempuan itu sekarang ia tidak tahu.


"Atheya apakah kamu kadang masih memikirkanku? Apakah sudah ada lelaki lain di hatimu? Aku rasa dengan wajahmu yang seperti itu pasti banyak yang menginginkan dirimu. Siapa lelaki itu? Aku penasaran... lelaki seperti apa yang bisa meluluhkanmu? ", ucap Angga pelan.


Ia memutar tubuhnya memasuki rumah.


Kalimantan,


" Kamu masih lama disana? ", tanya Atheya kepada seseorang dengan ponsel yang menempel di telinganya.


" Kenapa ? Kangen ya? ", goda suara lelaki di sebrang telpon.


" Tanya doang"


"Ngaku aja, mbak kangen kan? hm? "


"Apa sih? "


"Mbak vc yuk! "


"Nggak"

__ADS_1


"Kenapa sih nggak pernah mau kalau di ajak vc? "


"Nggak apa - apa"


"Malu? Ngapain malu, aku aja nggak malu hehehe"


"Ih siapa juga yang malu? "


"Mbak lah"


"Aku tuh pengen banget lihat wajah mbak, tapi setiap aku vc pasti ditolak"


"Hehehe"


"Awas kamu mbak"


"Apa? Kamu bilang apa barusan? ", Atheya tidak terima .


"Nggak, ayo kita tidur udah malam! Assalamualaikum tut", panggilan di akhiri oleh Saga tanpa menunggu balasan salam dari Atheya.


" Waa.. hah di matikan? waalaikumsalam", Atheya merasa greget kepada Saga namun akhirnya tetap menjawab walaupun telpon sudah berakhir.


Saga orang itu bisa menghibur Atheya namun juga bisa membuat gregetan di waktu yang sama.


"Dasar orang ini", ucap Atheya.


"Ah... apa yang ku pikirkan ini? Astaga", Atheya menggeleng - gelengkan kepalanya seolah ia membuang pikiran kotor di otaknya.


Esok paginya yang merupakan hari minggu dimana pada umumnya sebagian orang libur bekerja. Atheya yang sudah mandi kembali menggulingkan tubuhnya di atas kasur. Ia sedang malas, malas segalanya. Baik mengerjakan pekerjaan rumah maupun keluar.


"Tok tok tok"


"Mbak Theya? ", suara Tari memanggil di balik pintu kamar Atheya.


" Iya", Atheya menjawab sembari beranjak dari tempat tidur.


"Cklek, ada apa Tar? "


"Tuh ada gorengan yuk makan bareng - bareng", Tari menunjuk meja di depan TV dimana anak - anak kos yang lain sudah berkumpul menikmati.


" Oh, oke"


Atheya ikut bergabung duduk di kursi dengan yang lain.


"Eh aku udah beberapa hari ini nggak lihat mas ganteng", celetuk Lia.


" Tumben kamu ketinggalan sama beritanya? " , Luluk bertanya.

__ADS_1


"Hiyah katanya ngefans mau jadi ayangnya tapi nggak tahu orangnya kemana? ", Tari meledek Lia.


" Ya kan aku nggak jagain dia dua puluh empat jam ", Lia menjawab.


" Eh tapi emang kok Saga nggak ada kelihatan beberapa hari ini. Ada semingguan ya...aku nggak ada lihat dia", ucap Yanti sambil mengingat.


"Kapan itu aku nggak sengaja dengar mbak Rosmah bilang ke pak Yanto di suruh antar tante Rully belanja camilan untuk mas Saga. Buat di bawa ke lokasi. Tapi aku nggak tahu maksudnya apa. Lagian bukan urusanku juga", Nita menceritakan apa yang pernah ia tak sengaja dengar.


"Lokasi itu berarti dia lagi ada job di lapangan, bisa jadi di luar kota", Yanti menjelaskan.


" Oh", tanggap Nita yang sudah paham.


"Ini gorengan enak kamu beli dimana Nit? ", tanya Tari.


" Aku beli di pertigaan terminal situ"


"Hah kamu sampai situ pagi - pagi sekali? Cuma beli gorengan? ", lanjut Tari.


" Sebenarnya aku nggak niat beli gorengan, aku cuma pengen muter pakai motor pagi - pagi aja. Trus kulihat di penjual gorengan ramai, aku jadi penasaran. Ya udah ku coba beli deh"


Di saat semua sedang berbincang Atheya sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Aku yang di kasih hadiah, di kasih uang aja nggak bawain dia apa - apa untuk di bawa ke lokasi. Tapi tante Rully...? Wajar sih tante Rully kan mamanya. Tetapi tetap saja rasanya aku jadi tidak enak sendiri', dalam hati Atheya berbicara.


"Eh aku dengar dari mbak Ros, tante Rully sama pak Hendra mau ke Sulawesi? ", ucap Tari tiba - tiba.


" Dengar aja kamu yang model begitu? ", sahut Yanti.


" Kapan memangnya? ", lanjut Yanti.


" Katanya sih ya minggu - minggu ini"


"Sulawesi itu keluarganya tante Rully ya? ", kini Lia yang gantian bertanya.


" Iya keluarga mereka, lebih tepatnya dari pihak pak Hendra", jawab Yanti.


"Nanti bakal sepi dong nggak ada tante Rully sama pak Hendra? "


"Sepi apanya? Selama ada kamu mana kos- an sepi ? ", Tari menonyor kepala Lia.


" Maksudku di atas nanti jadi sepi. Mas Saga nggak ada, tante Rully dan pak Hendra juga. Rasya... eh Rasya ikut juga ? "


"Sepertinya iya, mana anak itu mau di tinggal?", jawab Tari.


" Keluarga yang di sana ada acara kah? ", Atheya yang sedari tadi diam tiba - tiba bertanya.


" Nggak ada acara apa - apa, kata mbak Rosmah hanya berkunjung aja. Udah dua kali lebaran kemarin kan pak Hendra dan tante Rully nggak ke sana. Rencana mau ke sana tapi gagal terus. Makanya mumpung ini pak Hendra kerjaannya nggak banyak jadi pergi minggu ini", Tari menjawab lengkap.

__ADS_1


Atheya mengangguk mengerti.


__ADS_2