
Sudah empat hari sejak kepergian Saga ke luar kota namun tak ada kabar sama sekali dari lelaki tersebut. Atheya gundah, hari - harinya terasa sepi. Kadang pikiran negatif terlintas di benaknya ' apakah Saga sudah lupa dengan dirinya? '.
"Sial susah sekali signal di sini", Saga mengumpat.
Pasalnya sudah tiga hari ia di sini namun tak mendapatkan signal sama sekali. Jangankan menghubungi Atheya, menghubungi keluarganya pun susah.
" Di sini signal susah ya? ", tanya Saga kepada seorang karyawan yang sedang duduk di sebuah bangku panjang depan kantin.
" Eh pak Saga. Iya Pak di sini memang susah signal. Maklum tengah hutan hehehe", jawab lelaki tersebut.
"Susah menghubungi istri ya pak? Saya juga begitu pak jika tidak bisa menghubungi istri, tidak tenang. Apalagi jika ingat si kecil, lihat videonya saja rasanya ingin langsung melesat pulang",lanjut lelaki tersebut mengira jika Saga sudah menikah.
" Jadi kamu.. sudah menikah? Danang?", Saga bertanya sembari melirik pada tanda pengenal yang tergantung di leher lelaki tersebut bernama Danang.
"Iya pak dan sudah punya anak satu perempuan usia baru satu tahun"
"Kelihatannya kamu masih muda tapi sudah punya anak? "
"Saya dan istri saya memang menikah muda pak. Istri saya baru lulus SMA setahun kemudian menikah dengan saya. Sedang waktu itu umur saya baru dua puluh dua.Lantaran pekerjaan saya yang jauh jadi orangtua menyuruh cepat menikah saja. Supaya jelas status saya dengan istri yang waktu itu masih pacar saya"
"Wow masih muda banget", Saga merasa takjub mendengar cerita Danang dimana usia itu masa - masa ingin bebas namun sudah memutuskan menikah.
" Iya Pak"
"Kenapa kamu yang masih muda mau begitu saja ketika orangtuamu menyuruh menikah? "
"Itu karena didikkan orangtua saya untuk tidak mempermainkan anak gadis orang. Jika sudah menjalin hubungan harus serius. Makanya saya disuruh cepat menikah karena jika di undur lebih lama takutnya jadi putus nyambung. Atau bahkan putus. Dan yang lebih mengkhawatirkan jika tidak bisa menahan nafsu hehehe"
Saga mengangguk paham, benar memang yang dikatakan Danang. Jika pacaran terlalu lama dikhawatirkan tidak bisa menahan diri.
"Lalu bagaimana jika ingin menghubungi keluarga kalian? "
"Kita nyambung wifinya si Anton pak"
"Wifi? "
"Iya, jika bapak mau nanti saya minta sambungkan punya pak Saga sama si Anton. Tapi bisanya malam saja pak atau kalau tidak pas off"
"Kenapa begitu? "
"Jika siang hari kan jam kerja pak, mana bisa jika tidak dekat mes. Wifinya Anton kan di mes"
"Oh iya saya paham. Trus bagaimana caranya kalian menyambung wifi? Maksud saya itu kan wifinya Anton apa tidak bayar? "
"Soal itu ya kita bayar tiap bulan kepada si Anton"
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan yang perlu pakai internet seperti orang kantor itu? "
"Kantor kan juga ada wifinya sendiri pak. Tentu saja jika tidak jam kerja dimatikan"
Setelahnya tak ada lagi pembicaraan antara mereka karena tak lama kemudian waktu masuk kerja lagi sudah tiba.
__ADS_1
Paling tidak Saga sudah merasa lega ada harapan bisa menghubungi keluarganya dan kesayangan... Atheya.
Malam harinya Saga sudah bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi keluarganya.
"Assalamualaikum... kamu dimana sih kok nggak ada kabar sama sekali? Mama khawatir", Rully yang sudah mengomel sebelum Saga menjawab salamnya.
" Waalaikumsalam... pelan - pelan dong ma! Di sini susah banget signalnya. Ini baru bisa karena nyambung wifi teman"
"Iya kan mama khawatir, anak ini kenapa sudah empat hari sejak berangkat tak ada kabar. Dihubungi juga nggak aktif"
"Trus gimana kabarmu di sana? Makanya gimana? Tidurnya? Airnya?", cerewet Rully memberondong dengan pertanyaan.
"Saga baik - baik saja ma di sini. Makanya biasa saja tapi masih enakkan masakan di rumah. Tidurnya lumayan nyaman ada ac juga. Airnya sumur bor"
Saga dengan keluarganya berbicara hingga hampir satu jam lamanya melepas rindu. Setelahnya ia langsung menghubungi perempuan yang membuatnya kelimpungan beberapa hari ini.
"Halo Assalamu'alaikum ", suara lembut dari sebrang menyapa.
" Waalaikumsalam... gimana kabarnya? ", tanya Saga kepada Atheya.
" Aku baik, kamu? "
"Sama aku juga baik"
"Kenapa tidak menghubungi? "
"Kenapa? Kangen? ", bukannya menjawab Saga malah balik bertanya.
" Kalau di tanya itu jawab! ", Atheya mengalihkan padahal ia sebenarnya malu. Mungkin jika di dekat Saga langsung pasti akan tahu pipinya yang saat ini memerah.
"Ini bisa? Sekarang dimana? "
"Aku nyambung wifi teman, ini lagi di depan mes. Soalnya kalau di kamar nggak nyampek wifinya. Nyampek sih tapi putus - putus"
"Oh"
"Sudah makan? ", tanya Saga yang peduli kepada perempuan tersebut.
" Udah capcay"
"Suka kah? "
"He'em. Suka sayur - sayuran"
"Oke nanti kalau aku sudah di sana kita makan ya? "
"Iya. Ngomong - ngomong kapan pulang? "
"Belum tahu, sepertinya seminggu lebih di sini"
"Ya sudah bobok gih udah malem! ", ucap Saga kemudian.
__ADS_1
" Iya kamu juga"
"Muach.. ", Saga memberi ciuman jauh.
" Saga apaan sih? ", Atheya protes namun sebenarnya ia suka.
" Cium jauh doang, iya deh maaf? Selamat tidur, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam tut", telpon berakhir dan tinggallah Atheya senyum - senyum sendiri. Ia merasa bahagia malam ini.
Selesai menelpon Atheya, Saga lantas menuju kamarnya. Ia juga ingin masuk ke pulau kapuk.
" Egh... egh... ", suara perempuan seolah menikmati apa yang di lakukan lelakinya yang saat ini berada di atas tubuhnya.
" Cup... cup... cup... ", suara kecupan dari sang lelaki dari belakang tubuh perempuan tersebut yang posisinya tengkurap.
Leher, pundak, punggung si perempuan berkali - kali di jelajahi dengan bibir agak tebalnya. Hingga beberapa detik seperti mengompol.
Saga terbangun mendengar suara adzan berkumandang dari masjid dekat mes. Ia membuka matanya yang masih sepet. Berusaha mengumpulkan kesadarannya. Beberapa saat kemudian ia melihat ke arah bawahnya. Ia ternyata tidur tengkurap dengan menindih bantal. Saga pun sadar jika yang baru ia alami beberapa menit yang lalu hanyalah mimpi. Ia lantas mengusap wajahnya kasar. Bangkit dari posisi tengkurap dan mengetahui jika celana boxer nya basah.
"Sial", umpat nya dalam hati sambil menyunggaar rambutnya ke belakang.
" Atheya kamu benar - benar membuatku gila", gumamnya sambil menggelengkan kepalanya. Tersenyum kecut.
Saga bangkit dari kasur dan langsung menyambar handuk yang tergantung.
"Untung kamar mandinya di dalam. Jika ngantri seperti karyawan lain bisa - bisa malu aku", ucap Saga sembari membersihkan diri di dalam kamar mandi.
" Semangat betul kamu hari ini. Kenapa hm? ", Nia bertanya kepada Atheya sambil menaik turunkan alisnya.
" Biasa juga semangat aku", jawaban Atheya yang tidak sesuai.
"Ah mana...? Kemarin - kemarin kamu kelihatan seperti orang bosan kok", Nia tidak terima dengan jawaban Atheya.
" Jadian kah sama Saga? ", lanjut Nia.
" Nggak. Dia lho di luar kota"
"Iya? Jadi LDR dong? "
"LDR apaan sih orang pacaran juga nggak? ", Atheya mengelak walaupun kenyataan mereka seperti orang berpacaran.
" Tapi kelihatannya kamu beda setelah kenal dengan Saga... ", ucap Nia.
" Iya sih ku akui, setelah mengenal Saga aku jadi nggak melo setiap mimpi mantanku. Biasanya setiap mimpi aku bawaanya sedih, bete dan lainnya. Tapi setelah kenal Saga aku merasa biasa saja dengan mimpi itu"
"Baguslah itu. Mungkin selama ini kamu hanya belum bertemu dengan orang yang bisa menggeser mantanmu di dalam hatimu. Dan Saga adalah orang itu ciiee", goda Nia.
" Kan udah ku bilang... aku nggak pacaran sama Saga"
"Bukan nggak pacaran tapi belum", Nia membenarkan.
__ADS_1
" Hah terserah lah", Atheya menyerah dan pergi menaiki tangga menuju ruang kerjanya.
"Hahaha", Nia merasa menang.