
Sudah beberapa hari Rully, Hendra serta Rasya pergi ke Sulawesi.
"Theya tolong dong simpan jeruknya di kulkas atas! ", Yanti meminta tolong kepada Atheya.
Tanpa menjawab Atheya langsung membawa satu kantong kresek jeruk manis menuju lantai atas. Hari ini Atheya dan Yanti pergi ke pasar membeli buah dan sayur. Sepertinya mereka akan memasak. Seperti biasa jika penghuni kos membeli sayur,buah atau bahan makanan lainnya maka disimpan dalam kulkas di lantai atas.
Atheya membuka salah satu kulkas yang merupakan kulkas khusus penghuni kos. Pasalnya di dapur Rully yang berada di lantai batas ada dua kulkas. Satu untuk penghuni kos dan satu khusus keluarga Rully.
Saat sedang fokus memasukan buah jeruk ke dalam kulkas tiba - tiba ada yang melingkar di pinggang Atheya. Tentu saja Atheya kaget bukan main dan refleks menjerit.
"Akh... ", jerit Atheya seraya menoleh ke belakang.
Didapatinya seorang lelaki tinggi dengan muka bantal dan rambut berantakan khas baru bangun tidur.
" Ah Saga... ", Atheya memukulmpelan lengan Saga.
Lelaki itu hanya tersenyum dengan matanya yang masih menyipit seperti masih mengantuk.
" Lepas nanti ada yang lihat! ", perintah Atheya lantaran lelaki yang di hadapannya tak kunjung melepaskan tangannya dari pinggang Atheya.
" Nggak ada orang", ucap Saga datar.
Oh iya Atheya baru ingat jika Rully dan yang lain sedang tidak ada di rumah.
"Kapan kamu pulang? ", tanya Atheya sambil memperhatikan Saga.
Saga terlihat agak hitam kulitnya setelah dari luar kota seminggu lebih. Rambutnya juga tampak sedikit panjang agak tidak teratur. Dan... sedikit kurus.
" Tadi subuh baru nyampek"
" Kenapa nggak tidur kalau masih ngantuk? "
"Haus, mau ambil minum"
"Ya sudah ambil sana! "
"Nanti, aku masih pengen begini"
Rosmah yang berniat masuk dapur lantas menghentikan langkahnya ketika melihat dua insan tersebut berada di sana. Saga yang masih bertahan dengan tangan yang melingkar di pinggang Atheya. Dan Atheya yang tampak membiarkannya. Mereka tida k menyadari kedatangan Rosmah.
'Lhoh pacaran tow', dalam hati Rosmah. Kemudian ia memilih pergi karena takut mengganggu.
"Kamu agak ber hitam dan kurus, Rambutmu juga agak panjang", Atheya berkomentar.
" Hm", jawaban dari Saga yang mengiyakan komentar Atheya.
"Nanti malam temanin cukur ya? ", lanjutnya.
" Iya"
"Udah sana ambil minum aku juga mau turun! ", lanjut Atheya
" Buru - buru amat sih? Nggak tahu apa aku kangen banget?"
Atheya tak merespon.
__ADS_1
"Nggak ketemu rasanya tersiksa", lanjut Saga.
" Sekarang udah ketemu kan? "
"Iya tapi mbak buru - buru"
"Ya udah sana gih turun! ", lanjut Saga menyuruh Atheya turun dengan memainkan rambut panjang perempuan itu yang berada di dekat pipi.
Saga melepaskan tangan satunya yang masih bertengger di pinggang Atheya. Kemudian berjalan menuju rak gelas.
" Tadi bilang buru - buru sekarang ngusir", gerutu Atheya dan Saga terkekeh mendengarnya tanpa menoleh ke sumber suara.
Atheya lantas berjalan keluar dari dapur dan menuju ke bawah.
"Masalahnya aku yang nggak kuat jika lama - lama sama kamu", ucap pelan Saga setelah Atheya pergi.
Ia meminum air dalam gelas yang ada ditangannya. Semenjak mengenal Danang di lokasi naluri Saga sebagai seorang lelaki normal mulai muncul. Ia ingin memiliki seorang wanita seutuhnya. Dan menjadi orang yang bertanggungjawab atas wanita tersebut. Danang, lelaki yang lebih muda dari Saga itu telah memasukan racun ke dalam otaknya.
Setelah maghrib Saga dan Atheya pun pergi ke tukang cukur. Atheya sebelumnya menunggu Saga ditempat agak jauh agar tidak terlihat anak kos yang lain.
"Udah lama nunggu? ", tanya Saga begitu Atheya mendaratkan bokongnya di atas kursi.
" Nggak"
"Kita cukur dulu ya? Setelah itu kita cari makan"
"Terserah saja"
Atheya tidak menolak ajakan Saga untuk makan setelah bercukur. Maka biasanya akan ada drama dulu jika Saga mengajak atau memberinya sesuatu.
Beberapa menit kemudian sampailah di sebuah barbershop. Di depannya sudah nampak beberapa motor dan satu mobil.
" Mungkin kebetulan aja pas ramai. Biasanya memang jam - jam segini masih agak sepi", Atheya mencoba menenangkan Saga yang telihat agak kesal.
"Ya udah ayo turun! ", ajak Saga mulai melepas seatbelt.
Atheya pun mengikuti apa yang di lakukan Saga.
Begitu mereka masuk dan duduk di kursi kosong, beberapa orang melihat mereka. Mungkin orang - orang berpikir jika Saga dan Atheya adalah sepasang kekasih. Mereka memang nampak sempurna jika di perhatikan, Saga yang tinggi berhidung mancung dengan setelan hem warna grey dan celana jeans panjang warna navy. Sedang Atheya memakai setelan atasan hitam lengan pendek dan ada beberapa manik permata di bagian dada pada bajunya. Baju tersebut juga memperlihatkan sedikit di bagian bawah leher jenjang perempuan itu. Hingga nampak sedikit dada yang halus dan bersih. Rambut yang panjang hitam tergerai menambahkan kesan yang segar. Sedangkan bawahannya ia memakai celana panjang jeans hitam yang melekat di kaki jenjangnya yang di padukan dengan heels hitam memperlihatkan kakinya yang bersih dan cantik. Wajah manis dan hidung yang agak mancung, bibir kecil dan tipis, dagu lancip menambah penampilan Atheya semakin sempurna.
Beberapa menit sudah berlalu Saga menyadarkan kepalanya pada tembok di belakang ia duduk sembari memejamkan mata. Atheya yang sedari tadi memainkan ponsel lantas menoleh.
"Kamu ngantuk? ", tanya Atheya kepada Saga.
" Nggak", jawab Saga dengan masih mata terpejam.
"Lama", lanjutnya.
" Namanya juga ramai"
"Apa kita makan dulu aja?", Saga membuka matanya kemudian menawarkan.
" Nggak ah, tunggu tinggal dua orang lagi giliranmu. Nanti kalau kita pergi malah ngantri lagi"
"Hm iya sih, jadi nggak apa - apa. Nunggu aku selesai cukur? Siapa tahu udah laper? "
__ADS_1
"Nggak, tunggu aja! Tanggung"
"Baiklah"
Setelah selesai bercukur Saga segera melesatkan mobilnya menuju ke sebuah mall.
"Kita ngapain ke sini? ", tanya Atheya karena ia berpikir Saga akan mengajaknya makan di restoran letaknya di pinggir jalan.
" Ya makanlah"
"Kita makan di restoran mall saja", lanjut Saga.
" Oh kirain"
Kedua kalinya mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang ketika memasuki sebuah restoran terkenal. Saga yang menggenggam tangan Atheya seolah takut hilang dan Atheya yang membiarkannya. Siapa yang tidak mengira jika mereka sepasang kekasih.
Setelah mereka mendapatkan tempat duduk, mereka lantas memesan makanan kepada pelayan restoran yang langsung menghampiri mereka.
"Emang enak ya sapi pada hitam? ", tanya Saga ditengah - tengah makan mereka.
" Enak, aku suka. Memang kamu belum pernah makan? ", Atheya balik bertanya.
" Pernah sekali, dan rasanya menurutku gimana gitu. Jadi setelah itu nggak pernah makan lagi"
"Terkadang masakan itu beda tangan beda rasa. Mau coba ? "
Saga lantas memajukan sedikit kepalanya mendekat ke arah Atheya yang duduk berada di sampingnya. Atheya lantas menyendok dan menyuapkan ke dalam mulut Saga.
Saga tampak dan mencoba mendapatkan rasa.
"Hm, iya enak", ucap Saga setelah ia menelan makanan tersebut.
" Apalagi jika di suapin mbak", tambahnya.
"Hmm Mulai kan gombalnya", ucap Atheya.
" Nggak gombal tau", Saga menyangkal.
Mereka tidak tahu saja jika ada dua orang lelaki yang memperhatikan dari luar kaca restoran tersebut.
Awalnya Doni dan Andi memang akan makan di restoran tersebut. Namun ketika tak sengaja melihat dua orang yang mereka kenal, mereka pun tidak jadi masuk ke restoran tersebut. Andi segera menarik lengan Doni yang sudah siap melangkah masuk. Doni sempat kaget dengan tindakan Andi. Ia lantas paham setelah Andi menujukkan sebuah meja dimana ada Saga dan Atheya sedang makan. Bahkan adegan Atheya yang menyuapi Saga pun tak terlewatkan.
Tiba - tiba ada sebuah notifikasi masuk di ponsel Saga. Ia merogoh saku celananya dan kemudian membuka pesan masuk.
"Ciee katanya teman? Teman rasa pacar", pesan dari Doni.
Saga segera mengedarkan pandangannya ke sana ke mari namun tak mendapati sosok yang mengirim pesan padanya.
" Ada apa? ", Atheya menyadari sikap Saga yang tiba - tiba.
" Nggak, nggak ada apa - apa", bohong Saga.
"Sepertinya aku salah lihat", tambahnya.
" Siapa? Teman kamu? "
__ADS_1
"Hm"
Mereka pun melanjutkan makannya kembali.