Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Hadiah Pertama


__ADS_3

"Duh kasih siapa ya? ", Atheya bicara sendiri di dalam kamarnya.


Sudah beberapa hari yang lalu sejak ia mendapat sebuah kaos hadiah jalan sehat namun belum tahu akan diberikan siapa kaos tersebut. Hingga akhirnya Atheya berpikir untuk memberikannya kepada Yanto tukang kebun yang diperkerjakkan Rully.


Malam ini tampak sepi karena penghuni kos yang lain sedang keluar. Mereka sedang makan di luar. Atheya berjalan menuju kamar Yanto dan mengetuk pintu kamar lelaki tersebut beberapa kali namun tidak ada jawaban.


"Sepertinya pak Yanto nggak ada di kamar. Apa mungkin di depan ya? Coba aku cari ke situ deh ", gumam Atheya.


Atheya kemudian berjalan keluar menuju halaman. Ia celingukan, tampak sepi tak ada tanda - tanda keberadaan Yanto.


" Nggak ada sih", keluh Atheya.


Ia kemudian memutar tubuhnya berniat kembali ke kamarnya namun,


"Bugh", Atheya menabrak dada seseorang.


Ia kemudian mendongakkan kepalanya ke atas yang ternyata itu adalah Saga.


" Ngapain hm? ", tanya Saga kepada Atheya.


" Nggak, cuma nyariin pak Yanto tapi nggak ketemu"


"Emang ada perlu apa? "


"Ini, mau kasih ini", Atheya menunjukkan kaos yang masih terbungkus di dalam plastik bening.


" Apaan itu? "


"Kaos. Hadiah jalan sehat kemarin aku dapat kaos dan ternyata itu kaos cowok. Jadi mau ku kasih pak Yanto"


"Kenapa harus di kasih pak Yanto? ", Saga terdengar kurang suka.


" Lha emang mau di kasih siapa? Kamu...? Nggak mungkin kan kamu... ", Atheya belum sempat menyelesaikan kalimatnya Saga sudah menyambar kaos tersebut dari tangan Atheya.


" Saga itu... ",


" Buat aku aja"


"Tapi kan itu... ", Atheya bermaksud mengucapkan jika itu kaos murahan.


" Aku anggap ini sebagai hadiah pertama darimu buat aku", lagi... Saga memotong ucapan Atheya yang belum selesai.


"Kamu beneran mau? ", tanya Atheya masih tidak percaya.


" Kalau dari mbak aku mau", Saga mengangguk dan menjawab mantap.


"Gombal kamu hehehe", Atheya berusaha mengalihkan karena perkataan Saga menurutnya mengarah ke hal yang serius.


Atheya bermaksud ingin memukul dada Saga pelan. Baru Atheya melayangkan tangan kanannya namun pergelangan tangannya sudah di cekal oleh Saga terlebih dahulu. Kemudian Saga menyusuri pergelangan tangan Atheya hingga sampai pada telapak tangan. Saga mempertemukan telapak tangannya dengan telapak tangan Atheya. Kemudian merekatkan dengan memasukan jari tangannya di celah - celah jari Atheya. Saga menarik tangan perempuan itu kemudian menempelkan di dadanya tanpa melepaskan kaitan telapak tangan keduanya.


Atheya termangu menatap kedua mata tajam Saga. Ia tak mengerti apa yang Saga lakukan. Satu hal yang pasti ia merasa agak bergetar hatinya.


"Makasih? ", ucap Saga yang juga menatap intens kedua bola mata Atheya.


" Makasih hadiahnya", lanjutnya dan melepaskan tangan Atheya pelan.


Atheya tersadar kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu aku ke kamar dulu", pamit Atheya.


Saga mengangguk dan tersenyum lembut sebagai jawaban.


Di perjalanan menuju kamar Atheya memikirkan apa yang baru saja ia rasakan beberapa waktu bersama Saga.


'Apa itu tadi sebenarnya? Kenapa perlakuan Saga membuat jantungku berdebar. Dalam diriku terasa bergetar. Jika kemarin dia lebih seperti anak kecil yang ingin diberikan perhatian saat sakit. Tapi malam ini dia seperti lelaki dewasa yang mecurahkan perasaannya'


"Huh... ", Atheya menarik nafas kemudian menghembuskan pelan.


Beberapa menit kemudian terdengar suara riuh dan sudah bisa dipastikan siapa yang datang.


" Untung aku sudah ada di kamar ", gumam Atheya.


Ia merasa beruntung sebab sudah berada di dalam kamar. Jika teman kos nya melihat ia dan Saga pasti heboh.


Di sisi lain Saga sedang menghubungi seseorang.


" Halo Don... besok sore pulang kerja temani gue ke mall yuk! ", ajak Saga.


" Ngapain ke mall? ", tanya suara di sambungan telpon.


" Gue mau nyari sesuatu buat cewek"


"Atheya? "


"Yoi"


"Kayaknya lu makin lancar aja ama tu cewek? Kalian udah jadian? "


"Nggak. Gue di tolak"


"Tadi gue dikasih kaos sama dia, ya biarpun hadiah jalan sehat tapi tetap aja itu dari dia. Jadi gue pengen balas gitu"


"Kaos hadiah jalan sehat? Hahahaa... ,pluk... aduh apa nih? Kulit cempedak? ", Doni mengaduh ketika ada sesuatu mengenai pipinya.


" Kulit cempedak? ", Saga yang mendengar lantas bertanya kepada Doni karena sebelumnya membicarakan kaos kenapa tiba - tiba jadi kulit cempedak.


" Nggak... itu na mamak. Masa gue di lempar pakai kulit cempedak", Doni menjelaskan kepada Saga.


"Kamu telponan kayak orang kesurupan malam - malam begini", teriak ibu Doni yang suaranya sampai di dengar Saga.


" Ntar Ga, gue pindah dulu mamak gue ngamuk", Doni bangkit dari sofa ruang tengah kemudian berjalan keluar.


"Elu sih ngakak mulu... ", oceh Saga.


" Jadi elu mau beliin itu cewek sesuatu buat balas karena elu udah di kasih kaos? ", Doni yang kini sudah duduk di kursi teras rumahnya.


" Hm"


"Oke kalau gitu besok sore elu jemput gue ke rumah! Gue pulang mandi dulu lah... gak enak jalan bau asem. Lagian gue juga bawa motor, masa motor gue tinggal di kantor. Besoknya gue naik apa? "


"Iya bawel, sekalian gue besok numpang mandi di rumah elu"


"Eh Ga... ngomong - ngomong elu bawa ya tu kaos yang hadiah jalan sehat. Gue penasaran kayak apa kaosnya. Hahaha... sumpah gue pengen ngakak aja"


"Nggak"

__ADS_1


"Dasar pelit"


"Udah tau gue pelit"


"Tut", telpon langsung di akhiri Saga.


" Sialan dimatiin. Kebiasaan nih orang minta tolong nggak ada sopan - sopannya", Doni mengoceh lantaran kesal Saga yang langsung mematikan telpon begitu saja.


Besoknya di tempat kerja Atheya sedang makan siang di salah satu meja tamu. Nia menghampiri Atheya dan ikut duduk di sebrang perempuan itu. Saat ini restoran sedang sepi. Nia menopang kepalanya dengan tangannya yang di tekuk sambil memperhatikan Atheya makan. Atheya tak bergeming hanya melihat sekilas kemudian fokus pada makanannya lagi.


"Hei kuperhatikan akhir - akhir ini wajahmu terlihat cerah? ", celetuk Nia.


" Memang wajahku biasanya nggak cerah? ", Atheya balik bertanya.


" Maksudku kelihatan lebih sumringah. Happy happy... "


"Biasa aja"


"Nggak. Beda kadang kamu kelihatan kusem, kusut, gak semangat. Kenapa? Apa karena Saga? Cieee.... ", goda Nia.


" Ih apa sih kamu? "


"Kenapa? Dia ganteng loh, tinggi,tajir dan sepertinya dia baik. Udah komplit tuh mau yang gimana lagi? Lagian kayaknya dia suka sama kamu"


"Dia sempat pengen aku jadi pacarnya tapi ku tolak. Jadi sekarang kita temenan aja"


"Iya kah? Kapan? Iih... kamu kok nggak cerita ke aku sih? ", greget Nia.


" Yang malam kita makan di lesehan pinggir pantai itu. Pulangnya habis nganterin kamu sama Doni itu kan otomatis tinggal aku berdua sama dia. Nah pas itu"


"Ya ampun Atheya... kenapa nggak kamu coba terima aja. Kelihatannya dia memang suka betulan sama kamu. Soalnya dia sering lihatin kamu pas kita makan malam itu. Aku diam - diam memperhatikannya loh. Dia curi - curi pandang gitu ke kamu"


"Pertama... aku belum lama kenal sama dia. Kedua... aku lebih tua dari dia, kemungkinan besarnya kita pasti beda pemikiran yang jauh. Trus usiaku bukan untuk main - main lagi dengan lelaki. Aku harus mencari yang benar - benar mau serius ke jenjang berikutnya. Mungkin Saga memang menyukaiku tapi jika aku mencoba menjalani dengannya... apakah dikemudian hari dia mau ku ajak ke jenjang berikutnya ? Apakah dia tidak lari jika aku mengajaknya menikah seperti yang sudah - sudah? "


"Iya sih kamu benar Atheya. Menjalin hubungan sama orang yang lebih muda itu pertimbangannya sangat besar", Nia mengangguk mengerti apa yang di maksud Atheya.


" Sedang yang seumuran kita aja belum tentu mau jika di ajak serius", tambahnya.


"Memang sih usia nggak bisa jadi patokan orang itu dewasa atau nggak. Tapi yang ku pikirkan jika orang yang lebih muda dari aku pasti pemikirannya lebih bebas. Masih pengen senang - senang dan lainnya"


Nia mengangguk - anggukan kepalanya kemudian bertanya kembali.


"Eh soal mimpimu itu masih? "


"Hm. Kapan hari itu aku masih mimpi dia. Masih sama di sekolah. Tapi hanya melihat dia lewat saja"


"Bisa ya kayak gitu? Atau jangan - jangan dia masih memikirkanmu selama ini? "


"Aku nggak tahu. Aku juga sempat berpikir begitu"


"Eh aku naik duluan ya... udah mau habis jam istirahat", lanjut Atheya.


" Oke aku juga mau masuk ke dapur, sini piringmu biar ku bawa sekalian! "


"Makasih ya? "


"Hm"

__ADS_1


Mereka berdua pun bubar dan mulai dengan kesibukan masing - masing.


__ADS_2