Cerita Yang Belum Selesai

Cerita Yang Belum Selesai
Melambung - Jatuh


__ADS_3

Besok adalah hari kepulangan Kania ke Sulawesi. Sore ini Rully mengajak keluarganya untuk makan di luar sebagai hari terakhir Kania di kota ini dan mencari oleh - oleh untuk keluarga di Sulawesi.


Dari pukul empat mereka meninggalkan rumah dan sekarang mereka sibuk memasuki beberapa toko di mall. Baik toko pakaian maupun toko jajanan.


Selama mereka di mall Kania tidak melewatkan kesempatan untuk menggamit lengan Saga. Sudah seperti pasangan kekasih jika orang tidak mengetahui kenyataannya. Kania tampak bahagia terbukti sedari dari rumah hingga saat ini wajahnya tampak sumringah dengan senyum yang terus merekah.


'Huft... ', dalam hati Saga lelah dengan sikap Kania. Namun perempuan itu sama sekali tidak menggubris setiap Saga berusaha menolak sentuhan darinya.


Rasya, jangan ditanya lagi... ia benar - benar merasa jengah dengan situasi ini. Seperti saat ini ia harus melihat pemandangan Saga yang di gelendoti Kania di depannya. Jika saja ini bukan permintaan sang mama untuk makan bersama sebagai kenangan hari terakhir Kania di sini ia pasti sudah menolak mentah - mentah.


Rasya memang kurang suka dengan Kania, menurutnya itu termasuk berani untuk ukuran perempuan. Ia yang tak tahan dengan pemandangan di depannya pun lantas melangkah dengan cepat hingga menempatkan posisinya di samping sang papa yang berjalan paling depan dengan sang mama.


"Dugh", Rasya tak sengaja menubruk lengan sang papa lantaran jalannya yang tergesa.


" Ih... kamu ini apa sih Sya? ", tanya Hendra karena terkejut dengan tingkah putra keduanya itu.


Rully pun ikut menoleh ke arah Hendra dan Rasya begitu mendengar ucapan sang suami.


" Ehm... tuh", Rasya bicara pelan nyaris tak terdengar dengan sedikit menggerakan kepalanya ke arah belakang. Rasya cemberut.


Hendra mengikuti gerakan kepala Rasya dan dong deng... Hendra kaget dengan apa yang di lihatnya namun ia tak tahu harus bagaimana. Hendra melirik Rully sekilas akan tetapi sang istri sepertinya hanya fokus ke depan.


'Apa - apa'an sih? ', Hendra kesal dalam hatinya.


Ia kemudian merangkul pundak putra keduanya berusaha menenangkan hati anak yang sedang puber tersebut. Ia tahu jika Rasya tidak suka dengan yang ada di belakang mereka. Dirinya pun sama.


Setelah membeli beberapa pakaian dan makanan sebagai oleh - oleh, mereka pun melanjutkan dengan acara makan.


Dan masih sama... Kania bergelayut manja di lengan Saga. Hendra sangat tidak suka namun untuk menegur di depan umum itu harus di pertimbangkannya. Sesekali ia memberi kode kepada Rully lewat mata. Rully paham namun ia juga bingung harus bagaimana bersikap. Pasalnya Saga tak pernah membicarakan kedekatannya dengan Kania.


"Saga, Kania... ", Rully menginterupsi kedua orang tersebut dengan nada tegas. Ya, saat ini hanya itu yang bisa di lakukan Rully.


Kania langsung melepaskan tangannya dari lengan Saga. Seketika Saga merasa lega. Akhirnya...


'makasih ma... ', dalam hati Saga berterimakasih kepada sang mama yang membuat ia terlepas dari Kania.


"Ayo makan! ", ajak Rully seperti perintah yang tak bisa di tolak semua orang yang berada di meja makan.


Semua pun menurut. Dalam hati Hendra tersenyum. Ya beginilah istrinya. Di balik tingkahnya yang kadang konyol dengan segala kerempongannya di saat ia harus tegas maka munculah sisi badasnya. Yang bisa membuat orang menciut seketika jika berhadapan dengannya.

__ADS_1


Di kos,


"Tumben mbak Ros nonton TV di bawah? ", Tari yang baru dari kamarnya bergabung duduk di depan TV.


Di situ sudah ada Yanti, Lia, dan kebetulan Atheya juga ada.


" Di atas nggak ada orang", jawab datar Rosmah.


"Memang pada kemana? ", Yanti bertanya.


Atheya diam namun mendengarkan.


" Jalan - jalan. Soalnya ini hari terakhir mbak Kania di sini. Besok sudah balik ke Sulawesi"


"Oh", semua ber oh ria kecuali Atheya.


Mendengar jawaban Rosmah, jujur hati Atheya seperti ada yang mengganjal. Tidak suka. Lebih tepatnya tidak suka antara Saga dan Kania. Tentu ia tidak lupa dengan apa yang dilihat sebelum - sebelumnya jika Kania sudah di dekat Saga.


" Mbak itu... pacarnya mas Saga kah mbak Ros? ", Lia bertanya karena penasaran dari pertama kali melihat Kania yang menempel terus kepada Saga.


" Mbak Kania? Setahu ku sih nggak", jujur Rosmah.


Ucapan Lia tidak sengaja membuat Atheya merasa di dukung.


"Iya ya Lia", Tari menimpali.


Ditambah lagi Tari uh... senang hati Atheya. Tapi... kenapa Atheya justru merasa senang mendengar perkataan Lia dan Tari. Apakah kini ia jadi egois? Apakah Atheya jahat jika ia tak suka Kania dekat - dekat dengan Saga?


" Aku juga nggak tahu kalau soal itu. Setahu ku mereka nggak dekat kok dari dulu ", Rosmah menjelaskan yang ia ketahui.


Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan mereka masih belum beranjak dari depan TV. Hingga terdengar suara klakson mobil.


" Tin... tin... "


"Eh itu sepertinya mereka sudah pulang", ucap Rosmah yang kemudian berdiri dari duduknya.


Rosmah segera menuju ke atas dengan menaiki tangga. Bukan untuk membuka pagar karena sudah pasti di buka Yanto. Melainkkan hanya ingin menyambut kepulangan sang majikan.


Entah kenapa Tari, Yanti, dan juga Lia lantas ikut berdiri dan menuju keluar menaiki undakan jalan samping tembok kamar penghuni kos. Bahkan Atheya dengan bodohnya mengikuti mereka.

__ADS_1


Mereka mengintip di balik tembok, terlihat satu persatu orang turun dari mobil. Setelah semua turun dan barang sudah di turunkan mobil itu berjalan menuju garasi. Sepertinya anak - anak kos itu hanya penasaran hingga mereka mengikuti dan mengintip di balik tembok.


Setelah melihat mobil masuk ke garasi mereka pun kembali turun. Hanya Atheya yang masih berdiri di balik tembok. Tak lama kemudian nampak Saga turun dari mobil dan menutup pintu mobil tersebut. Ternyata Saga yang mengemudi. Atheya berniat ingin menyapa. Baru ia akan melangkah namun tiba - tiba muncul Kania dari arah belakang Saga dan langsung memeluk lelaki tersebut dari belakang. Tangannya melingkar di perut lelaki tersebut. Saga yang sedang fokus melihat ponselnya setelah menutup pintu mobil terkejut mendapat pelukan dari belakang.


"Kania... lepas! ", Saga yang sudah sempat menoleh dan mendapati Kania lah orang yang memeluknya dari belakang.


" Saga.. please! ", bukan melepaskan Kania justru semakin mengeratkan pelukannya dan memohon.


" Kania... ", Saga berusaha melepas tangan Kania yang melingkar di perutnya.


" Besok aku sudah ke Sulawesi, malam ini saja Saga! ", Kania tidak memperdulikan penolakan Saga.


" Kania kita tidak... ", ucapan Saga belum selesai dan Kania tiba - tiba memutar tubuh Saga.


" Cup", dengan cepat Kania menempelkan bibirnya dengan bibir Saga dengan kaki berjinjit dan menarik tengkuk Saga.


Saga sempat kaget dengan tindakan perempuan tersebut. Sesaat ia merasakan Kania ingin lebih maka dengan cepat Saga mendorong tubuh wanita itu.


Dorongan Saga membuat Kania terpental ke belakang namun tidak sampai jatuh.


"Kamu gila ya... ", napas Saga menderu karena marah.


" Saga kamu kok gitu? "


"Diam! ", bentak Saga.


" Jangan lakukan lagi! ", lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Kania.


Kania memperhatikan kepergian Saga.


" ****... ", umpat Saga sambil mengelap bibirnya bekas kecupan Kania.


Atheya merasa sakit melihat Saga dipeluk Kania di tambah lagi perempuan itu mencium bibir Saga. Ia merasa tak tahan melihat adegan itu hingga ia langsung berlari menuruni undakan menuju kamarnya. Hati Atheya merasa sakit, kecewa bahkan kelopak matanya sudah menggenang cairan bening.


Atheya berlari kecil dengan menundukkan kepalanya melewati begitu saja orang yang berada di depan TV. Lia, hanya dia yang masih di depan TV. Lia sedikit kaget namun ia masa bodoh karena di pikirnya mungkin Atheya kenapa. Yang pasti bukan sesuatu yang di lihat Atheya.


Begitu di dalam kamar Atheya langsung membanting tubuhnya di atas kasur. Ia merasa hancur. Bagaimana tidak baru kemarin siang ia di lambungkan Saga dengan ciuman di pipi walau dengan mencuri. Hal itu tak di pungkiri Atheya, ia merasa bahagia dengan perlakuan Saga sekali pun dengan cara tidak sopan. Tapi malam ini ia seperti di jatuhkan begitu saja ketika melihat pemandangan di garasi beberapa saat yang lalu.


Di kamar lain Saga benar - benar merasa kesal dengan Kania. Ada jijik juga. Sebagai lelaki normal ia juga menyukai hal itu tapi bukan dengan Kania. Yang ia inginkan adalah Atheya. Jika itu Atheya pasti dengan senang hati ia tidak akan menyia - nyiakan.

__ADS_1


__ADS_2