
Beberapa hari yang lalu setelah merawat Defaira yang sakit mungkin karena kelelahan dengan liburannya,hari ini Delano mulai kembali ke perusahaan.
Setelah berjibaku dengan kendaraan lain dijalanan ,Delano tiba di pekarangan perusahaannya.
Security yang berjaga di depan dengan sigap membuka pintu mobil,ketika dia melihat mobil sang majikan berhenti.
Delano berjalan dengan tegap memasuki lobby dengan di dampingi Bobby di sebelahnya.
"Selamat pagi sir!"sapa karyawan yang berpapasan dengan Delano.
Delano yang siapa hanya menganggukan kepalanya tanpa berniat membalas sapaan karyawannya.
"Apa jadwal kita hari ini?"tanya Delano ketika sudah memasuki lift khusus untuk dia dan orang penting saja.
"Kita ada meeting dengan karyawan pemasaran untuk membahas produk terbaru yang akan di luncurkan sebentar lagi pagi ini!"jawab Bobby.
"Setelah itu hanya perlu menandatangani berkas-berkas yang menumpuk!"lanjut Bobby
Delano dan Bobby masuk ruangan mereka masing-masing sebelum melakukan meeting.
Dia akan mengerjakan beberapa berkas terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian...
Tok..Tok..Tok....
"Come in!"sahut Delano dari dalam
"Maaf sir sudah waktunya meeting,karyawan pemasaran sudah menunggu di ruang rapat!"Ucap Bobby yang muncul di depan pintu.
Delano melihat pergelangan tangannya,ternyata sudah waktunya meeting,dia pun bergegas dari kursi kebesarannya dan meraih jas di sandaran kursinya.
"Ayo!"ucap Delano sambil melangkah keluar ruangan di ikuti Bobby di belakangnya dengan beberapa berkas di tangannya.
Semua karyawan berdiri dan menundukan kepalanya ketika pintu terbuka dan memperlihatkan bos mereka datang.
"Duduk,dan langsung kita mulai!"ucap Delano cepat,
Satu-satu karyawan pun mulai menjelaskan hasil kerja mereka,Delano dengan muka datar mendengarkannya.
Waktu berjalan cepat tidak terasa mereka hampir dua jam di ruangan meeting,dengan sedikit tergesa Delano keluar ruangan meeting.
Hari hampir masuk waktu makan siang,dia ingat Defaira akan mengantarkan makanan untuknya hari ini.
"Kenapa Sir?"tanya Bobby melihat bosnya berjalan tergesa.
"Defaira akan kesini nanti!"jawab Delano
"Trus kenapa buru-buru?"tanya Bobby lagi.
"Ya gak kenapa-napa sih!"jawab Delano asal.
Bobby hanya menggeleng melihat sikap bosnya itu,ada-ada saja pikirnya.
Delano sudah di depan ruangannya,saat ingin membuka pintu dia di kejutkan suara Secretary perempuannya.
"Maaf sir di dalam ada tamu,katanya dia teman sir saya sudah menyuruhnya untuk menunggu di ruang tunggu tapi dia tidak mau!"ucapnya
Delano dan Bobby yang mendengar itu pun sama-sama mengerutkan kening mereka dan saling menatap penuh tanya.
Delano pun membuka pintu dan masuk keruangannya,betapa terkejutnya dia melihat perempuan yang duduk di sofa.
Bobby yang penasaran pun ikut masuk ruangan dan dia sama-sama terkejut melihatnya.
Bobby tahu betul perempuan di depannya ini sangat terobsesi dengan bosnya.
Mendengar suara pintu terbuka Laura menoleh ke arah pintu dan tersenyum melihat wajah terkejut Delano dan Bobby.
"Hi Del!"sapa Laura dengan nada lembut terdengar seperti *******.
Delano dan Bobby yang mendengar malah bergidik ngeri.
"Kapan kamu pulang?"tanya Delano datar.
Delano berjalan kearah kursi kebesarannya,mengabaikan Laura yang ingin memeluknya.
"Kau tidak merindukanku?"tanya Laura dengan duduk di kursi meja depan Delano.
Delano hanya tersenyum sedikit menanggapi pertanyaan Laura.
Delano harus waspada berdekatan dengan perempuan ini,karena dia tahu betul Laura sangat ingin menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Dulu Laura pernah beberapa kali mengatakan perasaannya tapi selalu di tolak oleh Delano dan hanya menganggap Laura sebagai teman.
。。。
Di waktu yang sama Defaira sudah sampai di lobby kantor Delano.
Dia berjalan sambil menenteng paperbag yang berisi lunch box untuk makan siang mereka.
Menghampiri resepsionis yang duduk di balik meja kerjannya.
"Permisi!"sapa Defaira pertama kali.
Dua resepsionis yang berada disana seketika berdiri dan tersenyum ramah kepada Defaira.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya salah satu resepsionis
"Aku ingin bertemu dengan Sir Delano,bisa tunjukan ruangannya?"tanya Defaira
"Apa sudah membuat janji?"tanya resepsionis satunya.
"Sudah,jika tidak percaya anda bisa menghubungi Delano terlebih dahulu!"ucap Defaira tenang.
Dia bisa memahami sikap resepsionis itu,karena di perusaannya mungkin lebih ketat dari pada disini.
Setelah beberapa saat menunggu salah satu resepsionis yang menghubungi asisten Delano.
Akhirnya Defaira di ijinkan untuk keruangan Delano.
Ting..
Denting suara lift menandakan Defaira sudah sampai di lantai tempat dimana ruangan Delano berada.
Dan ternyata Delano sudah menunggu di depan lift.
"Babe!"Suara Delano mengagetkan Defaira.
"Eh kok disini?"kaget Defaira.
"Nunggu kamu!"jawab Delano sambil mengambil alih paperbag yang di bawa kekasihnya dan tangan sebelah kanannya merengkuh posesive pinggang Defaira.
"Aku kan bisa masuk sendiri!"ucap Defaira lagi
Defaira masuk keruangan Delano dan dia terkejut dengan adanya seorang perempuan di dalam ruangan kekasihnya.
Lalu Defaira menatap Delano dengan mata memicing,apa maksut Delano menyuruhnya kesini jika ada perempuan lain disini?.
Delano yang paham dengan tatapan kekasihny itu segera meletakan paperbag yang di bawa di meja yang terdapat di depan sofa panjang itu.
Dengan lembut dia meraih tangan Defaira menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu.
Bobby yang melihat hanya berusaha menetralkan pernafasannya karena terasa sesak berada diruangan ini.
"Babe,ini temanku saat sekolah dulu namanya Laura dan Laura ini Defaira kekasihku!"Delano membuka percakapan memperkenalkan mereka berdua.
Defaira bisa melihat wajah perempuan yang diperkenalkan sebagai teman oleh kekasihnya itu,seperti sedang menahan marah.
Dapat Defaira pastikan perempuan itu menyukai Delano.
"Defaira!"Ucap Defaira memperkenalkan diri.
"Laura!"jawab Laura dengan tersenyum paksa.
"Kamu masak apa babe?"tanya Delano sambil mengeluarkan box di dalam paperbag.
"Aku masak makanan kesukaan kamu,kita bisa makan bersama aku sengaja masak lebih tadi!"ucap Defaira lembut,dia tidak merasa terganggu dengan keberadaan makhluk yang ada di ruangan itu.
"Ayo Bob kita makan dulu baru bekerja lagi!"ucap Defaira kepada Bobby
"Aku gak bakal nolak nih!"jawab Bobby dengan girang
"Giliran yang gratis saja cepat!"sindir Delano
"Masakan Defaira enak banget Del,gak mungkin aku bisa nolak!"jawab Bobby santai sambil mencomot beberapa lauk.
Laura yang merasa terabaikan pun membuka suara dengan nada yang tidak bersahabat.
"Kamu kelihatan pintar memasak!"ucap Laura dengan nada sedikit mengejek.
"Tidak juga!"jawab Defaira singkat.
"Kamu juga makan sekalian masih ada banyak ini tidak akan habis di makan bertiga saja!"ucap Defaira lagi.
__ADS_1
Dengan menahan kekesalan Laura pun mencoba masakan Defaira yang ternyata masakannya tidak kalah dengan chef-chef handal.
"Kamu kerja apa sekolah?"tanya Laura kepada Defaira.
"Kerja di cafe sebagai waiters!"jawab Defaira sambil menyuap makanan ke mulut Delano.
Laura semakin geram melihat itu,dia berusaha mengontrol emosinya.
"Hanya pelayan cafe!"gumam Laura dengan senyum meremehkan.
"Kenapa jika hanya pelayan cafe?"tanya Defaira dengan nada mulai emosi.
"Selera Delano sangat rendah!"ejek Laura lagi.
Delano yang mendengar kekasihnya direndahkan menjadi emosi.
"Jika kamu ingin membuat masalah disini silahkan tinggalkan tempat ini!"ucap Delano denfan tegas.
"Suruh saja dia yang keluar!"jawab Laura yang masih mengunyah makanan yang di masak Defaira.
"Tidak tahu malu!"gumam Defaira yang di dengar Delano dan Bobby saja.
"Baiklah aku akan keluar!"ucap Defaira sambil berdiri dari duduknya.
Delano yang melihat Defaira berdiri langsung terkejut.
Defaira melangkah mendekati Laura dan merampas piring yang di pegang Laura.
"Aku membeli bahan masakan ini dengan hasil keringat jadi waiters,aku rasa anda tidak pantas memakan masakan saya!"ucap Defaira sambil berjalan ke tempat sampah dan membuang makanan Laura beserta piringnya.
Bobby dan Delano terkejut melihat keberanian Defaira memperlakukan Laura seperti itu,tapi itu juga membuat dua pria itu merasa geli.
"Aku akan pulang!"ucap Defaira mendekati Delano dan berdiri didepan Delano setelah itu mengecup bibir kekasihnya sebentar.
Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Delano.
"Aku pulang terlebih dahulu,aku ada urusan penting nanti kamu bisa ke apartmentku!"ucap Defaira setelah itu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Mengabaikan manusia yang berada disana.
Delano hanya diam dengan muka daarnya,seharusnya dia bisa menghabiskan waktu dengan kekasihnya malah diganggu oleh Laura.
"Pulanglah Laura aku sedang tidak ingin di ganggu!"ucap Delano dengan menatap tajam Laura.
"Tapi..!"
"Tidak ada tapi-tapian!"potong Delano cepat.
Dengan kesal Luara keluar ruangan Delano setelah di usir terang-terangan.
"Lanjut makan Bob,sia-sia masakan Defaira kalau tidak di habiskan!"ucap Delano yang di tanggapi kekehan oleh assistennya itu.
。。。
Sedangkan Defaira masih berada di depan perusahaan Delano menunggu jemputan Lucky yang baru tiba di Chicago.
Dua minggu lagi adalah ulang tahun Defaira yang kedua puluh dia ingin merayakannya dengan satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekarang.
Saat Defaira yang fokus pada ponselnya,dia tidak sadar jika Laura berdiri di sebelahnya.
"Jangan harap kamu bisa merebut Delano dariku!"ucap Laura terang-terangan.
Defaira yang mendengar ada orang berbicara pun menoleh.
Tapi dia diam saja dan kembali fokus ke ponselnya.
"Kamu hanya pelayan tidak pantas jika bersanding dengan Delano,jangan bermimpi jadi Cinderella!"ucap Laura lagi
Dan pada saat itu berhenti sebuah mobil mewah yang hanya ada beberapa di dunia.
Defaira tahu itu mobilnya Lucky tanpa menghiraukan nyamuk di sebelahnya Defaira masuk kedalam mobil.
Laura semakin geram dibuatnya apalagi melihat Defaira yang menaiki mobil mewah itu.
Laura meraih ponsel di tasnya lalu menghubungi seseorang.
"Cari tahu identitas pelayan itu dengan lengkap!"ucap Laura dengan orang disebrang sana.
Luara sudah pernah menyuruh untuk mengikuti Defaira dan Delano jadi mereka paham apa yang dimaksut Laura.
Dengan kekesalannya Laura meninggalkan perusahaan Delano.
__ADS_1