
Suasana di kelas X MIPA 2 sangat ramai karena guru-guru sedang rapat menentukan jadwal pelajaran dan kegiatan setelah sekolah. Kelas mereka cukup cepat akrab, padahal baru bersama dua hari. Diantara kelas-kelas lainnya, kelas Kafka lah yang paling ramai. Hal itu mengundang perhatian anak kelas lain yaitu kelas X MIPA 3 dan X IPS 1.
"Woy! Ramai banget dah ah. Ikutan dong!" seru Arzel yang berdiri di ambang pintu bersama Nathan.
"Ckckck. Lagi konser ternyata. Gass gue jadi penontonnya!" sahut Yora yang baru saja datang bersama Hazel.
"Sini!! Kita buat kelas jadi venue konser!!" seru Kafka.
Arzel, Nathan, Yora, dan Hazel bergabung dengan anak-anak kelas X MIPA 2. Mengerumuni Kafka yang sudah menegang sebuah sapu yang digunakan sebagai mic.
"MUSIK!!!" teriak Arzel.
Musik mulai di putar. "DARARARARARARI!!" seru Arzel.
"Neol bogo isseum eumagi Babe." sahut Kafka.
"Neoreul wihan mellodi mellodi Yeah. Nega myujeunikka jal deureobwa Play it" ucap mereka berdua bersamaan.
"DARARARARARARI!!" teriak teman-teman mereka.
"Neol bogo isseum eumagi Babe!" sahut Nathan ikut bernyanyi.
"Neoreul wihan mellodi mellodi Yeah" sambung Arzel.
"Nega myujeunikka jal deureobwa Play it" lanjut Kafka.
Kelas tersebut sekarang benar-benar seperti pasar, sangat ramai. Eh, ralat deh. Venue konser. Karena ada anak yang membawa speaker musik mini. Jadi mereka tidak asal menyanyi, karena ada music yang mengiringi. Bayangkan nyanyi Darari Remix bareng ramai-ramai.
"Bentar, gue ngebug.." gumam Hazel. "Ini mereka semua Kpopers gitu?" tanya Hazel.
"Mana gue tahu, yang penting suaranya enak di dengar uhuyy!!!" Yora ikut berteriak dan lompat-lompat seperti yang lainnya.
Mereka tidak takut di grebek guru, karena ruang rapat itu berbeda gedung dengan kelas-kelas. Ruang rapat ada di bagian belakang gedung utama sekolah yang ada di atas dan dihubungkan dengan gedung utama menggunakan sebuah jembatan. Bayangin sendiri saja dah.
Setelah lagu selesai di putar lagu lain. Ternyata lagu yang diputar itu lagu random yang viral di tiktok. Bahkan sound lumayan nyeleneh juga dinyanyikan oleh Kafka, Nathan, dan Arzel. Sedangkan Yohan, cowok itu menatap sebal kepada teman-temannya yang sangat berisik, airpods sudah terpasang di telinganya tapi tetap saja suara teman-temannya tetap terdengar karena saking ramainya.
__ADS_1
"Rame banget, gak kasihan tuh ada teman Lo yang tertekan?" tanya seseorang yang berdiri di ambang pintu. Seketika seisi kelas berhenti ribut.
"Woah! Azam!!" teriak Kafka dan Yora bersamaan.
Kafka dan Yora saling pandang kebingungan. Dan pertanyaan yang ada di kepala mereka sama. "Kok bisa dia kenal sama Azam?"
"Kalian saling kenal?" tanya Kafka.
"Kenal lah," jawab Azam sambil merangkul pundak Yora. "gue satu SMP sama Yora dan dia." sambungnya lagi sambil menunjuk Yohan yang sedang membaca buku dengan telinga yang ditutup menggunakan airpods.
"Oke, gak afdol kalau baru pertama kali datang gak kenalan kan." cetus Azam. Cowok itu berjalan ke depan kelas, lalu memperkenalkan dirinya. "Hai semua, gue Azam Alexandra. Tinggal di Alpha Apartemen. Salken semua." ucap Azam.
"Salam kenal Azam!!!"
Disaat Azam baru selesai memperkenalkan dirinya. Tiba-tiba bel sekolah berbunyi di sertai suara kepala sekolah yang terdengar di speaker mengumumkan agar siswa dan siswi kelas satu ke perpustakaan untuk mengambil buku paket dan juga jadwal pelajaran dimulai dari kelas X MIPA 1 berurutan sampai kelas X IPS 10. Beruntung sekali Kafka mendapatkan kelas X MIPA 2 yang berarti kelas dia ada di urutan kedua untuk mengambil buku paket di perpustakaan. Disebutkan juga setelah mengambil buku paket mereka di izinkan pulang.
"Gila, perpustakaannya gede banget." ucap Azam.
"Ini cuma bagian depannya loh, yang dalam tadi gue masuk lebih luas lagi." sahut Kafka.
"Sayang, tapi kayaknya sepi. Ini aja yang ada cuma anak kelas kita. Gada orang lain yang baca buku." ujar Azam sambil melihat ke sekeliling perpustakaan.
"Berisik!" ucap Yohan tiba-tiba.
"Apaan Lo? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nyaut." celetuk Azam.
"Sini Lo!" Yohan menarik tangan Kafka dan Azam agar masuk barisan dan ikut mengantre untuk mengambil buku.
"Yeu, gak asik Lo Han." cetus Kafka.
"Jangan berisik di perpustakaan!" tegur salah satu guru yang membagikan buku paket.
"Baik Bu." jawab Kafka dan Azam sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah mereka yang menahan tawa.
Setelah beberapa waktu mengantre untuk mengambil buku paket. Akhirnya kelas Kafka sudah mendapatkan buku paket seluruhnya, dan semua keluar dari perpustakaan berganti giliran dengan kelas X MIPA 3 yaitu kelas yang ditempati Arzel dan Nathan.
__ADS_1
"Lama bener anjem." celetuk Arzel ketika Kafka baru saja keluar ruangan.
"Lama lah, satu kelas saja isinya 35 murid." sahut Kafka.
"Btw, si raja es mana? Kok belum keluar?" tanya Nathan.
"Oh, itu dia..." sebelum Kafka menjawab keluarlah Yohan bersama dengan Azam.
"Kenapa?" tanya Yohan.
Ketika Yohan datang seketika apa yang akan ditanyakan oleh Nathan hilang dari kepalanya. Istilahnya sih ngeblank gitu tiba-tiba di tanya. Akhirnya Nathan dan Arzel memutuskan masuk agar mendapat antrean awal dan bisa segera pulang.
Ketika Arzel dan Nathan baru masuk perpustakaan. Tiba-tiba datanglah dua orang cewek berlari dari arah lorong kelas. Mereka adalah Yora dan Hazel. Napas mereka hingga tersengal-sengal karena berlari.
"Ngapain kalian? Kayak habis di uber setan aja?" tanya Azam.
"Giliran kita kelewat ya?" tanya Yora dengan napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Kelas MIPA aja baru sampai ruang 3 njir, Lo mah masih nanti." jawab Kafka.
"Eh? Iya kah? Bukannya habis kelas MIPA 1 terus IPS 1. MIPA 2 terus IPS 2. Gitu?" tanya Hazel.
"Siapa yang ngasih tahu kalian kayak gitu?" tanya Azam sambil mengerutkan alisnya.
Yora dan Hazel saling berpandangan. Kemudian dengan kompak mereka berteriak. "ARZEL ANJENG!!!" teriak mereka.
"Perpustakaan, bukan hutan!" sahut Yohan dengan nada dingin.
"Iya iya bawel!" semprot Hazel. Cewek itu mulai lebih berani karena Yora bilang tidak perlu takut kepada Yohan. Cowok itu tidak akan berbuat kasar kepada cewek, sekalipun cewek itu menyebalkan.
Pundak Yora merosot lemas membayangkan di urutan ke kerapa kelas mereka nanti mengambil buku paket. "Kelas X MIPA aja sampai ruang 10. Sekarang masih sampai ruang 3. Sampai jam berapa gue nanti di sekolah?" tanya Yora dengan ekspresi memelas.
"Nasib Lo sih, salah sendiri pilih jurusan IPS. Untung ruang satu. Coba kalau Lo dapat ruangan 10." ucap Kafka sambil tertawa.
"Sialan Lo Kaf!!"
__ADS_1
...***...
...Bersambung......