
Ketika jam istirahat, disaat semua teman-temannya pergi ke kantin untuk mengantre makanan Kafka malah pergi ke rooftop tanpa sepengetahuan teman-temannya. Cowok itu bersandar di pagar rooftop sambil mengamati sebuah foto. Yap, foto tiga orang wanita yang ada di amplop surat Vadya kemarin.
"Ini pasti mama." gumam Kafka sambil menatap wanita yang memiliki wajah hampir mirip dengannya.
"Mereka siapa?" batin Kafka sambil mengamati dua wanita yang ada di samping Vadya.
Cowok itu mengamati wajah dua wanita tersebut terlihat sangat mirip. Kafka bisa menyimpulkan dua wanita yang bersama ibunya itu adalah kembar identik. Diamatinya lagi wajah kedua wanita tersebut.
"Kayaknya gue pernah lihat." gumam Kafka.
Di tengah-tengah lamunannya, Kafka dikejutkan dengan pintu rooftop yang tiba-tiba di buka dengan keras oleh seseorang. Kafka bahkan sudah siaga jika ternyata itu adalah orang suruhan Geo, tapi ternyata dia adalah Yohan yang membawa satu bungkus roti dan air mineral.
"Haish, Lo gue kira siapa."
"Makan." ucap Yohan sambil melemparkan roti yang dibawanya.
"Thanks. Buat Lo mana?" tanya Kafka sambil membuka roti yang diberikan Yohan.
"Udah kenyang." jawab Yohan singkat.
Kafka manggut-manggut mengerti kemudian segera memakan rotinya sambil menatap ke arah kota yang super sibuk. Tatapan mata cowok itu terlihat kosong, karena banyak hal yang berputar di kepalanya.
"Kenapa?" tanya Yohan, yang menyadari hal itu.
Kafka menghela napasnya. Kemudian dia berbalik menatap Yohan dengan punggung bersandar di pagar rooftop. Cowok itu diam sejenak, memikirkan haruskah dia bercerita kepada Yohan mengenai masalahnya? Setelah beberapa saat Kafka mengatakan masalah kepada Yohan, dia rasa tidak masalah Yohan tahu karena cowok dingin itu bukan tipe orang yang akan menjadikan masalah orang lain bahan gosip.
"Lo percaya nggak kalau ternyata gue bukan anak kandung mendiang ibu?" tanya Kafka.
Yohan sedikit terkejut mendengar pertanyaan Kafka. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, karena dia tahu Kafka masih ingin berbicara lebih banyak lagi. Dia akan mendengarkan semuanya lalu baru memberi pendapat.
"Gue bukan anak kandung mendiang ibu. Kemarin pulang dari makam gue tahu setelah baca surat dari mendiang ibu. Nama mama kandung gue Vadya. Dan papa kandung gue El Hasan Anzalion. Mama kandung gue udah di sisi Tuhan. Sedangkan papa, gak tahu dimana masih hidup atau nggak gue gak tahu. Gue juga baru tahu nama ayah gue kemarin di surat mama Vadya." ucap Kafka bercerita. Cowok itu menceritakan semua hal yang berputar-putar di kepalanya.
Setelah mendengarkan cerita dari Kafka, Yohan diam berpikir sebentar. Lalu segera mengambil handphone yang ada di sakunya dan mengetik sesuatu di sana.
"Lo ngapain?" tanya Kafka sambil mengerutkan keningnya.
"Dia?" tanya Yohan sambil menunjukkan biodata seseorang di internet.
__ADS_1
Kafka membaca dengan seksama apa yang ditunjukkan Yohan. Biodata yang ditunjukkan Yohan itu adalah biodata dari seorang CEO perusahaan terbesar di kota tersebut.
Nama : El Hasan Anzalion
Tanggal Lahir : 24 Mei 1988
Tempat Lahir : -
Keluarga : Hara Adiyaksa (Istri), Zelio Anzalion (Anak).
Pekerjaan : CEO A'z.n Group.
"Mana mungkin dia?" tanya Kafka sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Dia El Hasan Anzalion. Marga Lo juga sama." ucap Yohan.
"Tapi, yakali gue anak sultan." kata Kafka.
Yohan menutup handphonenya dan memasukkannya kedalam sakunya lagi sekaligus memasukkan tangannya ke saku. Ditatapnya Kafka dengan tatapan datar.
"Jadi, setelah ini Lo bakal ngapain?" tanya Yohan.
"Kapan?"
"Besok? Mungkin, hari ini gue ingin latihan beladiri lagi." kata Kafka.
Yohan manggut-manggut mengerti. "Besok gue tunggu di perempatan utama." ujar Yohan sebelum pergi meninggalkan rooftop.
Kafka diam sebentar. Kemudian sudut bibirnya langsung terangkat karena perempatan utama yang dimaksud Yohan adalah perempatan dimana letak rumah Kaila. Dia berpikir mungkin bisa bertemu gadis kecil itu sebentar.
Sepulang sekolah melenceng dari tujuan awal Kafka. Ternyata teman-temannya mengajak ke gym tempat biasa Hazel berlatih. Akhirnya mereka bertujuh sepakat pergi ke gym.
"Ganti baju dulu sana." ucap Hazel sambil mengambil baju ganti di lokernya.
"Ruang gantinya dimana Zel?" tanya Yora.
__ADS_1
"Yang cewek disana. Kalau yang cowok di situ." kata Hazel sambil menunjuk tempat yang dimaksud.
Setelah semua berganti baju, Hazel mengajari teman-temannya dengan gerakan senam dasar sebagai pemanasan. Setelah pemanasan selesai, Hazel membiarkan teman-temannya mencoba alat-alat olahraga yang ada di gym. Sedangkan dirinya pergi ke salah satu sisi gym yang disediakan untuk boxing.
"Zel, lawan sama gue mau nggak?" tanya Arzel.
Hazel mengerutkan keningnya. "Lo gak lagi bercanda kan?" tanya Hazel.
"Nggak lah, ayo sini lawan gue!"
Hazel melirik kedua pergelangan tangan Arzel. "Lo mau boxing dengan gelang-gelang menumpuk di tangan Lo itu?" tanya Hazel sambil menunjuk pergelangan tangan Arzel.
Arzel menatap kedua pergelangan tangannya yang dipenuhi dengan berbagai macam bentuk gelang. Cowok itu tersenyum tipis, lalu menatap Arzel.
"Biarin, bilang aja Lo takut kalah. Kalau berani lawan gue sini, Lo menang gue traktir lo" tantang Arzel.
"Wahh, nantang nih bocah. Sini Lo gue jadiin rempeyek!" ucap Hazel sambil menarik baju Arzel.
Tidak sesuai dengan keberanian Arzel menantang Hazel di awal tadi. Belum ada 5 menit dirinya sudah di buat tumbang oleh Hazel.
"Anjg, Lo Hulk bukan cewek." celetuk Arzel.
Hazel menertawakan Arzel yang terlentang di lantai. Kemudian cewek itu mengulurkan tangannya untuk membantu Arzel bangkit. Sungguh diluar dugaan, padahal dari luar Hazel itu tubuhnya kecil tapi tenaganya luar biasa.
"Oke, besok minggu traktir gue!" ucap Hazel.
"Tcih.." Arzel memutar bola matanya dengan malas. Memang sih memalukan kalah dari cewek, tapi dia senang karena rencananya berhasil mengajak Hazel makan berdua besok.
Disisi lain Kafka yang tertarik dengan boxing langsung menghampiri Hazel dan tanpa gengsi meminta cewek tomboi itu untuk mengajari dirinya.
Mereka berada di gym sampai pukul tujuh malam. Setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Berbeda dengan Kafka, cowok itu memilih pergi ke taman untuk bersantai. Lagipula di rumah nanti dia akan kesepian, karena Anggi yang selalu menemani dirinya sudah tidak ada.
Mata cowok itu melihat anak kecil yang bermain dengan orang tuanya. Saling bercanda dan tertawa. Keluarga seperti itu yang sejak dulu Kafka impikan. Sesaat kemudian cowok itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia sudah bersyukur mempunyai ibu sebaik Anggi. Tapi tetap saja, kalau memungkinkan dia ingin keluarga seperti itu.
"Menyebalkan.." desis cowok itu kemudian segera beranjak pergi dari taman tersebut.
...***...
__ADS_1
...Bersambung......