Cherophobia

Cherophobia
Senja


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, tibalah hari kegiatan tengah semester. Kelas Kafka bersorak gembira karena di seluruh perlombaan yang di adakan sekolah kelas mereka mendapatkan juara pertama. Dari sini kita bisa melihat selain ambisius dalam hal pelajaran, kelas XI MIPA 2 juga ambisius dengan hal seperti ini.


Sekarang saatnya istirahat untuk makan, bersih-bersih dan yang lainnya. Kafka beserta teman-temannya berkumpul di rooftop setelah membersihkan diri. Mereka berniat makan bersama sambil melihat matahari terbenam.


"Gila kelas Lo Kaf!" celetuk Yora.


"Ho'oh, yakali semua juara pertama di embat." sahut Hazel.


Kafka tertawa kecil mendengarnya. "Mana gue tahu, mungkin kelas gue lagi hoki kali." jawab Kafka disusul tawanya yang renyah.


"Tapi, walau kelas lo menangin piala segitu banyak kok kayaknya Lo nggak terlalu senang ya?" tanya Arzel sambil memakan makanannya.


Kafka diam sebentar. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia bilang takut bahagia, teman-temannya pasti khawatir. Dan tentunya akan merusak suasana yang hangat seperti ini. Beruntung disaat seperti ini, tiba-tiba pintu rooftop dibuka seseorang.


"Halo semuanya!" sapa orang yang tidak lain adalah Natasha.


"Oh, kak Natasha? Sini kak!" ajak Yora sambil menepuk sampingnya.


Natasha berjalan dan duduk di samping Yora. Dalam beberapa hari terakhir, Natasha berhasil mendekati teman-temannya Kafka. Dan hasilnya sekarang mereka cukup akrab, seolah sudah berteman sejak lama.


"Nggak usah panggil kak, santai aja." ujar Natasha.


"Nggak sopan dong kak." jawab Yora disusul tawanya.


Gadis itu mengeluarkan benda di dalam paper bag yang dibawanya. Itu berisi camilan dan biskuit berbentuk kartun buatan sendiri yang sudah di kemas dengan rapi. Natasha membagikannya kepada semua teman-temannya Kafka. Sedangkan untuk Kafka, gadis itu memberi biskuit yang bentuknya kucing dan paling lucu diantara yang lainnya.


"Kenapa punyaku berbeda?" tanya Kafka.


"Karena kamu istimewa." jawab gadis itu dengan senyuman manisnya.


Kafka memang tahu kakak kelasnya tersebut menyukainya, tapi dia tidak ada niatan membencinya. Dia hanya menjaga jarak dari gadis itu. Seperti sekarang. Kafka yang tadinya duduk di dekat Yora, langsung pindah ke dekat Yohan ketika Natasha datang.


"Makan sendiri, aku nggak lapar." ucap Kafka sambil memberikan kembali biskuit tersebut kepada Natasha.


"Njir, jahat Lo Kaf." cetus Azam sambil menyenggol lengan Kafka.

__ADS_1


"Paling nggak makan sedikit gitu." pinta Natasha sambil menyodorkan biskuitnya lagi.


Kafka menghela napasnya. Dia mengambil satu buah biskuit tersebut dan menggigitnya. Sungguh, kalau bukan karena Natasha tadi menyelamatkannya dari pertanyaan Arzel. Dia benar-benar tidak akan menyentuh biskuit pemberian Natasha tersebut.


"Nahh, gitu dong." ucap Natasha sambil tersenyum senang.


Tepat disaat itu, Azam tiba-tiba berkata sambil menunjuk ke arah barat.


"Woi! Sunset! Sunset!" ucap Azam.


Seketika semua yang ada disana menatap ke arah yang ditunjuk oleh Azam. Mereka semua menyaksikan matahari terbenam yang sangat indah dari rooftop sekolah.


"Indah ya?" tanya Natasha kepada Kafka.


"Hm, indah. Tapi hanya sementara. Setelah itu datang kegelapan." jawab Kafka yang langsung membuat semuanya terdiam. "Karena itu gue takut ngerasain bahagia, karena gue tahu kebahagiaan itu cuma sementara." sambung Kafka di dalam hatinya.


Tepat setelah Kafka menyelesaikan kalimatnya, matahari benar-benar tenggelam. Dan benar yang dikatakan Kafka. Keindahan itu hanyalah sementara. Setelah matahari benar-benar tenggelam, kegelapan datang. Hanya ada semburat warna kemerahan di langit bagian barat yang mirip seperti warna darah di pandangan Kafka.


"Udah kan? Pergi sana." kata Kafka tanpa menatap Natasha.


"Tahu nih, main usir aja." sahut Arzel.


"Yaudah gue, aja yang pergi." ucap Kafka kemudian beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.


Jujur, Natasha sedikit kecewa dengan sikap Kafka. Tapi dia sudah siap dengan resiko cueknya Kafka saat dia sudah mengungkapkan perasaannya. Dan lagipula dia merasa, Kafka bukan sengaja cuek kepada dirinya. Dia yakin sekali ada alasan yang membuat Kafka seperti itu.


"Sabar aja, dia gak pernah pacaran. Jadi agak kaku orangnya." kata Nathan.


"Kayak ahli pacaran aja, orang baru karam gitu." celetuk Hazel di sambut tawa teman-temannya.


Disisi lain, Kafka duduk sendiri di taman belakang sekolah. Dia mulai merasakan bingung dengan tujuannya hidup. Dia memikirkan tujuannya saat ini adalah berbicara baik-baik dengan papanya dan menemukan makam mamanya. Tapi setelah itu selesai apa yang akan dia lakukan? Jadi dokter? Itu memang cita-citanya. Satu yang membuatnya bimbang. Darimana dia akan mendapatkan dana untuk biaya kuliahnya? Kuliah untuk mendapatkan gelar dokter itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, sedangkan dia bukanlah orang yang memiliki banyak uang. Dan sekarang dia malah dilanda kebingungan dengan kehadiran Natasha yang tiba-tiba bilang menyukai dirinya.


"Menyebalkan..." desis Kafka.


Cowok itu berdiam sangat lama di taman tersebut. Ditatapnya perubahan langit yang tadinya berwarna jingga kemerahan menjadi hitam pekat penuh bintang. Ada yang berbeda dengan malam ini. Malam ini langit sangat cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Bintang bertaburan memenuhi langit, dan bulan bersinar dengan terangnya.

__ADS_1


"Bukannya musim hujan? Kemana semua mendung itu?" batin Kafka sambil menatap langit.


Tiba-tiba seorang gadis berparas cantik datang dan berdiri di belakangnya. Ya, itu adalah Natasha. Kafka langsung menegakan tubuhnya dan menoleh kebelakang.


"Kenapa kau kesini?" tanya Kafka.


"Ingin saja." jawab gadis itu sambil duduk di samping Kafka.


Mendengar jawaban Natasha Kafka kembali menatap langit. Dia memilih tidak menghiraukan Natasha yang ada disampingnya.


"Kau tadi bilang, senja itu indah tapi hanya sementara kemudian datanglah malam yang gelap." ucap Natasha tiba-tiba.


Kafka tetap menatap langit. Tapi dia mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh Natasha.


"Ya, itu memang benar. Tapi tahu nggak? Setelah malam akan datang pagi hari yang tidak kalah indah dari senja. Kemudian setelah pagi hari akan datang siang hari yang cerah walau terkadang datanglah hujan. Dan setelah siang hari akan datang senja lagi, dan malam yang gelap lagi." kata Natasha lagi.


"Apa yang coba kau katakan?" tanya Kafka.


"Maksudku itu adalah siklus kehidupan. Kau bilang keindahan senja sementara. Itu memang benar. Tapi malam yang gelap juga sementara. Dalam hidup itu akan selalu ada bahagia dan kesedihan. Orang yang bahagia tidak mungkin bahagia terus, dan orang yang sedih juga tidak mungkin akan bersedih terus-menerus. Jadi tidak mengapa bahagia sebentar kemudian merasakan kesedihan. Tapi setelah itu kau juga akan mengalami masa cerah yang panjang." ujar Natasha.


"Apa kau masih bisa berbicara seperti itu kalau kegelapan lebih panjang dari keindahan?" tanya Kafka dengan nada sedikit dingin.


Natasha tersenyum. "Tapi kegelapan itu tidak terlalu buruk. Lihatlah ke langit. Di dalam kegelapan selalu ada cahaya yang menerangi." jawab Natasha.


"Kalau tidak ada bintang?" tanya Kafka lagi.


"Lampu tetap ada kan?" Natasha bertanya balik.


"Kalau mati lampu?"


Natasha terkekeh mendengar pertanyaan Kafka. "Masih ada kunang-kunang." jawab Natasha dengan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyuman manis.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2