Cherophobia

Cherophobia
Izin Belajar Beladiri


__ADS_3

Malam harinya Kafka berada di kamarnya menata buku-bukunya di rak dari bambu buatannya tadi. Yap, tadi setelah teman-temannya pulang, karena Kafka bosan cowok itu mengambil bambu sisa ibunya membuat pagar untuk dibuat rak buku.


"Ya, lumayan.." gumam Kafka memuji karya buatannya sendiri.


Tok tok tok.. "Kafka ini ibu.."


"Masuk saja bu. Nggak di kunci kok." ucap Kafka.


Ceklek.


Anggi masuk ke kamar Kafka dan ikut melihat karya buatan putranya. Wanita itu tersenyum. Bersyukur sekali dia mendapatkan putra seperti Kafka. Pandai, Kreatif, Sopan, Senang bekerja. Sempurna sekali.


"Ada apa Bu?" tanya Kafka.


"Enggak, cuma mau lihat kamu ngapain." jawab Anggi.


Kafka menatap ibunya. Kenapa sikap ibunya akhir-akhir ini aneh sekali. Seolah-olah dia akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Tempat dimana Kafka tidak akan bisa menemukannya. Kafka takut kalau firasatnya benar. Cowok itu tidak ingin memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Bu, Kafka boleh minta izin nggak?" tanya Kafka.


"Minta izin? Untuk apa??" tanya Anggi bingung. Karena melihat ekspresi Kafka, sepertinya ini bukan sekedar izin biasa.


"Kafka ingin belajar beladiri." ujar Kafka.


Anggi terdiam. Jantungnya berdegup cepat mendengar kata bela diri. Dia tahu alasan Kafka ingin belajar beladiri untuk melindungi dirinya. Tapi kata beladiri mengingatkannya kepada mantan suaminya yang pernah melakukan KDRT kepadanya. Mantan suami Anggi adalah seseorang yang ahli beladiri, karena marah dengan Anggi dia memukul dan menganiaya Anggi. Pada akhirnya Anggi mengangguk mengizinkan Kafka untuk belajar beladiri.


"Dengan satu syarat!"


"Apa itu?" tanya Kafka.


"Kalau kamu sudah pandai beladiri. Gunakan ilmu mu sebaik mungkin. Jangan gunakan itu untuk menyakiti orang lain kalau mereka tidak menyerangnya terlebih dahulu." ucap Anggi.


Kafka langsung mengangguk menyanggupi Syarat yang diberikan ibunya. Lagipula Kafka tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan orang disekitarnya. Bahkan untuk membalas musuhnya saja dia enggan, karena hatinya yang terlalu baik.


Setelah percakapan itu, Anggi mengelus lembut kepala Kafka. Lalu segera keluar dari kamar putranya tersebut. Karena air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia tidak ingin Kafka melihatnya menangis.


Sedangkan Kafka, cowok itu langsung rebahan dan menyambar handphonenya. Di carinya nomor kontak bernama Yohan di sana. Tapi setelah sekian menit mencari di daftar kontak, Kafka tidak menemukan kontak dengan nama Yohan.

__ADS_1


"Ini gue mata gue yang minus atau gimana?" gumam Kafka.


Cowok itu tidak menyerah. Dia terus mencari nomor Yohan di daftar kontaknya. Tapi tetap saja tidak ketemu. Kafka positif thinking, mungkin saja nomor kontak Yohan tidak sengaja terhapus. Dia membuka perpesanan berniat meminta nomor kontak Yohan kepada Yora. Tapi dia di kejutkan dengan sebuah nomor telepon tanpa nama yang ada di perpesanan.


"Hah, pantas gue cari di kontak gak ada. Ternyata belum di save." batin Kafka.


Cowok itu segera menyimpan nomor telepon Yohan. Dan langsung menghubunginya. Beberapa kali Kafka menelepon Yohan, tapi tidak di angkat sama sekali.


"Jam segini masa udah tidur?" gumam Kafka. "Yaudah lah, besok aja. Lagian lebih enak ngomong langsung." ucapnya. Kemudian beralih mengambil gitarnya dan memainkannya untuk mengusir kebosanan sekaligus agar bisa mengantuk.


Keesokan harinya Kafka memutuskan berangkat ke sekolah dengan naik bus. Karena ban sepedanya belum di pompa. Cowok itu tidak terlihat sedih sama sekali, karena dia selalu mengingat apa yang di katakan ibunya. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Maka dari itu dia terus berbaik sangka kepada Tuhan.


"Ternyata seru juga naik bus." batin Kafka. Cowok itu membuka jendela dan melihat ke suasana di luar. Terlihat pemandangan yang sangat menyebalkan. "Yash, pagi-pagi udah pacaran. Gue kerjain Lo anj." gumam Kafka.


Saat tepat melewati pasangan yang sedang bermesra-mesraan di pinggir jalan tersebut Kafka mengeluarkan kepalanya dari jendela dan berteriak. "Sayang! Teganya kamu selingkuh!" teriak Kafka setelah itu dia buru-buru menutup jendelanya. Kemudian cowok itu menoleh ke belakang, dan kedua pasangan tadi langsung bertengkar.


Seisi bus langsung menertawakan tingkah absurd Kafka barusan.


"Gak kasihan kalau mereka putus?" tanya cowok di sampingnya sambil tertawa.


"Gak, salah sendiri pagi-pagi bikin sakit mata." jawab Kafka sambil melihat sekilas cowok yang duduk di sampingnya. Tiga detik kemudian Kafka langsung menatap cowok itu lagi. Di lihatnya seragam sekolah yang di kenakan cowok tersebut.


"Ho'oh, Dan kayaknya kita satu kelas." ucap cowok itu sambil menunjuk bet kelas Kafka.


"Oh ya? Kayaknya kemarin-kemarin gue gak lihat Lo?" tanya Kafka.


Cowok itu mengangguk. "Karena gue emang nggak masuk." jawab cowok tersebut.


"Nama Lo siapa?" tanya Kafka.


"Gue? Gue Azam. Lo sendiri?"


"Oh, gue Kafka."


Dan, dengan naik bus hari ini Kafka mendapatkan teman baru lagi. Benar kan, di setiap kesedihan pasti Tuhan akan memberikan kesenangan setelahnya.


Setelah sampai di sekolah. Kafka langsung berlari menghampiri Yohan yang sudah berada di koridor lalu merangkul pundak temannya tersebut. Tapi Yohan langsung memutar tangan Kafka ke belakang hingga membuat cowok itu mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Akh! Sakit woy!" teriak Kafka.


Yohan baru melepaskan tangan Kafka setelah mengetahui bahwa itu adalah Kafka. Lalu berjalan meninggalkan Kafka begitu saja.


"Woi! Tungguin gue!" Kafka mengejar cowok dingin tersebut dan mensejajarkan langkahnya dengannya.


"Semalam kenapa nggak angkat telepon gue?" tanya Kafka.


"Malas."


"Yaelah, cuma ngangkat telepon doang malas. Kan bisa sambil rebahan." ujar Kafka.


"Malas ngomong." sahut Yohan.


Kafka tidak habis pikir dengan Yohan. Masa cuma ngomong doang malas. Kalau malas kan bisa gitu di angkat doang, dan membiarkan dirinya berbicara lalu langsung dimatikan.


"Dengarin doang kan bisa." ucap Kafka lagi.


"Chat, kan bisa." balas Yohan dengan nada dingin.


Sekarang Kafka tidak bisa membalas kalimat Yohan lagi. Cowok itu memilih mengalah, karena kalau berdebat dengan orang yang terkena kutukan es dari ratu Elsa pasti ujungnya juga kalah kata. Dan dia sendiri nantinya yang kesal.


"Gue mau belajar beladiri." cetus Kafka.


Yohan seketika menghentikan langkahnya. Cowok itu beralih menatap Kafka dengan tatapan yang masih datar dan juga dingin.


"Pulang sekolah." ucap Yohan.


"Ngapain?" tanya Kafka.


Malas menjawab pertanyaan Kafka, cowok itu kembali berjalan meninggalkan Kafka yang masih berusaha mencerna maksud dari dua kata yang dia ucapkan.


Setelah paham apa yang dimaksud Yohan, Kafka kembali mengejar Yohan. "Latihan kan? Dimana?" tanya Kafka lagi.


"Rumah gue." jawab Yohan.


Setelah mendapat jawaban dari Yohan, Kafka menghentikan langkahnya membiarkan cowok dingin itu pergi dahulu. Kafka menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya. "Lama-lama ikutan beku gue sama dia." gumam Kafka. Lalu cowok periang itu pergi ke arah lain karena ingin pergi ke perpustakaan.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2