
Jam istirahatnya Kafka dan teman-temannya duduk di kantin untuk makan siang. Mereka asik berbincang-bincang sambil memakan makanannya, berbeda dengan Kafka yang sejak tadi hanya diam karena masih shock dengan hadiah ulang tahun yang diberikan teman-temannya karena terbilang mahal-mahal. Terlebih hadiah dari Yohan yang harganya lebih dari 100jt.
"Lo kenapa dah, dari tadi bengong melulu?" tanya Arzel heran.
Kafka menggelengkan kepalanya. "Kalian nggak di marahi orang tua kalian keluarin uang sebanyak itu?' tanya Kafka ragu-ragu. "Gue gak enak sama kalian. Gue takut gak bisa balas kebaikan kalian." ucap Kafka dengan pelan.
Semua teman-temannya langsung menatap ke arahnya.
"Nggak lah, bokap gue malah senang kalau gue baik ke teman gue." ujar Nathan.
"He'em, lagian kita ngasih itu ikhlas kok." sahut Azam.
"Benar kata Azam, kita ngasih itu ikhlas. Gak usah ngerasa nggak enak atau takut gak bisa balas." kata Yora.
"Cukup terima dan gunakan hadiah dari kita dengan baik itu udah bikin kita senang kok." sambung Hazel.
Kafka tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia hari ini. Ini adalah pertama kalinya dia merasa di anggap sebagai teman. Ketika masih SMP Kafka punya seorang teman, tapi dia tidak pernah ingat kapan hari ulang tahun Kafka. Dia juga munafik dan menyebarkan rumor buruk tentang Kafka di sekolah sehingga Kafka sama sekali tidak punya teman di sekolahnya.
Dia bersyukur saat ini mendapatkan teman-teman yang sangat baik kepadanya. Teman-teman yang tidak mempermasalahkan tingkat ekonomi, yang tidak mempermasalahkan kurang lengkapnya keluarga Kafka.
"Sekali lagi, makasih banyak. Gue senang banget hari ini." ucap Kafka.
Sekalipun Kafka merasa sangat bahagia hari ini. Tapi dia juga takut setelah semua kebahagiaan ini berlalu akan datang kesedihan kepadanya. Karena bagi Kafka seperti itu siklusnya, setiap dia merasa bahagia setelahnya dia akan merasa sedih. Tapi dia berharap itu tidak akan terjadi kali ini.
Sepulang sekolah, Kafka pergi ke rumah Yohan untuk berlatih beladiri lagi. Cowok itu pergi naik motor baru yang diberikan oleh Yohan. Emm, ralat. Tepatnya dia di bonceng Yohan. Katanya masih belum punya nyali untuk mengendarai motor semahal itu.
Mereka berlatih sampai pukul enam sore. Kafka sengaja menyudahi latihannya karena ingin segera pulang. Dia sangat yakin ibunya sudah menyiapkan kejutan kecil untuknya di rumah. Karena Anggi memang selalu merayakan ulang tahun Kafka. Sekalipun itu dengan cara sederhana, tapi Kafka tetap bahagia.
"Ibu! Kafka pulang!" seru Kafka sambil masuk ke toko.
Suasana toko bunga sangat gelap. Lampunya tidak di nyalakan. Cowok itu meletakkan semua hadiah yang di dapatkannya di sofa yang ada di toko. Kemudian berjalan masuk ke ruang tamu. Ketika baru saja membuka pintu ibunya sudah berdiri di hadapannya sambil memegang kue ulang tahun dan menyanyikan selamat ulang tahun untuknya.
"Ahh, ibuu.." Kafka langsung memeluk Anggi.
__ADS_1
"Haha, tiup dulu dong lilinnya." ucap Anggi seraya melepaskan pelukan Kafka.
Kafka mengangguk lalu segera meniup lilinnya. Setelah lilin di tiup Anggi meletakkan kue di meja dan menyalakan lampu ruang tamu.
"Ayo potong kuenya." kata Anggi sambil memberikan sebuah pisau kue.
Kafka tersenyum lalu mengangguk lagi. Cowok itu jongkok dan segera memotong kue ulangtahun nya. Suapan pertama kue itu diberikan kepada ibu tercintanya.
"Selamat ulang tahun ya, kesayangannya ibu." ucap Anggi sambil memberikan kadonya.
Kafka menerimanya dengan senang hati. Tidak lupa dia juga mengucapkan terimakasih kepada ibunya. Kafka segera membuka hadiah ulang tahun dari ibunya. Cowok itu membulatkan matanya ketika melihat isi kado tersebut.
"Gunakan dengan baik ya." kata Anggi sambil mengelus lembut pipi Kafka.
Cowok itu langsung memeluk Anggi dan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepadanya. "Makasih banyak Bu. Makasih.." ucap Kafka.
Setelah beberapa saat memeluk Anggi, cowok itu mengerutkan keningnya karena secara perlahan pelukan ibunya melonggar. Kafka langsung melepaskan pelukannya dan seketika ibunya ambruk lagi ke pelukannya.
Wanita itu tidak sadarkan diri. Kafka benar-benar panik saat ini. Di gendongannya wanita itu menuju jalan raya, dia tidak peduli dengan kakinya yang bahkan tidak memakai alas kaki. Di hentikannya taxi.
"Pak, ke rumah sakit!" ucap Kafka dengan panik.
Taxi melaju secepatnya karena tahu ini adalah keadaan darurat. Selama di perjalanan Kafka terus menggenggam tangan ibunya, ditepuknya berkali-kali pipi ibunya berharap wanita itu segera sadar. Tapi tidak berhasil, ibunya tetap tidak sadarkan dirinya.
"Bu, Kafka mohon bangun Bu.." ujar Kafka lirih di telinga Anggi. Mata cowok itu sudah memerah menahan air matanya.
Sesampainya di rumah sakit. Kafka langsung berteriak-teriak meminta bantuan kepada petugas dan dokter yang ada di IGD.
Kebetulan sekali Anya ada di IGD. Karena sudah tahu betul kondisi ibu dari Kafka, wanita itu langsung menyuruh perawat membawa Anggi masuk ke ruang operasi.
"Kamu tunggu di luar dulu. Tante akan berusaha sebaik mungkin." kata Anggi sebelum masuk ke ruang operasi.
Kafka terduduk lemas di lantai rumah sakit dengan bersandar di tembok. Dia benar-benar khawatir kepada ibunya. Penyakit apa yang di derita ibunya sampai-sampai harus di operasi. Dia takut jika ketakutannya selama ini menjadi kenyataan.
__ADS_1
"Nggak, nggak boleh... Ibu pasti baik-baik saja." gumam Kafka. Cowok itu menundukkan kepalanya dan menangis tanpa suara.
Tiga jam berlalu. Mendengar pintu operasi terbuka Kafka langsung bangkit dari posisinya sekarang. Terlihatlah Dr. Anya yang keluar dari ruang operasi dengan kepala yang menunduk.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Kafka dengan wajah khawatir.
Anya tidak menjawab.
"Tante!" panggil Kafka.
Anya menghela napasnya kemudian menatap Kafka. "Maaf, tante gagal menyelamatkan ibu kamu." ucap Anya dengan berat hati.
Bagaikan disambar petir disiang bolong. Kaki Kafka langsung melemas sehingga tidak bisa menopang tubuhnya dengan seimbang. Cowok itu mundur beberapa langkah dan terduduk di kursi rumah sakit. Air matanya yang tertahan sejak tadi akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Nggak.. nggak mungkin. Ibu!!!" teriak Kafka dengan air mata berlinang.
Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ibunya masih tersenyum dan mengelus pipinya dengan lembut beberapa jam yang lalu. Bahkan wanita itu masih bernyanyi dan tertawa bersamanya. Dan saat ini dia mendengar bahwa ibunya sudah tiada.
"Nggak mungkin. Gue pasti cuma mimpi. Ini cuma mimpi! Bangun bego! Jangan tidur! Bangun!" Kafka menampar pipinya berulang kali dengan air mata yang terus mengalir.
Grep! Tiba-tiba ada seseorang yang menahan tangannya.
"Stop, jangan sakiti diri Lo sendiri." ucap seseorang yang tidak lain adalah Yohan.
Kafka berhenti memukuli dirinya sendiri. Tapi cowok itu tetap tidak bisa menghentikan air matanya yang terus saja mengalir.
Yohan menatap mamanya, dan mengisyaratkan agar meninggalkan mereka terlebih dahulu. Anya yang mengerti segera pergi dari sana.
"Nggak, gue pasti cuma mimpi.. tolong siapapun bangunin gue..." ucap Kafka dengan lirih dan suaranya terdengar serak.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1