
Mereka pulang dari rumah keluarga Anzalion sudah malam. Kira-kira pukul tujuh. Niatnya Kafka ingin langsung pulang. Tapi dia masih belum terbiasa dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Akhirnya dia memutuskan pergi ke taman tempat biasanya dia bersantai. Tempat yang menurutnya paling nyaman untuk menyendiri.
Terlintas di pikirannya semua hal yang telah dia lalui selama ini.
"Sepahit ini kah hidup gue?" gumam Kafka.
Memang hidupnya sudah jauh lebih baik daripada saat SMP dahulu yang dia sering mendapatkan pembullyan. Saat ini Geo juga tidak terlalu mengusiknya. Mungkin saja cowok itu sudah jera. Kafka selalu mendapatkan nilai yang bagus. Jika dilihat dari nilainya sekarang, dia bisa masuk universitas terbaik di kota ini. Dia juga mendapatkan teman-teman yang baik. Yang selalu ada untuknya.
Tapi dia tetap merasa tidak pantas untuk bahagia. Setiap dia mulai merasakan kebahagiaan yang hebat, pasti itu akan hancur dalam sekejap.
"Kalau dia benar saudara gue, gue gak boleh sampai jatuh hati kepadanya." ucap Kafka.
Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya.
"Tante Anya, dia pasti tahu sesuatu."
Kafka segera menaiki motornya dan melaju ke rumah sakit. Dia tahu ibu dari sahabatnya itu pasti masih di rumah sakit karena hari ini adalah jadwalnya Anya jaga malam. Makanya dia tidak ragu untuk langsung datang ke rumah sakit.
"Tante Anya!" panggil Kafka ketika melihat Anya yang sedang duduk di bangku taman rumah sakit.
"Oh? Kafka? Ada apa? Kamu sakit?" tanya Anya dengan raut wajah khawatir.
Kafka menggelengkan kepalanya. "Tante sibuk nggak?" tanya Kafka balik.
Anya melihat gelang jamnya. "Nggak kok, jam istirahat Tante masih sisa 15 menit lagi." jawab Anya. "Sini duduk."
Kafka duduk di depan Anya. Kemudian terdiam. Dia bingung harus memulai darimana. Masa iya dia harus jujur kalau sudah jatuh hati kepada seseorang?
"Ada apa Kafka?" tanya Anya lagi.
"Anaknya papa, selain Kafka dan Zelio... apa ada lagi?" tanya Kafka dengan ragu.
Sungguh, saat ini Kafka benar-benar berharap agar Tantenya mengatakan bahwa putra papanya hanyalah dirinya dan Zelio yang satu tahun lebih muda darinya. Tapi harapannya sirna seketika, saat Anya mengatakan iya atas jawabannya.
__ADS_1
"Iya, Ada kakakmu. Tapi dia tidak di publish." jawab Anya.
Deg.. mata Kafka perlahan memerah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya mulai terasa sesak. Dia tidak terima dengan kenyataan ini. Tapi dia masih belum percaya. Dia menanyakan satu hal lagi.
"Siapa namanya tante?" tanya Kafka dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kalau tidak salah namanya, Natasha Harra Anzalion. Dia lebih tua satu tahun darimu." jawab Anya.
Kafka langsung memalingkan wajahnya. Di usapnya air mata yang hampir jatuh. Kenapa kenyataan yang harus dia terima selalu sepahit ini? Disaat dia mulai merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, cintanya itu adalah cinta terlarang?
"Tapi, ngomong-ngomong kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini?" tanya Anya.
Kafka dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Nggak pa-pa tante. Yaudah Kafka pulang dulu." ucap Kafka segera pergi dari sana di ikuti tatapan tanda tanya dari Anya.
*
Keesokan harinya di sekolah. Ketika berkumpul bersama di kantin, sikap Kafka kepada Natasha benar-benar berbeda 180°. Tidak, tepatnya sikap Kafka kembali cuek seperti dahulu. Hanya saja sekarang ditambah dengan sikap dingin.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?" tanya Natasha.
Natasha sangat terkejut dengan perubahan sikap Kafka. Padahal kemarin mereka masih bercanda bersama. Bukan hanya Natasha yang terkejut, teman-temannya yang lain juga terkejut. Karena mereka belum pernah melihat wajah Kafka yang sedingin ini. Bahkan auranya lebih dingin dari Yohan.
"Apa ini masih karena aku menyukaimu?" tanya Natasha lagi.
"Jangan menyukaiku! Aku sudah mempunyai kekasih." jawab Kafka.
"Aku nggak percaya! Kita sudah berteman selama beberapa bulan ini kau tidak pernah bilang punya kekasih. Aku seperti ini bukan sebagai gadis yang menyukaimu, tapi sebagai temanmu. Apa yang membuat sikapmu berubah seperti ini?" tanya Natasha lagi.
Kafka menghela napasnya. Tiba-tiba tangannya menggenggam tangan Yora yang kebetulan duduk di sebelahnya. Di angkatnya genggaman tangan itu di atas meja kantin agar terlihat oleh Natasha.
"Dia pacarku. Jika kau masih punya harga diri, menjauh dariku." ucap Kafka.
"Ehh?" Yora menatap Kafka dengan tatapan bingung.
__ADS_1
Setelah melihat itu, dengan mata yang berkaca-kaca Natasha pergi meninggalkan kantin. Hatinya sungguh sakit mendengar kata-kata yang dilontarkan Kafka baru saja.
"Lo apa-apaan sih anjr?!" bentak Yora sambil melepaskan genggaman tangan Kafka. "Siapa pacar Lo?!"
"Sorry." ucap Kafka.
"Kalian benar-benar pacaran?" tanya Arzel sambil menunjuk Kafka dan Yora.
"Sejak kapan?" Hazel ikut-ikutan bertanya.
"Mata Lo! Nih tanya sama dia! Ngapa tiba-tiba bilang gue pacarnya." cetus Yora dengan kesal sambil menoyor kepala Kafka.
"Lo lagi ada masalah sama dia Kaf?" tanya Azam.
"Gue tahu Lo gak suka sama dia. Tapi menurut gue kata-kata Lo barusan terlalu tajam Kaf. Dia cewek. Nggak seharusnya Lo ngucapin kalimat setajam itu." ucap Nathan.
"Gue tahu, tapi gue terpaksa ngelakuin itu. Seenggaknya dia bisa benci gue." jawab Kafka. Kemudian dia pergi meninggalkan kantin.
Yohan yang melihat itu langsung mengikuti kemana perginya Kafka. Ternyata cowok itu pergi ke rooftop. Sesampainya di rooftop, tanpa basa-basi Yohan langsung melayangkan pukulannya ke pipi Kafka.
"Itu bukan kalimat yang akan di ucapkan seorang Kafka." kata Yohan.
Kafka hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak membalas pukulan Yohan. "Gue suka dia." ucap Kafka tiba-tiba.
Yohan hanya diam mendengarkan setiap kata-kata yang akan di ucapkan Kafka.
"Semalam, saat di rumah papa. Gue lihat foto keluarga mereka. Dan ada Natasha disana. Awalnya gue kira dia ponakan. Tapi setelah gue tanya mama Lo. Dia kakak gue. Dan dia gak boleh suka sama gue. Begitupun dengan gue." ujar Kafka menceritakan semuanya.
Yohan menghela napasnya. Cowok itu duduk di kursi yang ada di rooftop. Dia tidak bisa menyalahkan Kafka sekarang. Karena memang yang dilakukan Kafka benar, apalagi dilihat dari kepribadian Natasha yang notabenenya suka berbuat nekad jika tidak mendapatkan kalimat tajam dari Kafka pasti akan tetap ngeyel.
"Seenggaknya Lo kasih tahu dia yang sebenarnya." ucap Yohan.
"Gue bakal kasih tahu dia, setelah dia benci gue." jawab Kafka.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......