Cherophobia

Cherophobia
Penjelasan Anya


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu, tepat lima belas menit sebelum pukul delapan malam Anya telah pulang. Wanita itu langsung menghampiri Kafka dan menyapanya dengan senyum yang sungguh manis. Dia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menyayangi Kafka seperti anaknya sendiri, karena dia merasa dirinyalah yang membuat Kafka kehilangan Anggi.


"Kamu sudah makan?" tanya Anya.


Kafka tersenyum lalu mengangguk. "Sekarang tante mau ngapain?" tanya Kafka. Dia akan membiarkan Anya melakukan hal yang ingin dilakukannya terlebih dahulu, baru menanyakan tentang mendiang mamanya.


"Nggak, ngapa-ngapain kok. Kenapa Kaf?" tanya Anya.


"Duduk dulu Tante. Kafka mau bicara agak lama kalau Tante tidak keberatan." ujar Kafka.


Anya diam sebentar lalu duduk di salah satu sisi sofa. Begitu pula dengan Kafka, cowok itu duduk di samping Yohan.


"Tante kenal wanita bernama Vadya nggak?" tanya Kafka langsung.


Anya langsung mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Kafka. "Darimana kamu tahu nama itu?" tanya Anya dengan ekspresi serius. Dan juga... wajah yang menyimpan harapan.


"Vanya Kaveline, dia mama saya. Mama kandung saya." ucap Kafka sambil menundukkan kepalanya.


Tubuh Anya seketika membeku mendengar kalimat yang baru saja Kafka katakan. Di amatinya wajah Kafka dengan sungguh-sungguh. Pantas saja dia merasa mengenali wajah Kafka, rupanya anak laki-laki di depannya ini adalah putra dari sahabatnya.

__ADS_1


"Jangan main-main Kafka.." kata Anya yang masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang Kafka katakan.


"Saya tidak main-main. Saya mau tanya banyak kepada Tante tentang mama dan papa saya. Yang saya tahu sekarang hanyalah Mama Vadya ibu kandung saya yang sudah meninggal. Dan El Hasan Anzalion yang katanya adalah ayah saya." ujar Kafka mencoba meyakinkan Anya.


Air mata Anya akhirnya tidak bisa terbendung lagi. Setelah sekian lama mencari keberadaan putra sahabatnya akhirnya dia menemukannya hari ini. Tapi sesegera dia menghapus air matanya, dia tidak ingin terlihat cengeng di depan putranya. Setelah itu dia ke dapur, dan kembali ke depan membawa sebuah foto. Foto tersebut dia letakkan di meja agar Kafka bisa melihatnya.


"Vadya adalah sahabat terbaik bagi Tante. Dia wanita paling sempurna yang pernah Tante temui. Ini Tante Anya, ini mama kamu, dan ini Tante Fanya. Mamanya Yora." kata Anya sambil menunjuk satu persatu wanita di dalam foto.


"Dia sudah mengetahui hal itu, ceritakan yang lain." ucap Yohan.


Kafka langsung menyikut Yohan mengisyaratkan agar cowok itu diam saja, karena menurutnya nada bicaranya yang dingin disertai wajahnya yang datar dan cara berbicara Yohan kepada orang tuanya tersebut sangatlah tidak sopan.


"Lalu, mama saya dimakamkan dimana?" tanya Kafka.


Anya menunduk dan menggelengkan kepalanya. "Papa kamu yang tahu dimana makam mama kamu. Saat itu Tante dan El menemukan mama kamu secara bersamaan. Tante sudah berusaha mencegah papa kamu membawa mama kamu. Tapi tenaga El jauh lebih besar daripada Tante." jelas Anya.


"Tante Fanya gak bantu mama?" tanya Yohan sambil mengerutkan keningnya.


"Saat itu Tante Fanya ada di Jepang karena urusan pekerjaannya. Dia tidak tahu bahwa Vadya sudah tiada. Saat mengetahui semuanya, Fanya langsung terbang ke negara ini meninggalkan semua pekerjaannya begitu saja. Kami berusaha mencari dimana Vadya dimakamkan, tapi sampai sekarang kami tidak bisa menemukannya. Andai hari itu Tante lebih cepat menemukan mama kamu, mungkin pria berengsek itu tidak akan berhasil membawanya pergi!" ujar Anya.

__ADS_1


Kafka mengepalkan tangannya. Dia bisa membayangkan seberengsek apa papanya dengan melihat ekspresi kebencian yang besar di wajah Anya. Tapi dia tidak bisa menunjukkan amarahnya disini.


"Terimakasih atas penjelasannya Tante. Dan maaf telah mengganggu waktu istirahat Tante." kata Kafka sambil tersenyum dan membungkukkan badannya. "Kafka pamit dulu." ujar Kafka.


---


Kafka tidak pulang ke rumah. Cowok itu mengendarai motornya dengan cepat menuju alamat yang dikatakan satpam di kantor papanya. Entah bagaimana dia bisa menemukan alamat tersebut tanpa bertanya siapapun padahal dia tidak terlalu hapal jalanan di kota tersebut.


"Saya akan datang dan meminta pertanggungjawaban anda, atas penderitaan yang dialami orang-orang yang saya sayangi." ucap Kafka dengan mata berkilat-kilat menatap tajam rumah megah di depannya.


Setelah mengatakan itu, Kafka kembali melajukan motornya dengan sangat cepat. Karena jalanan yang dilewatinya cukup sepi, dia tidak perlu memedulikan pengendara lainnya. Dengan kebut-kebutan di jalan, emosi yang menumpuk di dadanya bisa sedikit berkurang.


Di sisi lain. Seseorang yang tinggal di rumah megah tersebut mengetahui kedatangan Kafka karena dia sedang duduk di balkon kamarnya.


"Siapa cowok itu tadi? Kenapa dia menatap rumah ini dengan tatapan seperti itu?" gumamnya.


Sekalipun dia tidak bisa melihat wajah Kafka dengan jelas yang ada di balik helm, tapi dia masih bisa melihat sorot kebencian di mata Kafka karena Kafka menaikkan kaca helmnya.


...***...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2