
Siang hari. Di bawah teriknya matahari Kafka menuntun sepedanya dari sekolahan karena ban sepeda kempes. Entah siapa yang mengusili cowok itu, tapi Kafka hanya membiarkannya. Mungkin karena sepedanya terlihat paling jelek, makanya ada yang iseng seperti itu. Itu yang di pikirkan Kafka.
"Lo bego banget sih! Kalau Lo mau tadi gue bisa cari siapa yang kempesin ban sepeda Lo!" ucap Nathan.
"Hm, bisa gue hajar juga." sahut Hazel.
"Udah biarin aja, lagian cuma kempes. Kan bisa di pompa lagi." jawab Kafka.
"Ya nggak bisa gitu dong! Lihat aja besok bakal gue kempesin semua ban sepeda mereka!" kata Yora dengan emosi.
"Setuju gue! Nanti gue bawain pakunya!" sahut Arzel.
"Hm, biar masuk BK berjamaah." timpal Yohan.
Mendengar kalimat yang baru saja Yohan ucapkan Kafka, Nathan, dan Hazel kompak tertawa ngakak. Memang sih, Yohan mengatakan itu dengan ekspresi yang datar. Tapi karena ekspresi datarnya itulah yang semakin membuat kocak.
Oh iya kenapa mereka bisa pulang bersama? Mereka sepakat menemani Kafka sampai ke rumah agar berniat melindungi Kafka dari Geo dan teman-temannya. Padahal arah rumah mereka berbeda semua. Yang satu arah dengan Kafka hanya Yohan dan Yora karena jalan ke Alpha Apartemen satu arah dengan jalan ke Perumahan Gifari tempat Kafka tinggal. Tapi yang lainnya dengan senang hati ikut mengantar Kafka pulang.
"Kemarin dimana Lo dipukuli?" tanya Nathan.
"Oh? Udah kelewat. Gue di pukuli di perempatan sepi yang tadi." jawab Kafka sambil menunjuk ke belakang.
"Pantas sih, tempat itu tadi sepi banget." sahut Hazel.
"Emang gak ada jalan lain kah?" tanya Arzel.
Kafka diam sejenak untuk berpikir. "Sebenarnya ada dua jalan lain. Yang satu lewat jalan raya. Yang satunya lagi harus memutari jalan perumahan. Jauh." jawab Kafka.
"Yaudah, kalau gitu lewat jalan raya aja. Ketimbang lewat sana. Bikin bulu kuduk merinding." ucap Yora.
Kafka menggelengkan kepalanya. "Gue suka lewat sini." tutur Kafka sambil tersenyum. "Kalau lewat jalan raya gue gak akan lihat sawah-sawah dan perkebunan itu. Dan gue malas kalau papasan sama banyak kendaraan." sambung Kafka.
Setelah sekian lama berjalan, sampailah mereka di sebuah perkebunan. Kafka menghentikan langkahnya ketika sampai disana. Cowok itu menepikan sepedanya dan masuk kedalam kebun. Teman-temannya hanya mengikutinya.
"Ini kebun siapa Kaf?" tanya Arzel.
"Banyak banget buah-buahannya." imbuh Yora.
__ADS_1
"Kebun ibu gue. Ambil aja buah yang kalian mau." ujar Kafka.
"Woah!! Serius nih???" tanya Hazel dengan penuh semangat.
Kafka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Teman-temannya langsung berlarian masuk kedalam kebun dan memetik buah yang segar untuk di nikmati di hari yang panas itu. Buah-buahan di kebun tersebut cukup beragam. Di bagian paling depan terdapat buah belimbing. Kemudian agak kedalam terdapat buah pisang dan pepaya. Ada juga pohon jambu dan pohon mangga. Ada juga buah naga yang merambat di pagar pembatas kebun. Di tengah-tengah kebun terdapat rumah pohon yang biasa digunakan Kafka dan ibunya istirahat setelah berkebun.
Oh iya. Kafka bukan tanpa izin ya mengajak teman-temannya ke kebun. Sebelumnya ibunya selalu bilang, kalau Kafka punya teman-teman yang baik. Kafka boleh mengajak mereka ke kebun untuk makan buah dan bermain di sana.
Setelah puas bermain di kebun, mereka berjalan lagi sampai di depan toko bunga. Yakni rumah Kafka.
"Woah, ibu Lo jualan bunga?" tanya Yora dengan ekspresi gembira.
"Iya, dari gue masih kecil." jawab Kafka.
"Kalau gitu gue mau beli deh buat nyokap gue, dia suka banget sama bunga." ujar Arzel.
Disaat mereka berbincang-bincang di depan toko. Keluarlah wanita paruh baya sambil membawa pot bunga. "Eh? Kafka? Udah pulang nak?" tanya wanita tersebut sambil meletakkan pot bunga tersebut di meja. Ya, wanita itu adalah Anggi. Setelah meletakkan pot bunga Anggi menghampiri Kafka dan teman-temannya.
"Iya Tante." jawab Yora dengan senyum yang sangat manis.
Teman-teman Kafka segera membungkukkan badannya sebentar memberikan hormat kepada ibunya Kafka. Termasuk Yohan yang tadinya fokus bermain handphone, juga ikut membungkukkan badannya.
"Kalian mau langsung pulang? Mau mampir dulu? Sekalian makan siang?" tawar ibunya Kafka.
"Gak pa-pa. Kalau mau ayo." ajak Kafka.
Teman-teman Kafka saling memandang. Lalu mengangguk mengiyakan tawaran tersebut. Mereka masuk ke dalam rumah Kafka dan makan siang bersama di halaman belakang. Teman-teman Kafka sangat menyukai suasana di rumah Kafka. Memang rumah cowok itu agak sempit, tapi karena di tata dengan rapi rumah yang sempit tersebut bisa terlihat longgar dan indah.
"Asli, rumah Lo nyaman banget Kaf." ucap Hazel.
"Benar, kayak di negeri dongeng." sahut Arzel.
"Gak segitunya juga kali!" timpal Hazel sambil menimpuk kepala Arzel.
"Haha, kalian ada-ada aja." ucap Kafka sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Tapi mereka gak bohong loh, rumah Lo indah banget asri lagi." ujar Nathan.
"Yakali toko bunga tandus." sahut Yohan.
"Nah tuh, dengarin." ucap Kafka membenarkan apa yang di ucapkan Yohan barusan.
Setelah makan bersama sebenarnya mereka berniat berpamitan kepada ibu Kafka untuk segera pulang. Tapi ternyata di depan sangat ramai. Tiga karyawan yang di miliki Anggi juga kewalahan menangani banyaknya pelanggan yang datang. Melihat hal ini, mereka tidak enak hati untuk pulang. Pada akhirnya mereka memutuskan membantu ibunya Kafka mengurus pelanggan-pelanggan yang berdatangan.
"Terimakasih ya, anak-anak." ujar Anggi sambil tersenyum.
"Iya Bu.." sahut teman-teman Kafka bersamaan.
"Thanks ya." ucap Kafka.
"Santai! Ucapan terimakasih atas buah sama makan siangnya!" jawab Hazel.
Yang lain langsung menanggapinya dengan mengacungkan jempol mereka masing-masing sebagai tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh Hazel.
Mereka bekerja membantu ibunya Kafka dari sekitar pukul dua siang hingga pukul empat sore. Setelah pelanggan benar-benar habis barulah mereka pulang dengan oleh-oleh bunga dari ibunya Kafka. Sebenarnya tadi, Anggi hendak membayar mereka tapi mereka menolaknya. Sebagai gantinya Anggi memberikan bunga jualannya kepada teman-teman putranya tersebut. Tentunya bukan bunga yang murahan ya.
"Makasih Tante Anggi!" ucap mereka bersamaan. Kemudian mereka segera pulang ke rumahnya masing-masing.
Anggi berbalik dan menghampiri Kafka yang sudah kembali sibuk menata bunga-bunga di meja.
"Teman-teman kamu baik banget." ujar Anggi sambil mengelus lembut kepala putranya.
"Iya kan." sahut Kafka sambil tersenyum ceria.
"Jangan buat mereka sakit hati ya. Nanti kalau ibu pergi mereka yang akan jadi penyemangat kamu." ucap Anggi.
Kafka langsung menghentikan aktivitasnya. Senyumnya seketika luntur. Cowok itu mengalihkan tatapannya kepada ibunya. Tatapan cowok itu penuh tanda tanya.
"Ibu mau pergi kemana? Kenapa dari kemarin bilang gini terus?" tanya Kafka.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1