
Keesokan harinya Kafka datang ke sekolah lebih awal dari pada biasanya. Urusan siram menyiram bunga dia sudah tidak terlalu khawatir karena saat ini sedang musim hujan, jadi dia hanya menyiram bunga yang ada di toko saja.
Ketika sampai di kelasnya, tatapan cowok itu terfokus kepada sebuah paper bag yang ada di atas mejanya. Dilihatnya sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa. Kelasnya masih sepi karena saat itu baru pukul 6 pagi. Karena penasaran, dibukalah isi paper bag tersebut.
"Biskuit?" gumam Kafka. Dilihatnya lagi isi paper bag tersebut. Ternyata ada secarik surat di dalamnya.
"Hai Kafka, dimakan ya. Jangan di buang terus. Nggak ada racunnya kok, ini juga aku buat sendiri. ^_^ " begitulah isi surat tersebut.
"Siapa sih yang ngasih kayak beginian?" tanya Kafka kebingungan.
Ya, sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia mendapatkan makanan atau benda-benda seperti ini. Sudah sejak menginjak kelas 11 dia sering mendapatkan sesuatu seperti ini. Kadang coklat, kadang permen, kadang pensil, kadang gantungan kunci, kadang cake, kadang minuman. Kalau kebetulan kemarin tinta pulpennya habis, besoknya akan ada pulpen di atas mejanya. Seolah si pemberi tahu apa saja yang dibutuhkan dirinya.
Tapi dia tidak pernah menerima semua itu karena tidak tahu siapa yang memberikannya, dan tidak jelas itu untuk dirinya atau bukan. Biasanya dia meletakkan barang-barang tersebut di meja teman-temannya, atau meja guru. Kalau kue, coklat, permen, dan minuman akan dia letakkan di meja teman-temannya. Kalau berupa alat tulis akan dia letakkan di meja guru. Bahkan tidak jarang dia membuang benda-benda yang menurutnya tidak penting.
Untuk kali ini berbeda, jelas tertulis di surat kalau itu untuk dirinya. Maka itu dia akan menerima pemberian itu kali ini. Dibukanya plastik yang pembungkus biskuit, dicobanya biskuit tersebut. Tidak bisa dipungkiri, rasanya memang enak.
"Lumayan sih.." ucap Kafka. Di liriknya Bebe; bungkus biskuit yang masih ada di dalam paper bag. Menurutnya dia harus berbagi dengan sahabat-sahabatnya. Di potretnya biskuit tersebut dan dia kirimkan ke grup chat yang anggotanya adalah sahabat-sahabatnya.
"Woah! Bagi! Gue otw sekarang!" Hazel yang pertama kali membalas.
"Bentar lagi gue berangkat! Jangan habisin sendiri!" sahut Yora.
"Sisain buat gue." kata Azam
"Siap bosku!" balas Kafka.
"@Arzel Lo baik-baik aja kan?" tanya Nathan tiba-tiba.
"@Nathan kalem, gue sehat jasmani rohani kok." balas Arzel disusul emoji tertawa.
Hati Kafka sedikit tenang ketika melihat balasan dari Arzel. Sebenarnya alasannya datang ke sekolah lebih awal tadi karena dia tidak bisa tidur semalaman. Pikiran dan hatinya dipenuhi rasa khawatir kepada Arzel, ditambah dengan papanya yang sudah mau pulang ke negara ini.
__ADS_1
"@Yohan Patung Lo gak ditelan bumi kan?" tanya Kafka karena Yohan sejak tadi membaca pesan mereka tapi sama sekali tidak merespon.
"g" balas Yohan dengan super singkat.
"Kayaknya bagi orang yang tergolong spesies Yohan huruf vokal tuh gak berlaku.(emoji tertawa)" tulis Yora menanggapi balasan Yohan yang hanya menggunakan satu buah huruf.
Kafka hanya tertawa membaca chatting sahabat-sahabatnya tersebut. Karena chat sudah mulai sepi, dia memilih menyimpan biskuit tersebut di bawah lacinya dan pergi ke perpustakaan karena bosan di kelas sendirian. Memang anak kelas XI MIPA 2 bandel-bandel sih, padahal sudah 30 menit Kafka habiskan untuk chatting dengan teman-temannya. Artinya sekarang sudah pukul setengah tujuh, tapi belum ada satupun anak di kelasnya yang sudah datang selain dirinya.
"Terlalu tertib gue." batin Kafka.
*
Di perpustakaan sekolah yang cukup besar, Kafka memilih berkeliling terlebih dahulu karena bingung ingin membaca buku apa. Setelah beberapa saat berkeliling, dia menemukan buku yang menarik perhatiannya. Buku itu berjudul 'Love Trap' di ambilnya buku tersebut. Sampul buku tersebut terlihat mewah karena di dominasi warna emas. Dan hal yang membuatnya tertarik adalah, buku tersebut ada di barisan novel dengan genre musik.
"Baru tahu gue ada buku kayak gini di perpustakaan. Buku baru kah?" gumam Kafka bertanya-tanya.
Kafka membawa buku tersebut ke tempat duduk favoritnya di perpustakaan tersebut. Tempat duduk favoritnya ada di dekat jendela, dan tertutup rak-rak buku. Tempat tersebut menurutnya sangat nyaman, terlebih suara air mancur di taman yang ada tepat di depan jendela menjadikan dirinya tenang.
Prok Prok Prok...
Setelah Kafka selesai menyanyikan lagu tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang bertepuk tangan.
"Woah, suara kamu bagus banget." puji seorang gadis yang tanpa sengaja mendengar Kafka menyanyi.
Kafka mengangguk kecil. "Terimakasih." ucap Kafka.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Kafka. "Boleh aku duduk disini?" tanya gadis tersebut.
"Tempat umum, siapapun boleh duduk disini." jawab Kafka.
Berbeda ketika dia dengan teman-temannya. Dia tidak menunjukkan senyumnya saat berbicara dengan gadis di depannya ini. Sekalipun begitu dia tetap berusaha untuk bersikap ramah
__ADS_1
"Namaku Natasha. Salam kenal ya." ucap gadis tersebut.
Kafka hanya mengangguk.
"Ngomong-ngomong, gimana biskuitnya? Enak nggak?" tanya gadis yang diketahui bernama Natasha tersebut.
Kafka langsung menatap gadis di depannya tersebut. "Kau yang memberi semua itu?" tanya Kafka.
Natasha menangguk. Gadis itu berkat jujur kepada Kafka. Bahwa dirinyalah yang selama ini memberikan makanan, minuman, dan barang-barang kepada Kafka. Dan dia juga tahu bahwa Kafka tidak pernah menerima pemberiannya tersebut.
Kafka meneliti wajah gadis di depannya ini. Sangat asing, dan sepertinya dia sama sekali belum pernah melihat gadis ini. Dan lagi, bet kelasnya bukan kelas 11 melainkan kelas 12. "Kau murid baru? Sepertinya aku nggak melihatmu saat MPLS?" tanya Kafka.
Oh iya, Kafka menggunakan kata 'aku' karena menyesuaikan lawan bicaranya ya. Karena Natasha menggunakan kata 'aku' bukannya 'gue' jadi Kafka juga menggunakan kata 'aku'.
"Iya, aku murid baru. Aku baru pindah ke sekolah ini saat naik kelas 12." jawab gadis bernama Natasha tersebut dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.
"Terima kasih atas semua barang-barang yang kau berikan, dan maaf kalau aku gak menerima sebagian besar barang-barang tersebut. Tapi kenapa kau memberikan semua itu padaku?" Kafka berterima kasih sekaligus bertanya kepada Natasha.
"Karena aku menyukaimu." jawab gadis itu.
Seketika tubuh Kafka membeku. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan gadis di depannya ini. Seseorang dengan wajah yang pas-pasan sepertinya ada yang suka? Sangat mustahil menurutnya. Apalagi, dengan keadaan keluarganya yang berantakan menurutnya dia tidak pantas disukai.
"Aku sering melihatmu tersenyum dan tertawa bersama teman-temanmu. Tapi senyum yang kamu tunjukkan berbeda dengan keadaan di hatimu." ucap Natasha yang membuat Kafka terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Kafka sambil mengerutkan keningnya.
Gadis itu hanya tersenyum, kemudian pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun. Hal itu membuat Kafka sedikit penasaran, apa yang diketahui gadis itu tentang dirinya sehingga bisa mengatakan hal yang hampir sesuai dengan keadaannya?
...***...
...Bersambung......
__ADS_1