Cherophobia

Cherophobia
Tidak Pantas Bahagia


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Berkat kesabaran Natasha, dia semakin dekat dengan Kafka. Kafka juga tidak terlalu cuek dengan kakak kelasnya itu, dia sudah menganggap kakak kelasnya tersebut sebagai teman, emm ralat. Itu di mulutnya. Dihatinya lain lagi.


"Beberapa bulan lagi kau akan lulus bukan?" tanya Kafka.


"Ehm, iya? Kenapa?" tanya Natasha.


"Nggak, cuma tanya." jawab Kafka singkat. Tapi di dalam hatinya ada rasa tidak rela. Mungkin dia memang terlihat tidak melihat Natasha sebagai wanita. Tapi jauh di dalam hatinya dia menyimpan perasaan kepada gadis itu.


"Ciee, nggak rela nih kayaknya kalo ditinggal?" ledek Arzel.


"Mata Lo!" sahut Kafka dengan sewot.


"Hazel, tapi benar loh Kaf. Jangan sok-sokan gengsi. Ntar ujungnya kayak gue." ucap Hazel.


"Ho'oh, katanya ogah ujungnya pacaran." celetuk Yora disusul tawanya.


Yap, Arzel dan juga Hazel sudah pacaran sejak satu bulan yang lalu. Tepatnya ketika Arzel hendak melakukan self harm lagi di gudang sekolah dan kebetulan Hazel melihatnya, saat itu juga hatinya benar-benar luluh.


"Pasangan unik sih kalian." ucap Natasha.


"He'em, ceweknya berotot cowoknya lembek." sahut Azam disusul tawanya.


"Heh! Enggak ya!" cetus Arzel membantah.


Nathan menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan teman-temannya tersebut. Cowok itu menatap Kafka yang sedang menertawakan tingkah teman-teman mereka. Sejujurnya dia tidak ingin menanyakan ini karena pasti merusak suasana. Tapi dia harus menanyakannya. Dia merasa harus menanyakannya karena masalah ini harus cepat selesai. Dia takut lama-lama mental Kafka yang terkena dampaknya.


"Lo nggak ada niatan ketemu papa Lo lagi Kaf?" tanya Nathan.


Kafka terdiam. Dia belum memikirkan untuk bertemu papanya lagi sejak hari itu. Semenjak mendengar apa yang diucapkan papanya yakni pria itu tidak mau mengakui dirinya sebagai anaknya, selama beberapa bulan ini Kafka tidak menemui papanya. Bukan karena marah, dia masih berpikir positif mungkin papanya kaget karena kemunculannya yang secara tiba-tiba.


"Gak, pa-pa. Temui saja. Mungkin sekarang dia sudah berubah pikiran. Atau mau aku temani?" tawar Natasha.


Kafka menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, nanti aku kesana dengan Yohan." jawab Kafka sambil menatap Yohan.


Teman-temannya yang lain mengangguk mengerti. Mereka juga tidak memiliki rasa iri soal Kafka yang lebih percaya kepada Yohan daripada mereka. Karena, mereka tahu Yohan adalah orang yang paling dekat dengan Kafka. Sekalipun interaksi mereka agak kaku, tapi terlihat jika keduanya sudah seperti saudara.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Yohan.


"Sore ini? Mungkin?" tanya Kafka lagi.


"Ok."


*


Setelah pulang sekolah, Yohan ikut pulang ke rumah Kafka. Lagipula setelah makan mereka akan langsung pergi. Tapi, sebelum sampai di rumah Kafka. Mereka berhenti di sebuah perempatan. Kafka menatap rumah gadis kecil yang sempat menjadi temannya.


"Kira-kira dia dimana ya sekarang?" gumam Kafka.


Yohan hanya diam dan tidak menjawab.


"Asli, gue kangen sama dia." ucap Kafka dengan mata penuh kerinduan menatap rumah di depannya.


Kaila Anastasia Putri. Gadis kecil yang memiliki sifat ceria itu sekarang sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Tahun lalu, dia bersama keluarganya pindah entah kemana. Kaila hanya mengatakan kepada Kafka dia akan pindah. Hari itu sungguh membuat Kafka sedih, karena Kaila pergi tepat setelah satu bulan Anggi meninggal.


"Ayo pergi. Lo lihatin seabad dia juga nggak akan datang." celetuk Yohan.


"Sialan Lo." desis Kafka.


Oh iya, toko bunga sekarang sudah tidak dijalankan lagi. Tapi Kafka masih merawat bunga-bunga tersebut dengan baik. Tidak ada bunga yang layu sama sekali.


Selesai makan, mereka langsung mengambil motornya dan pergi ke rumah El Hasan Anzalion. Papa dari Kafka. Mereka menempuh perjalan kira-kira selama 1 jam. Karena jaraknya lumayan jauh jika dari rumah Kafka.


Sesampainya disana kebetulan sekali El sudah ada di rumah. Tadinya dia dilarang masuk oleh satpam. Tapi datanglah istri dari papanya yang baru saja pergi belanja, memperbolehkan dia masuk.


"Nama kalian siapa?" tanya wanita itu.


"Saya Kafka, dan dia Yohan. Teman saya Bu.." jawab Kafka.


"Panggil Tante saja. Ngomong-ngomong ada urusan apa kalian mencari suami saya?" tanya wanita itu lagi.


"Siapa Hara?" tanya seorang laki-laki yang baru saja turun dari lantai dua. Ya, itu adalah El Hasan Anzalion.

__ADS_1


"Papa." panggil Kafka.


Hara yang merupakan istri dari El langsung memelototkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan anak laki-laki di depannya ini.


"Lancang sekali kau!" bentak El.


"Dia tidak lancang. Dia memang putramu." jawab Yohan dengan nada dingin.


"Ikut saya!" bentak El sambil menarik tangan Kafka masuk ke ruang kerjanya.


Kini tersisa Hara dan Yohan di ruang tamu. Yohan menatap wanita yang terduduk lemas karena terkejut. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Tolong, katakan apa maksud temanmu tadi memanggil suami Tante dengan sebutan 'papa'?" tanya Hara dengan suara bergetar.


"Dia anak kandung suami anda. Putranya dengan Bu Vadya Kaveline." jawab Yohan seadanya.


Mendengar jawaban Yohan, air mata Hara yang sejak tadi ditahan mati-matian akhirnya jatuh juga. Dia tidak menyangka suaminya yang selama ini selalu bersikap manis kepadanya bisa bermain segila ini dibelakangnya. Bahkan sampai memiliki putra.


"Tolong katakan itu tidak benar... dia tidak mungkin kan selingkuh?" tanya Hara lagi.


"Entah anda selingkuhannya atau ibu teman saya selingkuhannya. Tanya kepada suami anda." jawab Yohan dengan cuek.


Sedangkan Kafka di dalam ruang kerja El.


Plak! Papanya melemparkan sekoper uang ke depannya.


"Ambil itu! Dan jangan pernah usik keluarga saya!"


"Saya tidak ada niatan mengusik keluarga papa. Saya cuma minta papa beritahu dimana makam mama." ucap Kafka.


"Di jalan Kuningan! Perumahan Xx! Pergi!" bentak El.


Setelah itu Kafka keluar dari ruang kerja papanya tanpa membawa uang yang di lemparkan papanya tadi dan segera mengajak Yohan pergi dari rumah tersebut. Kafka sedikit terluka dengan perlakuan papanya dia merasa terhina dengan dilempar uang seperti itu tadi, padahal dia tidak meminta uang sama sekali. Tapi dibandingkan dengan itu. Hatinya lebih terluka lagi melihat foto keluarga yang terpasang di dinding ruang kerja papanya. Dengan melihat foto tersebut dia semakin merasa tidak pantas untuk bahagia. Dia merasa tidak layak untuk bahagia, ketika dia hampir merasakan kebahagiaan lagi-lagi dia dihancurkan oleh fakta yang tidak bisa dia tolak.


"Memang pilihan tidak bahagia udah tepat." ucap Kafka di dalam hatinya sambil tersenyum getir.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2