Cherophobia

Cherophobia
Mau Belajar Beladiri?


__ADS_3

Keesokan harinya Kafka bangun cukup pagi karena berniat mampir ke rumah Kaila untuk berterima kasih. Ya, Kafka tidak akan pernah mengingkari apa yang telah dia ucapkan. Jika kemarin bilang akan ke rumah Kaila, maka pasti akan datang.


Cowok itu mengayuh sepedanya melewati sawah dan perkebunan. Ya, Perumahan Gifari memang memiliki suasana layaknya di desa. Ada beberapa petak lahan yang disediakan untuk penduduk perumahan bertani atau berkebun. Perumahan tersebut di peruntukan bagi masyarakat kelas menengah kebawah.


Setelah sekian lama mengayuh sepedanya, akhirnya Kafka sampai di perempatan. Tepatnya di depan rumah Kaila. Gadis kecil itu terlihat bermain di depan kolam ikan dengan menggunakan seragam sekolah. Sepertinya dia akan segera berangkat ke sekolah.


"Kaila!!" panggil Kafka.


Mendengar suara yang dikenalnya, gadis itu menoleh. Ketika melihat siapa yang datang Kaila langsung berlari ke arah Kafka.


"Kak Kaka!" sapa Kaila.


"Kafka cantik." ucap Kafka membenarkan sambil mencubit pelan hidung Kaila.


"Hehe, lupa nama kakak. Itu wajah kakak kenapa di plaster dan memar-memar begitu?" tanya Kaila sambil menunjuk wajah Kafka.


Cowok itu langsung meraba keningnya. Dan benar saja terdapat plaster disana. Sudut bibirnya masih terasa sakit jika dipegang. Karena tidak ingin Kaila khawatir, Kafka menggeleng sambil tersenyum manis walaupun sudut bibirnya sakit ketika terangkat. "Gak pa-pa. Kemarin kakak jatuh dari sepeda." ucap Kafka sambil mengelus kepala Kaila.


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Oh iya, Tante Anggi udah kasih permennya ke kakak belum?" tanya Kaila


"Udah dong! Makasih ya! Permennya manis, kayak senyum kamu." jawab Kafka sambil tertawa kecil.


"Ihh gombal, kakak calon buaya!" celetuk Kaila.


Kafka langsung tertawa renyah mendengar apa yang diucapkan Kaila. "Hey! Kamu kelas berapa kok udah tahu kata buaya?" tanya Kafka.


"Kaila? Kaila kelas 4! Tahu dong! Kaila sering temani mama nonton sinetron." jawab Kaila dengan wajah polosnya.


Kafka tersenyum kecil. Tangannya terangkat mengacak pelan rambut Kaila. "Yaudah, kalau udah gede jauh-jauh dari buaya oke! Nanti kamu bisa dimakan!" ucap Kafka menasihati.


"Jadi Kaila harus jauh-jauh dari Kak Kafka?" tanya Kaila.


"Ehh! Enggak! Kakak bukan buaya! Kakak manusia!" ujar Kafka kelabakan.

__ADS_1


Benar-benar. Susah sih memang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil yang setengah tahu setengah polos. Kadang seolah dia tahu banyak, tapi ketika diberi penjelasan lebih lanjut tiba-tiba muncul sisi polosnya.


"Kaila! Ayo sarapan!" teriak mama Kaila nya dari dalam rumah.


Mendengar teriakkan dari mamanya Kaila. Kafka segera merogoh sakunya dan memberikan sebuah permen lollipop kepada Kaila. "Nih, buat Kaila. Dimakan nanti kalau sudah sarapan oke?"


"Oke kak! Makasih ya!" ucap gadis kecil itu lalu segera berlari masuk kedalam rumah.


Kafka tersenyum kecil melihat Kaila yang berlari kecil masuk kedalam rumah. Yap, Kafka memang menyukai anak kecil. Tapi diantara anak kecil yang pernah ditemuinya Kaila merupakan yang paling unik baginya. Mengapa begitu? Ya, yang mudah saja. Mana ada anak kelas 4 SD sudah tahu istilah gombal dan buaya. Apalagi tahunya dari sinetron.


"Gadis unik." gumam Kafka. Lalu cowok itu segera menaiki sepedanya lagi menuju sekolahnya.


Kafka sampai di sekolah sekitar pukul tujuh. Beruntung di Ivarnest High School gerbang di tutup pukul setengah delapan, tidak seperti di SMP-nya dahulu yang jam tujuh gerbang sudah di tutup. Ketika Kafka baru saja memarkirkan sepedanya. Teman-temannya langsung menghampiri dirinya.


"Njir! Muka Lo kenapa?!" tanya Arzel.


"Lo habis berantem sama siapa?" tanya Nathan.


Kafka menggelengkan kepalanya. "Gak, cuma jatuh dari sepeda." jawab Kafka.


Kafka menghela napasnya. Andaikan membohongi mereka semudah membohongi Kaila tadi. "Sama rival gue pas SMP." jawab Kafka akhirnya jujur.


"Kenapa bisa babak belur? Lo gak ngelawan?" tanya Hazel. Cewek itu berbicara sambil mengunyah camilannya.


Kafka menggelengkan kepalanya. "Gue gak bisa bela diri." jawab Kafka sambil tersenyum. "Udahlah, gak usah dipikirin. Lagian sekarang gue gak pa-pa kok." ucap Kafka menenangkan teman-temannya. Karena terlihat jelas mereka semua sudah emosi.


"Gak bisa gitu dong! Seenaknya aja mukulin orang gara-gara saingan!" cetus Arzel sambil menggulung lengan bajunya.


"Gak usah sok berani, ketemu preman aja Lo kabur." celetuk Nathan sambil menoyor kening Arzel.


"Njir, minimal skill satu dulu." sahut Yora sambil tertawa.


"Tahu! Jadi orang kok demen banget ngeroasting anak imut kayak gue." ucap Arzel dengan ekspresi wajah super alay.

__ADS_1


"Sumpah, gue pengen muntah." kata Hazel.


"Udah-udah. Ayo ke lapangan. Sebentar lagi acaranya mulai." ajak Nathan.


Mereka dengan semangat berlari-lari kecil ke arah lapangan. Berbeda dengan Kafka dan Yohan yang memilih berjalan. Untuk Yohan memang sudah dari sananya sifatnya kaku, gak mungkin dia mau lari-lari begitu. Sedangkan Kafka, sungguh rasanya dia ingin ikut berlari dengan teman-temannya. Tapi kakinya yang memar masih ngilu untuk berlari.


"Hish.. Geo sialan.." gumam Kafka.


Yohan langsung menghentikan langkahnya. Begitu pula dengan Kafka. Cowok itu ikut berhenti ketika Yohan berhenti berjalan.


"Ada apa?" tanya Kafka.


"Mau belajar bela diri?" tanya Yohan.


Kafka diam sebentar. Dia bingung akan menjawab apa. Sejujurnya dia ingin belajar bela diri sejak lama. Karena dia memang membutuhkan ilmu bela diri untuk melindungi dirinya dari orang-orang yang dahulu merundungnya terutama Geo Sanjaya. Tapi dia takut tidak bisa mengendalikan emosi ketika sudah bisa bela diri. Maksudnya ketika dia sudah berbekal ilmu bela diri, kemudian dia tidak bisa mengendalikan emosi lalu menyerang orang yang membuatnya marah. Itulah yang Kafka takutkan.


"Gak mau?" tanya Yohan lagi.


"Gue takut gak bisa ngendaliin diri gue sendiri." jawab Kafka sambil menatap Yohan.


Yohan diam menatap mata Kafka dalam-dalam. Sekali lihat saja dia bisa mengetahui bahwa cowok di depannya ini memiliki banyak masalah selama ini dari sorot matanya. Tapi diantara itu terselip ketulusan dan kejujuran juga di matanya.


"Gue bantu." ujar Yohan.


"Tapi..." Kafka masih terlihat ragu.


Dari sini Yohan bisa mengetahui sebaik apa hati Kafka. Bahkan kepada orang yang menyakitinya sekalipun dia tidak ingin membalasnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Kafka, Yohan menggerakkan tangannya meraih handphone yang di pegang Kafka. Kemudian dia memasukkan nomornya ke dalam handphone Kafka.


"Pikirin." ucap Yohan sambil mengembalikan handphone Kafka. Lalu cowok itu berjalan lebih dulu meninggalkan Kafka yang masih termenung.


"Haruskah?" gumam Kafka sambil menatap nomor yang diberikan Yohan tadi.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2