Cherophobia

Cherophobia
Persiapan Ulang Tahun Kafka


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit Yohan langsung bergegas pergi ke apartemen Yora. Dimana semua teman-temannya berkumpul. Sebenarnya dia berniat memberitahukan keadaan ibunya Kafka kepada teman-temannya yang lain.


Tapi dia ingat ketika Kafka menangis tadi. Kafka terlihat tidak ingin teman-temannya melihat dirinya menangis. Artinya Kafka memiliki sifat yang tertutup sama seperti dirinya. Akhirnya Yohan mengurungkan niatnya untuk mengatakan keadaan Anggi kepada teman-temannya.


Ceklek.


Yohan masuk ke dalam apartemen Yora. Disana teman-temannya sudah mempersiapkan alat-alat untuk ulang tahun Kafka. Ada balon, pita, dan pernak-pernik lainnya.


"Kemana aja Lo?" tanya Yora dengan sinis.


Yohan tidak menjawab pertanyaan Yora. Cowok itu duduk dan ikut membantu merangkai pernak-pernik yang akan digunakan untuk merayakan ulang tahun Kafka di sekolah besok.


"Ditanya dari kemana juga!" cetus Yora kesal. Cewek itu melemparkan bantal sofa tepat mengenai kepala Yohan.


"Rumah Sakit." jawab Yohan singkat.


Seketika semua teman-temannya menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah Yohan dengan sorot mata khawatir. Mereka mengira jika Yohan yang sakit.


"Lo sekarat?" celetuk Arzel yang langsung mendapat timpukan dari Yohan.


"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Azam.


Yohan diam saja. Dia terlalu malas untuk menjelaskan kepada mereka semua. Yang pastinya mereka tidak akan paham dengan sekali dijelaskan dan akan banyak bertanya.


"Yang semalam kah?" tanya Yora yang teringat Yohan mengobrak-abrik laci di kamar Anya untuk mencari data-data pasien tiga bulan yang lalu.


Yohan mengangguk kecil. Lalu segera pergi ke dapur karena malas di tanya-tanya.


"Kenapa emangnya?" tanya Hazel.


"Oh, itu semalam dia cari data pasien nyokapnya.." jawab Yora.


"Buat apaan?" tanya Arzel.


Yora menggedikkan bahunya."Dia nggak mau bilang." jawab Yora.

__ADS_1


"Dia dari dulu memang dingin gitu kah?" tanya Nathan sambil melihat Yohan yang membuat minuman di dapur.


Yora menganggukkan kepalanya. Cewek itu menatap sepupunya yang ada di dapur. Ingatannya terlempar ke masa kecilnya. Yora menceritakan bagaimana Yohan ketika masih balita.


Tidak seperti dugaan mereka. Mereka berpikir Yohan menjadi dingin karena suatu hal. Nyatanya tidak, Yohan memang sudah memiliki sifat dingin sejak masih balita. Yora menceritakan ketika Yohan berusia empat tahun, dimana teman-teman sebayanya bermain berlari dan tertawa Yohan memilih duduk bermain Lego. Ketika berbuat salah, Yohan agak canggung untuk mengucapkan kata maaf. Tapi ujung-ujungnya dia tetap meminta maaf. Yohan tidak pernah meminta bantuan, dia selalu melakukan semuanya sendiri sebisanya. Orang-orang yang berinisiatif untuk membantunya. Cowok itu sangat jarang tersenyum, bahkan Yora sendiri yang merupakan sepupunya yang tinggal berdekatan dari masih bayi hampir tidak pernah melihat Yohan tersenyum.


"Gue kira dia dingin gitu pas SMP doang." ucap Azam sambil melongo.


"Jadi emang dari kecil udah gitu?" tanya Hazel.


Yora menangguk mengiyakan.


Disisi lain Kafka sudah sampai di rumah. Cowok itu duduk di belakang rumah bersama ibunya setelah di obati. Kafka sudah menceritakan tentang sepedanya yang dirusak oleh Geo. Anggi sangat marah, wanita itu berniat mendatangi rumah Geo tapi lagi-lagi Kafka melarangnya.


"Ga usah Bu, Kafka ga pa-pa." ucap Kafka.


"Tapi kalau begini terus lama-lama..." Anggi tidak melanjutkan kalimatnya ketika merasakan dadanya sebelah kiri terasa sakit. Tapi wanita itu berusaha menahan rasa sakitnya agar putranya tidak curiga.


"Bu? Kok diam?" tanya Kafka.


Kafka hanya memperhatikan ibunya dari belakang. Tubuh wanita yang sudah ringkih tersebut terlihat semakin kurus. Wajah ibunya tadi juga terlihat pucat. Tangan Anggi terasa dingin saat menyentuh kulit wajahnya tadi.


"Semoga ibu baik-baik saja..." gumam Kafka.


Di tengah lamunannya tiba-tiba handphone Kafka berdering. Kafka segera mengangkatnya dengan senyum yang cerah ketika melihat nama kontak yang tertera. Tante Olivia.


"Halo Tante.." sapa Kafka.


"Kak Kafka! Ini aku Kaila!" ucap seorang gadis kecil di balik telepon.


"Ah, Kaila. Gimana sekolahnya tadi?" tanya Kafka.


"Seru dong kak! Kakak sudah pulang sekolah kan? Hati-hati ya kalau bawa sepeda jangan sampai jatuh lagi." ujar Kaila.


"Iya cantik. Kakak bakal selalu ingat nasihat Kaila." jawab Kafka.

__ADS_1


"Kak, kakak sibuk nggak? Mau temani Kaila nggak? Kaila sendiri di rumah. Mama sama papa katanya ada urusan mendadak." kata Kaila dengan nada sedih.


"Emang bibi nggak ada?" tanya Kafka. Karena seingatnya Kaila mempunyai baby sitter.


"Enggak, kak. Bibi lagi pulang kampung. Anaknya sakit." jawab Kaila.


"Yaudah, tunggu kakak ya. Kakak kesana sekarang." ucap Kafka.


Sedangkan Anggi di dalam kamarnya mencengkeram dadanya sebelah kiri dengan kuat berharap rasa sakitnya berkurang. Tapi tetap saja tidak berhasil. Wanita itu duduk di ranjangnya dan mengatur napasnya. Setelah beberapa menit rasa sakit di dadanya berangsur menghilang.


"Tahan Anggi. Setidaknya sampai Kafka bertambah umur." batin Anggi.


Wanita itu mengambil uang tabungannya yang ada di bawah bantalnya. Setelah di hitung jumlah uang tersebut kurang lebih ada 3 juta. Anggi berniat membelikan Kafka handphone layar sentuh, karena selama ini handphone yang di pakai Kafka adalah handphone jadul.


Tok tok tok.


"Bu, Kafka mau ke rumah Kaila." ucap Kafka berpamitan.


"Iya, hati-hati di jalan." sahut Anggi.


Setelah berpamitan dengan ibunya. Kafka segera berjalan keluar rumah menuju rumah Kaila. Masih ingat kan? Rumah Kaila itu berada di perempatan yang letaknya tidak jauh dari rumah Kafka. Jadi tidak membutuhkan waktu lama walaupun berjalan kaki.


Ting tong. Ting tong. Kafka baru membunyikan bel dua kali Kaila sudah membukakan pintu untuknya. Kafka segera jongkok mensejajarkan tingginya dengan Kaila.


"Kak Kafka!!" Kaila langsung memeluk Kafka.


Setelah Kaila melepaskan pelukannya, Kafka menunjukkan sebuah kantung plastik hitam yang dibawanya. Kantung plastik itu terlihat berembun di luar. Kaila membuka apa isi kantung plastik yang di bawa Kafka tersebut. Ketika melihat es krim, gadis kecil itu langsung melompat-lompat kegirangan.


"Makasih kakak!!" ucap Kaila.


"Sama-sama" jawab Kafka sambil tersenyum.


"Ayo kak masuk. Makan es krim bareng, habis itu temani Kaila main sama Kitty." ajak Kaila sambil menarik tangan Kafka masuk ke dalam rumah.


...***...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2