Cherophobia

Cherophobia
Kuliah [END]


__ADS_3

Tiga hari setelah Hara meminta Kafka untuk tinggal bersama, tiba-tiba datanglah seseorang ke rumah Kafka.


"Kak.." panggil orang tersebut.


Kafka mengerutkan keningnya, dia merasa mengapa cowok di depannya ini memanggil dirinya dengan sebutan kakak. Tapi ada satu yang terlintas di kepalanya.


"Mungkinkah dia adiknya Natasha?" batin Kafka.


"Lo siapa?" tanya Kafka.


"Aku Zelio. Seharusnya kakak sudah mengenal ku." ucap Zelio.


Kafka diam sebentar. Ternyata benar dugaannya. Cowok di depannya ini adalah adik tirinya. Sekali lihat Kafka sudah bisa menilai bahwa sikap adik tirinya ini sombong dan arogan, tapi memiliki sisi yang manja. Ya, walaupun begitu setidaknya masih ada kesopanan dengan dia yang memanggil Kafka dengan sebutan Kakak.


"Hm, ada apa?" tanya Kafka.


"Aku mohon, kakak mau tinggal di rumah kami." pinta Zelio dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Ketika Kafka hendak menolak, Zelio mengatakan sesuatu yang langsung membuat Kafka bimbang.


"Aku mohon kak, aku sempat dengar kalau kakak nggak tinggal di rumah kami mama dan papa benar-benar akan bercerai. Bahkan mama sudah menyiapkan tiket untuk pergi ke luar negeri setelah bercerai. Dan papa, dia tidak terlalu peduli denganku. Aku mohon kakak tinggallah di rumah kami." ucap Zelio.


Kafka terdiam. sungguh rasanya dia ingin langsung menolak permintaan adik tirinya ini. Tapi ada rasa tidak tega di hatinya. Terlebih dia masih ingat bagaimana Yora yang menangis hebat ketika kedua orang tuanya bercerai dan sampai sekarang Yora selalu bilang sedih karena orang tuanya seperti tidak memedulikannya. Kalau tidak ada Anya mungkin keadaan Yora bisa lebih buruk. Ditambah dia tahu rasanya hidup dengan keluarga yang tidak lengkap. Itu sangat menyakitkan.


"Bagaimana jadinya kalau gue tinggal satu atap dengan Natasha? Apa gue bisa ngendaliin perasaan gue?" batin Kafka.


"Kakak mau kan?" tanya Zelio lagi.


Setelah penuh pertimbangan. Akhirnya Kafka mengiyakan permintaan Zelio karena tidak tega. Hari itu juga Zelio langsung mengajak Kafka ke rumahnya tanpa berkemas, karena dia baru saja mendapatkan pesan dari kakaknya Natasha bahwa orang tuanya bertengkar lagi.


"Baik kalau itu maumu! Aku tala--"


"Papa!!" sebelum papanya mengucapkan kata talak kepada makanya. Zelio masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan Kafka.


"Stop! Kak Kafka sudah disini! Dia mau tinggal disini! Jangan bercerai." ucap Zelio dengan mata yang sudah memerah.


Disaat Zelio, El, dan Hara saling adu argumen. Tatapannya terfokus menatap seorang gadis di lantai atas yang juga menatap dirinya. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Begitu juga dengan Kafka, sekalipun mata Kafka tidak berkaca-kaca tetapi mata Kafka sudah memerah.


"Jadi ini alasanmu menjauhiku?" gumam Natasha bersamaan dengan air matanya yang mulai jatuh.


"Maaf..." ucap Kafka di dalam batinnya.


*


Waktu telah berlalu. Saat ini Kafka sedang mempersiapkan ujian kelulusan. Selama Kafka tinggal di rumah itu, Hara menyayangi Kafka layaknya anak kandungnya sendiri. Sedangkan El sudah mulai menerima Kafka sebagai anaknya. Zelio juga cukup akrab dengannya. Hanya satu yang kurang.


Hubungannya dengan Natasha sangatlah canggung. Ketika makan bersama, berpapasan di rumah, di sekolah ataupun tempat lain. Mereka tidak saling sapa. Karena Kafka selalu menghindar. Selama ada di dalam rumah, Kafka selalu mengurung diri di kamar dengan alasan belajar agar tidak bertemu Natasha. Jika hari Minggu dia akan keluar rumah dari pagi hingga sore dengan tujuan yang sama, yaitu menghindari Natasha.


Hari ini adalah hari Minggu. Seperti biasanya Kafka sudah siap dengan kaos putih polos, celana jeans hitam, dan jaket kulit sambil menenteng tas berisikan buku-bukunya. Hari ini dia berniat belajar di apartemen Yohan untuk persiapan ujian kelulusan yang akan dilaksanakan besok hari Senin.


"Mau kemana lagi?" tanya Natasha tiba-tiba.


"Bukan urusanmu." sahut Kafka tanpa melihat wajah Natasha.


"Aku tahu kau selalu menghindariku. Jangan membuat hubungan kita jadi canggung begini." ucap Natasha.


"Aku tidak menghindarimu. Setiap hari kita makan bersama dan berangkat sekolah bersama. Kau pikir aku menghindarimu?" tanya Kafka.


Natasha mengepalkan tangannya erat-erat. "Aku masih menyukaimu Kaf." ujar Natasha.


Mendengar hal itu Kafka langsung membalikkan badannya menatap Natasha. Gadis itu sudah menangis sekarang.

__ADS_1


"Nggak, itu salah. Berhenti menyukaiku. Aku adikmu!"


"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa suka itu dengan mudah. Setiap hari aku melihatmu, rasa suka itu semakin besar." ucap Natasha.


"Gila." desis Kafka.


Setelah itu tanpa menghiraukan Natasha yang masih menangis, dia langsung mengendarai motornya dan pergi dari rumah itu. Dia mengemudikan motornya dengan sangat cepat untuk melampiaskan emosinya. Hingga tanpa sadar dia sudah sampai di apartemen Yohan.


BRAK!


Kafka yang menutup pintu dengan keras membuat Yohan yang sedang belajar terkejut.


"Kenapa Lo?" tanya Yohan yang menyadari bahwa Kafka sedang tidak baik-baik saja.


Kafka tidak menjawab, cowok itu langsung duduk dan membuka bukunya. Dia terlihat serius mempelajari buku tersebut. Tapi sesaat kemudian cowok itu menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"Natasha lagi?"


"Dia masih suka sama gue." jawab Kafka.


Yohan menghela napasnya. Tidak heran sih, ketika dua orang yang saling suka sering bertemu perasaan mereka akan sulit untuk dihilangkan.


Ditengah-tengah keheningan, mata Kafka melirik sebuah formulir yang tergeletak di bawah meja. Di ambilnya formulir tersebut.


"Ini...." Kafka langsung menatap Yohan setelah melihat formulir tersebut.


"Hm, gue bakal kuliah di Jerman." jawab Yohan.


Kafka diam, dibacanya lagi formulir pendaftaran tersebut. Terlihat pembayarannya yang cukup mahal. Sekalipun dia anak orang kaya, tapi dia tidak mau meminta uang kepada orang tuanya. Setelah berpikir, dia ingat dengan semua piagam lomba menyanyi yang dia miliki, piagam lomba cerdas cermat dan beberapa olimpiade yang dia dapatkan selama sekolah di Ivarnest High School.


"Gue bisa ikut?" tanya Kafka.


"Bentar." ucap Yohan. Cowok itu masuk ke dalam dan mengambilkan sebuah formulir yang harus di isi oleh Kafka.


"Gue bisa bahasa Jerman, les privat sama gue." ucap Yohan.


Kafka tersenyum senang. Setelah itu tanpa ragu dia mengisi formulir pendaftaran tersebut. Tapi dengan jalur yang berbeda. Kafka masuk melalui jalur beasiswa. Setelah selesai mengisi formulir mereka fokus belajar.


*


Setelah satu minggu melaksanakan ujian. Akhirnya Kafka dinyatakan lulus dengan nilai terbaik dari seluruh siswa seangkatannya.


"Selamat." ucap Natasha memberi selamat.


Kafka hanya mengangguk. Sesaat kemudian datanglah papa dan mama tirinya beserta Zelio. Zelio langsung berlari dan memeluk Kafka.


"Selamat Kak! Asli kakak keren banget!" puji Zelio.


"Makasih." sahut Kafka sambil tersenyum.


"Selamat yah anak mama sama papa.." ucap Hara seraya mengelus lembut kepala Kafka.


"Good boy." kata El sambil menepuk pundak Kafka.


"Makasih, mah pah."


Tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Woy Kafka sini!" teriak seseorang yang tidak lain adalah Arzel.


"Kafka kesana dulu." ucap Kafka. Lalu segera berlari menghampiri Arzel.

__ADS_1


Arzel mengajak Kafka berkumpul di rooftop sekolah bersama teman-temannya yang lain untuk terakhir kalinya.


"Kalian berdua serius mau pergi ke Jerman? Kapan berangkatnya?" tanya Hazel.


Kafka mengangguk. "Malam ini, kenapa ada yang mau ikut?" ajak Kafka.


"Dih, enggak. Gue mah sama ayang mau kuliah di Korea Selatan." ucap Yora sambil memeluk lengan Nathan. Yap mereka pacaran sejak 3 bulan yang lalu. "Siapa tahu bisa ketemu oppa-oppa." ujarnya lagi.


Nathan mengacak rambut Yora dengan gemas. "Zam, duo Zel. kalian mau kuliah dimana?" tanya Nathan.


"Gue ikut Daddy ke Amerika." jawab Azam.


"Kita jaga rumah, kuliah sini aja." ucap Arzel.


"He'em, nanti kalau pulang kasih kabar. Kita jemput." imbuh Hazel sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mereka bercanda dan tertawa bersama sepuas mereka. Karena mungkin setelah hari ini mereka akan sulit untuk bertemu dan berkomunikasi satu sama lain.


*


Setelah dari sekolah barulah Kafka mengatakan kepada keluarganya bahwa akan kuliah ke Jerman bersama sahabatnya. Baik papa dan mamanya ataupun Zelio mendukung niat baik Kafka tersebut. Hanya Natasha yang tidak terlihat senang.


"Yasudah, buruan packing. Biar nanti pas Yohan datang udah siap.." ucap El.


"Zelio." panggil Kafka.


"Kenapa kak?" tanya Zelio.


Kafka tersenyum lalu meletakkan kunci motornya di tangan Zelio. "Jaga motor gue selama gue di Jerman." ucap Kafka yang langsung di angguki oleh Zelio.


Setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya dan mulai mengemasi barang-barang.


BRAK!!


"Apa-apaan ini?! Kenapa tiba-tiba?!" tanya Natasha.


"Apanya?"


"Kenapa kau tidak bilang akan pergi ke Jerman?! Kau bisa kuliah disini. Kau, aku, dan Zelio bisa satu kampus kan?" tanya Natasha lagi.


"Aku tidak ingin satu kampus denganmu." jawab Kafka.


"Aku janji akan berusaha menghapus perasaanku. Tolong jangan pergi.." pinta Natasha.


Kafka tertawa sinis. "Itu yang kau sebut menghapus perasaan? Kau melarangku pergi karena kau masih menyukaiku. Dan aku tidak ingin kau menyukaiku, karena itu aku pergi." kata Kafka.


"Tapi--"


"Keluar!" ucap Kafka dengan nada yang sangat dingin.


Dengan berat hati Natasha keluar dari kamar Kafka. Sedangkan Kafka lanjut mengemasi barang-barangnya setelah selesai dia langsung menelepon Yohan agar segera menjemput dirinya.


*


"Taruh koper Lo di bagasi." ucap Yohan.


Kafka dibantu sopir memasukkan kopernya ke bagasi mobil, setelah itu dia masuk ke mobil. Kafka menoleh ke belakang melihat Mama papanya, Zelio dan Natasha yang masih ada di gerbang masuk rumah. Mereka terlihat melambaikan tangan ke arahnya kecuali Natasha yang terlihat menahan tangis.


"Lihat kedepan." cetus Yohan sambil menghalangi pandangan Kafka


Kafka mengangguk menuruti apa yang dikatakan Yohan. "Ini yang terbaik. Kalau tetap disini gue bisa kalah dengan hati gue sendiri. Dan gue baru akan pulang setelah menjadi dokter yang hebat." ucap Kafka di dalam batinnya.

__ADS_1


..._TAMAT_...


__ADS_2