
Jantung Kafka berdegup dengan cepat ketika membaca kalimat pertama di surat kedua. Di turunkannya lagi surat tersebut karena belum siap untuk membaca isi surat dari ibu kandungnya itu.
"Nggak... Gue harus tahu kebenarannya." ucap Kafka.
Cowok itu kembali membaca isi surat yang dituliskan Vadya bertahun-tahun lalu.
"Dari Ibu,
Kafka sayang, aku Vadya ibu kandung kamu. Kamu pasti sudah besar sekarang. Ibu yakin kamu tumbuh menjadi anak yang baik dan tampan. Maaf, ibu harus meninggalkanmu bersama Bu Anggi. Saat ini pikiran ibu benar-benar buntu. Ibu tidak bisa meminta pertanggungjawaban ayah kamu karena dia sudah berkeluarga. Dan ibu juga tidak bisa membesarkan kamu sendirian. Nama ayah kamu Adalah El Hasan Anzalion. Bu Anggi pasti melarangmu melepas sebuah kalung kan? Itu kalung yang diberikan ayahmu untuk ibu. Ibu sengaja memberikannya kepadamu agar kamu bisa menemukan ayahmu. Cari dia, katakan yang sebenarnya. Kalau kamu tanya ibu dimana, ibu sudah bahagia di sisi Tuhan. Yang perlu kamu tahu adalah ibu sangat menyayangimu. Benar-benar menyayangimu Kafka. Ibu mohon jangan benci ibu, karena ibu sangat sayang kepadamu.
Untuk putra kesayanganku, Kafka. " isi surat tersebut.
Kafka memegang kalung yang terpasang di lehernya. Kalung itu terbuat dari emas putih dengan bandul batu ruby yang membentuk huruf V. Kemudian matanya beralih ke amplop yang ada di pangkuannya, di periksanya lagi amplop tersebut dan diambilnya sebuah foto. Yaitu foto tiga orang gadis memegang balon di taman.
"Foto ini... sepertinya gue pernah lihat..." gumam Kafka.
Sejenak dia melupakan rasa sedihnya karena penasaran. Jujur saja menurutnya daripada membaca surat dari Vadya yang merupakan ibu kandungnya, dia lebih sedih mengetahui fakta bahwa dia bukan anak kandung dari Anggi. Tapi dia tidak akan mempermasalahkan itu sekarang.
Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba handphonenya berdering. Bukan handphone baru hadiah ulang tahun ya. Tapi Kafka masih memakai handphone jadulnya karena belum sempat mengaktifkan handphone hadiah terakhir ibunya.
Melihat nama Olivia di layar handphonenya cowok itu tersenyum tipis, lalu segera mengangkat telepon tersebut.
"Kak Kafka!" panggil gadis kecil di balik telepon.
"Kenapa cantik?" tanya Kafka.
"Kakak baik-baik saja kan? Kakak udah makan belum? Kakak kok diam aja?" suara Kaila terdengar khawatir kepadanya.
"Kakak ga pa-pa kok. Kakak juga udah makan." jawab Kafka sambil tersenyum tipis.
"Suara kakak berubah, pasti habis nangis kan? Kakak kalau mau nangis, nangis aja jangan di tahan. Kalau Kaila jadi kak Kafka, pasti Kaila udah nangis seharian." ucap Kaila.
Kafka tertawa kecil mendengar penuturan gadis itu. Walaupun kalimatnya sederhana, tapi itu cukup untuk menghibur hati Kafka yang hancur akibat kepergian ibunya dan kenyataan pahit yang baru saja dia ketahui.
"Gak mau, masa cowok cengeng sih." jawab Kafka.
"Ihh, ga pa-pa tahu! Kan nangis itu bentuk ungkapan kesedihan. Cowok atau cewek kan sama-sama punya perasaan, sama-sama bisa sedih. Nangis ga pa-pa, gak baik loh kak memendam rasa sedih itu." jelas Kaila.
"Ngomongnya ya, udah kayak orang dewasa aja." sahut Kafka sambil tertawa.
__ADS_1
"Ciee udah bisa ketawa. Udah nggak sedih kah?" tanya Kaila.
"Sedih sih, tapi berkat Kaila sedihnya kakak berkurang." jawab Kafka.
Di balik telepon terdengar suara Kaila yang tertawa dengan ceria.
"Pokoknya ya kak, kalau kakak gak punya teman di rumah kakak main aja ke rumah Kaila. Nanti Kaila temani deh. Janji!" ucap Kaila tiba-tiba.
"Iya, makasih ya."
"Yaudah ya kak, Kaila mau belajar, dadah."
"Dahh"
Tut. Sambungan telepon telah terputus. Tapi senyum di bibir Kafka masih awet. Cowok itu mengusap sudut matanya yang masih basah. Dia memutuskan untuk tidak bersedih lagi. Dia akan membiasakan hidup tanpa kehadiran seorang ibu mulai sekarang. Mungkin awalnya sulit, tapi Kafka tidak mungkin akan terus menerus menangisi Anggi bukan? Hanya satu yang berbeda kali ini.
"Mulai sekarang gue bakal tetap tersenyum dan tertawa, tapi gue gak akan menerima bahagia dalam bentuk apapun. Karena Tuhan maha adil. Setelah dikasih bahagia gue pasti dikasih kesedihan." ucap Kafka di dalam hatinya.
Keesokan harinya sebelum berangkat sekolah, Kafka menyirami bunga-bunga di belakang rumah dan juga yang ada di toko. Dia akan melaksanakan pesan mendiang ibunya. Setelah kegiatan menyiram bunga selesai cowok itu masuk ke dalam dan memakan sarapannya lalu segera berangkat ke sekolah.
Saat di parkiran Kafka berpapasan dengan Yohan yang juga baru sampai. Cowok dingin itu mengamati Kafka dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Gue udah ga pa-pa kok." ucap Kafka tiba-tiba.
"Maksud Lo?"
"Ya, gue tahu Lo pasti mau tanya keadaan gue. Karena mulut Lo malas mangap yaudah gue langsung jawab aja." jawab Kafka sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya.
Di tengah-tengah percakapan mereka datanglah teman-temannya yang lain. Mereka agak terkejut melihat Kafka yang sudah seperti biasanya, bedanya wajah cowok itu sedikit pucat.
"Lo udah ga pa-pa Kaf?" tanya Yora.
Kafka menggelengkan kepalanya. "Emangnya gue kenapa?"
"Ini baru Kafka kita yang ceria!" cetus Arzel sambil memeluk Kafka ala cowok.
Setelah itu mereka berjalan bersama menuju kelas X MIPA 2 yaitu kelas Kafka, Yohan, dan Azam.
__ADS_1
"Btw, gue boleh tanya nggak?" tanya Kafka.
"Apaan?" tanya teman-temannya bersamaan.
"Ulang tahun kalian kapan?" tanya Kafka.
"Hah? Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" tanya Azam balik.
"Nggak, kemarin kan kalian udah susah-susah siapin kejutan ulang tahun buat gue. Nanti pas kalian ulang tahun gantian." jawab Kafka dengan senyum cerianya.
Teman-temannya mengangguk mengerti lalu menyebutkan tanggal ulang tahunnya masing-masing. Hanya satu yang belum menyebutkan. Yaitu Yohan.
"Lo gak mau bilang tanggal ulang tahun Lo?" tanya Kafka.
Yohan hanya diam.
"Ulang tahunnya tanggal 1 Januari. Bocah tahun baru dia." cetus Yora.
Yohan mendengus kesal karena semua langsung tertawa setelah Yora menyebutkan tanggal ulang tahunnya. Padahal lahir di tanggal 1 Januari itu tanggal yang bagus, tapi dia selalu di ledek dengan sebutan bocah tahun baru.
"Udah, jangan ketawa lagi." ucap Kafka sambil tertawa kecil.
Teman-temannya langsung menuruti permintaan Kafka berhenti menertawakan Yohan.
Kafka mengamati sekelilingnya. Banyak cewek-cewek yang memegang coklat Silverqueen, Cadbury Dairy Milk, dan merk merk coklat lainnya. Cowok itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa banyak yang makan coklat?" tanya Kafka.
"Hari Valentine mah udah pasti banyak yang makan coklat." jawab Hazel.
"Emang iya kah?" tanya Kafka lagi.
"Heh, gak nyadar nih bocah. Hari ulangtahun Lo kemarin hari Valentine njir. Tanggal 14 Februari." cetus Arzel.
"Oh, iya lupa." jawab Kafka sambil cengengesan.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1