
Sore harinya Kafka baru pulang dari apartemen Yohan. Cowok itu mengerutkan keningnya ketika melihat toko masih tutup. Kafka akhirnya masuk rumah lewat pintu belakang. Di carinya keberadaan ibunya di seluruh ruangan rumah. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Ibu belum pulang?" gumam Kafka.
Cowok itu melihat sebuah memo yang tertempel di pintu kulkas. Diambilnya memo tersebut. 'Kafka, kalau sudah pulang lauknya ada di dalam kulkas. Kamu panaskan dan makan duluan saja. Mungkin ibu pulang agak malam karena mampir ke rumah teman ibu.' isi memo tersebut.
Kafka mengangguk kecil mengerti apa yang dituliskan ibunya di memo tersebut. Diambilnya lauk yang ada di dalam kulkas dan dia masukkan ke penanak nasi untuk menghangatkannya. Setelah melakukan itu dia masuk ke dan pergi membersihkan dirinya.
Di sisi lain. Yohan tengah sibuk mengobrak-abrik laci di kamar mamanya. Dia mencari data-data pasien mamanya 3 bulan yang lalu.
"Cari apaan sih?" tanya Yora yang bersandar di ambang pintu sambil memakan es krim.
Yohan menatap Yora sekilas. Lalu melanjutkan mencari benda yang di carinya. Ini sudah laci di lemari kedua yang d obrak-abrik Yohan. Laci sebelumnya dibiarkan berantakan begitu saja dengan isi yang berceceran di lantai.
"Serius deh Han, ini kalau Tante Anya tahu Lo bakal di gebukin sih." ucap Yora.
"Bacot." sahut Yohan. Cowok itu tidak akan menyerah sebelum menemukan benda yang dia inginkan.
"Bilang saja napa! Gue kan bisa bantu cari!" cetus Yora dengan kesal.
Yohan menghentikan pencariannya sebentar lalu menatap Yora. Kemudian cowok itu mengatakan. "Data pasien mama 3 bulan lalu." jawab Yohan.
Yora langsung menepuk dahinya mendengar jawaban dari Yohan. Mau dicari berabad-abad pun ya tidak akan pernah ketemu jika dicari di rumah.
"Lo cari sampai rambut Lo ubanan juga gak bakal ketemu anjr!" celetuk Yora.
"Terus?"
Yora menghela napasnya. Cewek itu masuk ke kamar dan membantu sepupunya merapikan barang-barang yang berserakan di lantai sambil menjelaskan maksudnya kepada Yohan.
"Semua data-data pasien itu ada di rumah sakit. Ada di lemari di ruangan tante Anya. Tante pernah bilang dulu ke gue. Jadi mau Lo cari sampai kapanpun ya nggak bakal ketemu kalau Lo nyarinya disini." ucap Yora panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi?"
"Aishh terserah Lo dah ah! Capek gue ngomong sama Lo. Dijelasin panjang lebar lo nya cuma ngomong Jadi? Terus?" kata Yora menirukan Yohan tadi. Kemudian cewek itu keluar dari kamar mamanya Yohan.
"YOHAN!!!" teriak wanita yang saat ini sudah berada di depan pintu kamar.
Cowok itu perlahan menoleh ke arah pintu. Dan berdirilah wanita berkacamata dan berambut coklat terang yang menggunakan jas putih tepat di depan Yohan dengan tangan yang sudah berkacak pinggang. Cowok itu mendongak melihat mamanya yang menatapnya dengan kesal. "Mampus gue." batin Yohan.
Kita kembali ke Kafka cowok itu baru saja menyelesaikan makan malamnya. Dilihatnya dari jendela hujan yang turun dengan deras. Ibunya masih juga belum kembali. Akhirnya Kafka mengambil payung dan memutuskan pergi ke depan rumah menunggu ibunya.
Mungkin sekitar 10 menit Kafka berdiri di depan toko. Datanglah angkot, Kafka berharap itu adalah ibunya. Dan benar saja itu adalah Anggi. Kafka segera menghampiri ibunya dan memayunginya.
"Kamu ngapain di luar hujan-hujanan begini?" tanya Anggi dengan nada khawatir.
"Sengaja nungguin ibu. Lagian Kafka nggak hujan-hujanan kok. Kan pakai payung." jawab Kafka sambil tertawa.
Mereka berjalan berdua masuk kedalam rumah.
"Kamu tadi sudah makan?" tanya Anggi.
Ibunya mengacak rambutnya sambil tersenyum kemudian wanita itu meletakkan tasnya dan duduk di sofa yang ada di depan televisi.
"Bu, ibu tadi dari rumah sakit?" tanya Kafka.
Anggi langsung menggelengkan kepalanya. Wanita itu terlihat panik. "Tidak! Kan ibu sudah bilang dari toko bunga!" jawab Anggi dengan cepat. "Kamu tidak percaya?" tanya Anggi.
Kafka menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kafka hanya bertanya. Kalau memang tidak yasudah." jawab Kafka.
"Terserah kamu, ibu capek." ucap Anggi kemudian buru-buru masuk ke kamar.
Kafka masih terdiam. Perasaan cowok itu benar-benar tidak enak. Dia sangat yakin ibunya menyembunyikan sesuatu. Dan tentunya itu bukanlah sesuatu yang menggembirakan. Mata cowok itu melirik tas ibunya yang ada di sofa. Kemudian segera menggelengkan kepalanya. "Nggak, Lo gak boleh buka tas ibu tanpa izin." ucap Kafka lirih kepada dirinya sendiri. Cowok itu beralih menatap pintu kamar ibunya yang tertutup rapat. "Bu, kalau ibu seperti ini terus Kafka justru semakin khawatir." kata Kafka.
__ADS_1
Di apartemen Yohan, Yora puas menertawakan sepupunya yang di sedang dimarahi.
"Udah Tante, kasihan." ujar Yora sambil tertawa.
Anya menghembuskan napasnya dengan kasar. Sebenarnya wanita itu tidak marah. Hanya saja sedikit kesal. Karena seharusnya setelah pulang dari rumah sakit langsung bisa istirahat, karena ulah putranya malah harus melihat kamarnya yang berantakan.
"Kamu cari apa?" tanya Anya.
"Data pasien mama 3 bulan lalu dan hari ini." jawab Yohan sambil menundukkan kepalanya.
Anya mengerutkan keningnya. "Untuk apa kamu cari data-data itu?" tanya Anya heran.
Yohan tidak langsung menjawab. Cowok itu melirik Yora yang duduk di sampingnya dengan sinis.
"Iya iya iya! Gue balik nih. Dih, dasar sok misterius Lo." cetus Yora, lalu segera pergi setelah mengatakan itu.
"Yora sudah pergi, jadi? Untuk apa kamu cari data-data pasien mama?" tanya Anya lagi.
Yohan masih tidak menjawab. Anya menghela napasnya melihat itu. Dia mengerti putranya sulit mengatakan alasannya karena Yohan memanglah memiliki sifat tertutup. Entah turunan siapa sifat putranya tersebut. Padahal baik dirinya atau suaminya saling terbuka dan tidak memiliki sifat yang dingin juga sekaku Yohan.
"Kamu gak mau mama tahu alasannya?" tanya Anya.
Yohan menggelengkan kepalanya. Bukan begitu maksudnya. Dia hanya sulit untuk mengucapkan alasannya kepada mamanya karena tidak terbiasa berbicara panjang.
"Baiklah, mama ngerti. Besok sepulang sekolah kamu datang saja ke rumah sakit. Nanti mama ambilkan data yang kamu butuhkan." ucap Anya sambil mengelus lembut kepala Yohan. Setelah itu Anya beranjak hendak pergi ke kamarnya.
"Makasih." ucap Yohan lirih. Tapi masih bisa terdengar oleh Anya.
Wanita itu berbalik dan menatap putranya. "Sama-sama. Oh iya mama hampir lupa. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan dengan kekacauan yang kamu buat di kamar mama?" tanya Anya.
Yohan mengangguk kecil. Setelah itu Yohan segera berdiri mengikuti mamanya masuk ke kamar untuk membereskan kekacauan yang dia buat tadi.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......