Cherophobia

Cherophobia
Gelang Arzel


__ADS_3

Seperti yang telah dijanjikan, mereka pergi ke tempat karaoke bersama setelah pulang sekolah. Tapi Arzel harus pulang terlebih dahulu, katanya ada urusan keluarga. Padahal Hazel sudah menahannya, tapi cowok itu tetap kekeuh untuk pulang.


Sikap Arzel yang tidak seperti biasanya membuat Kafka curiga. Pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang juga, karena sudah cukup malam. Di tengah perjalanan mereka di hadang oleh sekelompok pengendara motor.


"Apa-apaan kalian?! Minggir!" bentak Nathan.


Bukannya minggir dari jalan, salah satu pengendara motor tersebut mengacungkan jari tengahnya kemudian memutar balikkan motornya. Hal itu memancing amarah para Kafka dan juga teman-temannya yang lain.


"Sialan.." desis Azam geram.


Sekelompok pengendara motor itu menggiring Kafka dan teman-temannya ke lapangan sepi. Di lapangan tersebut para pengendara motor yang jumlahnya ada 10 orang tersebut turun dari motor dan membuka helmnya. Kafka terperanjat ketika melihat itu adalah Geo dan gengnya. Padahal cowok itu tidak pernah mengganggunya lagi selama ini, mengapa tiba-tiba seperti ini?


"Nyokap Lo mati, hidup Lo makin enak ya Kaf?" tanya Geo.


Kafka langsung mengepalkan tangannya. "Jaga omongan Lo!" ucap Kafka dengan nada dingin. Sekalipun Anggi bukan ibu kandungnya, dia tidak terima Geo mengatakan hal seperti itu.


Sekarang semua sudah turun motor.


"Gimana? Lo dapat juara di bidang non akademik belum puas? Sampai se ambis itu biar dapat juara 1 juga di bidang akademik?" tanya Geo.


"Sebenarnya masalah Lo sama Kafka tuh apa sih? Mau dia dapat juara atau nggak, itu bukan urusan Lo tolol." cetus Arzel.


"Ya, Lo benar sih. Tapi dia gak layak dapatin semua itu. Harusnya dia selalu di bawah gue!" ucap Geo sambil mengepalkan tangannya.


Pada penilaian akhir semester 2 di kelas 10 beberapa bulan yang lalu, Geo mendapatkan peringkat ke 3. Dan pada penilaian tengah semester 1 di kelas 11 ini dia malah mendapatkan peringkat ke 4. Dia sudah geram dengan semua itu. Ditambah dia mendapatkan informasi dari temannya yang sekolah di Ivarnest High School bilang bahwa Kafka selalu mendapat nilai tertinggi setiap ujian.


"Padahal waktu SMP Lo selalu di bawah gue. Seharusnya Lo gak boleh ada di peringkat itu." kata Geo lagi.

__ADS_1


"Bacot Lo!" Kafka tanpa ragu melayangkan pukulannya ke pipi Geo.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Geo yang selalu menginginkan lebih tinggi dari dirinya. Sampai sudah berbeda sekolah pun dia harus dibawah Geo. Cukup di SMP dia mengalah agar tidak dipukuli Geo. Kali ini dia tidak akan mengalah. Dia ingin mewujudkan impiannya.


Malam itu terjadi perkelahian antara Geo beserta gengnya dengan Kafka dan juga teman-temannya. Jika biasanya yang cewek hanya menonton, berbeda dengan Hazel. Cewek itu ikut bertarung karena bisa bela diri. Sedangkan Yora yang tidak terlalu bisa bela diri membantu sebisanya dengan bertarung menggunakan helm sebagai senjatanya. Sekalipun tidak bisa bela diri, tapi cewek itu cukup lincah dan waspada untuk menghindari serangan musuh.


Bugh! Bugh! Duagh! Suara pukulan terdengar bersahut-sahutan. Mereka semua yang bisa beladiri bertarung dengan tangan kosong tanpa senjata.


Ctas.. saat bertarung gelang-gelang di pergelangan tangan kanan Arzel terputus karena tertarik lawannya.


"Sial.." desis Arzel. Setelah gelang-gelangnya putus cowok itu langsung membabi-buta memukuli lawannya.


Kafka yang melawan Geo menjadi tidak fokus karena melihat pergelangan tangan Arzel.


"Makin jago Lo sekarang." ucap Geo.


Kafka kembali fokus ke Geo.


Sekitar 30 menit berlalu. Kafka dan teman-temannya berhasil mengalahkan Geo beserta gengnya walaupun mereka kalah jumlah.


Setelah perkelahian tersebut Kafka langsung menghampiri Arzel dan meraih tangan kanan sahabatnya tersebut. Arzel berusaha menarik tangannya lagi, tapi tenaga Kafka lebih kuat. Di gulungnya lengan jaket Arzel. Sekarang terlihatlah dengan jelas pergelangan tangan Arzel yang selama ini selalu tertutup dengan tumpukan gelang.


"Jadi ini yang Lo sembunyikan dibalik gelang-gelang Lo?" tanya Kafka setelah melihat pergelangan tangan Arzel.


"Bukan urusan Lo!" jawab Arzel ketus sambil menarik tangannya.


Buagh! Tanpa ragu Kafka melayangkan pukulannya ke pipi Arzel.

__ADS_1


"Jelas ini urusan gue! Karena Lo sahabat gue!" bentak Kafka.


Melihat Kafka yang sangat emosi, membuat teman-temannya yang lain ikut penasaran. Yohan mendekati Arzel dan mengangkat pergelangan tangan kanan Arzel. Terlihat banyak bekas luka sayatan di pergelangan tangan sahabatnya tersebut. Setelah melihat itu, Yohan beralih ke pergelangan tangan kiri Arzel. Ditariknya gelang-gelang yang masih menutupi pergelangan tangan tersebut hingga terputus. Betapa kagetnya cowok itu ketika melihat kondisi pergelangan tangan kiri Arzel juga serupa dengan yang kanan.


Buagh! Setelah pipi kiri mendapatkan pukulan dari Kafka, Yohan menambahkan di pipi kanan Arzel.


"Lo kalau ada masalah bilang anj*ng! Jangan ngelukain diri Lo kayak gini!" bentak Yohan.


"Jangan ikut campur urusan gue!" ucap Arzel. Cowok itu kembali menurunkan lengan jaketnya untuk menutupi luka-lukanya. Setelah itu Arzel berjalan mendekati motornya. Di dekat motornya berdiri Hazel yang menatap Arzel dengan mata berkaca-kaca. Pertama kalinya Arzel mengabaikan cewek itu, ketika Arzel hendak naik motornya Hazel menahan tangannya.


"Lo kenapa?" tanya Hazel pelan.


"Gue gak pa-pa." jawab Arzel, lalu melepaskan tangan Hazel dan segera pergi dari sana.


Sepi, dan sunyi. Itu yang menyelimuti mereka saat ini.


"Zel, Lo gak tahu apa-apa tentang itu? Bukannya kalian sering jalan bareng?" tanya Yora.


Hazel menggelengkan kepalanya. "Setiap gue tanya, dia selalu jawab dia hobi mengoleksi gelang." jawab Hazel.


"Sudah jelas dia punya masalah berat. Tapi nggak seharusnya kalian mukul dia kayak gitu." ucap Nathan yang ditujukan kepada Kafka dan Yohan.


"Gue tahu, gue bakal minta maaf besok." kata Kafka.


"Bukannya disaat seperti ini kita gak boleh biarin dia sendiri?" tanya Azam.


Mendengar pertanyaan Azam, seketika mereka langsung panik. Mereka semua segera mengambil motornya masing-masing dan mengejar Arzel. Mereka takut Arzel akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2