
Keesokan paginya Kafka benar-benar dibuat bingung dengan tingkah ibunya. Semalam wanita itu sudah mengajaknya foto bersama. Sekarang sesaat sebelum Kafka berangkat sekolah ia juga mengajak foto bersama. Katanya sebagai kenang-kenangan.
Kafka yang melihat tingkah aneh ibunya, dan juga tubuh ibunya yang sudah semakin kurus semakin khawatir dengan keadaan ibunya tersebut. Wanita itu memang terlihat sehat, tapi bibirnya yang pucat, dan kantung matanya yang terlihat cekung menjadi pusat perhatian Kafka.
"Bu, ibu makan yang banyak ya. Tubuh ibu Kafka lihat semakin hari semakin kurus." ucap Kafka setelah mencium punggung tangan ibunya untuk berpamitan.
Anggi hanya tersenyum kemudian mengangguk. "Belajar yang rajin ya. Supaya cita-cita kamu untuk jadi dokter terwujud." kata Anggi sambil mengelus kepala putranya dengan lembut.
"Iya Bu. Kafka berangkat."
Kafka berjalan kaki menuju jalan raya. Karena sepedanya telah rusak dia tidak punya sepeda lagi sekarang. Artinya dia harus naik bus setiap hari untuk berangkat sekolah.
Jalan utama untuk menuju jalan raya melewati perempatan dimana di salah satu sudutnya adalah rumah dari Kaila. Kafka berhenti sebentar di rumah tersebut. Terlihat gadis kecil yang berusaha memakai sepatunya sendiri. Kafka menarik sudut bibirnya dan melambaikan tangannya ketika Kaila menatap ke arahnya. Setelah itu Kafka segera berjalan lagi karena tidak ingin terlambat ke sekolah.
"Kaila! Ayo berangkat!" teriak Olivia.
"Iya, Ma!!!"
Di sisi lain, teman-teman Kafka sudah sampai di sekolah sejak matahari belum terbit untuk mempersiapkan ulang tahun Kafka yang akan dirayakan di kelas. Bahkan siswa siswi lain di kelas X MIPA 2 juga tidak keberatan ikut membantu menyiapkan semuanya. Oh iya, sebelumnya mereka sudah meminta izin kepada Bu Lista bahwa mereka akan meminjam jam pelajaran pertama untuk merayakan ulang tahun Kafka. Dan tentunya Bu Lista tidak melarang hal itu.
"Hahh, akhirnya selesai juga." ucap Arzel setelah selesai memasang balon di salah satu sudut langit-langit kelas.
"Kafka pasti terkejut!" kata Hazel dengan ceria.
"Kuenya gimana? Udah ada kan?" tanya Yora.
Yohan masuk ke kelas bersama Nathan membawa kue ulang tahun untuk Kafka. Kue ulang tahun itu di buat sendiri di kantin sekolah oleh Yohan dan Nathan. Merekalah yang membuat kue dan menghias kuenya sedemikian rupa karena mereka paling pandai dalam urusan masak-memasak.
"Woah gila! Cakep banget kuenya!" seru Azam.
"Iya dong, siapa dulu ya hias." ucap Nathan membanggakan dirinya sendiri.
Tiba-tiba salah seorang siswa yang bertugas mengawasi kedatangan Kafka berteriak bahwa Kafka sudah masuk gerbang sekolah.
Semua langsung ribut. Ada yang menutup pintu kelas dan menutup semua gorden jendela. Yora dan Hazel yang ribut mencari korek api untuk menyalakan lilin. Arzel yang sudah stay di dekat saklar lampu untuk di hidupkan tepat ketika Kafka masuk kelas. Dan yang lain ribut sembunyi.
Sedangkan Kafka di halaman sekolah mendongak melihat ke arah kelasnya. Cowok itu mengerutkan keningnya ketika melihat semua gorden di kelasnya tertutup rapat. Hingga ruangan di dalam kelasnya tersebut terlihat gelap di banding yang lainnya.
"Masa belum ada yang datang." gumam Kafka. Cowok itu bergegas berlari memasuki gedung sekolah menuju kelasnya.
Sesampainya di depan kelasnya, suasana kelas yang biasanya ramai sekarang sangat sepi. Cowok itu mengulurkan tangannya membuka pintu perlahan.
__ADS_1
Tepat disaat Kafka memasuki kelas. Lampu dinyalakan diikuti nyanyian selamat ulang tahun dari teman-temannya.
"Happy Birthday to you! Happy Birthday to you! Happy birthday, happy birthday. Happy birthday Kafka."
"Tiup lilinnya! Tiup lilinnya! Tiup lilinnya sekarang juga! Sekarang juga! Sekarang juga..."
Kafka tersenyum bahagia. Cowok itu segera meniup lilinnya. Setelah Kafka meniup lilin, teman-temannya yang lain kompak bertepuk tangan dengan meriah.
"Makasih semuanya..." ucap Kafka dengan air mata yang sudah menetes karena begitu bahagia.
Dia tidak menyangka teman-teman barunya tahu hari ini adalah hari ulang tahunnya. Padahal dirinya sendiri tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Darimana kalian tahu hari ini ulang tahun gue?" tanya Kafka sambil memotong kuenya.
"Azam lihat di data siswa." jawab Hazel.
Kafka manggut-manggut mengerti. Setelah memotong-motong kue ulang tahun tersebut. Kafka dan sahabatnya membagi-bagikan kue tersebut ke siswa siswi yang ada di kelas secara merata.
"Nih hadiah dari gue." ucap Nathan sambil menyodorkan sebuah kado berbentuk kotak agak besar.
"Thanks." jawab Kafka sambil tersenyum.
"Iya gak pa-pa. Makasih." kata Kafka dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya.
Masing-masing dari mereka berlima yaitu Nathan, Arzel, Yora, Hazel, dan Azam sudah memberikan kado mereka untuk Kafka. Sisa Yohan saja yang belum menyerahkan kadonya. Yora langsung menyikut pelan lengan Yohan agar segera memberikan kado untuk Kafka.
Yohan berdecak kesal. Kemudian menyodorkan sebuah kotak yang lebih kecil dari kado Yora kepada Kafka.
"HBD." ucap Yohan singkat tanpa menatap Kafka.
"Thanks brother." jawab Kafka seraya menerima kado dari Yohan.
"Ayo buruan buka kado-kadonya!" seru Arzel karena sejak tadi dia penasaran dengan kado-kado yang diberikan teman-temannya itu.
Kafka mengangguk lalu duduk di bangkunya dan mulai membuka satu persatu hadiah dari teman-temannya.
Dimulai dari hadiah Nathan yang paling besar. Ternyata isi kado dari Nathan tersebut adalah sepatu. Nathan membelikan sepatu untuk Kafka karena melihat sepatu sahabatnya itu sudah usang. Setelah membuka kado dari Nathan, cowok itu mengucapkan terimakasih.
Kemudian Kafka berlanjut membuka kado dari Azam, cowok itu memberikan tas kepada Kafka. Bukan tanpa sebab, Azam memilih tas untuk di hadiahkan kepada Kafka karena tidak sengaja melihat bahwa salah satu sisi tas Kafka sudah berlubang. Seperti setelah membuka kado dari Nathan, Kafka juga mengucapkan terimakasih lagi kepada Azam. Begitu seterusnya sampai kado terakhir.
Setelah membuka kado dari Nathan dan Azam, Kafka beralih membuka kado dari Arzel. Cowok periang itu memberikan dirinya kado sebuah botol minum. Kafka tertawa kecil melihat botol minum tersebut, karena di setiap sisi botol tersebut diberi gambar kartun yang mirip dengan mereka berenam.
__ADS_1
"Lo sendiri yang gambar Ar?" tanya Kafka.
"Gimana? Bagus nggak?" tanya Arzel balik.
Kafka mengangguk sambil tersenyum. "Bagus, kayaknya Lo cocok jadi komikus. Thanks ya." ucap Kafka.
Kafka lanjut lagi membuka hadiah dari Hazel. Cewek tomboi tersebut memberikan dirinya sebuah tepak pensil. Hazel memberikan itu karena melihat tepak pensil Kafka yang terbuat dari besi sudah berkarat.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada Hazel, Kafka beralih ke kado yang diberikan oleh Yora. Kado tersebut tidak dibungkus kertas kado. Hanya ada kotak berwarna putih dan di hias pita merah. Setelah dibuka, betapa terkejutnya Kafka karena isi kado itu adalah gelang jam branded.
"Ini kata Lo nggak mahal?" tanya Kafka.
Yora nyengir kuda. "Suka nggak?" tanya Yora balik.
Kafka mengangguk senang. "Makasih ya." ucap Kafka.
Hampir selesai. Sekarang tinggal satu kado yang belum di buka. Kado dari Yohan, yaitu kado paling kecil dan paling polos tanpa hiasan apapun. Kotak kecil berwarna hitam itu lebih kecil daripada hadiah Yora, saking kecilnya mungkin bisa muat di genggam tangan Kafka sampai tidak terlihat. Kafka lebih terkejut lagi melihat isi kado dari Yohan. Bukan hanya Kafka, bahkan sahabatnya yang lain juga terkejut melihat hadiah yang diberikan Yohan.
"Lo gak salah ngasih barang kan?" tanya Kafka sambil menatap Yohan.
Yohan menggelengkan kepala. "Ada di parkiran." ucap Yohan.
Kafka langsung melihat ke arah parkiran di ikuti Arzel, Yora, Hazel, Nathan, dan Azam. Di tempat parkir tersebut terdapat sebuah motor mewah yang belum memiliki nomor plat.
"Serius buat gue?" tanya Kafka lagi.
Yohan berdecak sebal. "Daripada Lo ke sekolah naik bus." jawab Yohan
"Tapi itu terlalu--"
Sebelum Kafka menyelesaikan kalimatnya Yohan terlebih dahulu memotong kalimat Kafka. "Kalau gak mau, sini kuncinya gue buang." kata Yohan dengan wajah datarnya.
"Eh! Jangan!" seru Kafka dan sahabatnya yang lain dengan kompak.
...***...
...Bersambung......
...Motor yang dikasih Yohan ke Kafka. Sultan betul ͡° ͜ʖ ͡°...
__ADS_1