
Ketika jam istirahat teman-temannya berkumpul di kantin untuk makan siang. Hanya Azam dan Kafka yang yang tidak ada. Azam di mintai tolong wali kelas mereka untuk mengambil data kelas di ruang guru. Sedangkan Kafka entah pergi kemana, setelah bel istirahat berbunyi cowok itu buru-buru keluar kelas.
"Kalian ambil makanan kenapa nggak tunggu gue dah ah?" tanya Kafka dengan kesal.
"Lah? Lo sendiri tadi kemana?" tanya Arzel.
"Toilet, kebelet." jawab Kafka.
"Yaudah sana buruan antre, keburu habis." ucap Yora sambil menatap ke arah antrean di kantin yang cukup panjang.
Kafka ikut menoleh ke arah antrean. Cowok itu langsung membelalakkan matanya ketika melihat antrean yang sangat panjang. Jika tidak segera mengantre dia mungkin benar-benar tidak akan kebagian jatah makanan. Maka dari itu dia langsung berlari ikut mengantre.
"Si curut lama banget." gumam Hazel sambil menoleh ke arah lorong.
"Kenapa Lo? Demen sama dia?" tanya Nathan.
"Dih, enggak ya." jawab Hazel menyangkal pertanyaan Nathan.
"Nggak boleh suka dia! Zel itu sama Zel!" cetus Arzel sambil menggepit leher Hazel yang duduk di sampingnya menggunakan lengannya.
"Anjg! Gue gak bisa napas!"
Di tengah mereka sedang bercanda, datanglah Azam dari arah ruang guru dengan hebohnya. Wajahnya setengah panik setengah senang.
"Lo kenapa?" tanya Nathan heran.
Bukannya menjawab, Azam malah menyerobot minuman Yora dan meneguknya hingga tinggal setengah. Yora hendak mengumpat tapi dihentikan dengan pertanyaan tiba-tiba dari Azam.
"Kafka mana?" tanya Azam.
Semua menoleh ke arah Kafka yang sedang mengantre makanan. Azam mengangguk mengerti kemudian mengatakan alasan kenapa dia bisa seheboh tadi ketika datang.
"Tadi pas bantu Bu Lista, gue sempat baca ulang tahun anak-anak. Besok Kafka ulang tahun!" ucap Azam.
__ADS_1
Seketika mereka semua mengehentikan makannya. Bahkan Yohan hampir tersedak mendengarnya karena kaget. Cowok dingin itu menoleh ke arah Kafka. Kemudian kembali menatap Azam yang ada di depannya.
"Kita gak kasih kejutan kah?" tanya Azam.
"Harus dong! Masa sahabat ulang tahun gak di kasih kejutan!" cetus Arzel dengan semangat.
"Terus? Mau kita kasih kejutan kayak mana? Kita belum tahu apa kesukaan dia kan?" tanya Nathan.
"Tanya lah." jawab Hazel.
"Kalau bego jangan di pelihara. Yakali mau kasih kejutan tanya dulu." ucap Arzel.
Yora langsung menengahi mereka agar tidak bertengkar. "Udah jangan di bahas disini! Nanti pulang sekolah ke apartemen gue aja! Kita bahas bareng-bareng disana." ujar Yora yang disetujui teman-temannya.
Mereka semua langsung diam ketika Kafka menuju ke meja mereka. Tapi dalam pikirannya mereka semua memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk merayakan ulang tahun sosok Kafka. Kado apa yang akan mereka berikan kepada cowok ceria tersebut.
"Kalian kenapa diam gitu?" tanya Kafka yang baru datang.
"Nggak, emang dari tadi kita diam kok." jawab Yora.
Sepulang sekolah Kafka terpaku di tempat parkir melihat sepedanya yang sudah hancur dengan batu yang berserakan di sekelilingnya. Rantainya putus. Tempat duduknya di sayat-sayat. Kedua terpisah dari badan sepeda. Badan sepeda juga penyok-penyok seperti bekas di pukul menggunakan benda keras.
Mata cowok itu memerah menahan air matanya. Dadanya terasa sesak. Sepeda itu yang menemaninya dari SD hingga sekarang. Tapi saat ini dia melihat sepeda kesayangannya hancur tidak berbentuk. Jika tidak ada teman-temannya bersamanya mungkin Kafka sudah menangis sejak tadi.
"Kaf.. Lo gak pa-pa?" tanya Arzel dengan ragu.
Kafka menggeleng pelan. Matanya tidak beralih dari sepedanya.
"Tenang aja, besok bakal gue usut siapa yang ngelakuin ini ucap Nathan sambil menepuk bahu Kafka.
Tetapi Kafka masih tidak bergeming. Cowok itu tetap terpaku. Tidak bisa dipungkiri dia merasa sangat sedih, sekalipun sepeda itu sudah tua. Dan modelnya sudah tidak sebagus sekarang, tapi sepeda itu istimewa baginya karena sepeda itu adalah hasil dari tabungannya selama 3 tahun.
Yohan yang menyadari hal itu menyuruh teman-temannya yang lain untuk pergi terlebih dahulu. Setelah teman-temannya pergi Yohan menutupi pandangan Kafka menggunakan buku yang di pegangnya agar tidak terus melihat sepedanya yang sudah rusak.
__ADS_1
"Nangis bukan berarti lemah." ucap Yohan dengan nada dingin.
Setelah itu bahu Kafka mulai bergetar karena menangis. Melihat hal itu Yohan segera pergi dari sana karena dia tahu Kafka tidak ingin seseorang melihatnya menangis.
Teman-teman Kafka yang lain langsung menuju Alpha Apartemen. Tepatnya lantai 23 nomor 137. Yaitu apartemen Yora. Hanya Yohan yang tidak ikut karena dia langsung ke rumah sakit untuk menemui mamanya.
"Ini data yang kamu minta." ujar Anya sambil memberikan sebuah berkas.
"Terimakasih." kata Yohan pelan.
Dibacanya data-data pasien tiga bulan yang lalu dengan teliti dan hasilnya ditemukanlah nama Anggika Pratama. Dibukanya data-data pasien mamanya kemarin dan juga di temukan nama ibu dari Kafka. Cowok itu lebih terkejut lagi karena melihat nama ibu Kafka juga ada di data pasien hari ini.
"Wanita ini... separah apa penyakitnya?" tanya Yohan sambil menunjuk nama Anggika Pratama.
Kita kembali ke Kafka. Cowok itu berjalan sendirian. Dilihatnya langit yang sudah gelap tertutup awan hitam. Pandangannya beralih ke boneka kucing yang diberikan Kaila tadi pagi. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman tipis. Senyuman itu seketika luntur ketika melewati gang sepi bertemu dengan Geo. Kali ini cowok yang selalu merundungnya itu sendiri, tidak bersama teman-temannya.
"Hai, gimana surprise gue hari ini?" tanya Geo dengan senyum mengejek.
Kafka mengepalkan tangannya. Dia langsung paham maksud dari Geo. Pasti rivalnya itu yang merusak sepedanya tadi. "Antar gue ketemu orang tua Lo, bakal gue jelasin ke mereka agar gak marahin Lo lagi karena kalah dari gue. Dan setelah itu jangan ganggu gue lagi." ucap Kafka tanpa menatap wajah Geo.
"Tcih.. Lo kira semudah itu? Gak! Gue gak akan pernah berhenti ganggu Lo! Sampai kapanpun gue bakal terus gangguin Lo! Lo tahu? Gadis kecil yang tinggal di perempatan sana?" tanya Geo.
Mendengar itu tanpa ragu Kafka langsung melayangkan pukulannya ke pipi Geo hingga cowok itu jatuh tersungkur karena saking kerasnya pukulan Kafka. Dadanya kembang kempis menahan amarah.
Tapi Geo tidak semudah itu di kalahkan. Cowok itu bangkit dan membalas pukulan Kafka.
"Mulai berani Lo sama gue." ucap Geo.
Akhirnya mereka terlibat perkelahian lagi. Kali ini Kafka sudah bisa melawan dan membuat sebagian wajah Geo memar terkena pukulannya. Tapi Kafka tetap kalah dari Geo karena dia baru belajar beladiri.
"Makanya jangan sok keras!" kata Geo sambil menendang perut Kafka yang sudah tergeletak di jalanan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Kafka sendirian.
Jdarr... Hujan turun dengan deras di iringi petir. Kafka mengepalkan tangannya erat-erat. Dia benci hujan. "Apa gak boleh bahagia? Kenapa setelah gue merasakan bahagia selalu datang masalah seperti ini?" batin Kafka. Air matanya yang mengalir tertutup dengan derasnya hujan.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......