
Sesampainya di rumah Arzel mereka benar-benar terkejut keadaan rumah sahabatnya itu sangatlah sepi. Berbeda sekali dengan yang diceritakan Arzel, tentang keluarganya yang ceria. Memang mereka belum pernah pergi ke rumah Arzel selama 1 tahun bersahabat, karena Arzel selalu ada saja alasan untuk menolak teman-temannya datang ke rumahnya.
"Ini rumah Arzel?" tanya Kafka.
"Lebih kayak rumah gak berpenghuni." ucap Yora.
"Benar, terlalu sepi." sahut Azam.
"Yang pasti ini memang rumah Arzel, karena motornya ada disini." ucap Nathan sambil menunjuk motor Arzel yang terparkir di halaman rumah.
Mereka berenam tanpa permisi langsung masuk ke rumah Arzel karena pintu utama dibiarkan terbuka begitu saja. Ketika baru memasuki ruang tengah terdengarlah suara wanita yang memohon kepada Arzel agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
"Den, buka pintunya den. Aden kenapa lagi? Den, jangan lakukan itu lagi den! Aden! Den Arzel!"
Sepertinya wanita itu adalah asisten rumah tangga.
"Ayo naik." ajak Kafka.
Mereka langsung berlari naik ke atas, menuju sumber suara. Sampailah mereka di depan kamar Arzel.
"Kalian siapa?!" tanya wanita tersebut.
"Kami temannya Arzel, dia ada di dalam?" tanya Nathan.
Wanita itu mengangguk. "Tolong bujuk den Arzel untuk keluar. Dia akan menyakiti dirinya sendiri lagi." ucap wanita yang merupakan asisten rumah tangga tersebut.
Dok dok dok dok! Kafka mengetuk pintu kamar Arzel dengan keras. "Buka pintunya! Ini kami!" teriak Kafka.
"Jangan bego Zel!" Azam ikut berteriak.
"Arzel!! Buka pintunya!" teriak Nathan.
"Kelamaan!" ucap Yohan.
Cowok dingin itu maju dan langsung menendang pintu kamar Arzel dengan keras hingga terbuka lebar. Terlihatlah Arzel yang sedang memegang sebuah silet sedang menyayat-nyayat pergelangan tangannya.
Melihat hal itu Kafka langsung berlari menghampiri Arzel, dan merebut silet yang dipegang sahabatnya tersebut. Disusul teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Lo udah gila hah?!" bentak Kafka sambil melemparkan silet itu ke sembarang arah.
"Gue capek." ucap Arzel lirih.
"Mati aja kalau gitu." ceplos Yohan.
"Njir! Gak waras Lo!" sahut Yora sambil menoyor kepala Yohan.
"Lo ada masalah apa? Cerita! Jangan ngelakuin hal bodoh kayak gini." ucap Kafka sambil menempelkan bajunya ke pergelangan tangan Arzel agar darahnya segera berhenti keluar.
"Sini gue obati." kata Hazel yang membawa kotak obat.
Kafka membantu Arzel duduk di ranjang, tatapan cowok itu begitu kosong. Kini mereka semua melihat sisi paling rapuh seorang Arzel yang ceria.
"Mama papa gue cerai. Mama nikah lagi 6 bulan yang lalu. Sedangkan papa asik bermain dengan pelacur-pelacur di bar. Bahkan dia gak segan bawa wanita-wanita itu ke rumah." ujar Arzel dengan tatapan kosong. Tiba-tiba tangannya bergerak menyingkap lengan bajunya sampai ke atas siku. Terlihatlah bekas luka bakar melingkar seperti bekas di sengat menggunakan rokok.
"Ini yang papa gue lakuin kalau gue ngelawan." kata Arzel.
"Tapi Lo gak boleh ngelukain diri Lo sendiri kayak gini Zel." ucap Azam.
Setelah Hazel selesai mengobati luka Arzel, dia memberikan obat penenang kepada sahabatnya tersebut agar Arzel bisa tidur dengan nyenyak. Sebelum pulang mereka menyuruh satpam dan asisten rumah tangganya untuk berjaga di kamar Arzel, takutnya sahabatnya itu akan melukai dirinya sendiri lagi.
*
Setelah dari rumah Arzel, Kafka tidak langsung pulang ke rumah. Cowok itu duduk di taman ditemani oleh Yohan. Mereka hanya duduk diam terlarut dalam pikiran masing-masing.
Kafka masih tidak bisa percaya dengan yang baru dia lihat. Sahabatnya yang selalu tersenyum ceria ternyata memiliki masalah keluarga seberat itu. Selama ini senyum di bibirnya adalah topeng untuk menutupi semuanya. Selama ini cerita tentang keluarganya yang ceria adalah kebohongan belaka untuk menutupi keadaan yang sebenarnya.
Tapi dia tidak sadar, bahwa dirinya sendiri juga seperti itu. Dia juga menggunakan senyum sebagai topeng untuk menutupi masalahnya. Tanpa disadari dia membohongi dirinya sendiri dengan bilang dia tidak apa-apa. Nyatanya masalah di hidupnya juga berat.
"Berapa banyak yang belum gue ketahui tentang kalian?" gumam Kafka sambil dengan tatapan menerawang jauh ke langit.
Yohan yang mendengar itu melirik sekilas Kafka yang ada di sampingnya. Jujur saja dia juga terkejut melihat kondisi Arzel tadi. Benar yang di katakan Kafka barusan, selama satu tahun bersahabat ternyata masih banyak yang belum mereka ketahui atau sama lain. Terutama tentang Kafka, cowok yang ada di sampingnya ini.
Drrtt.. drrtt... tiba-tiba handphone Yohan bergetar.
"...."
__ADS_1
"Hm." jawab Yohan singkat.
Setelah menutup telepon tersebut, Yohan tiba-tiba berdiri dan mengatakan sesuatu kepada Kafka. "Papa Lo, besok pagi sampai di bandara." ucap Yohan.
Kafka langsung mematung mendengarnya. "Lo nggak bohong kan?" tanya Kafka.
Yohan menggelengkan kepalanya. Untuk apa juga dia berbohong? Tidak ada untungnya juga buat dirinya sendiri.
Bukannya senang akan bertemu ayahnya, tapi wajah Kafka malah terlihat ragu dan tidak yakin. Dia bimbang harus menemui ayahnya atau tidak, apalagi ayahnya sekarang sudah memiliki keluarga. Ya, Kafka masih memiliki sifat seorang Vadya yang tidak ingin menyakiti orang lain sekalipun dirinya sendiri harus merasakan sakit.
"Apa gue gak usah temuin papa aja?" tanya Kafka.
Yohan mengerutkan keningnya.
"Nggak, maksud gue. Papa udah punya anak dan istri. Gimana kalau mereka tahu papa udah punya anak yang lain yaitu gue?' tanya Kafka lagi.
Yohan menghela napasnya. "Baik sih baik, tapi jangan terlalu baik." ucap Yohan sambil menoyor kepala Kafka.
"Emang salah ya? Gue kan cuma coba lihat dari sudut pandang lain." tanya Kafka dengan polosnya.
Serius, ingin rasanya saat ini Yohan melayangkan bogem mentah ke wajah polos seorang Kafka. Dia tidak habis pikir dengan pola pemikiran Kafka, padahal dirinya sendiri juga sakit hati dengan ayahnya yang menelantarkan dirinya. Tapi dia masih mengkhawatirkan bagaimana perasaan keluarga ayahnya ketika tahu keberadaan dirinya. Bisa-bisanya ada manusia sebaik ini.
"Misal ada pilihan gue atau Lo salah satu harus lompat ke jurang agar satu lainnya selamat Lo mau lompat gitu?" tanya Yohan karena kesal.
Kafka tertawa mendengar pertanyaan yang baru saja Yohan lontarkan. Tidak biasanya cowok dingin ini melemparkan pertanyaan tidak bermutu seperti ini. Tapi, Kafka tetap menjawab pertanyaan.
"Tentu saja. Kalau gue lompat ke jurang gue gak akan mati kok. Paling cuma pindah alam aja. Lagian nanti disana gue bisa ketemu ibu sama mama." jawab Kafka sambil tertawa kecil.
Deg. Seketika jantung Yohan berdetak cepat. Ada rasa tidak rela mendengar Kafka mengucapkan hal seperti itu. Kafka mengucapkan hal seperti itu seolah sedang bercanda, padahal makna ucapannya sangatlah dalam.
"Gue aja yang lompat." ucap Yohan di dalam hatinya.
Ya, itulah Yohan. Sekalipun Yohan memiliki sifat yang kaku. Hatinya yang lembut membenci fakta people come and go. Daripada seseorang yang meninggalkannya, lebih baik dia yang pergi meninggalkan orang tersebut.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1