
Berbulan-bulan telah berlalu. Kafka masih tidak berhenti untuk mencari informasi tentang keluarganya. Selama satu tahun, setiap bulannya Kafka datang ke alamat rumah papanya. Tapi rumah itu selalu kosong, dan kata para tetangganya pemilik rumah itu belum pernah pulang sejak setahun yang lalu.
Saat ini Kafka sudah duduk di bangku kelas XI. Dia berhasil mendapatkan nilai tertinggi saat ujian kenaikan kelas. Kafka cukup bangga dengan dirinya sendiri. Garis bawah! Hanya bangga, tapi cowok itu belum puas dengan pencapaiannya saat ini. Dia bertekad akan meningkatkan nilainya lagi saat Penilaian Tengah Semester 1 di kelas XI.
Sekarang Ivarnest High School baru saja selesai melaksanakan Penilaian Tengah Semester 1. Siswa-siswi kelas XI MIPA 2 yang biasanya super ramai kali ini diam seribu bahasa karena gelisah memikirkan nilai ujiannya kemarin. Ya, seperti inilah kondisi kelas tersebut. Terlihat bodoh, tapi aslinya mereka sangatlah ambisius.
Banyak yang terkejut dengan pencapaian kelas XI MIPA 2 yang menempati posisi pertama kelas dengan murid paling pintar pada saat pengumuman hasil UKK yang lalu, padahal keseharian yang diperlihatkan bukanlah belajar. Melainkan bermain, bersantai-santai, saat di terangkan para siswa-siswi terlihat tidak serius dan tidak memahami. Tapi siapa sangka dibalik itu mereka memiliki sisi ambisius.
"Selamat pagi semuanya." sapa Bu Lista dengan senyum ramahnya.
"Selamat pagi Bu!"
"Selamat untuk kalian semua yang berhasil mendapatkan nilai terbaik lagi untuk PTS 1 di kelas 11 ini." ucap Bu Lista sambil mengacungkan dua ibu jarinya kepada murid-muridnya.
Siswa dan siswi di kelas tersebut langsung bersorak gembira. Kelas tersebut kembali ribut seperti biasanya, kecuali Kafka. Cowok itu hanya senyum. Sungguh hatinya saat ini sangat bahagia, tapi dia tidak ingin menunjukkan kebahagiaannya dan dia tidak terlalu ingin bahagia. Dia takut kesedihan akan menghampiri dirinya lagi setelah merasakan kebahagiaan. Maka dari itu, dia memilih memendam rasa bahagianya.
"Shhhtt, tenang dulu. Ibu mau beri pengumuman untuk kalian." kata Bu Lista.
"Pengumuman apa Bu?" tanya Kafka dengan penasaran.
"Seperti tahun kemarin, setiap selesai penilaian tengah semester akan diadakan kegiatan tengah semester." jawab Bu Lista sambil menunjukkan dokumen yang dipegangnya.
Seisi kelas langsung ribut menebak-nebak kegiatan tengah semester kali ini apa? Tahun lalu adalah lomba memasak dan lomba melukis sudah pasti tahun ini berbeda bukan?
"Kegiatan tengah semester tahun ini apa Bu?" tanya Azam.
__ADS_1
"Tahun ini, kegiatan tengah semester yang akan di adakan sekolah kita adalah lomba-lomba antar kelas dalam bidang olahraga. Ada balap karung, lari estafet, lomba bulutangkis, dan yang terakhir ada lomba menyanyi." jelas Bu Lista.
Mengapa lomba menyanyi? Lomba-lomba yang berbau kesenian selalu di adakan setiap kegiatan tengah semester. Bukan tanpa alasan, seperti yang diketahui Ivarnest High School merupakan sebuah SMA kesenian yang terkenal di kota tersebut. Jadi setiap ada kegiatan pasti ada lomba yang berbau kesenian. Entah itu melukis, menyanyi, menggambar, bermain alat musik, memasak, mendesain coklat, membuat patung, dan lain sebagainya.
"Jadi, ada yang ingin mewakili kelas kita?" tanya Bu Lista.
"Saya Bu! Saya lari estafet!" cetus Azam sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Baik, untuk yang lomba buku tangkis?" tanya Bu Lista lagi.
"Kami Bu!" teriak Kafka sambil mengangkat tangannya sendiri yang memegang tangan Yohan.
"Oke, untuk lomba bulu tangkis adalah Kafka dan Yohan." ucap Bu Lista sambil menulis di buku.
Yohan menatap Kafka dengan tatapan kesal, lalu mengelupaskan tangan Kafka. Padahal dia sangat malas untuk melakukan semua itu. Tapi apa boleh buat, namanya sudah dicantumkan di daftar peserta lomba oleh Bu Lista. Mau protes dia terlalu malas membuka mulutnya untuk mengatakan hal yang panjang.
*
Ketika jam istirahat, Kafka dan teman-temannya berkumpul di belakang sekolah memakan makan siang yang mereka beli dari kantin tadi.
"Kelas Lo siapa Kaf yang jadi perwakilan ikut lomba-lomba itu?" tanya Hazel sambil memakan makanannya.
"Estafet dia." jawab Kafka sambil menunjuk Azam yang sedang makan. "Kalau bulutangkis gue sama si Yohan. Balap karung cewek, kalau nyanyi belum ditentuin." ucap Kafka lagi.
Mendengar jawaban Kafka, Yora langsung tertawa terpingkal-pingkal membayangkan sepupunya yang hampir mirip patung tersebut lari kesana kemari mengejar shuttle cock dan memukulnya agar tidak jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Lo? Main bulutangkis?" tanya Yora kepada Yohan sambil tertawa.
"Hati-hati kulitnya retak karena kebanyakan gerak." sahut Azam disusul tawanya.
Arzel yang sejak tadi hanya tertawa cowok itu ikut berbicara sekarang. "Kalem ya han, nanti kalau retak gue tembel gue bawa lem super." ucap Arzel.
Yohan mendengus kesal. Cowok itu memasang airpods nya agar tidak mendengar celotehan teman-temannya yang sungguh membuat dirinya kesal.
Ditengah-tengah candaan mereka, perhatian Kafka teralihkan lagi dengan gelang di pergelangan tangan Arzel yang semakin bertambah. Mungkin sudah menutupi sekitar 25 cm dari pergelangan tangan Arzel.
"Zel? Lo gak ada niat lepas gelang-gelang itu?" tanya Kafka dengan ragu.
Arzel melihat pergelangan tangannya sekilas. Lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak, sayang. Bagus kok di lepas." jawab Arzel sambil tertawa.
Memang Arzel terlihat ceria. Tapi semakin cowok itu terlihat ceria, itu semakin membuat Kafka khawatir dengan keadaan sahabatnya tersebut. Karena senyum itu bukanlah senyum yang asli, itu lebih seperti topeng yang digunakan untuk menutupi kesedihannya. Kafka bisa merasakan itu hanya dengan melihat sorot mata Arzel yang terlihat kosong saat tertawa.
"Nanti setelah pulang sekolah ke tempat karaoke mau nggak?" ajak Nathan.
"Gasss lah! Kita rayain keberhasilan kita kali ini!" sahut Yora.
"Woke, gue bakal izin sama pelatih gue dulu!" ucap Hazel.
Mereka semua sepakat setelah pulang sekolah mereka akan langsung pergi ke tempat karaoke untuk merayakan keberhasilan mereka mendapatkan nilai yang tinggi pada PTS 1 di kelas XI ini.
Di tengah suasana ceria ini, diam-diam Arzel memandangi gelangnya. Ketika matanya mulai berkaca-kaca cowok itu langsung menatap teman-temannya lagi dan tersenyum ceria lagi.
__ADS_1
...***...
...Bersambung......