Cherophobia

Cherophobia
Lomba Menyanyi


__ADS_3

Setelah perbincangan dengan Natasha tadi, entah mengapa perasaan Kafka yang tadi campur aduk sekarang menjadi lebih tenang.


Saat ini Kafka sedang ada di kelasnya bersama teman-temannya yang lain dan juga gurunya. Tapi, suasana di kelas tersebut sangat tidak mengenakkan. Karena murid yang akan mewakili kelas mereka lomba menyanyi tidak hadir hari ini.


Bu Lista tidak marah kepada murid-muridnya, wanita itu hanya mondar-mandir di depan kelas sambil berpikir siapa kira-kira yang bisa menggantikan murid yang seharusnya mewakili kelas mereka lomba menyanyi.


Semua siswa dan siswi di kelas tersebut menunduk bingung, sekalipun mereka masuk ke SMA kesenian, tapi mereka tidak terlalu bisa jika harus menyanyi sendirian. Apalagi mendadak seperti ini, resiko salah nada, tempo yang terlalu cepat atau lambat semakin besar. Maka dari itu dari mereka semua tidak ada yang berani mengajukan diri.


Sedangkan Kafka, cowok itu menatap gurunya yang mondar-mandir kebingungan. Tatapannya beralih ke teman-temannya yang juga menundukkan kepalanya.


"Bu Lista." panggil Kafka.


"Ya?" sahut wali kelasnya tersebut dengan cepat.


"Saya akan mewakili kelas kita dalam lomba menyanyi." ucap Kafka dengan yakin.


Disaat itu juga seisi kelas langsung lega. Walaupun Kafka sedikit ragu untuk menunjukkan bakatnya lagi karena bakat menyanyi itulah yang membuatnya berselisih dengan Geo, tapi dia tidak bisa diam saja melihat kondisi kelasnya yang seperti ini.


"Bukannya Lo..." Azam tidak melanjutkan kalimatnya setelah melihat Kafka menggeleng kecil sambil tersenyum.


Setelah itu Kafka langsung pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian yang sudah disediakan Bu Lista untuk lomba menyanyi.


"Han." panggil Azam.


"Hm"


"Bukannya Kafka tidak terlalu menyukai kegiatan bernyanyi?" tanya Azam.


"Mana gue tahu." jawab Yohan singkat. Cowok itu terlihat cuek dan tidak peduli. Nyatanya dia memang agak khawatir saat mendengar keputusan Kafka yang bersedia menggantikan temannya mewakili kelas mereka lomba menyanyi.

__ADS_1


Tapi, Yohan sudah tidak terlalu kaget dengan sifat Kafka yang seperti ini. Selama satu tahun bersama hampir setiap hari, Yohan bisa mengenal dengan baik sifat-sifat Kafka. Kafka akan selalu membuat orang disekitarnya bahagia, sekalipun dirinya sendiri takut untuk bahagia.


Ya, Yohan tahu dengan ketakutan terbesar Kafka. Itu bukan karena Kafka yang memberitahunya. Itu adalah hal yang dia simpulkan sendiri setelah mendengar beberapa kali Kafka bilang tidak ingin bahagia, karena takut akan datang kesedihan setelahnya.


Setelah berganti pakaian, mereka langsung menuju aula karena kelas XI MIPA 2 tentunya mendapatkan urutan kedua di kalangan kelas 11. Dan sekarang kelas XI MIPA 1 sedang tampil, artinya setelah ini giliran kelas mereka yang tampil.


Prok. Prok. Prok. Suara tepuk tangan bergemuruh ketika siswa yang mewakili kelas XI MIPA 2 selesai membawakan lagunya. Kini, saatnya giliran Kafka naik ke panggung.


"Njay, itu Kafka!" teriak Yora ketika melihat Kafka yang sudah berdiri di panggung.


"Switt swiitt! KAFKAA!!"


Semua teman-temannya langsung berteriak menyemangati Kafka. Lagu mulai diputar.


"Antara duniaku yang monoton. Ada celah kecil. Kau adalah cahaya terang yang menyinariku. Benar-benar diwarnai." Kafka mulai menyanyikan lagunya.


"Suara detak jantungku semakin tinggi (Ya). Lebih tinggi dan lebih tinggi. Tidak pernah, tidak akan pernah berhenti. Jika aku memperhatikan dan mendengarkan dengan lebih cermat. Setiap hari, setiap hari aku hanya memanggilmu."


Mendekati bagian reff, semua langsung berdiri dari tempat duduknya masing-masing dan mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan oleh Kafka.


"We come at one (we come at one). Berkumpul di sini di saat-saat paling cerah. (Menggambar bintang di tempat tertinggi). Sebuah lingkaran kecil di bawah kaki kita. (Aku di sebelahmu). Dunia ini menjadi lebih besar dari alam semesta. Pindah satu sama lain selamanya"


Dan sampailah pada bagian reff, hampir semua siswa dan siswi menyanyi bersama. Membuat suasana di aula menjadi super heboh. Bahkan hampir mirip seperti venue konser.


"Cause we come at (one). We come at (one). We come at (ooh). We come at (one). We come at (one). We come at (ooh)."


"ONE! ONE! ONE! ONE!" ketika Kafka menyebutkan kata We come at, maka siswa siswi yang menonton menyahut dengan menyebutkan kata 'one' secara serentak.


"Gila Kafka, powernya cuyy!!" teriak Hazel yang masih kalah dengan suara siswa siswi lain.

__ADS_1


"Baddas Anjay!" seru Arzel.


"Gue akui, kece sumpah." sahut Nathan.


Semua teman-temannya dibuat melongo dengan penampilan Kafka. Baik, Nathan yang paling kalem, Arzel, Azam, Yora, Hazel, bahkan Yohan yang biasanya cuek kagum dengan penampilan Kafka. Pasalnya Kafka tidak hanya menyanyi, cowok itu menyanyi sambil dance, hebatnya suaranya masih stabil.


Setelah Kafka turun panggung, suara teriakan dan tepuk tangan menggema di ruang aula tersebut bahkan lebih keras daripada tepuk tangan peserta sebelumnya tadi.


"Crush Lo tuh." ucap salah satu gadis sambil menyenggol lengan sahabatnya.


"Dia bukan crush aku." jawab seorang gadis yang tidak lain adalah Natasha.


"Heleh, ngeles." sahut sahabatnya.


"Eh serius ya, my crush itu artinya kan orang yang saya taksir. Nah aku gak naksir lagi sama dia, tapi udah suka dan sayang." jawab Natasha.


Helen, gadis yang merupakan sahabat Natasha menghela napasnya. "Gini ya Nat, Lo suka sama dia. Lo kasih dia banyak hal, tapi dia nggak suka sama Lo. Bahkan dia nyuruh Lo berhenti suka dia. Gue rasa cewek itu nggak pantas mengejar sampai segitunya." ucap Helen.


Natasha terdiam memikirkan ucapan sahabatnya tersebut. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Helen. Bahkan papanya sendiri pernah mengatakan itu kepadanya.


"Terus? aku harus gimana?" tanya Natasha.


"Em, gue rasa Lo nggak perlu kasih barang-barang kayak gitu lagi ke dia. Kalau Lo memang suka dia, yaudah dekati saja secara wajar. Sebagai seorang teman, bukan seorang yang menyukainya." jawab Helen.


"Terus ujungnya friendzone sepertimu." sahut Natasha.


"Ya.. gimana ya.. itu sih udah resiko anjr.." jawab Helen sambil tersenyum tertekan.


"Oke-oke, aku paham. Jadi intinya aku jangan bertingkah menyukainya. Bertingkah sewajarnya kayak teman aja gitu kan?" tanya Natasha yang kemudian di angguki oleh Helen.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2