Cherophobia

Cherophobia
Tinggal Bersama Kami


__ADS_3

Satu minggu setelah kejadian itu. Mendadak muncul berita bahwa istri CEO A'z.n Group menggugat perceraian kepada suaminya dengan alasan yang masih belum diketahui. Putra mereka berdua yakni Zelio Anzalion sampai tidak masuk sekolah berhari-hari karena teman-temannya banyak yang menanyakan hal itu. Hampir semua saluran televisi menyiarkan berita tersebut.


Bahkan sudah tiga hari Natasha juga tidak masuk sekolah dengan alasan urusan keluarga. Semua percaya, kecuali Kafka dan teman-temannya yang tahu sebenarnya. Kafka tahu betul akar masalah dari semua ini. Dia yakin itu karena terbongkarnya perselingkuhan papanya dengan mamanya. Dia sungguh khawatir dengan Natasha, sekalipun dia ingin membuat gadis itu membenci dirinya tapi dia tidak bisa membohongi hatinya yang menyukai gadis itu lebih dari seorang kakak.


"Kaf." panggil Nathan.


"Hm?" tanya Kafka dengan lesu.


"Udah tiga hari Natasha nggak masuk. Lo nggak khawatir?" tanya Nathan.


Kafka menghela napasnya. "Gue khawatir, tapi gue gak bisa datang kesana." jawab Kafka. "Gue benar-benar khawatir, gue ingin pergi menemuinya, memeluknya dan bilang bahwa di setiap kegelapan pasti ada secercah cahaya yang menerangi. Tapi kalau gue ketemu dia, hati gue bisa goyah lagi." sambung Kafka di dalam batinnya.


"Gue yakin kalau Lo datang dia akan semangat kayak biasanya." ucap Yora.


"Gue setuju, seenggaknya Lo peduli sebagai adik." sahut Hazel.


"Nah iya, dia pasti senang Lo datang." imbuh Arzel.


"Lalu tahu kenyataan kalau kami bersaudara dia akan sakit hati lagi?" tanya Kafka.


Seketika semuanya diam.


"Lagian Lo nggak mungkin kan terus-terusan sembunyiin ini dari dia?" tanya Azam.


"Hm, dia suka Lo. Dia pasti terus menerus penasaran apa alasan Lo menjauhi dia secara tiba-tiba. Menurut gue lebih baik Lo samperin dia, bilang yang sebenarnya, beri dia semangat. Dia udah dewasa, nggak mungkin dia nggak bisa memahami kondisi kalian." ucap Nathan.


"Nggak tahu gue." Kafka beranjak pergi dari sana. Tujuannya adalah rooftop, tempat favoritnya untuk menenangkan pikirannya.


Dan seperti biasanya Yohan akan selalu ikut kemana Kafka pergi. Karena Yohan tahu sahabatnya itu memiliki pemikiran yang pendek. Yohan tahu, disaat seperti ini Kafka akan menyalahkan dirinya sendiri atas semua masalah yang terjadi. Dia tidak ingin Kafka melakukan hal nekat.


"Seharusnya gue hari itu nggak pergi kesana." gumam Kafka sambil menatap keramaian di kota dari rooftop sekolahnya.

__ADS_1


"Gak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi." sahut Yohan tiba-tiba.


Kafka langsung berbalik menatap Yohan.


"Yang Lo lakuin sudah benar. Lagian tujuan Lo kesana untuk tanya dimana makam mama Lo, bukan untuk merusak keluarga mereka." ucap Yohan.


"Tapi secara nggak langsung, gara-gara gue kesana timbul masalah ini." kata Kafka. Benar bukan? Kafka akan menyalahkan dirinya atas masalah yang terjadi.


"Lalu? Lo bisa memutar waktu? Nggak! Yang bisa Lo lakuin sekarang itu berusaha bantu nyelesaiin masalah ini." ucap Yohan yang membuat Kafka terdiam.


*


Disisi lain, Natasha menangis di dalam kamarnya sambil menutup telinganya. Orang tuanya bertengkar hebat di ruang tengah, pecahan vas bunga, gelas, dan kaca berserakan karena di banting mamanya.


"Tasha mohon berhenti..." gumam Natasha lirih sambil terisak.


Setelah setengah jam berlalu, suara keributan di lantai bawah sudah tidak terdengar lagi. Natasha sudah berhenti menangis, tapi matanya tetap sembab karena sering menangis sejak Kafka bersikap kasar padanya. Kemudian ditambah masalah keluarganya semakin membuat dirinya down.


"Kafka..." panggil Natasha lirih.


"Kenapa aku harus menangisinya? Sudah jelas dia tidak menyukaiku, dia membenciku. Maka aku juga harus membencinya." ucap Natasha dengan tangan terkepal erat.


Natasha belum tahu bahwa Kafka adalah saudaranya. Dia hanya tahu masalah yang membuat orang tuanya bertengkar hingga mamanya mengajukan perceraian adalah terbongkarnya perselingkuhan papanya.


Di bawah Hara dan El yang sudah sedikit tenang setelah bertengkar hebat duduk di sofa tanpa saling berbicara.


"Aku nggak peduli, aku ingin bercerai." ucap Hara.


"Apa pikiranmu tidak terlalu pendek hah?!" tanya El.


"Aku sudah bilang, berikan anak itu haknya atau ceraikan aku! Aku tidak ingin hidup mewah diatas penderitaan orang lain!" teriak Hara.

__ADS_1


El memijit keningnya pusing. "Terserah kau! Bawa gelandangan itu kemari. Batalkan gugatan cerai!" ucap El kemudian pria itu naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya.


Setelah itu Hara pergi keluar dari rumah untuk menenangkan dirinya. Jika tetap berada di dalam rumah tersebut, emosi yang menumpuk di dalam dadanya akan meluap lagi. Dia tidak ingin itu terjadi.


Waktu berlalu, kini saatnya Kafka pulang sekolah. Ditengah perjalanan pulang, tiba-tiba handphonenya berdering. Dilihatnya siapa yang menelepon. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat nomor tidak dikenal. Tapi dia tetap mengangkat teleponnya.


"Halo? Siapa ya?" tanya Kafka.


"Kafka, ini saya Hara. Bisa datang ke kafe xx?" tanya wanita di balik telepon.


Ekspresi kafka langsung berubah ketika mengetahui siapa yang menelepon dirinya.


"Baik." jawab Kafka singkat. Kemudian dia langsung mematikan teleponnya dan melajukan motornya ke kafe yang di maksud ibu tirinya tersebut.


Kafe tersebut ada di pusat kota. Sekalipun jaraknya agak jauh dari perumahan Gifari tempatnya tinggal, tapi karena Kafka mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi ia hanya memerlukan waktu 15 menit untuk sampai di kafe tersebut.


"Tante Hara." panggil Kafka.


"Sini duduk." ucap Hara sambil tersenyum.


"Ada apa Tante?" tanya Kafka.


"Apa kamu mau tinggal di rumah kami? Kamu juga bagian dari keluarga Anzalion." tanya Hara tiba-tiba.


Kafka mengepalkan tangannya erat-erat. Kemudian menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak. Saya bahagia dengan hidup saya yang sekarang. Lagipula hari itu saya datang bukan meminta untuk diakui sebagai putra dari keluarga Anzalion." ucap Kafka menolak tawaran Hara.


"Mama mohon. Tinggal bersama kami, jangan membuat mama bersalah karena telah merenggut kebahagiaanmu." kata Hara sambil memegang tangan Kafka.


Hati Kafka sedikit tersentuh mendengar wanita itu menyebutkan kata mama. Artinya wanita itu mengakui dirinya sebagai anaknya, walaupun dia bukan anak kandungnya. Tapi tetap saja, dia tidak bisa tinggal disana.


"Maaf Tante, tuan El tidak akan setuju jika saya tinggal disana." jawab Kafka menolak lagi. Sebenarnya bukan itu alasannya tidak mau tinggal di kediaman Anzalion. Alasan sebenarnya adalah dia tidak mau tinggal satu atap dengan Natasha. Dia mati-matian menghindari Natasha di sekolah agar perasaannya terhadap kakak tirinya itu tidak semakin menjadi-jadi. Jika tinggal satu atap, mungkin saja dia tidak akan bisa mengendalikan perasaannya terhadap Natasha.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2