Cherophobia

Cherophobia
Makan Malam


__ADS_3

Sepulang dari rumah Kaila. Kafka tidak mendapati keberadaan ibunya di rumah. Di carinya memo di pintu kulkas berharap ibunya memberitahu kemana perginya. Tapi tidak ada sama sekali. Cowok itu berjalan ke kamarnya lalu berbaring.


Baru saja merebahkan tubuhnya terdapat notifikasi masuk di handphonenya. Pesan itu adalah pesan dari Yohan. Cowok itu menanyakan dirinya latihan beladiri atau tidak hari ini. Kafka langsung duduk dan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya yang menunjukkan pukul empat sore. Cowok itu segera menelepon Yohan.


Tut. Panggilan di reject oleh Yohan. Tidak menyerah, Kafka terus menelepon Yohan sampai di angkat.


"Kalau latihan sekarang masih bisa?" tanya Kafka langsung setelah telepon di angkat.


"Hm." jawab Yohan singkat kemudian langsung menutup teleponnya.


Kafka mencebikkan bibirnya tepat setelah Yohan mematikan teleponnya. Bisa-bisanya dia mendapatkan sahabat secuek itu. Di telepon berkali-kali nggak di angkat, sekalinya di angkat jawabnya cuma dua huruf h dan m lalu langsung dimatikan.


"Ga pa-pa. Ga pa-pa. Gitu-gitu dia teman Lo oke." ucap Kafka kepada dirinya.


Setelah itu dia memakai sepatu dan mengambil tasnya. Lalu di tulisnya memo untuk memberitahu ibunya kalau dirinya pergi ke rumah Yohan untuk belajar beladiri.


Di Rumah Yohan


Cowok dingin itu sedang membaca buku di depan televisi menemani mamanya yang kebetulan pulang lebih awal hari ini. Asal kalian tahu, Anya lah yang menyuruh Yohan mengangkat telepon dari Kafka. Jika tidak Yohan tidak akan mengangkat telepon tersebut.


"Dia teman kamu yang ibunya pasien mama?" tanya Anya.


"Iya." jawab Yohan. Tapi matanya tidak beralih dari buku.


"Dia sudah tahu kalau ibunya sakit keras?" tanya Anya lagi.


Yohan menggelengkan kepala. "Rahasiakan darinya." ucap Yohan sambil menatap mata mamanya.


Anya tersenyum lalu mengangguk. Wanita itu senang putranya peduli dengan temannya. Biasanya Yohan bersikap cuek kepada siapapun. Tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Ini pertama kalinya Yohan mau ikut campur dalam urusan orang lain.


"Oh iya, mama lupa mau bilang. Papa tadi telepon mama dan bilang pulangnya gak jadi minggu ini tapi bulan depan." ucap Anya.


"Terserah." jawab Yohan dengan cuek.

__ADS_1


Wanita itu menghela napasnya. Dia tahu hubungan putranya tidak begitu baik dengan papanya. Hal itu terjadi karena adanya rasa iri dengan Yora yang papanya selalu pulang ke rumah. Kalaupun tidak pulang, pasti akan menelepon menanyakan kabar. Tidak dengan Yohan, baik papanya di luar kota atau ke luar negeri berbulan-bulan sekalipun tidak pernah menanyakan kabarnya. Dan lagi dia sering di beri harapan palsu oleh papanya tersebut. Misalnya saja sekarang, papanya bilang akan pulang minggu ini tapi ternyata pulangnya bulan depan.


Di saat-saat sunyi seperti ini terdengar bunyi bel sebanyak tiga kali. Yohan segera membukakan pintu.


"Halo!" sapa Kafka dengan senyum cerianya.


"Masuk." perintah Yohan.


Kafka segera masuk ke dalam rumah. Cowok itu langsung membungkukkan badannya ketika melihat Anya yang sedang menonton televisi untuk sebagai hormat.


"Kamu Kafka ya?" tanya Anya.


"Iya, Bu." jawab Kafka.


"Panggil Tante aja." ucap Anya sambil tersenyum ramah.


"Baik Tante."


Bruk. Disaat Kafka berbincang-bincang dengan Anya, tiba-tiba Yohan melemparkan seragam Karate kepada Kafka. Dan menyuruhnya untuk segera mengganti baju.


Setelah Kafka berganti pakaian Yohan mengajari Kafka beladiri. Bagi yang belum tahu di samping kamar Yohan ada ruangan khusus untuk berlatih bela diri. Jadi leluasa gitu kalau mau latihan disana.


"Kuda-kuda Lo masih salah." ucap Yohan.


"Gini?" tanya Kafka.


Yohan menghela napasnya. Cowok itu membenarkan posisi Kafka dengan telaten. Kesal sih iya, padahal kemarin dia sudah mengajarkan ini kepada Kafka. Tapi masih saja tidak bisa.


Di saat Kafka dan Yohan berlatih. Anya pergi ke dapur membuatkan makan malam. Di dapur terdapat satu buah foto yang tertempel di sisi kulkas. Foto itu adalah fotonya bersama saudara kembar dan juga sahabatnya. Vadya. Mereka bertiga sering memasak bersama, makanya Anya memasang foto itu di dapur.


"Gue kangen Lo Vad.." batin Anya.


Kita kembali ke Yohan dan Kafka. Mereka selesai latihan beladiri sekitar pukul tujuh malam. Kedua cowok itu terbaring di lantai beralaskan karpet gabus.

__ADS_1


"Besok latihan lagi nggak?" tanya Kafka.


"Terserah Lo." jawab Yohan.


"Oke, gue besok pulang sekolah kesini lagi." ucap Kafka.


"Hm." jawab Yohan dengan singkat.


Cowok dingin itu bangkit dari posisinya dan beranjak keluar dari ruangan itu. Melihat Yohan yang sudah keluar ruangan Kafka juga ikut keluar dari ruangan tersebut. Karena tidak sopan kan jika di dalam ruangan orang lain sendirian.


"Yaudah gue pulang ya." ujar Kafka.


"Ehh, mau kemana? Tante udah masak buat kalian. Bersih-bersih dulu sana, lalu makan malam bersama." ajak Anya.


Kafka terdiam. Sebenarnya dia juga lapar. Tapi kalau makan disini di rumah nanti ibunya pasti juga sudah memasak untuknya. Sedangkan kalau di tolak, juga tida enak kepada Anya yang sudah repot-repot memasakkan makan malam untuknya. Akhirnya Kafka memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.


Setelah makan malam Kafka pamit pulang. Cowok itu pulang memakai pakaian Yohan. Karena tidak mungkin dia memakai pakaiannya tadi yang sudah kotor.


Sesampainya di rumah benar saja, dugaannya. Ibunya sudah memasakkan dia tempe goreng dengan sambal tomat kesukaannya.


"Gimana latihannya?" tanya Anggi dengan senyumannya.


"Seru Bu." jawab Kafka sambil tersenyum.


"Sini makan malam dulu, ibu udah buatin makanan favorit kamu." ucap Anggi.


Jujur saja, Kafka saat ini sudah kenyang. Tapi demi menjaga perasaan ibunya. Kafka tidak bilang kalau dia tadi sudah makan malam. Lagipula lidahnya benar-benar tergoda melihat tempe goreng berwarna coklat keemasan yang di siram sambal tomat dengan daun kemangi di atasnya.


"Makasih Bu.." ucap Kafka.


Anggi tersenyum bahagia melihat putranya yang makan dengan lahap. Kelak, mungkin dia tidak akan bisa melihat senyum putranya ini lagi.


"Kafka.. nanti setelah makan malam kita foto bersama ya." ajak ibunya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung......


__ADS_2