Cherophobia

Cherophobia
Bukan Anak Kandung


__ADS_3

Jenazah Anggi di kuburkan keesokkan harinya. Ramai sekali warga yang berdatangan. Tidak sedikit yang kehilangan atas perginya Anggi secara mendadak karena Anggi merupakan orang yang sangat baik semasa hidupnya.


Sejak pagi Kafka belum beranjak dari samping makam ibunya. Teman-temannya pun dengan setia menemani. Bahkan mereka rela izin tidak masuk sekolah untuk menemani Kafka agar cowok malang itu tidak merasa sendiri. Anya pun juga turut hadir menemani sampai saat ini.


"Kafka.. pulang ya. Udah mau hujan. Nanti kamu sakit." ujar Anya.


Kafka tidak bergeming. Cowok itu hanya diam sambil mengusap-usap baru nisan ibunya. Dia sudah tidak menangis, tapi hatinya tetap belum bisa merelakan kepergian ibunya yang tercinta.


"Mama, pulang saja." ucap Yohan.


"Iya, tante. Biar kita yang bujuk Kafka." bisik Yora kepada Anya.


Anya menghela napasnya. Kemudian segera pamit dari area pemakaman itu. Asal kalian tahu, semalaman Anya menangis hebat karena marah kepada dirinya sendiri. Itu adalah pertama kalinya dia gagal menangani pasien hingga pasiennya meninggal dunia. Memang meninggal itu sudah takdir, tapi tetap saja dia merasa itu kesalahannya.


"Kaf, pulang yuk. Gue yakin Tante Anggi nggak mau lihat Lo begini." kata Azam sambil menepuk pundak Kafka.


"Beliau nggak akan tenang kalau Lo kayak gini Kaf." ucap Hazel.


"Benar, Tante Anggi pasti sedih lihat kondisi Lo yang seperti ini." sahut Yora.


"Kaf.. pulang ya?" ajak Nathan.


"Ayo balik, nanti gue kasih permen." ujar Arzel yang langsung mendapat timpukan dari Hazel.


Setelah semua rayuan dan bujukan dari teman-temannya, Kafka masih tidak terlihat ingin meninggalkan makam ibunya tersebut. Jelas sekali dia merasa sangat terpukul atas kepergian Anggi, karena wanita itu adalah satu-satunya keluarga yang dia punya.

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan menunggu beberapa saat lagi. Sampai akhirnya turunlah hujan dengan deras disertai dengan petir suaranya memekakkan telinga.


"Kaf, balik." ucap Yohan sambil menarik baju Kafka agar cowok itu berdiri.


"Gue masih pengen disini! Ibu bakal sendiri kalau gue pergi!" bentak Kafka.


Yohan mengepalkan tangannya erat-erat. Cowok itu menatap Kafka dengan sorot tatapan yang tajam dan penuh aura dingin. Lebih menakutkan daripada biasanya.


"Lo kira nyokap Lo senang kalau lihat Lo sakit karena kehujanan saat duduk di depan gundukan tanah?" tanya Yohan dengan nada dingin.


Kafka langsung menatap Yohan dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Tangannya terkepal erat menahan emosinya.


"Mau marah? Terserah. Gue gak peduli. Pulang sekarang. Memang jasad Tante Anggi ada di bawah sana. Tapi Tante Anggi yang sebenarnya ada bersama Tuhan. Percuma Lo tungguin di sini dia nggak akan bangkit dari kubur. Pulang, doain dia. Laksanakan semua nasihatnya. Baru dia bahagia." kata Yohan.


"Pulang." ucap Yohan sekali lagi.


Akhirnya Kafka mau di ajak pulang setelah mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Yohan. Mereka mengantar Kafka sampai ke rumah baru mereka pulang ke rumah masing-masing.


Setelah teman-temannya pergi Kafka tidak langsung masuk ke dalam rumah. Cowok itu terdiam di depan toko bunga. Di amatinya rumah penuh kenangan itu. Air matanya kembali menetes, tapi Kafka buru-buru menyekanya.


Cowok itu segera masuk ke toko bunga. Dilihatnya tempat kasir dimana ibunya sering duduk melayani pelanggan. Kemudian masuk ke ruang tamu. Di tempat itu dia biasa berbaring setelah pulang sekolah, lalu ibunya datang menyambut kepulangannya. Cowok itu berjalan lagi masuk ke ruang tengah, tempat dimana dia menonton televisi bersama ibunya.


Cowok itu berkeliling rumah kemudian berakhir di kamarnya. Kafka merebahkan tubuhnya dan kembali meneteskan air matanya.


"Bu, sekarang siapa yang akan semangatin Kafka? Siapa yang akan obati Kafka kalau habis di keroyok Geo? Siapa yang akan dengar cerita Kafka setelah pulang sekolah? Kenapa ibu sembunyikan penyakit ibu? Kalau ibu bilang dari awal, Kafka akan berusaha bantu cari uang agar ibu sembuh." ucap Kafka sambil melihat langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Cowok itu mencoba memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba perutnya terasa lapar, dilihatnya jam dinding. Ya memang sudah waktunya makan siang. Kafka berjalan ke dapur, dibukanya tudung saji di meja makan. Di meja makan tersebut masih ada sisa air tangan ibunya. Yaitu sambal tempe daun kemangi, dan juga lodeh ikan semar. Juga ada teh yang sudah dingin buatan ibunya kemarin yang belum sempat dia minum.


"Sekarang Kafka nggak akan bisa ngerasain makanan seenak ini lagi." gumam Kafka.


Cowok itu mengambil nasi dan mulai memakannya. Kafka memakan makanannya sedikit demi sedikit. Tidak terasa air matanya jatuh lagi. Membayangkan bahwa kedepannya dia tidak akan merasakan makanan buatan ibunya lagi.


Setelah menghabiskan makanannya, cowok itu duduk di teras belakang rumah. Dilihatnya bunga-bunga yang bergerak-gerak karena tertiup angin. Biasanya ketika dia sendirian seperti ini ibunya akan datang menghampirinya. Tapi tidak lagi sekarang.


"Belum juga sehari, Kafka udah kangen Bu." ucap Kafka sambil tersenyum getir.


Ditengah lamunannya, tiba-tiba cowok itu teringat dua buah surat yang diberikan oleh ibunya dahulu. Kafka segera masuk ke kamarnya dan mencari surat-surat tersebut.


"Ketemu!"


Cowok itu duduk di kasur. Diamatinya dua buah surat di tangannya. Dia memilih membuka surat yang bertuliskan "Dari Ibu Anggi Untuk Kafka"


"Kafka, anak kesayangan ibu. Kalau Kafka membaca surat ini berarti ibu sudah nggak bareng-bareng Kafka lagi. Maaf ibu merahasiakan semua ini dari Kafka. Ibu sudah lama menderita gagal jantung, tapi ibu sengaja tidak memberi tahu Kafka agar Kafka bisa fokus belajar saja. Oh iya, kan sekarang ibu sudah nggak ada nih, ibu mau ngasih pesan terakhir kali untuk Kafka. Selalu jaga kesehatan, makan tepat waktu, rajin belajar oke, jangan bandel jadi murid, jangan lalai dengan toko bunga. Toko bunga kalau Kafka nggak ada waktu untuk buka ya udah nggak usah di buka. Tapi tetap jaga bunga-bunganya. Jangan sampai layu ya sayang. Itu yang pertama. Dan kedua yang ingin ibu sampaikan, maaf seharusnya ibu bilang sejak lama Kafka bukan anak kandung ibu. Tapi ibu tetap sayang sama Kafka layaknya Kafka itu anak kandung ibu. Nama ibu kandung Kafka adalah Vadya. Surat yang satunya itu adalah surat dari ibu kandungmu. Kayaknya sudah panjang banget ya. Yasudah itu saja yang mau ibu sampaikan. Selamat tinggal, ibu sayang banget sama Kafka." isi surat tersebut.


Tubuh Kafka seketika melemas, cowok itu kembali menangis. Kenyataan pahit apa lagi yang dia terima kali ini? Ternyata dia bukan anak kandung ibunya?


"Apa semua ini?" gumam Kafka dengan mata yang sudah sangat sembab dan juga suara yang parau. Mata cowok itu melirik sebuah surat yang belum dia buka. Cepat-cepat dia buka suara itu dan dibacanya.


...***...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2