
Keesokan harinya di sekolah, setelah upacara hari Senin guru tidak kunjung masuk ke kelas karena sedang mengurus kedatangan LKS sekaligus menentukan jadwal pembagiannya. Kafka, Yohan, dan Azam memilih pergi ke rooftop karena terlalu malas dengan keributan di kelas mereka.
Sejak tadi Kafka hanya diam, memikirkan Vadya dan juga El. Kalau mencari El jelas tidak mungkin Kafka lakukan, karena pria itu liburan bersama keluarganya di luar negeri. Sekarang tujuannya adalah mencari dimana makam mamanya, tapi dia juga belum menemukan petunjuk mengenai itu.
"Lo kenapa sih Ka?" tanya Azam yang merasa heran.
"Pusing gue." jawab Kafka.
Yohan hanya melihat sekilas Kafka yang duduk di sebelahnya, lalu kembali fokus dengan handphonenya seolah tidak peduli dengan kondisi Kafka.
"Pusing kenapa?" tanya Azam lagi.
"Lo bisa jaga rahasia nggak kalau gue beritahu?" tanya Kafka.
Azam mengangguk. Tapi sebelum Kafka memberitahukan tentang masalahnya tiba-tiba pintu rooftop dibuka dengan keras. Dari balik pintu keluarlah teman-temannya yang lain dengan wajah serius.
"Beritahu apa?" tanya Nathan.
"Kenapa di rahasiakan? Lo gak ada niat kasih tahu kita?" tanya Yora dengan ekspresi tidak suka.
"Nggak, bukan begitu. Duduk aja lah. Gue ceritain semuanya." ucap Kafka disusul helaan napas panjang.
Setelah semua duduk, Kafka mulai menceritakan semua masalahnya. Mulai dari Anggi yang bukan ibu kandungnya, ibu kandungnya sendiri yang sudah meninggal, sampai dia yang merupakan anak konglomerat di kota tersebut.
Tapi bukannya memberikan tanggapan baik, teman-temannya malah tidak suka dengan Kafka yang berniat menyembunyikan ini dari mereka.
"Kenapa lo menyembunyikan ini dari kita? Lo kira kita biang gosip?" tanya Hazel dengan nada kecewa.
"Sekalipun kita memang belum lama kenal, kita gak akan umbar masalah pribadi Lo Kaf." ucap Yora.
Melihat suasana yang mulai memburuk, Yohan meletakkan handphonenya di kursi dengan kasar hingga menimbulkan suara yang keras, seketika semua yang berbicara disana terdiam.
"Beri dia kesempatan bicara." kata Yohan dengan tatapan datar dan nada bicara yang lebih dingin dari biasanya.
"Maaf, gue gak ingin bohong sama kalian. Tapi sulit buat bilang keadaan gue yang sebenarnya. Maafin gue." ujar Kafka dengan tulus.
__ADS_1
"Lupain, kita nggak marah." cetus Nathan sambil menatap tajam Hazel dan juga Yora. Kemudian cowok itu beralih lagi menatap Kafka. "Setelah ini Lo mau gimana? Kita pasti bakal bantuin Lo apapun yang terjadi." ucap Nathan lagi.
Kafka tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Gak usah, gak pa-pa. Gue gak mau ngeribetin kalian." jawab Kafka.
"Ahh, ayolah katanya gue boleh anggap Lo kakak kan? Masa Lo gak mau terima bantuan dari adiknya?" tanya Yora sambil memanyunkan bibirnya.
Kafka tertawa kecil melihat tingkah Yora.
"Gak baik loh, menolak niat baik seseorang." ujar Arzel sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Maaf, atas kata-kata gue tadi. Gue cuma gak suka orang yang nggak jujur. Jadi jangan coba-coba sembunyiin sesuatu dari kita lagi." ujar Hazel yang kemudian di angguki oleh Kafka sambil tersenyum manis. "Kalau Lo butuh bantuan bilang, biar kita bisa bantu." katanya lagi.
Kafka diam sebentar memikirkan apa yang akan dikatakannya. "Mungkin gue bakal cari makan mendiang mama, kalau cari papa mereka ada di luar negeri." ucap Kafka.
"Gue bakal bantu cari dimana makam mama Lo." cetus Nathan yang kemudian diikuti teman-temannya yang lain.
Disini bisa terlihat bahwa Nathanlah yang paling bijak diantara lainnya. Ketika Hazel sudah terbawa emosi, dia masih tenang dan mendengarkan penjelasan Kafka. Karena dia melihat dari sudut pandang Kafka, dirinya sendiri juga tidak ingin masalah pribadinya diketahui orang lain.
Setelah pembicaraan kembali normal, suasana juga sudah mulai menghangat tidak seperti tadi. Perhatian Kafka terfokus pada pergelangan tangan kiri Arzel.
Mendengar pertanyaan Kafka, semua teman-temannya langsung melihat ke arah pergelangan tangan Arzel. Bahkan termasuk Yohan yang tadinya memainkan handphonenya ikut menatap pergelangan tangan Arzel.
"Oh? Ini? Hehe, kemarin gue lihat gelang bagus pas jalan-jalan." jawab Arzel sambil cengengesan.
Hazel mengerutkan keningnya mendengar jawaban Arzel. "Kemarin? Bukannya kemarin Lo seharian sama gue? Pulangnya malam. Dan kemarin juga nggak ada penjual gelang deh, kapan pan Lo beli gelang?" tanya Hazel.
Arzel terdiam, bingung akan menjawab apa. Akhirnya dia tertawa lagi kemudian menjawab. "Gue beli di dekat rumah gue, setelah pulang traktir Lo makan kemarin gue keluar lagi." jawab Arzel.
"Emang gak berat kah pakai gelang segitu banyak?" tanya Yora.
"Itu gelang di tangan Lo kalau di total kayaknya lebih dari 20 gelang deh." cetus Azam sambil menunjuk gelang-gelang di pergelangan tangan Arzel.
"Ho'oh, mana bentuknya nyentrik lagi." sahut Nathan.
"Biarin, penting ganteng." jawab Arzel disusul tawanya.
__ADS_1
Lain halnya dengan Nathan, Yora, dan Hazel yang ikut tertawa. Kafka dan Yohan hanya diam menatap Arzel dengan tatapan khawatir. Sekali lihat pun ketahuan jika cowok yang selalu terlihat ceria tersebut menyembunyikan sesuatu.Terlihat dari sorot matanya.
Setelah pulang sekolah, Kafka pergi ke apartemen Yohan untuk berlatih beladiri. Sekalipun Yohan terkesan cuek, tapi entah mengapa Kafka lebih nyaman dengan Yohan ketimbang dengan teman-temannya yang lain.
Seusai latihan beladiri mereka duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Tiba-tiba Kafka teringat sesuatu mengenai foto mamanya bersama 2 orang gadis kembar. Cowok itu mengeluarkan handphonenya dan membuka galerinya melihat foto yang sempat dia potret.
"Han." panggil Kafka.
"Hm?" tanya Yohan tanpa melihat Kafka.
"Dia mirip mama Lo nggak sih?" tanya Kafka sambil menunjuk salah satu dari gadis kembar di foto tersebut.
Yohan langsung melihat apa yang ditunjukkan oleh Kafka. Dicermatinya foto tersebut. Barulah dia teringat, bahwa mamanya dan juga tantenya menyimpan foto yang sama. Tanpa banyak berkata Yohan langsung berdiri dan keluar ruangan latihan sambil membawa handphone Kafka.
Karena penasaran Kafka juga mengikuti kemana Yohan pergi.
Ternyata cowok itu pergi ke dapur, tepat di depan kulkas.
"Ngapain sih?" tanya Kafka.
Yohan tidak menjawab, melainkan hanya menyandingkan handphone Kafka dengan foto yang tertempel di sisi kulkas. Seketika tubuh Kafka membeku melihat hal itu.
"Maksudnya... itu benar-benar Tante Anya?" tanya Kafka.
Yohan hanya mengangguki pertanyaan Kafka.
Kafka diam sebentar. Cowok itu terlihat memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat Kafka menatap Yohan. "Jam berapa Tante Anya pulang?" tanya Kafka.
Yohan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Jam 8." jawab Yohan.
"Gue bakal, tunggu sampai Tante Anya pulang. Dia pasti tahu sesuatu tentang mama." ucap Kafka.
...***...
...Bersambung......
__ADS_1